alexametrics
32 C
Jember
Thursday, 23 September 2021
spot_imgspot_img

Gelorakan Profil Pelajar Pancasila

Mobile_AP_Rectangle 1

Huntington (1993) dalam bukunya The Clash of Civilizations and The Remarking of Word Order berpendapat bahwa dengan berakhirnya perang dingin. sumber konflik utama yang dihadapi umat manusia tidak lagi masalah ideologi dan ekonomi, tetapi perbedaan kebudayaan. Masa perang dingin adalah konflik antara dua negara super power yang tidak lagi mendefinisikan diri masing-masing sebagai negara bangsa dalam pengertian klasik, tetapi mendefinisikan identitas masing-masing atas dasar ideologi yang mereka anut (komunis dan demokrasi liberal). Budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber konflik yang dominan. Pada akhirnya konflik politik global yang paling prinsipal akan terjadi antarbangsa dan antarkelompok adalah karena perbedaan peradaban mereka. Konflik peradaban akan menjadi fase terakhir dari evolusi konflik dalam dunia modern.

Ramalan Huntington di atas menarik untuk menjadi pemantik lahirnya tulisan ini yang mendeskripsikan bagaimana pentingnya setiap warga negara, khususnya para pendidik untuk bersama-sama menggelorakan kebijakan profil pelajar Pancasila. Profil pelajar Pancasila sendiri adalah manifestasi dari ikhtiar pemerintah membentengi NKRI yang terlahir penuh keberagaman dengan penguatan pendidikan karakter. Sebuah negara yang membentang begitu luas dari Sabang sampai Merauke, dari Miamas hingga pulau Rote. Dahsyatnya lagi pada bentangan yang begitu panjang itu menyuguhkan pesona keberagaman yang terdiri dari; 17.508 pulau, 1.340 suku, 718 bahasa, 6 agama, dan 7 kepercayaan.

Penguatan pendidikan karakter untuk semua warga negara Indonesia, khususnya bagi para pelajar, sebagai generasi emas bangsa untuk menjadi pemenang pada masa depan. Sejatinya, ikhtiar penguatan pendidikan karakter secara informal telah dilakukan setiap manusia sejak lahir, melalui pendidikan akhlak di keluarga dengan peran orang tua yang selalu menjadi teladan baik bagi anak-anaknya. Hingga banyak sekali terdengar kisah nyata, meskipun ayahnya terpaksa menjadi pencuri, namun mempunyai sumpah anaknya tidak boleh mengikuti jejak langkahnya. Sumbangan pendidikan karakter juga diberikan oleh semua agama melalui dakwahnya di rumah ibadah, sehingga tidak jarang pada masa lalu terlihat bagaimana ramainya musala di desa dengan kiai kampung dan guru ngaji yang penuh keikhlasan menggelorakan pendidikan karakter. Akan tetapi, zaman sudah berubah dengan perkembangan super cepatnya. Kampung teduh itu menjadi global village di mana dunia sudah tidak ada batasnya karena gempuran globalisasi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Penguatan pendidikan karakter sebenarnya telah diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2010 melalui implementasi 18 nilai-nilai pendidikan karakter untuk disinergikan dengan kurikulum dan dilaksanakan mulai tahun ajaran 2011. Adapun 18 nilai-nilai pendidikan karakter tersebut meliputi religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Dalam rangka memastikan keberlangsungan penguatan 18 nilai-nilai karakter tersebut, pada tahun 2017 lahirlah Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Perpres PPK tersebut adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Penyelenggaraan PPK pada satuan pendidikan jalur pendidikan formal dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Adapun dalam Perpes PPK ini penekanannya lebih kepada 5 nilai karakter utama yaitu; religius, nasionalisme, integritas, mandiri, dan gotong royong.

Era baru dan semangat baru dunia pendidikan di tangan Mas Menteri Nadiem Makarim dengan menyatukan pendidikan Indonesia melalui Kemdikbud Dikti mengusung visi mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global. Dengan visi ini, diharapkan bahwa profil pelajar Pancasila menggarisbawahi pentingnya Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dengan menjadikannya sebagai arah karakter yang dituju dalam pendidikan Indonesia. Sehingga, profil pelajar Pancasila berfungsi sebagai kompas bagi pendidik dan pelajar dari jenjang PAUD sampai SMA dan SMK, juga SLB, sehingga semua pembelajaran, program dan kegiatan di satuan pendidikan bertujuan akhir ke profil pelajar Pancasila. Lantas apa saja dimensi dan elemen pada profil pelajar Pancasila tersebut?

Beriman, Bertakwa, dan Berakhlak Mulia

Ada lima elemen kunci dalam beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Elemen-elemen tersebut adalah akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak bernegara.

Kebinekaan Global

Elemen kunci kebinekaan global meliputi; mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan.

Gotong Royong

- Advertisement -

Huntington (1993) dalam bukunya The Clash of Civilizations and The Remarking of Word Order berpendapat bahwa dengan berakhirnya perang dingin. sumber konflik utama yang dihadapi umat manusia tidak lagi masalah ideologi dan ekonomi, tetapi perbedaan kebudayaan. Masa perang dingin adalah konflik antara dua negara super power yang tidak lagi mendefinisikan diri masing-masing sebagai negara bangsa dalam pengertian klasik, tetapi mendefinisikan identitas masing-masing atas dasar ideologi yang mereka anut (komunis dan demokrasi liberal). Budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber konflik yang dominan. Pada akhirnya konflik politik global yang paling prinsipal akan terjadi antarbangsa dan antarkelompok adalah karena perbedaan peradaban mereka. Konflik peradaban akan menjadi fase terakhir dari evolusi konflik dalam dunia modern.

Ramalan Huntington di atas menarik untuk menjadi pemantik lahirnya tulisan ini yang mendeskripsikan bagaimana pentingnya setiap warga negara, khususnya para pendidik untuk bersama-sama menggelorakan kebijakan profil pelajar Pancasila. Profil pelajar Pancasila sendiri adalah manifestasi dari ikhtiar pemerintah membentengi NKRI yang terlahir penuh keberagaman dengan penguatan pendidikan karakter. Sebuah negara yang membentang begitu luas dari Sabang sampai Merauke, dari Miamas hingga pulau Rote. Dahsyatnya lagi pada bentangan yang begitu panjang itu menyuguhkan pesona keberagaman yang terdiri dari; 17.508 pulau, 1.340 suku, 718 bahasa, 6 agama, dan 7 kepercayaan.

Penguatan pendidikan karakter untuk semua warga negara Indonesia, khususnya bagi para pelajar, sebagai generasi emas bangsa untuk menjadi pemenang pada masa depan. Sejatinya, ikhtiar penguatan pendidikan karakter secara informal telah dilakukan setiap manusia sejak lahir, melalui pendidikan akhlak di keluarga dengan peran orang tua yang selalu menjadi teladan baik bagi anak-anaknya. Hingga banyak sekali terdengar kisah nyata, meskipun ayahnya terpaksa menjadi pencuri, namun mempunyai sumpah anaknya tidak boleh mengikuti jejak langkahnya. Sumbangan pendidikan karakter juga diberikan oleh semua agama melalui dakwahnya di rumah ibadah, sehingga tidak jarang pada masa lalu terlihat bagaimana ramainya musala di desa dengan kiai kampung dan guru ngaji yang penuh keikhlasan menggelorakan pendidikan karakter. Akan tetapi, zaman sudah berubah dengan perkembangan super cepatnya. Kampung teduh itu menjadi global village di mana dunia sudah tidak ada batasnya karena gempuran globalisasi.

Penguatan pendidikan karakter sebenarnya telah diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2010 melalui implementasi 18 nilai-nilai pendidikan karakter untuk disinergikan dengan kurikulum dan dilaksanakan mulai tahun ajaran 2011. Adapun 18 nilai-nilai pendidikan karakter tersebut meliputi religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Dalam rangka memastikan keberlangsungan penguatan 18 nilai-nilai karakter tersebut, pada tahun 2017 lahirlah Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Perpres PPK tersebut adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Penyelenggaraan PPK pada satuan pendidikan jalur pendidikan formal dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Adapun dalam Perpes PPK ini penekanannya lebih kepada 5 nilai karakter utama yaitu; religius, nasionalisme, integritas, mandiri, dan gotong royong.

Era baru dan semangat baru dunia pendidikan di tangan Mas Menteri Nadiem Makarim dengan menyatukan pendidikan Indonesia melalui Kemdikbud Dikti mengusung visi mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global. Dengan visi ini, diharapkan bahwa profil pelajar Pancasila menggarisbawahi pentingnya Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dengan menjadikannya sebagai arah karakter yang dituju dalam pendidikan Indonesia. Sehingga, profil pelajar Pancasila berfungsi sebagai kompas bagi pendidik dan pelajar dari jenjang PAUD sampai SMA dan SMK, juga SLB, sehingga semua pembelajaran, program dan kegiatan di satuan pendidikan bertujuan akhir ke profil pelajar Pancasila. Lantas apa saja dimensi dan elemen pada profil pelajar Pancasila tersebut?

Beriman, Bertakwa, dan Berakhlak Mulia

Ada lima elemen kunci dalam beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Elemen-elemen tersebut adalah akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak bernegara.

Kebinekaan Global

Elemen kunci kebinekaan global meliputi; mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan.

Gotong Royong

Huntington (1993) dalam bukunya The Clash of Civilizations and The Remarking of Word Order berpendapat bahwa dengan berakhirnya perang dingin. sumber konflik utama yang dihadapi umat manusia tidak lagi masalah ideologi dan ekonomi, tetapi perbedaan kebudayaan. Masa perang dingin adalah konflik antara dua negara super power yang tidak lagi mendefinisikan diri masing-masing sebagai negara bangsa dalam pengertian klasik, tetapi mendefinisikan identitas masing-masing atas dasar ideologi yang mereka anut (komunis dan demokrasi liberal). Budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber konflik yang dominan. Pada akhirnya konflik politik global yang paling prinsipal akan terjadi antarbangsa dan antarkelompok adalah karena perbedaan peradaban mereka. Konflik peradaban akan menjadi fase terakhir dari evolusi konflik dalam dunia modern.

Ramalan Huntington di atas menarik untuk menjadi pemantik lahirnya tulisan ini yang mendeskripsikan bagaimana pentingnya setiap warga negara, khususnya para pendidik untuk bersama-sama menggelorakan kebijakan profil pelajar Pancasila. Profil pelajar Pancasila sendiri adalah manifestasi dari ikhtiar pemerintah membentengi NKRI yang terlahir penuh keberagaman dengan penguatan pendidikan karakter. Sebuah negara yang membentang begitu luas dari Sabang sampai Merauke, dari Miamas hingga pulau Rote. Dahsyatnya lagi pada bentangan yang begitu panjang itu menyuguhkan pesona keberagaman yang terdiri dari; 17.508 pulau, 1.340 suku, 718 bahasa, 6 agama, dan 7 kepercayaan.

Penguatan pendidikan karakter untuk semua warga negara Indonesia, khususnya bagi para pelajar, sebagai generasi emas bangsa untuk menjadi pemenang pada masa depan. Sejatinya, ikhtiar penguatan pendidikan karakter secara informal telah dilakukan setiap manusia sejak lahir, melalui pendidikan akhlak di keluarga dengan peran orang tua yang selalu menjadi teladan baik bagi anak-anaknya. Hingga banyak sekali terdengar kisah nyata, meskipun ayahnya terpaksa menjadi pencuri, namun mempunyai sumpah anaknya tidak boleh mengikuti jejak langkahnya. Sumbangan pendidikan karakter juga diberikan oleh semua agama melalui dakwahnya di rumah ibadah, sehingga tidak jarang pada masa lalu terlihat bagaimana ramainya musala di desa dengan kiai kampung dan guru ngaji yang penuh keikhlasan menggelorakan pendidikan karakter. Akan tetapi, zaman sudah berubah dengan perkembangan super cepatnya. Kampung teduh itu menjadi global village di mana dunia sudah tidak ada batasnya karena gempuran globalisasi.

Penguatan pendidikan karakter sebenarnya telah diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2010 melalui implementasi 18 nilai-nilai pendidikan karakter untuk disinergikan dengan kurikulum dan dilaksanakan mulai tahun ajaran 2011. Adapun 18 nilai-nilai pendidikan karakter tersebut meliputi religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Dalam rangka memastikan keberlangsungan penguatan 18 nilai-nilai karakter tersebut, pada tahun 2017 lahirlah Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Perpres PPK tersebut adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Penyelenggaraan PPK pada satuan pendidikan jalur pendidikan formal dilakukan secara terintegrasi dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Adapun dalam Perpes PPK ini penekanannya lebih kepada 5 nilai karakter utama yaitu; religius, nasionalisme, integritas, mandiri, dan gotong royong.

Era baru dan semangat baru dunia pendidikan di tangan Mas Menteri Nadiem Makarim dengan menyatukan pendidikan Indonesia melalui Kemdikbud Dikti mengusung visi mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global. Dengan visi ini, diharapkan bahwa profil pelajar Pancasila menggarisbawahi pentingnya Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dengan menjadikannya sebagai arah karakter yang dituju dalam pendidikan Indonesia. Sehingga, profil pelajar Pancasila berfungsi sebagai kompas bagi pendidik dan pelajar dari jenjang PAUD sampai SMA dan SMK, juga SLB, sehingga semua pembelajaran, program dan kegiatan di satuan pendidikan bertujuan akhir ke profil pelajar Pancasila. Lantas apa saja dimensi dan elemen pada profil pelajar Pancasila tersebut?

Beriman, Bertakwa, dan Berakhlak Mulia

Ada lima elemen kunci dalam beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Elemen-elemen tersebut adalah akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak bernegara.

Kebinekaan Global

Elemen kunci kebinekaan global meliputi; mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan.

Gotong Royong


BERITA TERKINI

Wajib Dibaca