alexametrics
23.4 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Memahami Perbedaan

Dr. Aminullah Elhady, M.Ag

Mobile_AP_Rectangle 1

Setidaknya ada 9 periwayatan disajikan, dan kemudian Al-Baghdadi mencatat, bahwa validitas hadits tersebut diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang berpendapat bahwa dalam periwayatan hadits tersebut terdapat periwayat yang lemah (dha‘if) dan karena itu tidak dapat dijadikan dalil. Ibn Hazm termasuk ulama yang berpendapat demikian. Ada juga yang berpendapat bahwa karena hadits tersebut diriwayatkan oleh banyak orang dari kalangan Sahabat, maka dari segi makna hadits dipandang cukup dapat dijadikan argumen.

Menurut Al-Baghdadi, apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW itu sudah cukup jelas, yaitu berkaitan dengan ukuran benar-salah dalam hal-hal yang berkaitan dengan al-mu‘taqadat (masalah-masalah teologis). Al-Baghdadi tampaknya bermaksud membatasi makna yang terkandung dalam teks hadits, bahwa hadits mengenai perpecahan umat itu tidak boleh dipahami dengan begitu saja tanpa memperhatikan konteksnya.

Untuk memahami kandungan hadits perlu kiranya mencari pembanding dengan menampilkan hadits lain, yang menyatakan: “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang yang menolak”. “Barangsiapa taat kepadaku maka ia akan masuk surga, dan barangsiapa membangkang dariku maka itulah orang yang menolak”.  Sepintas informasi terakhir ini berlawanan dengan informasi pertama, jika dilihat secara kuantitatif. Bagaimana jika dianalisis secara kualitatif, dengan cara memadukan keduanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jika diambil jalan kompromi di antara kedua macam teks hadits tersebut dapat dipahami, bahwa firqah yang selamat dan masuk surga itu adalah firqah yang terdiri dari orang-orang yang taat kepada ajaran-ajaran Rasulullah SAW, sedangkan 72 firqah yang tidak selamat dan akan masuk neraka itu adalah golongan orang-orang yang tidak taat dan menolak ajaran-ajaran Rasulullah SAW.

Di sinilah pentingnya sikap tenang dan jernih, serta tidak tergesa-gesa dalam menangkap suatu pesan. Karena seringkali orang cepat memberi respon terhadap apa yang terlihat dan terbaca dari permukaan, padahal boleh jadi ada makna yang belum terungkap. Dalam tradisi kaum arif bahwa setiap kata itu mengandung makna luar dan juga makna dalam. Wallahu a‘lam.

*Dr. H. Aminullah Elhady, M.Ag., Dosen Pemikiran Islam, Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS)  Jember.

- Advertisement -

Setidaknya ada 9 periwayatan disajikan, dan kemudian Al-Baghdadi mencatat, bahwa validitas hadits tersebut diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang berpendapat bahwa dalam periwayatan hadits tersebut terdapat periwayat yang lemah (dha‘if) dan karena itu tidak dapat dijadikan dalil. Ibn Hazm termasuk ulama yang berpendapat demikian. Ada juga yang berpendapat bahwa karena hadits tersebut diriwayatkan oleh banyak orang dari kalangan Sahabat, maka dari segi makna hadits dipandang cukup dapat dijadikan argumen.

Menurut Al-Baghdadi, apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW itu sudah cukup jelas, yaitu berkaitan dengan ukuran benar-salah dalam hal-hal yang berkaitan dengan al-mu‘taqadat (masalah-masalah teologis). Al-Baghdadi tampaknya bermaksud membatasi makna yang terkandung dalam teks hadits, bahwa hadits mengenai perpecahan umat itu tidak boleh dipahami dengan begitu saja tanpa memperhatikan konteksnya.

Untuk memahami kandungan hadits perlu kiranya mencari pembanding dengan menampilkan hadits lain, yang menyatakan: “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang yang menolak”. “Barangsiapa taat kepadaku maka ia akan masuk surga, dan barangsiapa membangkang dariku maka itulah orang yang menolak”.  Sepintas informasi terakhir ini berlawanan dengan informasi pertama, jika dilihat secara kuantitatif. Bagaimana jika dianalisis secara kualitatif, dengan cara memadukan keduanya.

Jika diambil jalan kompromi di antara kedua macam teks hadits tersebut dapat dipahami, bahwa firqah yang selamat dan masuk surga itu adalah firqah yang terdiri dari orang-orang yang taat kepada ajaran-ajaran Rasulullah SAW, sedangkan 72 firqah yang tidak selamat dan akan masuk neraka itu adalah golongan orang-orang yang tidak taat dan menolak ajaran-ajaran Rasulullah SAW.

Di sinilah pentingnya sikap tenang dan jernih, serta tidak tergesa-gesa dalam menangkap suatu pesan. Karena seringkali orang cepat memberi respon terhadap apa yang terlihat dan terbaca dari permukaan, padahal boleh jadi ada makna yang belum terungkap. Dalam tradisi kaum arif bahwa setiap kata itu mengandung makna luar dan juga makna dalam. Wallahu a‘lam.

*Dr. H. Aminullah Elhady, M.Ag., Dosen Pemikiran Islam, Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS)  Jember.

Setidaknya ada 9 periwayatan disajikan, dan kemudian Al-Baghdadi mencatat, bahwa validitas hadits tersebut diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang berpendapat bahwa dalam periwayatan hadits tersebut terdapat periwayat yang lemah (dha‘if) dan karena itu tidak dapat dijadikan dalil. Ibn Hazm termasuk ulama yang berpendapat demikian. Ada juga yang berpendapat bahwa karena hadits tersebut diriwayatkan oleh banyak orang dari kalangan Sahabat, maka dari segi makna hadits dipandang cukup dapat dijadikan argumen.

Menurut Al-Baghdadi, apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW itu sudah cukup jelas, yaitu berkaitan dengan ukuran benar-salah dalam hal-hal yang berkaitan dengan al-mu‘taqadat (masalah-masalah teologis). Al-Baghdadi tampaknya bermaksud membatasi makna yang terkandung dalam teks hadits, bahwa hadits mengenai perpecahan umat itu tidak boleh dipahami dengan begitu saja tanpa memperhatikan konteksnya.

Untuk memahami kandungan hadits perlu kiranya mencari pembanding dengan menampilkan hadits lain, yang menyatakan: “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang yang menolak”. “Barangsiapa taat kepadaku maka ia akan masuk surga, dan barangsiapa membangkang dariku maka itulah orang yang menolak”.  Sepintas informasi terakhir ini berlawanan dengan informasi pertama, jika dilihat secara kuantitatif. Bagaimana jika dianalisis secara kualitatif, dengan cara memadukan keduanya.

Jika diambil jalan kompromi di antara kedua macam teks hadits tersebut dapat dipahami, bahwa firqah yang selamat dan masuk surga itu adalah firqah yang terdiri dari orang-orang yang taat kepada ajaran-ajaran Rasulullah SAW, sedangkan 72 firqah yang tidak selamat dan akan masuk neraka itu adalah golongan orang-orang yang tidak taat dan menolak ajaran-ajaran Rasulullah SAW.

Di sinilah pentingnya sikap tenang dan jernih, serta tidak tergesa-gesa dalam menangkap suatu pesan. Karena seringkali orang cepat memberi respon terhadap apa yang terlihat dan terbaca dari permukaan, padahal boleh jadi ada makna yang belum terungkap. Dalam tradisi kaum arif bahwa setiap kata itu mengandung makna luar dan juga makna dalam. Wallahu a‘lam.

*Dr. H. Aminullah Elhady, M.Ag., Dosen Pemikiran Islam, Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS)  Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/