JIKA tak ada perubahan, Sabtu 2 November 2019 mendatang, Keluarga Alumni Universitas Jember (Kauje) akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) V di Hotel Agrowisata, Batu, Malang. Selain untuk mempertanggungjawabkan kepengurusan dan program kerja, munas lima tahunan itu juga sekaligus akan memilih pemimpin baru, menggantikan Dr Ali Masjkur Moesa MA MHum, yang telah memimpin organisasi alumni itu selama dua periode (2009-2014 dan 2014-2019).

IKLAN

Tidak seperti munas-munas sebelumnya, diperkirakan Munas V Kauje kali ini bakal lebih gayeng, ramai, dan bahkan membuat suasana lebih ‘dinamis’. Sebab, banyak hal yang bakal diperdebatkan dalam forum bergengsi itu, baik menyangkut figur, AD/ART, hingga pengembangan organisasi. Banyak kesan dan saran, hingga sindiran yang dialamatkan ke Kauje, karena di usianya yang 20 tahun ini, dianggap belum banyak menorehkan sejarah bagi anggotanya. Bahkan nama Kauje sendiri mungkin baru dikenal tak lebih dari sepuluh persen anggotanya saja.

Mengapa demikian, di antaranya sosialisasi keberadaan Kauje itu sendiri mungkin belum maksimal. Mungkin juga keberadaan wadah alumni itu dianggap kurang penting oleh para lulusannya. Itu pun bermacam-macam alasannya. Mulai dari anggapan sebagai organisasi ‘eksklusif’ (tak banyak dikenal di akar rumput), hingga dirasakan kurang membawa ‘berkah’ langsung bagi para alumni. Malah di sejumlah tempat, masih banyak alumni yang merasa malu dan minder mengaku sebagai lulusan Unej. Bagi yang menduduki posisi tertentu, malah merasa bangga jika menggunakan gelar S-2 dan S-3 miliknya dari sejumlah perguruan tinggi ternama di tanah air maupun luar negeri.

Padahal, tidak sedikit lulusan Unej yang telah berhasil menduduki posisi strategis di berbagai lembaga, pemerintah, maupun swasta. Bahkan tidak terhitung lulusan Unej yang diangkat menjadi perwakilan kantor mancanegara, baik sebagai konsul jenderal, atase kebudayaan dan pendidikan, dan jabatan sejenis di berbagai negara. Terakhir, tiga pekan lalu, Dr Arifi Saiman MA, alumnus FISIP Jurusan Hubungan Internasional angkatan 1983, telah diangkat menjadi Konsul Jenderal (Konjen) di New York, Amerika Serikat. Sebelumnya ada nama Dr Sjahri Sakidin (Australia), Dr Khusnu (Belanda), Dr Sujatmiko (Brunai), Kombes M. Fachrrozi (Arab Saudi), Dr Nurhayati (Kanada), dan masih banyak lagi.

Keberadaan Kauje sendiri sebenarnya memang baru diperkenalkan sejak November 1989, yang juga disebut sebagai Musyarawah Nasional I. Reuni tersebut dihadiri oleh Rektor Unej Prof Dr Simanhadi W, yang berlangsung di Fakultas Pertanian. Pelaksanaan acara tersebut benar-benar berjalan kondusif, semarak, dan penuh semangat, karena dihadiri oleh para alumni dari berbagai daerah baik dari Jawa dan luar Jawa.

Dari acara tersebut terpilihlah secara aklamasi ketua alumni pertama, Ir Soebroto Wijahno, yang juga Dekan Faperta. Salah satu hal sangat penting dibahas saat itu adalah perlunya alumni memiliki kantor dan gedung sendiri untuk wadah kegiatan alumni. Mengingat alumni adalah menggambarkan produk dari lembaga dan secara struktural alumni adalah masuk dalam urusan Pembantu Rektor III waktu itu.

Dengan usia yang sudah sekitar 25 tahun (waktu itu), Unej telah memiliki sekitar 20.000 alumni. Kini jumlahnya telah mencapai 110 ribu alumni lebih yang tersebar hampir ke seantero tanah air. Artinya, hampir di seluruh pelosok kabupaten/kota, provinsi telah terjamah oleh alumni Unej. Termasuk di luar negeri. Baik sebagai pejabat, tokoh masyarakat, maupun sekadar rakyat biasa.

Dan di usianya yang mencapai 20 tahun sekarang (usia Unej 55 tahun), kepengurusan Kauje telah berganti tiga kali. Yakni, Prof Ir Soebroto Wijahno (Faperta), Drs Moh Toerki (FISIP), dan Dr Ali Masykur Moesa (FISIP). Dalam AD/ART yang ada memang periode kepengurusan Kauje dibatasi maksimal 5 tahun, dan dapat dipilih kembali maksimal dua kali. Ada wacana (dalam Munas Batu, Malang, mendatang) periodisasi tersebut akan diubah menjadi empat tahun sekali (sama dengan masa jabatan rektor). Atau bahkan hanya tiga tahun saja, demi lancarnya regenerasi.

Jika melihat dari jumlah alumni dan penyebarannya hingga hampir seantero tanah air, namun keberadaan Kauje itu sendiri masih belum ‘memuaskan’. Sebab, jumlah kepengurusan mulai tingkat koordinatorat wilayah (provinsi), koordinatorat daerah (kabupaten/kota), maupun komisariat (tingkat PTN/PTS di luar Unej) baru mencapai 30-an. Bahkan jumlah fakultas di Unej saja (yang merupakan basis komisariat) lebih dari 15 institusi. Dengan demikian berarti belum semua fakultas di lingkungan Unej memiliki kepengurusan Kauje.

Dari kondisi tersebut memang sempat menjadi ‘polemik’ antar alumni senior (walau hanya sebatas di medsos/WA) yang agak ‘nyinyir’. Yakni, apa saja yang telah dilakukan pengurus Kauje selama ini? Lha wong untuk membentuk kepengurusan tingkat terkecil (tingkat fakultas) dan korda di Jatim, belum terealisasi maksimal. Padahal organisasi ini dinakhodai orang-orang hebat (akademisi/pejabat). Dananya pun tak sulit, lantaran mempunyai kas lumayan besar. Artinya, jika dibutuhkan untuk konsolidasi internal, tak perlu harus urunan, misalnya.

Tentu saja, berbagai pertanyaan maupun ‘sindiran nyinyir’ tersebut tidak bisa semuanya diamini begitu saja. Ada hal-hal yang perlu ‘dipahami’ secara komprehensif terkait proses konsolidasi Kauje tersebut. Di antaranya, posisi kepengurusan pusat (PP) Kauje ada di dua tempat, yakni, Jember dan Jakarta. Kedua, umumnya pengurus Kauje dipegang oleh orang-orang sibuk (bahkan super sibuk) dengan jabatannya. Mereka biasanya akan lebih mengutamakan jabatannya, daripada hanya sekadar mengurusi Kauje.

Diakui atau tidak, sejak ketua umum Kauje dipegang Ali Masykur Moesa, yang notabene telah memiliki reputasi tingkat nasional, secara otomatis nama Kauje juga terbawa (terangkat) ke jenjang yang sama. Bahkan nama Kauje sendiri saat ini dianggap ‘sejajar’ dengan alumni PTN ternama lainnya, seperti UI, UGM, Unair, ITB, IPB, dan beberapa lainnya. Mereka tergabung dalam Himpuni (Himpunan Alumni) yang merupakan wadah alumni PTN di tanah air. Ali sendiri menjabat sebagai wakil koordinator hasil Munas NTB.   

Ini tentu beda ketika Ketum Kauje hanya dipegang oleh figur lokal. Gaung Kauje juga hanya dikenal di tingkat lokal dan regional saja. Makanya, untuk mencari pengganti AMM (panggilan akrab Ali Masykur Moesa), diupayakan figur yang selevel atau setingkat dengan dirinya. Bahkan jika bisa lebih dari dia. Kalau tidak, dikhawatirkan nama dan keberadaan Kauje akan kembali ‘tenggelam’ di seputaran Unej dan sekitarnya saja. Padahal, ke depan, Unej telah bermimpi menjadi PTN unggul se ASEAN, dengan segala ikhtiar yang dilakukannya.

Karena itu cukup tepat, jika panitia Munas V Batu, Malang, pekan ini (2-3/11), mensyaratkan salah satu kriteria Ketum Kauje adalah memiliki kapasitas tingkat nasional. Dan, itu tidak terlalu sulit mencarinya. Sebab, dari seratus ribu lebih alumni Unej, cukup banyak yang telah memiliki kapasitas yang diinginkan panitia munas tersebut. Kita tak perlu bicara lagi siapa dia, dari jurusan apa dia berasal, serta berlatar belakang organisasi ekstra apa dulu, misalnya.

Banyak ‘pekerjaan rumah’ yang harus diselesaikan oleh pengurus baru Kauje mendatang. Salah satunya, menyelesaikan ‘polemik’ keberadaan gedung alumni, antara pengurus Kauje dengan pimpinan Unej. Polemik tersebut sebenarnya tidak terlalu sulit untuk diselesaikan, mana kala ada ‘komunikasi’ yang baik antara keduanya. Apalagi gedung dan fasilitas lainnya tersebut, dibangun atas ‘kepentingan bersama’ antara alumni dan pimpinan Kauje. Bukan ujug-ujug jadi, apalagi kategori diberi.

Selain itu, hubungan dan kerja sama yang intens antara Kauje dengan jajaran (pimpinan) Unej juga sangat dibutuhkan. Dalam arti take and give, dan komunikasi produktif harus terus dibangun, sehingga kedua pihak mampu mengantarkan para alumninya menjadi sarjana-sarjana yang rahmatan lil’alamin. Berbagai branding sebenarnya juga sudah dilakukan baik secara akademis, maupun oleh para alumni agar Unej dan segala produknya bisa diterima kalangan lebih luas.

Yang jelas, selain untuk forum silaturahmi dan melepas kangen, Munas V Kauje nanti diharapkan membawa berkah bagi semuanya. Yang sukses bisa membantu yang belum, yang sudah (jadi) konglomerat mungkin mampu mengatrol yang masih melarat, dan yang sudah beruntung dapat menarik yang merasa ‘buntung‘, misalnya.

Munas bukanlah merupakan arena pamer ketangkasan berdebat dan saling menjatuhkan. Juga bukan ajang untuk berebut posisi demi gengsi diri. Bukan pula forum curhat dan unek-unek kesedihan. Termasuk bukan ajang rasan-rasan terhadap para dosen killer yang sempat menyebalkan saat kuliah. Diharapkan dalam Munas tersebut akan mampu membuka peluang dan menghimpun potensi anggota agar bisa berbuat lebih banyak untuk sesama.

Kebahagiaan seseorang pada dasarnya bukan hanya diukur dari menumpuknya kekayaan (materi) atau posisi yang dimiliki. Namun justru terletak pada sejauh mana kita mau mensyukuri nikmat yang ada pada diri dan potensi sendiri. Di mana pun kita berada, apa pun profesi kita. Syukur-syukur jika kenikmatan itu bisa dibagi rasa dengan sesama, tanpa harus membusungkan dada, atau merasa nista. Selamat bermunas Kauje kita.

*) Penulis adalah alumnus FISIP Universitas Jember angkatan 1984, kini mengajar di Universitas Islam Jember.