alexametrics
20.8 C
Jember
Saturday, 20 August 2022

Porprov Jatim, Ajang Branding Jember 

Mobile_AP_Rectangle 1

Applause untuk Pemkab Jember yang sukses menggelar selebrasi Porprov Jatim VII di Jember Sport Garden (JSG), 25 Juni 2022. Meriah, rundown acara bergulir begitu apik, blackout dan berganti penampilan lain. Malam itu JSG penuh dengan lautan manusia. Sungguh luar biasa, selebrasi Porprov Jatim VII menjadi even skala regional Jatim yang sukses pasca pandemi Covid-19. Awalnya, saya bersama keluarga, hendak hadir langsung melihat kemeriahan selebrasi, namun niat itu urung, sebab saya yakin gelaran itu akan menarik ratusan dan bahkan ribuan masyarakat Jember, untuk berduyun-duyun menikmati sajian hiburan pasca terkungkung di rumah saja. Kami akhirnya memilih nobar melalui live streaming akun Youtube Pemkab Jember hingga acara usai. Seru juga, live streaming lancar dan kami pun bisa menikmati seluruh acara dengan baik. Sampai detik terakhir acara, viewer live streaming Pemkab Jember mencapai 25 ribu penonton (viewer). Saya yakin live streaming di akun lain seperti Kominfo MMC, dan media arus utama juga ditonton ribuan pasang mata.

Panggung utama (stage) cukup luas dengan latar belakang (background) videotron. Tapi pikiran nakal saya tiba-tiba muncul, apa ya tema even akbar ini? Mengapa stage polos (hanya vedotron dan lighting) tanpa nuansa bertema lokal?. Mungkin ekspektasi saya terlalu muluk, selebrasi itu bakal sebelas dua belas dengan opening ceremony Asian Games, 2018 silam di Gelora Bung Karno Jakarta. Stage dibangun dengan konsep yang penuh makna dengan nuansa air terjun, gunung berapi dan alam nan indah menggambarkan Indonesia. Andai stage selebrasi Porprov Jatim VII didekor (setting) dengan nuansa Watu Ulo sebagai salah satu ikon Jember,  hemat saya akan nyambung dengan penampilan Jember Fashion Carnival (JFC) yang perform legenda Watu Ulo, selaras juga dengan lagu Watu Ulo yang dilatunkan Bupati Jember Hendy Siswanto. Semakin pas kalau konten videotron juga menampilkan video Watu Ulo.

Saya juga agak terganggu ketika tari kolosal kolaborasi beberapa tari daerah, lantaran perpindahan multicamera (cut to) kurang smooth. Beberapa kali kamera tidak standby diambil untuk on air. Program director (PD) atau mungkin switcherman kurang koordinasi dengan kamerawan (camera person/campers). Beruntung ketidaknyamanan itu tidak berlangsung lama. Oh ya, ini sekadar catatan saya, pengambilan gambar (frame size) kurang menonjolkan close up dan detil. Menurut Steve Stockman dalam bukunya How to Shoot Video That Doesn’t Suck menjelaskan media TV atau web adalah media close up. Wajah bagaikan papan pengumuman dari seluruh emosi manusia. Saya sependapat, karena kita akan melihat ekspresi para talent, audience dan para tamu VIP. Bagaimana euforia, senyum dan tawa bahagia mereka berada di even spektakuler itu. Ketika penampilan grup band Kotak, tim multimedia menyuguhkan gambar terbaiknya, sehingga kita terasa berada di sana.

Mobile_AP_Rectangle 2

Catatan lain, performa drone kurang mengeksplorasi gambar top angle. Saat para penari kolaborasi menampilkan formasi merah putih dan gelombang (wave) berganti-ganti tulisan, di layar live streaming tidak terbaca dengan jelas. Apalagi saat puncak acara penyalaan obor api Porprov Jatim VII, dan dilanjutkan pesta kembang api (fire work), drone tidak mampu mengambil extreme long shot, sehingga tidak tampak kemegahan JSG dan kemeriahan selebrasi bagi para penonton di layar live streaming. Tapi saya yakin kawan-kawan multimedia sudah bekerja maksimal namun terkendala teknis karena jangkauan (range) dan medan magnet di sekitar JSG, sehingga sinyal gambar yang ditampilkan tidak sempurna. Sempat terlihat visual drone mengambil top shot, namun sayang sinyal yang dikirim buruk, program director pun langsung ganti visual lain. Secara keseluruhan, good job ya untuk tim multimedia.

 

Kearifan lokal

Panitia (event organizer) selebrasi Porprov Jatim VII hemat saya keren. Ide menyambut para petinggi (Gubernur Jatim, Bupati Jember, Ketua KONI Jatim) naik mobil hias dengan lantunan salawat nabi. Sebuah kearifan lokal yang patut diacungi jempol. Hal itu, sesuai dengan karakteristik masyarakat Jawa Timur khususnya di kawasan Tapal Kuda yang religius dan terkenal sebagai kota santri.

- Advertisement -

Applause untuk Pemkab Jember yang sukses menggelar selebrasi Porprov Jatim VII di Jember Sport Garden (JSG), 25 Juni 2022. Meriah, rundown acara bergulir begitu apik, blackout dan berganti penampilan lain. Malam itu JSG penuh dengan lautan manusia. Sungguh luar biasa, selebrasi Porprov Jatim VII menjadi even skala regional Jatim yang sukses pasca pandemi Covid-19. Awalnya, saya bersama keluarga, hendak hadir langsung melihat kemeriahan selebrasi, namun niat itu urung, sebab saya yakin gelaran itu akan menarik ratusan dan bahkan ribuan masyarakat Jember, untuk berduyun-duyun menikmati sajian hiburan pasca terkungkung di rumah saja. Kami akhirnya memilih nobar melalui live streaming akun Youtube Pemkab Jember hingga acara usai. Seru juga, live streaming lancar dan kami pun bisa menikmati seluruh acara dengan baik. Sampai detik terakhir acara, viewer live streaming Pemkab Jember mencapai 25 ribu penonton (viewer). Saya yakin live streaming di akun lain seperti Kominfo MMC, dan media arus utama juga ditonton ribuan pasang mata.

Panggung utama (stage) cukup luas dengan latar belakang (background) videotron. Tapi pikiran nakal saya tiba-tiba muncul, apa ya tema even akbar ini? Mengapa stage polos (hanya vedotron dan lighting) tanpa nuansa bertema lokal?. Mungkin ekspektasi saya terlalu muluk, selebrasi itu bakal sebelas dua belas dengan opening ceremony Asian Games, 2018 silam di Gelora Bung Karno Jakarta. Stage dibangun dengan konsep yang penuh makna dengan nuansa air terjun, gunung berapi dan alam nan indah menggambarkan Indonesia. Andai stage selebrasi Porprov Jatim VII didekor (setting) dengan nuansa Watu Ulo sebagai salah satu ikon Jember,  hemat saya akan nyambung dengan penampilan Jember Fashion Carnival (JFC) yang perform legenda Watu Ulo, selaras juga dengan lagu Watu Ulo yang dilatunkan Bupati Jember Hendy Siswanto. Semakin pas kalau konten videotron juga menampilkan video Watu Ulo.

Saya juga agak terganggu ketika tari kolosal kolaborasi beberapa tari daerah, lantaran perpindahan multicamera (cut to) kurang smooth. Beberapa kali kamera tidak standby diambil untuk on air. Program director (PD) atau mungkin switcherman kurang koordinasi dengan kamerawan (camera person/campers). Beruntung ketidaknyamanan itu tidak berlangsung lama. Oh ya, ini sekadar catatan saya, pengambilan gambar (frame size) kurang menonjolkan close up dan detil. Menurut Steve Stockman dalam bukunya How to Shoot Video That Doesn’t Suck menjelaskan media TV atau web adalah media close up. Wajah bagaikan papan pengumuman dari seluruh emosi manusia. Saya sependapat, karena kita akan melihat ekspresi para talent, audience dan para tamu VIP. Bagaimana euforia, senyum dan tawa bahagia mereka berada di even spektakuler itu. Ketika penampilan grup band Kotak, tim multimedia menyuguhkan gambar terbaiknya, sehingga kita terasa berada di sana.

Catatan lain, performa drone kurang mengeksplorasi gambar top angle. Saat para penari kolaborasi menampilkan formasi merah putih dan gelombang (wave) berganti-ganti tulisan, di layar live streaming tidak terbaca dengan jelas. Apalagi saat puncak acara penyalaan obor api Porprov Jatim VII, dan dilanjutkan pesta kembang api (fire work), drone tidak mampu mengambil extreme long shot, sehingga tidak tampak kemegahan JSG dan kemeriahan selebrasi bagi para penonton di layar live streaming. Tapi saya yakin kawan-kawan multimedia sudah bekerja maksimal namun terkendala teknis karena jangkauan (range) dan medan magnet di sekitar JSG, sehingga sinyal gambar yang ditampilkan tidak sempurna. Sempat terlihat visual drone mengambil top shot, namun sayang sinyal yang dikirim buruk, program director pun langsung ganti visual lain. Secara keseluruhan, good job ya untuk tim multimedia.

 

Kearifan lokal

Panitia (event organizer) selebrasi Porprov Jatim VII hemat saya keren. Ide menyambut para petinggi (Gubernur Jatim, Bupati Jember, Ketua KONI Jatim) naik mobil hias dengan lantunan salawat nabi. Sebuah kearifan lokal yang patut diacungi jempol. Hal itu, sesuai dengan karakteristik masyarakat Jawa Timur khususnya di kawasan Tapal Kuda yang religius dan terkenal sebagai kota santri.

Applause untuk Pemkab Jember yang sukses menggelar selebrasi Porprov Jatim VII di Jember Sport Garden (JSG), 25 Juni 2022. Meriah, rundown acara bergulir begitu apik, blackout dan berganti penampilan lain. Malam itu JSG penuh dengan lautan manusia. Sungguh luar biasa, selebrasi Porprov Jatim VII menjadi even skala regional Jatim yang sukses pasca pandemi Covid-19. Awalnya, saya bersama keluarga, hendak hadir langsung melihat kemeriahan selebrasi, namun niat itu urung, sebab saya yakin gelaran itu akan menarik ratusan dan bahkan ribuan masyarakat Jember, untuk berduyun-duyun menikmati sajian hiburan pasca terkungkung di rumah saja. Kami akhirnya memilih nobar melalui live streaming akun Youtube Pemkab Jember hingga acara usai. Seru juga, live streaming lancar dan kami pun bisa menikmati seluruh acara dengan baik. Sampai detik terakhir acara, viewer live streaming Pemkab Jember mencapai 25 ribu penonton (viewer). Saya yakin live streaming di akun lain seperti Kominfo MMC, dan media arus utama juga ditonton ribuan pasang mata.

Panggung utama (stage) cukup luas dengan latar belakang (background) videotron. Tapi pikiran nakal saya tiba-tiba muncul, apa ya tema even akbar ini? Mengapa stage polos (hanya vedotron dan lighting) tanpa nuansa bertema lokal?. Mungkin ekspektasi saya terlalu muluk, selebrasi itu bakal sebelas dua belas dengan opening ceremony Asian Games, 2018 silam di Gelora Bung Karno Jakarta. Stage dibangun dengan konsep yang penuh makna dengan nuansa air terjun, gunung berapi dan alam nan indah menggambarkan Indonesia. Andai stage selebrasi Porprov Jatim VII didekor (setting) dengan nuansa Watu Ulo sebagai salah satu ikon Jember,  hemat saya akan nyambung dengan penampilan Jember Fashion Carnival (JFC) yang perform legenda Watu Ulo, selaras juga dengan lagu Watu Ulo yang dilatunkan Bupati Jember Hendy Siswanto. Semakin pas kalau konten videotron juga menampilkan video Watu Ulo.

Saya juga agak terganggu ketika tari kolosal kolaborasi beberapa tari daerah, lantaran perpindahan multicamera (cut to) kurang smooth. Beberapa kali kamera tidak standby diambil untuk on air. Program director (PD) atau mungkin switcherman kurang koordinasi dengan kamerawan (camera person/campers). Beruntung ketidaknyamanan itu tidak berlangsung lama. Oh ya, ini sekadar catatan saya, pengambilan gambar (frame size) kurang menonjolkan close up dan detil. Menurut Steve Stockman dalam bukunya How to Shoot Video That Doesn’t Suck menjelaskan media TV atau web adalah media close up. Wajah bagaikan papan pengumuman dari seluruh emosi manusia. Saya sependapat, karena kita akan melihat ekspresi para talent, audience dan para tamu VIP. Bagaimana euforia, senyum dan tawa bahagia mereka berada di even spektakuler itu. Ketika penampilan grup band Kotak, tim multimedia menyuguhkan gambar terbaiknya, sehingga kita terasa berada di sana.

Catatan lain, performa drone kurang mengeksplorasi gambar top angle. Saat para penari kolaborasi menampilkan formasi merah putih dan gelombang (wave) berganti-ganti tulisan, di layar live streaming tidak terbaca dengan jelas. Apalagi saat puncak acara penyalaan obor api Porprov Jatim VII, dan dilanjutkan pesta kembang api (fire work), drone tidak mampu mengambil extreme long shot, sehingga tidak tampak kemegahan JSG dan kemeriahan selebrasi bagi para penonton di layar live streaming. Tapi saya yakin kawan-kawan multimedia sudah bekerja maksimal namun terkendala teknis karena jangkauan (range) dan medan magnet di sekitar JSG, sehingga sinyal gambar yang ditampilkan tidak sempurna. Sempat terlihat visual drone mengambil top shot, namun sayang sinyal yang dikirim buruk, program director pun langsung ganti visual lain. Secara keseluruhan, good job ya untuk tim multimedia.

 

Kearifan lokal

Panitia (event organizer) selebrasi Porprov Jatim VII hemat saya keren. Ide menyambut para petinggi (Gubernur Jatim, Bupati Jember, Ketua KONI Jatim) naik mobil hias dengan lantunan salawat nabi. Sebuah kearifan lokal yang patut diacungi jempol. Hal itu, sesuai dengan karakteristik masyarakat Jawa Timur khususnya di kawasan Tapal Kuda yang religius dan terkenal sebagai kota santri.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/