Merauk Gula dengan Mengenal Bulan Tanam

Oleh: Basuki S.P., M.Sc.

Konsumsi gula dari tahun ke tahun meningkat dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia. Proyeksi kebutuhan gula tahun 2021 sekitar 5,07 juta ton, sementara produksi dalam negeri diproyeksikan mencapai 2.48 juta ton, sehingga terjadi defisit 50 persen. Pemerintah tahun 2019 mencanangkan peningkatan produksi gula 19 persen dari tahun sebelumnya yaitu 2,1 juta ton. Kenyataan di lapang areal lahan yang ditanami tebu menyusut sedikit demi sedikit. Tahun 2019 dikabarkan lahan yang ditanami tebu kurang lebih 413 ribu hektare, terjadi penyusutan dari 425 ribu hektare dan 193.940 hektare lahan tebu berada di Jawa Timur, tersebar di tiap kabupaten.

IKLAN

Di daerah Tapal Kuda contohnya, terdapat pabrik gula lebih dari satu di beberapa kabupaten, sebagai contoh pabrik gula Kedawung di Pasuruan; pabrik gula Wonolangan, Gending, Padjarakan di Kabupaten Probolinggo; pabrik gula Djatiroto dengan HGU terbesar di pulau Jawa, pabrik gula Wonorejo di Kabupaten Lumajang; pabrik gula Semboro, pabrik gula Tutul, pabrik gula Kencong di Kabupaten Jember, pabrik gula Prajekan di Kabupaten Bondowoso, pabrik gula Wringinanom, pabrik gula Demas, pabrik gula Olean, pabrik gula Panji, pabrik gula Asembagoes di Kabupaten Situbondo, pabrik gula Glenmore di Kabupaten Banyuwangi. Hampir semua pabrik gula dibangun sebelum kemerdekaan Indonesia, dengan kapasitas masing-masing TCD giling pabrik berbeda. Berkisar lima hingga tujuh pabrik gula yang ada di Tapal Kuda tidak beroperasi dan tinggal puing-puing bangunan serta ada yang sudah tidak berbekas sama sekali.

Pendirian pabrik gula oleh Belanda di daerah tapal kuda tidak tanpa alasan. Daerah Tapal Kuda secara kesesuaian lahan lingkungan abiotik sangat cocok untuk tanaman tebu, mulai dari ketersediaan nutrisi, air, ultraviolet sinar matahari yang semua itu sebagai dasar dalam proses fotosintesis untuk pembentukan gula. Selain didukung lingkungan abiotik, genetik tebu terutama jenis varietas tebu sendiri sangat penting. Tahun 1887 tepatnya tanggal 9 Juli didirikan lembaga riset yang menangani varietas tebu dan kesesuaian varietas tebu di lapang. Lembaga tersebut dinamakan Proefstation Oost Java (POJ) yang berlokasi di Pasuruan. Pada tahun 1921, POJ merilis kultivar varietas perdana dengan Nama POJ seri 2878, dilanjutkan pada tahun 1930 sebelum kemerdekaan Republik Indonesia merilis kembali dengan nama POJ dengan seri 3016. Varietas POJ 2878 varietas yang dirilis sebagai penyelamat gula nasional waktu itu, karena pada waktu itu tanaman tebu terjadi puso besar-besaran karena penyakit tanaman yang disebut sereh. Penyakit sereh merupakan penyakit yang membuat tanaman tebu kerdil. POJ 3016 merupakan varietas tebu yang mampu mengangkat Indonesia sebagai produsen gula yang dapat diperhitungkan di kancah internasional. Di mana pada saat itu penggunaan varietas ini, mampu membuat Indonesia swasembada gula sebagai salah satu pengekspor gula. varietas POJ 3016 mampu memproduksi 18 ton gula per hektare dengan rendemen mampu mencapai di atas 15 persen. Varietas ini pada masanya merupakan varietas yang cocok ditanam di tanah Jawa terutamanya Jawa Timur dengan tipe kemasakan awal (bulan tanam Maret-Juni tiap tahunnya), tetapi lambat laun varietas ini rentan terhadap hama baru yaitu penggerek batang dan penggerek pucuk waktu itu. Dalam perkembangannya varietas POJ 3016 jarang digunakan dan hampir tidak ditanam kecuali untuk koleksi.

Varietas yang tidak kalah tenar seperti POJ 3016 yang berkembang sejak tahun 2000-an sampai sekarang yaitu varietas Bululawang yang sering dikenal dengan nama BL. Kenyataannya varietas BL merupakan varietas primadona yang dalam menghasilkan rendemen tidak terlepas dari lingkungan. Varietas ini tergolong varietas masak akhir (bulan tanam September-November), dalam fase pembentukan gula membutuhkan lengas tanah yang rendah dan dapat mencapai rendemen optimal yang diharapkan dari varietas ini membutuhkan sampai empat hingga lima bulan kering, dengan karakteristik lahan yang ringan. Karakteristik lahan ringan yaitu lahan yang 60-80 persen didominasi oleh pasir dan debu. Bululawang (BL) dirilis tahun 2008, dan berkembang pesat karena mempunyai karakteristik vegetatif yang tinggi, saat tanaman tebu ini mengalami stres baik air, batang rebah/doyong mampu menstimulasi pembentukan tunas baru yang banyak (sogolan). Celakanya saat muncul sogolan penyimpanan gula di batang yang dibuat terproses kembali untuk vegetatif pembentukan sogolan sehingga rendemen turun drastis dan berakibat kadar gula dalam varietas tebu ini rendah. Sekitar 70-80 persen lahan di Jawa Timur didominasi oleh varietas Bululawang.

Penting artinya bagi petani dalam proses budi daya tanaman tebu untuk mengetahui bulan tanam, karena terkait dengan bulan tebang dan titik puncak rendemen tahun ke depannya. Terdapat tiga kategori utama bulan tanam tebu yakni bulan tanam tebu masak awal, masak tengah, masak akhir. Bulan tanam masak awal ditanam atau ditebang pada bulan Maret-Juni dengan titik puncak rendemen yaitu pada bulan April-Mei, masak tengah bulan tanam atau ditebang Juli- Agustus dengan titik puncak rendemen bulan Juni-Juli, dan masak akhir bulan tanam atau ditebang September-November dengan titik puncak rendemen bulan Agustus-September. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, tiap varietas tebu tingkat kemasakan sangat terkait dengan waktu kadar lengas tanah. Semakin rendah kadar lengat tanah, penumpukan gula di batang tebu semakin tinggi dan semakin pekat. Varietas tebu masak awal, cukup membutuhkan dua hingga tiga bulan kering dari awal bulan kemarau yaitu tepat bulan Maret-Mei sebagai contoh varietas PS 862, VMC 86-550. Varietas masak tengah ditanam pada bulan Juni-Agustus dan ditebang pula pada bulan tersebut karena titik puncak rendemen membutuhkan bulan kering tiga hingga empat bulan dari awal bulan kemarau, di mana varietas yang tergolong varietas masak tengah yaitu Varietas Asembagoes, VMC 7616, PSJK 922, PS 964 sedangkan varietas yang tergolong lambat yaitu Bululawang yang cocok ditanam dan ditebang pada bulan September-November. Penanaman varietas tebu dengan memperhatikan bulan tanam dapat mendapatkan titik puncak rendemen, sehingga bila tebu yang digiling ke pabrik gula dapat menghasilkan gula yang optimal serta untung yang didapatkan juga menjadi lebih tinggi.

*) Penulis adalah Dosen Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jember.

Reporter :

Fotografer :

Editor :