alexametrics
23 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Anak Muda dan Komitmen Membangun Bangsa dan Negara

Mobile_AP_Rectangle 1

Tetapi yang lebih memprihatinkan dampak dari kecanduan bermain game adalah muncul sikap-sikap apatis terhadap lingkungan atau sosial sekitar, tanggung jawab sebagai warga negara (political apathyism) karena disibukkan dengan bermain game online tersebut. Secara tidak langsung permasalahan seperti ini kelak akan memunculkan sikap individualistik pada diri anak muda kita. Seperti kurangnya kepedulian terhadap permasalahan bangsa dan negara, baik menyangkut komitmen membangun demokrasi Indonesia yang berkeadaban (menjunjung kebebasan, persamaan, toleransi dan tanggung jawab), isu-isu krisis lingkungan, hak asasi manusia (HAM), menegakkan hukum sesuai konstitusi UUD 1945, kekerasan seksual di dalam kampus atau di luar kampus, dan lain sebagainya.

Dari sikap apatis di atas, kapasitas anak muda kita dalam hal melek politik juga akan menurun bahkan ada kecenderungan mempunyai sikap tidak melek politik (political illiteracy). Sehingga melahirkan generasi anak muda yang tidak mengetahui cara kerja demokrasi, fungsi lembaga-lembaga negara dan kegiatan-kegiatan politik lainnya. Akibatnya, harapan memunculkan tunas-tunas generasi muda hebat yang berintegritas, sadar hukum dan melek politik sangat jauh bisa diwujudkan. Sebab mereka-mereka akan sangat mudah dipermainkan dengan uang (money politic), iming-iming jabatan atau hal-hal pragmatis lainnya yang serba instan. Seperti kasus baru-baru ini terkait penipuan (perjudian) berkedok trading yang notabene diikuti oleh kalangan anak muda dengan orientasi menghasilkan banyak uang secara instan.

Dua hal di atas menjadi prasyarat penting untuk menyiapkan generasi muda yang benar-benar berkomitmen membangun bangsa dan negara, yang berkarakter sesuai dengan jati diri bangsa (identitas nasional) dan mempunyai sikap peduli terhadap lingkungan sekitar. Terutama mengetahui peran penting anak muda dan keterlibatannya dalam membangun bangsa dan negara. Serta ikut aktif dalam membangun demokrasi indonesia ke arah yang lebih baik. Barangkali dua syarat di atas akan melahirkan anak muda atau mahasiswa yang tetap kritis seperti apa yang diharapkannya oleh Presiden Jokowi saat menerima tamu undangan kelompok Cipayung Plus.

Mobile_AP_Rectangle 2

 

*Penulis adalah Staf Pengajar LB Pancasila dan PKN di Perguruan Tinggi Swasta Malang

 

- Advertisement -

Tetapi yang lebih memprihatinkan dampak dari kecanduan bermain game adalah muncul sikap-sikap apatis terhadap lingkungan atau sosial sekitar, tanggung jawab sebagai warga negara (political apathyism) karena disibukkan dengan bermain game online tersebut. Secara tidak langsung permasalahan seperti ini kelak akan memunculkan sikap individualistik pada diri anak muda kita. Seperti kurangnya kepedulian terhadap permasalahan bangsa dan negara, baik menyangkut komitmen membangun demokrasi Indonesia yang berkeadaban (menjunjung kebebasan, persamaan, toleransi dan tanggung jawab), isu-isu krisis lingkungan, hak asasi manusia (HAM), menegakkan hukum sesuai konstitusi UUD 1945, kekerasan seksual di dalam kampus atau di luar kampus, dan lain sebagainya.

Dari sikap apatis di atas, kapasitas anak muda kita dalam hal melek politik juga akan menurun bahkan ada kecenderungan mempunyai sikap tidak melek politik (political illiteracy). Sehingga melahirkan generasi anak muda yang tidak mengetahui cara kerja demokrasi, fungsi lembaga-lembaga negara dan kegiatan-kegiatan politik lainnya. Akibatnya, harapan memunculkan tunas-tunas generasi muda hebat yang berintegritas, sadar hukum dan melek politik sangat jauh bisa diwujudkan. Sebab mereka-mereka akan sangat mudah dipermainkan dengan uang (money politic), iming-iming jabatan atau hal-hal pragmatis lainnya yang serba instan. Seperti kasus baru-baru ini terkait penipuan (perjudian) berkedok trading yang notabene diikuti oleh kalangan anak muda dengan orientasi menghasilkan banyak uang secara instan.

Dua hal di atas menjadi prasyarat penting untuk menyiapkan generasi muda yang benar-benar berkomitmen membangun bangsa dan negara, yang berkarakter sesuai dengan jati diri bangsa (identitas nasional) dan mempunyai sikap peduli terhadap lingkungan sekitar. Terutama mengetahui peran penting anak muda dan keterlibatannya dalam membangun bangsa dan negara. Serta ikut aktif dalam membangun demokrasi indonesia ke arah yang lebih baik. Barangkali dua syarat di atas akan melahirkan anak muda atau mahasiswa yang tetap kritis seperti apa yang diharapkannya oleh Presiden Jokowi saat menerima tamu undangan kelompok Cipayung Plus.

 

*Penulis adalah Staf Pengajar LB Pancasila dan PKN di Perguruan Tinggi Swasta Malang

 

Tetapi yang lebih memprihatinkan dampak dari kecanduan bermain game adalah muncul sikap-sikap apatis terhadap lingkungan atau sosial sekitar, tanggung jawab sebagai warga negara (political apathyism) karena disibukkan dengan bermain game online tersebut. Secara tidak langsung permasalahan seperti ini kelak akan memunculkan sikap individualistik pada diri anak muda kita. Seperti kurangnya kepedulian terhadap permasalahan bangsa dan negara, baik menyangkut komitmen membangun demokrasi Indonesia yang berkeadaban (menjunjung kebebasan, persamaan, toleransi dan tanggung jawab), isu-isu krisis lingkungan, hak asasi manusia (HAM), menegakkan hukum sesuai konstitusi UUD 1945, kekerasan seksual di dalam kampus atau di luar kampus, dan lain sebagainya.

Dari sikap apatis di atas, kapasitas anak muda kita dalam hal melek politik juga akan menurun bahkan ada kecenderungan mempunyai sikap tidak melek politik (political illiteracy). Sehingga melahirkan generasi anak muda yang tidak mengetahui cara kerja demokrasi, fungsi lembaga-lembaga negara dan kegiatan-kegiatan politik lainnya. Akibatnya, harapan memunculkan tunas-tunas generasi muda hebat yang berintegritas, sadar hukum dan melek politik sangat jauh bisa diwujudkan. Sebab mereka-mereka akan sangat mudah dipermainkan dengan uang (money politic), iming-iming jabatan atau hal-hal pragmatis lainnya yang serba instan. Seperti kasus baru-baru ini terkait penipuan (perjudian) berkedok trading yang notabene diikuti oleh kalangan anak muda dengan orientasi menghasilkan banyak uang secara instan.

Dua hal di atas menjadi prasyarat penting untuk menyiapkan generasi muda yang benar-benar berkomitmen membangun bangsa dan negara, yang berkarakter sesuai dengan jati diri bangsa (identitas nasional) dan mempunyai sikap peduli terhadap lingkungan sekitar. Terutama mengetahui peran penting anak muda dan keterlibatannya dalam membangun bangsa dan negara. Serta ikut aktif dalam membangun demokrasi indonesia ke arah yang lebih baik. Barangkali dua syarat di atas akan melahirkan anak muda atau mahasiswa yang tetap kritis seperti apa yang diharapkannya oleh Presiden Jokowi saat menerima tamu undangan kelompok Cipayung Plus.

 

*Penulis adalah Staf Pengajar LB Pancasila dan PKN di Perguruan Tinggi Swasta Malang

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/