Merawat Kearifan Melalui Globalisasi

Oleh: Mohammad Hairul *)

ERA Revolusi Industri 4.0 terkadang dimaknai dengan cara salah. Seolah segala sesuatu harus menyesuaikan dengan selera global. Seolah hal yang sedang booming di negara lain perlu segera diduplikasi ke dalam negeri. Jadinya kemudian, semakin banyak hal yang asing menjadi budaya dan kegemaran di negeri sendiri. Sedangkan budaya lokal sering terpinggirkan dan terancam punah.

IKLAN

Terkait budaya lokal, dikenal tiga istilah yang sering digunakan secara tumpang tindih. Pengetahuan lokal (local knowledge), kearifan lokal (local wisdom), dan kecerdasan lokal (local genius). Ketiganya seakan mengonsepkan sesuatu yang berbeda. Namun, di sisi lain seolah dapat saling menggantikan.

Pengetahuan lokal adalah segala sesuatu terkait bentuk-bentuk tradisional. Baik berupa kegiatan maupun suatu hasil karya yang dimiliki, dikuasai, dan digunakan oleh suatu komunitas, masyarakat, atau suatu suku bangsa tertentu. Bersifat turun-temurun dan terus berkembang sesuai dengan perubahan lingkungan.  Pemaknaan demikian menyiratkan bahwa pengetahuan lokal memiliki kedekatan makna dengan terminologi ketradisionalan pengetahuan.

Kecerdasan lokal (local genius) adalah keseluruhan ciri-ciri kebudayaan yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat atau bangsa sebagai hasil pengalaman mereka di masa lampau. Pemaknaan demikian memosisikan kecerdasan lokal merupakan hasil dari suatu proses sebelumnya.  Kecerdasan lokal adalah sesuatu yang dimiliki atas pewarisan dari generasi sebelumnya.

Kearifan lokal adalah seperangkat pengetahuan dan praktik atau aktivitas suatu komunitas yang merupakan warisan generasi sebelumnya maupun dari pengalaman berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat lain dengan tujuan untuk menyelesaikan dengan baik suatu persoalan atau kesulitan yang dihadapi.

Berdasarkan pemaknaan tersebut, pengetahuan lokal, kecerdasan lokal, dan kearifan lokal pada hakikatnya memiliki pengertian yang sama. Ketiganya mendasari pemahaman bahwa kebudayaan itu telah dimiliki dan diturunkan secara berkelanjutan dari generasi ke generasi selama ratusan bahkan ribuan tahun oleh masyarakat setempat. Kebudayaan itu tentunya sudah kuat berakar, tidak mudah goyah dan terkontaminasi kebudayaan lain yang masuk.

Kearifan lokal memiliki empat dimensi. Pertama, dimensi pengetahuan lokal. Wujudnya berupa pengetahuan tentang lingkungan hidup. Seperti halnya pengetahuan tentang perubahan dan siklus iklim kemarau dan penghujan, jenis flora dan fauna, kondisi geografis, demografis, dan sosiografis.

Kedua, dimensi nilai lokal. Nilai lokal dimaksudkan untuk mengatur kehidupan antar warga masyarakat. Setiap masyarakat memiliki aturan atau nilai-nilai lokal yang disepakati dan ditaati bersama oleh seluruh anggotanya. Nilai-nilai dimaksud berupa aturan tentang hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia lain, dan hubungan manusia dengan alam.

Ketiga, dimensi keterampilan lokal. Keterampilan lokal terkait kemampuan masyarakat bertahan hidup (survival).  Keterampilan lokal dari hal yang sederhana seperti berburu, meramu, bercocok tanam maupun membuat industri rumah tangga. Keterampilan hidup demikian biasanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga masing-masing.

Keempat, dimensi sumber daya lokal. Wujud sumber daya lokal umumnya berupa sumber daya yang dapat dan tak dapat diperbarui. Pada penggunaannya masyarakat akan menggunakan sesuai kebutuhan dan tidak mengeksploitasi secara besar-besaran apalagi untuk komersial. Kepemilikan atas sumber daya lokal biasanya bersifat kolektif. Seperti hutan, kebun, sumber air, lahan pertanian, permukiman.

Kelima, dimensi mekanisme pengambilan keputusan lokal. Pada setiap masyarakat biasanya terdapat pemerintahan lokal sendiri, biasanya disebut pemerintahan kesukuan. Pada setiap pemerintahan tersebut terdapat mekanisme pengambilan keputusan yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan sistem demokratis, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Ada juga yang menggunakan sistem hierarkis, bertingkat atau berjenjang.

Keenam, dimensi solidaritas kelompok lokal. Terbentuknya suatu masyarakat biasanya dipersatukan oleh ikatan komunal untuk membentuk solidaritas lokal. Setiap masyarakat mempunyai media-media untuk mengikat warganya, baik berupa ritual keagamaan atau upacara adat lainnya. Antaranggota masyarakat akan menerima bidang dan fungsinya masing-masing, seperti halnya solidaritas saat mengolah tanaman, saat panen padi, dan kerja bakti gotong royong.

Setidaknya ada empat alasan mengapa kita perlu kembali ke kearifan lokal. Pertama, adanya kesadaran bersama bahwa budaya lokal adalah lahan penyemaian benih-benih karakter, tempat identitas dan kepribadian tumbuh dan berkembang. Budaya lokal perlu menjadi bekal yang mewarnai tumbuh kembang suatu generasi. Nilai-nilai kearifan lokal adalah cara untuk membekali generasi muda akan kompleksitas kecakapan menghadapi era Revolusi Industri 4.0.

Kedua, kebudayaan memerlukan upaya pemeliharaan, pengembangan, dan pemberdayaan. Hal yang dapat dilakukan di antaranya melalui pendidikan. Hal demikian akan menciptakan generasi muda yang tidak tercerabut dari akar budayanya, justru diharapkan dapat melestarikan dan mengembangkan budaya lokalnya menjadi budaya global. Hal bernuansa lokalitas, namun dapat dipasarkan di pasar global akan menjadi nilai lebih dalam persaingan di era Revolusi Industri 4.0.

Ketiga, antisipasi keterasingan budaya lokal di tengah gempuran budaya asing di era global. Melalui berbagai peranti modern, nilai-nilai yang berasal dari luar turut mewarnai corak tersendiri pada sendi-sendi kehidupan bangsa. Menyikapi kondisi demikian, maka pelestarian budaya merupakan upaya untuk menjaga orientasi budaya lokal.

Keempat, fungsi kebudayaan sebagai sumber nilai membutuhkan dukungan masyarakat yang sadar dan terdidik. Hal itu dimaksudkan agar kebudayaan yang terwariskan ada sentuhan kreasi yang dapat membuatnya selalu relevan seiring perkembangan. Kaum terdidik juga potensial sebagai agen penyadaran dan pewarisan kebudayaan. Pada konteks demikian guru diharapkan sangat memahami perannya sebagai kaum terdidik yang bertanggung jawab pada pewarisan budaya.

*) Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Bondowoso dan Ketua IGI (Ikatan Guru Indonesia) Kabupaten Bondowoso.

Reporter :

Fotografer :

Editor :