Menakar Keabadian Pancasila

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila, cukup banyak orang tahu. Namun pengetahuan akan hal itu tidak serta merta linier dengan pemahaman akan Pancasila. Konon katanya, Pancasila itu sakti. Tidak bisa diganti dan harga mati. Bahkan dalam UUD Negara RI Tahun 1945 Pasal 37 ayat (5) ditegaskan, “Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat dilakukan perubahan.” Artinya, atas ketentuan mengenai Pancasila yang tercantum dalam Pembukaan UUD Negara RI Tahun 1945, tidak dapat dilakukan perubahan sama sekali.

Puja puji terhadap Pancasila terus berlangsung hingga kini. Semua elemen bangsa dan pemerintah selalu mengumandangkan verbalitas keabadian Pancasila. Bahkan perguruan tinggi dan beragam kelompok studi yang mengatasnamakan Pancasila, jarang sekali memposisikan Pancasila sebagai diskursus objek kajian. Saratnya pujian yang melahirkan surplus pembicaraan dibanding aksi konkret untuk mengamalkan, menjadikan Pancasila potensial sebagai ideologi amatiran.

Keabadian Pancasila butuh uji elastisitas dalam dialektika  antitesis yang menjunjung objektifitas. Bahkan istilah keabadian itu sendiri sebenarnya self contradictory dalam perspektif ideologi. Kelahiran adalah siklus kehidupan yang berakhir dengan kematian. Teori keabadian tidak pernah ada. Tumbangnya komunisme dengan Glasnost dan Perestorikanya adalah fakta ketidakabadian ideologi itu sendiri. Dunia tidak lagi dalam genggaman bipolarisasi adidaya yang saling berhadapan. Perang ekonomi menjadikan multipolarisasi kepentingan. Melintas pagar negara sehingga negara di era kekinian menjadi sebuah desa yang terkendali oleh master otoritas supremasi ekonomi internasional. Tidak gampang dibendung karena teknologi telah menjembatani simpul-simpul strategis kedaulatan. Dalam konteks dinamika sosial sebagai indikator perubahan ditopang dengan lompatan perkembangan teknologi, maka isu strategisnya adalah: Apakah jargon keabadian Pancasila tidak bertentangan dengan epistemologi siklus ideologi yang berbasis pada perubahan sosial? Dalam narasi sederhana, apakah keabadian Pancasila itu bersifat hipotesa dalam nalar argumentatif ataukah keabadian Pancasila menjadi absolutisme itu sendiri?

Dua isu menarik yang tidak saja patut direnungkan tetapi penting untuk dijawab sebagai deposit kendali menuju Indonesia masa depan. Jangan lupa bahwa kita hidup dalam sebuah zaman yang makin menyadari ketidaksempurnaan nasib. Pengalaman, gagasan “sosialisme ilmiah” yang ditawarkan oleh Marx dan Engels pernah meramalkan tercapainya “surga di bumi”. Sebuah masyarakat di mana kapitalisme hilang dan kontradiksi tak ditemukan lagi. Tapi cita-cita itu terbentur dengan kenyataan yang keras di akhir abad ke-20. Uni Soviet dan RRC mengubah haluan, dengan menerima “jalan kapitalis” yang semula dikecam. Sosialisme pun terpuruk. Ternyata “ilmiah” bukan berarti “tanpa salah”. Faktanya  Marxisme sebagai sebuah gagasan yang akhirnya harus mengakui bahwa dunia tak akan pernah bebas dari kontradiksi.