alexametrics
22.3 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Alam: Antara Fungsi Ekologi dan Ekonomi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SEBAGAI kombinasi antara kondisi fisik yang mencangkup sumber daya alam seperti tanah, air, sinar matahari, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh baik di lautan maupun daratan juga termasuk manusia, lingkungan alam menjadi hal yang fundamental untuk keberlangsungan hidup seluruh makhluk hidup di dalamnya. Dalam arti bahwa lingkungan alam adalah sesuatu yang ada di sekitar manusia dan memengaruhi perkembangan  kehidupan manusia. Mengetahui pengertian itu, lalu pertanyaannya, apakah manusia sebagai komponen dan organisme tercerdas mengetahui bahwa kita menjadi bagian dari lingkungan untuk keberlangsungan hidupnya?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, sangat menarik untuk kita diskusikan bersama mengenai kemurnian hati dari penjaga adat istiadat dan nilai budaya ala masyarakat kita di masa lampau. Hubungan alam dan manusianya bisa kita lihat dari folklor, misalnya seperti pepatah ataupun peribahasa. Cara masyarakat kita untuk menjaga kelestarian alam bukan hanya dengan tindakan. Namun, juga mewariskan pemikiran-pemikirannya tentang alam melalui tuturan lisan (folklor). Dengan proses interaksi demikian, harapan dari perilaku, paradigma dan perangai diri keturunan atau generasi dari penerus masyarakat tersebut dapat menjaga. Meskipun saat ini sangat disayangkan realitas di lapangan menjadi berbeda. Cara pandang pemikiran manusia dominan terpusat pada pragmatisme dengan mendahulukan hasil (materi) dari kekayaan alam tanpa berpikir fungsi ekologi atau dampak dari tindak-tanduknya.

Tafsir Wes Wayahe… di Warung Kopi

Mobile_AP_Rectangle 2

Sengaja saya memakai diksi “pragmatis” ketika manusia memiliki cara berpikir praktis atau instan dalam aktivitas mengolah sumber daya alamnya, tidak tertutup kemungkinan saya juga termasuk. Sebagai contoh kita sering kali berkilah daripada membuang sampah ke tempat sampah yang jauh ataupun harus membayar petugas kebersihan. Banyak dari kita memilih membuang sampah di sungai dengan pertimbangan lebih cepat dan langsung hilang terbawa arus. Hal lain lagi misalnya, ketika harga burung hantu di pasaran sedang mahal karena banyak peminat, akhirnya banyak terjadi perburuan liar burung hantu dan menyebabkan populasinya menurun dan terancam punah.

Kita yang berpikiran pragmatis tadi, hanya fokus pada kepentingan pribadi maupun kelompok, yang dirasa dapat diraih secara instan dan cepat. Kita tidak berpikir bahwa keseimbangan alam menjadi terganggu dan menyebabkan terjadi ketimpangan ekosistem dari tindakan tersebut. Hal ini bisa terjadi karena setiap proses berpikir manusia tentu berkaitan dengan bagaimana perspektif atau sudut pandang mereka terhadap suatu hal. Apa pun itu. Jika manusia berpandangan bahwa alam hanya sebagai objek, maka mereka akan berpikir bebas melakukan apa pun terhadap alam. Meski sejatinya untuk kepentingan sesaat saja. Begitu juga sebaliknya, jika manusia melihat alam sebagai subjek dengan fungsinya yang utuh, maka tentu mereka akan lebih berusaha untuk menjaga dan melestarikannya.

Fungsi Ekologi dan Fungsi Ekonomi

Pengertian umum antara ekologi dan ekonomi masing-masing merupakan suatu cabang ilmu yang berbeda. Ekologi memfokuskan diri sebagai cabang ilmu biologi yang membahas interaksi antara makhluk hidup satu dengan yang lain, juga hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Sedangkan ekonomi merupakan ilmu pengetahuan yang membahas bagaimana mengelola rumah tangga atau lebih khusus bagaimana rumah tangga tersebut memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dalam mengelola sumber daya.

Dewasa ini, kenyataan antara ekologi dan ekonomi muncul jarak yang cukup luas. Padahal, ekologi dan ekonomi bisa berjalan beriringan dan tidak saling mengalahkan sehingga menghasilkan jarak. Sebagai ilmu pengetahuan yang secara hakikat memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan kesejahteraan untuk kemaslahatan bersama, seharusnya kedua ilmu tersebut dijalankan sesuai kaidahnya. Sehingga tidak akan terjadi seperti situasi, di mana untuk meningkatkan ekonomi, kita memiliki kendala kerusakan ekologi. Ataupun sebaliknya, ketika kita mempertahankan ekologi, kita tidak mampu mengoptimalkan ekonomi. Seharusnya, dengan memitrakan kedua ilmu pengetahuan tersebut, kita bisa mendapatkan manfaat dari sumber daya alam dengan tetap mempertimbangkan ekologinya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SEBAGAI kombinasi antara kondisi fisik yang mencangkup sumber daya alam seperti tanah, air, sinar matahari, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh baik di lautan maupun daratan juga termasuk manusia, lingkungan alam menjadi hal yang fundamental untuk keberlangsungan hidup seluruh makhluk hidup di dalamnya. Dalam arti bahwa lingkungan alam adalah sesuatu yang ada di sekitar manusia dan memengaruhi perkembangan  kehidupan manusia. Mengetahui pengertian itu, lalu pertanyaannya, apakah manusia sebagai komponen dan organisme tercerdas mengetahui bahwa kita menjadi bagian dari lingkungan untuk keberlangsungan hidupnya?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, sangat menarik untuk kita diskusikan bersama mengenai kemurnian hati dari penjaga adat istiadat dan nilai budaya ala masyarakat kita di masa lampau. Hubungan alam dan manusianya bisa kita lihat dari folklor, misalnya seperti pepatah ataupun peribahasa. Cara masyarakat kita untuk menjaga kelestarian alam bukan hanya dengan tindakan. Namun, juga mewariskan pemikiran-pemikirannya tentang alam melalui tuturan lisan (folklor). Dengan proses interaksi demikian, harapan dari perilaku, paradigma dan perangai diri keturunan atau generasi dari penerus masyarakat tersebut dapat menjaga. Meskipun saat ini sangat disayangkan realitas di lapangan menjadi berbeda. Cara pandang pemikiran manusia dominan terpusat pada pragmatisme dengan mendahulukan hasil (materi) dari kekayaan alam tanpa berpikir fungsi ekologi atau dampak dari tindak-tanduknya.

Tafsir Wes Wayahe… di Warung Kopi

Sengaja saya memakai diksi “pragmatis” ketika manusia memiliki cara berpikir praktis atau instan dalam aktivitas mengolah sumber daya alamnya, tidak tertutup kemungkinan saya juga termasuk. Sebagai contoh kita sering kali berkilah daripada membuang sampah ke tempat sampah yang jauh ataupun harus membayar petugas kebersihan. Banyak dari kita memilih membuang sampah di sungai dengan pertimbangan lebih cepat dan langsung hilang terbawa arus. Hal lain lagi misalnya, ketika harga burung hantu di pasaran sedang mahal karena banyak peminat, akhirnya banyak terjadi perburuan liar burung hantu dan menyebabkan populasinya menurun dan terancam punah.

Kita yang berpikiran pragmatis tadi, hanya fokus pada kepentingan pribadi maupun kelompok, yang dirasa dapat diraih secara instan dan cepat. Kita tidak berpikir bahwa keseimbangan alam menjadi terganggu dan menyebabkan terjadi ketimpangan ekosistem dari tindakan tersebut. Hal ini bisa terjadi karena setiap proses berpikir manusia tentu berkaitan dengan bagaimana perspektif atau sudut pandang mereka terhadap suatu hal. Apa pun itu. Jika manusia berpandangan bahwa alam hanya sebagai objek, maka mereka akan berpikir bebas melakukan apa pun terhadap alam. Meski sejatinya untuk kepentingan sesaat saja. Begitu juga sebaliknya, jika manusia melihat alam sebagai subjek dengan fungsinya yang utuh, maka tentu mereka akan lebih berusaha untuk menjaga dan melestarikannya.

Fungsi Ekologi dan Fungsi Ekonomi

Pengertian umum antara ekologi dan ekonomi masing-masing merupakan suatu cabang ilmu yang berbeda. Ekologi memfokuskan diri sebagai cabang ilmu biologi yang membahas interaksi antara makhluk hidup satu dengan yang lain, juga hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Sedangkan ekonomi merupakan ilmu pengetahuan yang membahas bagaimana mengelola rumah tangga atau lebih khusus bagaimana rumah tangga tersebut memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dalam mengelola sumber daya.

Dewasa ini, kenyataan antara ekologi dan ekonomi muncul jarak yang cukup luas. Padahal, ekologi dan ekonomi bisa berjalan beriringan dan tidak saling mengalahkan sehingga menghasilkan jarak. Sebagai ilmu pengetahuan yang secara hakikat memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan kesejahteraan untuk kemaslahatan bersama, seharusnya kedua ilmu tersebut dijalankan sesuai kaidahnya. Sehingga tidak akan terjadi seperti situasi, di mana untuk meningkatkan ekonomi, kita memiliki kendala kerusakan ekologi. Ataupun sebaliknya, ketika kita mempertahankan ekologi, kita tidak mampu mengoptimalkan ekonomi. Seharusnya, dengan memitrakan kedua ilmu pengetahuan tersebut, kita bisa mendapatkan manfaat dari sumber daya alam dengan tetap mempertimbangkan ekologinya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SEBAGAI kombinasi antara kondisi fisik yang mencangkup sumber daya alam seperti tanah, air, sinar matahari, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh baik di lautan maupun daratan juga termasuk manusia, lingkungan alam menjadi hal yang fundamental untuk keberlangsungan hidup seluruh makhluk hidup di dalamnya. Dalam arti bahwa lingkungan alam adalah sesuatu yang ada di sekitar manusia dan memengaruhi perkembangan  kehidupan manusia. Mengetahui pengertian itu, lalu pertanyaannya, apakah manusia sebagai komponen dan organisme tercerdas mengetahui bahwa kita menjadi bagian dari lingkungan untuk keberlangsungan hidupnya?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, sangat menarik untuk kita diskusikan bersama mengenai kemurnian hati dari penjaga adat istiadat dan nilai budaya ala masyarakat kita di masa lampau. Hubungan alam dan manusianya bisa kita lihat dari folklor, misalnya seperti pepatah ataupun peribahasa. Cara masyarakat kita untuk menjaga kelestarian alam bukan hanya dengan tindakan. Namun, juga mewariskan pemikiran-pemikirannya tentang alam melalui tuturan lisan (folklor). Dengan proses interaksi demikian, harapan dari perilaku, paradigma dan perangai diri keturunan atau generasi dari penerus masyarakat tersebut dapat menjaga. Meskipun saat ini sangat disayangkan realitas di lapangan menjadi berbeda. Cara pandang pemikiran manusia dominan terpusat pada pragmatisme dengan mendahulukan hasil (materi) dari kekayaan alam tanpa berpikir fungsi ekologi atau dampak dari tindak-tanduknya.

Tafsir Wes Wayahe… di Warung Kopi

Sengaja saya memakai diksi “pragmatis” ketika manusia memiliki cara berpikir praktis atau instan dalam aktivitas mengolah sumber daya alamnya, tidak tertutup kemungkinan saya juga termasuk. Sebagai contoh kita sering kali berkilah daripada membuang sampah ke tempat sampah yang jauh ataupun harus membayar petugas kebersihan. Banyak dari kita memilih membuang sampah di sungai dengan pertimbangan lebih cepat dan langsung hilang terbawa arus. Hal lain lagi misalnya, ketika harga burung hantu di pasaran sedang mahal karena banyak peminat, akhirnya banyak terjadi perburuan liar burung hantu dan menyebabkan populasinya menurun dan terancam punah.

Kita yang berpikiran pragmatis tadi, hanya fokus pada kepentingan pribadi maupun kelompok, yang dirasa dapat diraih secara instan dan cepat. Kita tidak berpikir bahwa keseimbangan alam menjadi terganggu dan menyebabkan terjadi ketimpangan ekosistem dari tindakan tersebut. Hal ini bisa terjadi karena setiap proses berpikir manusia tentu berkaitan dengan bagaimana perspektif atau sudut pandang mereka terhadap suatu hal. Apa pun itu. Jika manusia berpandangan bahwa alam hanya sebagai objek, maka mereka akan berpikir bebas melakukan apa pun terhadap alam. Meski sejatinya untuk kepentingan sesaat saja. Begitu juga sebaliknya, jika manusia melihat alam sebagai subjek dengan fungsinya yang utuh, maka tentu mereka akan lebih berusaha untuk menjaga dan melestarikannya.

Fungsi Ekologi dan Fungsi Ekonomi

Pengertian umum antara ekologi dan ekonomi masing-masing merupakan suatu cabang ilmu yang berbeda. Ekologi memfokuskan diri sebagai cabang ilmu biologi yang membahas interaksi antara makhluk hidup satu dengan yang lain, juga hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Sedangkan ekonomi merupakan ilmu pengetahuan yang membahas bagaimana mengelola rumah tangga atau lebih khusus bagaimana rumah tangga tersebut memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dalam mengelola sumber daya.

Dewasa ini, kenyataan antara ekologi dan ekonomi muncul jarak yang cukup luas. Padahal, ekologi dan ekonomi bisa berjalan beriringan dan tidak saling mengalahkan sehingga menghasilkan jarak. Sebagai ilmu pengetahuan yang secara hakikat memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan kesejahteraan untuk kemaslahatan bersama, seharusnya kedua ilmu tersebut dijalankan sesuai kaidahnya. Sehingga tidak akan terjadi seperti situasi, di mana untuk meningkatkan ekonomi, kita memiliki kendala kerusakan ekologi. Ataupun sebaliknya, ketika kita mempertahankan ekologi, kita tidak mampu mengoptimalkan ekonomi. Seharusnya, dengan memitrakan kedua ilmu pengetahuan tersebut, kita bisa mendapatkan manfaat dari sumber daya alam dengan tetap mempertimbangkan ekologinya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/