alexametrics
21.3 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Memahami Perbedaan

Dr. Aminullah Elhady, M.Ag

Mobile_AP_Rectangle 1

Perbedaan pandangan di tengah keragaman masyarakat merupakan suatu fenomena yang telah ada sejak lama hingga saat ini. Perbedaan itu timbul secara alamiah karena kodrat manusia memiliki latar belakang yang berbeda-beda dalam banyak aspek kehidupan. Ada nilai-nilai primordial yang menjadi kekuatan dalam kehidupan masyarakat. Sementara dalam keyakinan keagamaan pun dapat terjadi perbedaan antar penganut suatu keyakinan, bahkan perbedaan dalam kelompok satu keyakinan. Adalah hal yang wajar dan tidak berlebihan apabila masing-masing dari kelompok-kelompok itu mengaku atau mengklaim kebenaran ada pada pihaknya.

Selagi masing-masing dapat menerima dan memahami sikap pihak lain, sebagaimana pihaknya berharap agar pihak lain itu menerima dan memahami sikapnya, maka kehidupan bersama menjadi baik-baik saja. Dalam ungkapan Al-Quran disebutkan: lana a’maluna walakum a’malukum, yang menggambarkan preferensi pilihan, atau dalam pernyataan: lakum dinukum waliya din, yang menggambarkan adanya garis pembatas yang tegas dalam aspek teologis.

Manusia ditakdirkan hidup secara kolektif sebagai makhluk sosial, dan karena itu selalu terjadi interaksi dan hubungan kebersamaan. Kehidupan kolektif makhluk sosial itu secara alamiah selalu menghasilkan kebudayaan dan peradaban, sebagai konsekuensi logis adanya potensi jiwa dan akal pada diri setiap manusia. Kebudayaan dan peradaban itu pula yang menjadikan manusia mengalami perkembangan dan perubahan dalam berbagai segi kehidupan. Dalam kehidupan bersama itulah seorang manusia dapat menyatakan sikap persetujuan atau penolakan terhadap orang lainnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Permasalahan akan timbul apabila suatu kelompok tidak mau menerima dan memahami sikap pihak lain, sebagaimana juga sebaliknya. Dari sinilah akan timbul absolutisme pendirian, dalam arti tidak memberi ruang bagi kelompok lain untuk berbeda, dan memberi justifikasi bahwa kelompok mana pun yang tidak sama dengan pendirian kelompoknya dianggap sebagai lawan atau musuh yang harus dienyahkan.

Di tengah komunitas Islam pun ada sebagian bersikap dan berpandangan seperti itu, yang mengklaim pandangannya itu dilandasi oleh pernyataan Rasulullah Muhammad SAW dalam hadits yang menyebutkan hanya ada satu kelompok yang selamat di antara sejumlah golongan dari umat beliau. Sesederhana itukah memahami informasi Rasulullah SAW itu?. Adalah Abdul Qahir Al-Baghdadi, seorang teolog dan matematikus abad XI (wafat 429 H / 1037 M), berusaha melayani pertanyaan masyarakat pada zamannya mengenai makna hadits dimaksud, maka ia susun sebuah kitab berjudul “Al-Farq bayn al-Firaq” (Perbedaan di antara golongan-golongan). Mengawali pembahasannya itu, sang penyusun menyajikan hadits dalam beragam periwayatan mengenai “terpecahnya umat Nabi Muhammad ke dalam 73 golongan”.

Secara umum hadits itu menyebutkan: “sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan saja”. Tentu saja pernyataan itu mengundang rasa ingin tahu, karena informasinya dapat menimbulkan optimisme pada satu sisi dan menimbulkan kekhawatiran pada sisi yang lain.

Topik-topik yang disajikan oleh Al-Baghdadi dalam kitabnya itu ternyata jauh melebihi jumlah 73 firqah, ditambah lagi tidak sedikit ada suatu golongan ternyata mempunyai sub-sub atau sekte-sekte yang kadang ada beberapa. Itu artinya, bahwa jumlah yang disebut dengan angka 73 itu bukanlah jumlah definitif. Lalu bagaimana memahaminya?

- Advertisement -

Perbedaan pandangan di tengah keragaman masyarakat merupakan suatu fenomena yang telah ada sejak lama hingga saat ini. Perbedaan itu timbul secara alamiah karena kodrat manusia memiliki latar belakang yang berbeda-beda dalam banyak aspek kehidupan. Ada nilai-nilai primordial yang menjadi kekuatan dalam kehidupan masyarakat. Sementara dalam keyakinan keagamaan pun dapat terjadi perbedaan antar penganut suatu keyakinan, bahkan perbedaan dalam kelompok satu keyakinan. Adalah hal yang wajar dan tidak berlebihan apabila masing-masing dari kelompok-kelompok itu mengaku atau mengklaim kebenaran ada pada pihaknya.

Selagi masing-masing dapat menerima dan memahami sikap pihak lain, sebagaimana pihaknya berharap agar pihak lain itu menerima dan memahami sikapnya, maka kehidupan bersama menjadi baik-baik saja. Dalam ungkapan Al-Quran disebutkan: lana a’maluna walakum a’malukum, yang menggambarkan preferensi pilihan, atau dalam pernyataan: lakum dinukum waliya din, yang menggambarkan adanya garis pembatas yang tegas dalam aspek teologis.

Manusia ditakdirkan hidup secara kolektif sebagai makhluk sosial, dan karena itu selalu terjadi interaksi dan hubungan kebersamaan. Kehidupan kolektif makhluk sosial itu secara alamiah selalu menghasilkan kebudayaan dan peradaban, sebagai konsekuensi logis adanya potensi jiwa dan akal pada diri setiap manusia. Kebudayaan dan peradaban itu pula yang menjadikan manusia mengalami perkembangan dan perubahan dalam berbagai segi kehidupan. Dalam kehidupan bersama itulah seorang manusia dapat menyatakan sikap persetujuan atau penolakan terhadap orang lainnya.

Permasalahan akan timbul apabila suatu kelompok tidak mau menerima dan memahami sikap pihak lain, sebagaimana juga sebaliknya. Dari sinilah akan timbul absolutisme pendirian, dalam arti tidak memberi ruang bagi kelompok lain untuk berbeda, dan memberi justifikasi bahwa kelompok mana pun yang tidak sama dengan pendirian kelompoknya dianggap sebagai lawan atau musuh yang harus dienyahkan.

Di tengah komunitas Islam pun ada sebagian bersikap dan berpandangan seperti itu, yang mengklaim pandangannya itu dilandasi oleh pernyataan Rasulullah Muhammad SAW dalam hadits yang menyebutkan hanya ada satu kelompok yang selamat di antara sejumlah golongan dari umat beliau. Sesederhana itukah memahami informasi Rasulullah SAW itu?. Adalah Abdul Qahir Al-Baghdadi, seorang teolog dan matematikus abad XI (wafat 429 H / 1037 M), berusaha melayani pertanyaan masyarakat pada zamannya mengenai makna hadits dimaksud, maka ia susun sebuah kitab berjudul “Al-Farq bayn al-Firaq” (Perbedaan di antara golongan-golongan). Mengawali pembahasannya itu, sang penyusun menyajikan hadits dalam beragam periwayatan mengenai “terpecahnya umat Nabi Muhammad ke dalam 73 golongan”.

Secara umum hadits itu menyebutkan: “sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan saja”. Tentu saja pernyataan itu mengundang rasa ingin tahu, karena informasinya dapat menimbulkan optimisme pada satu sisi dan menimbulkan kekhawatiran pada sisi yang lain.

Topik-topik yang disajikan oleh Al-Baghdadi dalam kitabnya itu ternyata jauh melebihi jumlah 73 firqah, ditambah lagi tidak sedikit ada suatu golongan ternyata mempunyai sub-sub atau sekte-sekte yang kadang ada beberapa. Itu artinya, bahwa jumlah yang disebut dengan angka 73 itu bukanlah jumlah definitif. Lalu bagaimana memahaminya?

Perbedaan pandangan di tengah keragaman masyarakat merupakan suatu fenomena yang telah ada sejak lama hingga saat ini. Perbedaan itu timbul secara alamiah karena kodrat manusia memiliki latar belakang yang berbeda-beda dalam banyak aspek kehidupan. Ada nilai-nilai primordial yang menjadi kekuatan dalam kehidupan masyarakat. Sementara dalam keyakinan keagamaan pun dapat terjadi perbedaan antar penganut suatu keyakinan, bahkan perbedaan dalam kelompok satu keyakinan. Adalah hal yang wajar dan tidak berlebihan apabila masing-masing dari kelompok-kelompok itu mengaku atau mengklaim kebenaran ada pada pihaknya.

Selagi masing-masing dapat menerima dan memahami sikap pihak lain, sebagaimana pihaknya berharap agar pihak lain itu menerima dan memahami sikapnya, maka kehidupan bersama menjadi baik-baik saja. Dalam ungkapan Al-Quran disebutkan: lana a’maluna walakum a’malukum, yang menggambarkan preferensi pilihan, atau dalam pernyataan: lakum dinukum waliya din, yang menggambarkan adanya garis pembatas yang tegas dalam aspek teologis.

Manusia ditakdirkan hidup secara kolektif sebagai makhluk sosial, dan karena itu selalu terjadi interaksi dan hubungan kebersamaan. Kehidupan kolektif makhluk sosial itu secara alamiah selalu menghasilkan kebudayaan dan peradaban, sebagai konsekuensi logis adanya potensi jiwa dan akal pada diri setiap manusia. Kebudayaan dan peradaban itu pula yang menjadikan manusia mengalami perkembangan dan perubahan dalam berbagai segi kehidupan. Dalam kehidupan bersama itulah seorang manusia dapat menyatakan sikap persetujuan atau penolakan terhadap orang lainnya.

Permasalahan akan timbul apabila suatu kelompok tidak mau menerima dan memahami sikap pihak lain, sebagaimana juga sebaliknya. Dari sinilah akan timbul absolutisme pendirian, dalam arti tidak memberi ruang bagi kelompok lain untuk berbeda, dan memberi justifikasi bahwa kelompok mana pun yang tidak sama dengan pendirian kelompoknya dianggap sebagai lawan atau musuh yang harus dienyahkan.

Di tengah komunitas Islam pun ada sebagian bersikap dan berpandangan seperti itu, yang mengklaim pandangannya itu dilandasi oleh pernyataan Rasulullah Muhammad SAW dalam hadits yang menyebutkan hanya ada satu kelompok yang selamat di antara sejumlah golongan dari umat beliau. Sesederhana itukah memahami informasi Rasulullah SAW itu?. Adalah Abdul Qahir Al-Baghdadi, seorang teolog dan matematikus abad XI (wafat 429 H / 1037 M), berusaha melayani pertanyaan masyarakat pada zamannya mengenai makna hadits dimaksud, maka ia susun sebuah kitab berjudul “Al-Farq bayn al-Firaq” (Perbedaan di antara golongan-golongan). Mengawali pembahasannya itu, sang penyusun menyajikan hadits dalam beragam periwayatan mengenai “terpecahnya umat Nabi Muhammad ke dalam 73 golongan”.

Secara umum hadits itu menyebutkan: “sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan saja”. Tentu saja pernyataan itu mengundang rasa ingin tahu, karena informasinya dapat menimbulkan optimisme pada satu sisi dan menimbulkan kekhawatiran pada sisi yang lain.

Topik-topik yang disajikan oleh Al-Baghdadi dalam kitabnya itu ternyata jauh melebihi jumlah 73 firqah, ditambah lagi tidak sedikit ada suatu golongan ternyata mempunyai sub-sub atau sekte-sekte yang kadang ada beberapa. Itu artinya, bahwa jumlah yang disebut dengan angka 73 itu bukanlah jumlah definitif. Lalu bagaimana memahaminya?

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/