alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Tafsir Wes Wayahe… di Warung Kopi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MALAM itu, beberapa hari yang lalu, kurang lebih pukul 21.00 WIB, saat cuaca cerah dan udara terasa sumuk. Saya berjalan kaki dari rumah menuju salah satu warung kopi di Jalan Panjaitan Jember. Suasana di warung tersebut tidak terlalu ramai. Sambil memesan kopi tanpa gula–konon katanya minum kopi yang betul harus tanpa gula–saya memilih tempat duduk di pojok. Orang-orang yang ada di warung itu tampaknya terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan mengenai bagaimana Jember saat ini. Biasanya di warung kopi obrolan ke sana kemari agak sulit dihindari. Pada umumnya warung kopi, bagi sebagian orang–mungkin juga sebagian besar–merupakan tempat yang sangat nyaman untuk meluapkan semua isi hati dengan senang hati.

Tuntutan Inovasi Produksi Seni dan Budaya di Era Kekinian

Walaupun saya tidak dapat merekam secara utuh obrolan mereka, saya bisa menarik garis besar isinya. Mereka berbincang hal yang terkait dengan slogan Wes Wayahe… Mereka tidak setuju dengan banyak dan sering bergantinya slogan yang dipakai di Jember. Pembicaraan mereka bergerak di sekitar keinginan mereka bahwa Jember harusnya lebih fokus pada slogan Wes Wayahe Mbenahi Jember (slogan yang dipakai Bapak Hendy beserta tim saat pemilihan bupati dan wakil bupati). Silakan slogan tersebut dibuktikan dengan karya nyata. Bukan hanya dengan janji-janji tanpa bukti. Apalagi hanya dengan ganti-ganti slogan saja. Demikian inti obrolan mereka.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam obrolan malam itu mereka mempertanyakan manfaat slogan yang berganti-ganti. Slogan satu belum bisa dirasakan manfaatnya, sudah ada slogan lain yang juga tidak jelas manfaatnya bagi rakyat. Menariknya, masing-masing pendapat didukung oleh argumen yang bisa diterima, apalagi kalau dilihat dari sudut pandang bahasa.

Seorang yang bertubuh sedang, berpostur sangat atletis, sambil mengangkat kelas kopinya yang masih panas mengatakan bahwa Jember sekarang terlalu banyak slogan “Wes Wayahe…” Belum terbukti Wes Wayahe… yang satu, sudah ditambah lagi Wes Wayahe… berikutnya. Saking seringnya berganti slogan, sampai kita tidak merasakan apa-apa dari slogan yang ada, apalagi memperoleh manfaatnya. Demikian laki-laki itu meneruskan obrolannya.

“Kalian perhatikan saja kawan,” kata dia, sambil memperbaiki duduknya serta mengepulkan asap rokok kretek yang diisapnya, “Di Jember ini banyak sekali slogan Wes Wayahe…, dari Wes Wayahe Jember Hebat, Wes Wayahe Jember Bangkit, Wes Wayahe Jember Keren (ditulis kueeerenn), dan Wes Wayahe Jember Sehat.”

Coba berikan bukti, dia meminta kawan yang di sebelahnya berbicara. Namun belum sempat yang ditunjuk menjawab, dia kembali berucap. “Kita lihat slogan Wes Wayahe Jember Hebat. Di mana hebatnya, hebat dalam hal apa, dan apa yang bisa kita rasakan sebagai rakyat kecil terhadap kehebatan tersebut. Demikian juga dengan Wes Wayahe Jember Bangkit serta Wes Wayahe Jember Keren. Apanya yang bangkit dan keren, silakan tunjukkan kepadaku,” dia sangat bersemangat ketika mengatakan hal itu.

Dia kemudian melanjutkan obrolannya sambil sekali kali memainkan asap rokok yang bergulung-gulung keluar dari (maaf) mulutnya. Menurut dia, slogan yang terlalu sering berganti-ganti tidak dapat memberi efek kuat bagi pembacanya (itu pun kalau dibaca).

Menurut mereka slogan Wes Wayahe Mbenahi Jember lebih kuat efeknya bagi rakyat, karena slogan ini bisa menjadi payung bahwa Jember harus lebih hebat, bangkit, keren, serta sehat. Di samping itu, slogan ini telah terbukti dapat mencuri perhatian rakyat Jember serta memenangkan bupati dan wakil bupati sekarang dalam kontestasi pemilihan yang lalu. Cukup dengan slogan Wes Wayahe Mbenahi Jember serta rakyat diberi bukti, bukan janji, maka tidak perlu slogan lain-lain lagi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MALAM itu, beberapa hari yang lalu, kurang lebih pukul 21.00 WIB, saat cuaca cerah dan udara terasa sumuk. Saya berjalan kaki dari rumah menuju salah satu warung kopi di Jalan Panjaitan Jember. Suasana di warung tersebut tidak terlalu ramai. Sambil memesan kopi tanpa gula–konon katanya minum kopi yang betul harus tanpa gula–saya memilih tempat duduk di pojok. Orang-orang yang ada di warung itu tampaknya terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan mengenai bagaimana Jember saat ini. Biasanya di warung kopi obrolan ke sana kemari agak sulit dihindari. Pada umumnya warung kopi, bagi sebagian orang–mungkin juga sebagian besar–merupakan tempat yang sangat nyaman untuk meluapkan semua isi hati dengan senang hati.

Tuntutan Inovasi Produksi Seni dan Budaya di Era Kekinian

Walaupun saya tidak dapat merekam secara utuh obrolan mereka, saya bisa menarik garis besar isinya. Mereka berbincang hal yang terkait dengan slogan Wes Wayahe… Mereka tidak setuju dengan banyak dan sering bergantinya slogan yang dipakai di Jember. Pembicaraan mereka bergerak di sekitar keinginan mereka bahwa Jember harusnya lebih fokus pada slogan Wes Wayahe Mbenahi Jember (slogan yang dipakai Bapak Hendy beserta tim saat pemilihan bupati dan wakil bupati). Silakan slogan tersebut dibuktikan dengan karya nyata. Bukan hanya dengan janji-janji tanpa bukti. Apalagi hanya dengan ganti-ganti slogan saja. Demikian inti obrolan mereka.

Dalam obrolan malam itu mereka mempertanyakan manfaat slogan yang berganti-ganti. Slogan satu belum bisa dirasakan manfaatnya, sudah ada slogan lain yang juga tidak jelas manfaatnya bagi rakyat. Menariknya, masing-masing pendapat didukung oleh argumen yang bisa diterima, apalagi kalau dilihat dari sudut pandang bahasa.

Seorang yang bertubuh sedang, berpostur sangat atletis, sambil mengangkat kelas kopinya yang masih panas mengatakan bahwa Jember sekarang terlalu banyak slogan “Wes Wayahe…” Belum terbukti Wes Wayahe… yang satu, sudah ditambah lagi Wes Wayahe… berikutnya. Saking seringnya berganti slogan, sampai kita tidak merasakan apa-apa dari slogan yang ada, apalagi memperoleh manfaatnya. Demikian laki-laki itu meneruskan obrolannya.

“Kalian perhatikan saja kawan,” kata dia, sambil memperbaiki duduknya serta mengepulkan asap rokok kretek yang diisapnya, “Di Jember ini banyak sekali slogan Wes Wayahe…, dari Wes Wayahe Jember Hebat, Wes Wayahe Jember Bangkit, Wes Wayahe Jember Keren (ditulis kueeerenn), dan Wes Wayahe Jember Sehat.”

Coba berikan bukti, dia meminta kawan yang di sebelahnya berbicara. Namun belum sempat yang ditunjuk menjawab, dia kembali berucap. “Kita lihat slogan Wes Wayahe Jember Hebat. Di mana hebatnya, hebat dalam hal apa, dan apa yang bisa kita rasakan sebagai rakyat kecil terhadap kehebatan tersebut. Demikian juga dengan Wes Wayahe Jember Bangkit serta Wes Wayahe Jember Keren. Apanya yang bangkit dan keren, silakan tunjukkan kepadaku,” dia sangat bersemangat ketika mengatakan hal itu.

Dia kemudian melanjutkan obrolannya sambil sekali kali memainkan asap rokok yang bergulung-gulung keluar dari (maaf) mulutnya. Menurut dia, slogan yang terlalu sering berganti-ganti tidak dapat memberi efek kuat bagi pembacanya (itu pun kalau dibaca).

Menurut mereka slogan Wes Wayahe Mbenahi Jember lebih kuat efeknya bagi rakyat, karena slogan ini bisa menjadi payung bahwa Jember harus lebih hebat, bangkit, keren, serta sehat. Di samping itu, slogan ini telah terbukti dapat mencuri perhatian rakyat Jember serta memenangkan bupati dan wakil bupati sekarang dalam kontestasi pemilihan yang lalu. Cukup dengan slogan Wes Wayahe Mbenahi Jember serta rakyat diberi bukti, bukan janji, maka tidak perlu slogan lain-lain lagi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MALAM itu, beberapa hari yang lalu, kurang lebih pukul 21.00 WIB, saat cuaca cerah dan udara terasa sumuk. Saya berjalan kaki dari rumah menuju salah satu warung kopi di Jalan Panjaitan Jember. Suasana di warung tersebut tidak terlalu ramai. Sambil memesan kopi tanpa gula–konon katanya minum kopi yang betul harus tanpa gula–saya memilih tempat duduk di pojok. Orang-orang yang ada di warung itu tampaknya terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan mengenai bagaimana Jember saat ini. Biasanya di warung kopi obrolan ke sana kemari agak sulit dihindari. Pada umumnya warung kopi, bagi sebagian orang–mungkin juga sebagian besar–merupakan tempat yang sangat nyaman untuk meluapkan semua isi hati dengan senang hati.

Tuntutan Inovasi Produksi Seni dan Budaya di Era Kekinian

Walaupun saya tidak dapat merekam secara utuh obrolan mereka, saya bisa menarik garis besar isinya. Mereka berbincang hal yang terkait dengan slogan Wes Wayahe… Mereka tidak setuju dengan banyak dan sering bergantinya slogan yang dipakai di Jember. Pembicaraan mereka bergerak di sekitar keinginan mereka bahwa Jember harusnya lebih fokus pada slogan Wes Wayahe Mbenahi Jember (slogan yang dipakai Bapak Hendy beserta tim saat pemilihan bupati dan wakil bupati). Silakan slogan tersebut dibuktikan dengan karya nyata. Bukan hanya dengan janji-janji tanpa bukti. Apalagi hanya dengan ganti-ganti slogan saja. Demikian inti obrolan mereka.

Dalam obrolan malam itu mereka mempertanyakan manfaat slogan yang berganti-ganti. Slogan satu belum bisa dirasakan manfaatnya, sudah ada slogan lain yang juga tidak jelas manfaatnya bagi rakyat. Menariknya, masing-masing pendapat didukung oleh argumen yang bisa diterima, apalagi kalau dilihat dari sudut pandang bahasa.

Seorang yang bertubuh sedang, berpostur sangat atletis, sambil mengangkat kelas kopinya yang masih panas mengatakan bahwa Jember sekarang terlalu banyak slogan “Wes Wayahe…” Belum terbukti Wes Wayahe… yang satu, sudah ditambah lagi Wes Wayahe… berikutnya. Saking seringnya berganti slogan, sampai kita tidak merasakan apa-apa dari slogan yang ada, apalagi memperoleh manfaatnya. Demikian laki-laki itu meneruskan obrolannya.

“Kalian perhatikan saja kawan,” kata dia, sambil memperbaiki duduknya serta mengepulkan asap rokok kretek yang diisapnya, “Di Jember ini banyak sekali slogan Wes Wayahe…, dari Wes Wayahe Jember Hebat, Wes Wayahe Jember Bangkit, Wes Wayahe Jember Keren (ditulis kueeerenn), dan Wes Wayahe Jember Sehat.”

Coba berikan bukti, dia meminta kawan yang di sebelahnya berbicara. Namun belum sempat yang ditunjuk menjawab, dia kembali berucap. “Kita lihat slogan Wes Wayahe Jember Hebat. Di mana hebatnya, hebat dalam hal apa, dan apa yang bisa kita rasakan sebagai rakyat kecil terhadap kehebatan tersebut. Demikian juga dengan Wes Wayahe Jember Bangkit serta Wes Wayahe Jember Keren. Apanya yang bangkit dan keren, silakan tunjukkan kepadaku,” dia sangat bersemangat ketika mengatakan hal itu.

Dia kemudian melanjutkan obrolannya sambil sekali kali memainkan asap rokok yang bergulung-gulung keluar dari (maaf) mulutnya. Menurut dia, slogan yang terlalu sering berganti-ganti tidak dapat memberi efek kuat bagi pembacanya (itu pun kalau dibaca).

Menurut mereka slogan Wes Wayahe Mbenahi Jember lebih kuat efeknya bagi rakyat, karena slogan ini bisa menjadi payung bahwa Jember harus lebih hebat, bangkit, keren, serta sehat. Di samping itu, slogan ini telah terbukti dapat mencuri perhatian rakyat Jember serta memenangkan bupati dan wakil bupati sekarang dalam kontestasi pemilihan yang lalu. Cukup dengan slogan Wes Wayahe Mbenahi Jember serta rakyat diberi bukti, bukan janji, maka tidak perlu slogan lain-lain lagi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/