alexametrics
24.6 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Mewaspadai Kembali Penyebaran “Virus” Taper Tantrum

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam diskursus ekonomi, bahaya laten dalam perekonomian adalah perilaku anomali besaran ekonomi yang menggayut menuju krisis ekonomi. Per dimensi ekonomi global kini, alarm meningkatnya risiko krisis neraca pembayaran membayangi upaya program pemulihan ekonomi akibat pandemi. Buktinya adalah gagal bayar utang (default) sejumlah negara berkembang. Anehnya, posisi ini berkebalikan dengan Amerika Serikat. Pemulihan ekonomi yang lebih baik dan inflasi yang lebih tinggi dari yang diharapkan. Bahkan Federal Reserve telah mengisyaratkan akan mengurangi pembelian obligasinya. Waspada ini juga ditengarai oleh IMF yang merilis Outlook Ekonomi Dunia April 2021, dengan suatu isyarat peluang arus keluar modal dari pasar negara berkembang, terlebih di tengah siklus keuangan berubah, dipastikan menimbulkan ketidakstabilan ekonomi.

Bagi negara berkembang, fenomena ini menjadi fokus utama terlebih pola lonjakan dan penghentian aliran modal secara tiba-tiba yang bisa merusak stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi seringkali terjadi. Gegara utamanya disinyalir  mampatnya sisi eksternal maupun internal. Biasanya sumber eksternal terkait limpahan dari siklus keuangan global. Tumpuannya adalah rilis anyar kebijakan moneter The Fed. Ia seakan penentu utama dari siklus ini, karena dolar AS secara efektif adalah mata uang cadangan global. Pelonggaran The Fed cenderung membangkitkan risiko yang mana para investor cenderung menaikkan gelembung modalnya ke negara berkembang untuk mencari hasil yang lebih tinggi. Sebaliknya, pengetatan menaikkan imbal hasil obligasi, menyedot modal kembali ke AS. Kebijakan internal negara berkembang juga bisa menjadi sebab lonjakan dan penghentian aliran modal mendadak di negara tertentu. Meski terlepas dari siklus keuangan global, kontrol modal yang lemah bisa menyebabkan arus masuk modal yang besar. Pada titik ini,  mengakibatkan utang luar negeri yang tidak berkelanjutan dan atau apresiasi nilai tukar yang memperburuk transaksi berjalan.

Biasanya memburuknya ketidakseimbangan makroekonomi akan dilanjutkan dengan deretan ikutannya. Ini dengan sendirinya akan menjadi pemicu gegara lainnya, seperti kenaikan harga minyak, default pada utang luar negeri, perputaran siklus keuangan, dan lainnya. Inilah yang menyebabkan hilangnya kepercayaan internasional secara tiba-tiba.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menggapai masalah tersebut tidak aneh jika resep para pemikir kebijakan ortodoks untuk negara berkembang dicobakan dalam mencegah akumulasi ketidakseimbangan makroekonomi. Detail resepnya biasanya adalah pilihan antara kombinasi arus modal yang tidak terkendali dan nilai tukar yang fleksibel di satu sisi, atau nilai tukar tetap dengan kontrol modal di sisi lain. Tidak berhenti disini, ruang ini mengakitkan kegamangan baru yaitu dihadapkan pada Trilema. Artinya pengambil kebijakan di negara berkembang tidak dapat secara bersamaan mempertahankan “impossible trinity” dari independensi kebijakan moneter, aliran modal bebas, dan nilai tukar tetap.

Adakah Kejutan selanjutnya?

Pada posisi ini tidak sekadar helikopter uang yang diharap, namun pesawat jumbo yang menebar roket uang. Tak ayal stimulus sebesar 7.3 triliun dolar US digelontorkan. Maka asa perekonomian Amerika Serikat tampak akan meluncur ke pemulihan yang pesat di tahun 2021. Ini menggoda The Fed untuk melakukan ancang-ancang kebijakan moneter ultra-loose, dengan berakibat konsekuensi serius bagi pasar di negara berkembang. Tetapi The Fed perlu hati-hati dalam melakukan pengumuman kebijakan moneternya, agar imbas balik taper tantrum tidak terjadi lagi seperti tahun 2013. Saat itu rencana kebijakan mengurangi stimulus kebijakan Quantitative Easing langsung memukul kurs sejumlah negara berkembang. Lagi pula, The Fed ikut-ikutan mengumumkan akan mengurangi laju pembelian obligasi AS atau US Treasury, guna mengurangi jumlah aliran modal. Sehingga taper tantrum terjadi akibat meningkatnya imbal hasil obligasi sebagai reaksi atas pengumuman itu.

Nah, apakah kondisi saat ini lebih baik dari tahun 2013? Data dan fakta menunjukkan: Pertama, banyak negara berkembang seperti India, Brazil, Meksiko, dan Afrika Selatan secara keseluruhan kurang bergantung pada arus masuk modal asing dibandingkan tahun 2013, sehingga defisit transaksi berjalan lebih rendah dari sebelumnya. Kedua, terlepas dari pelonggaran kebijakan moneter besar-besaran pascapageblug, pertumbuhan kredit berada pada tingkat yang lebih aman, utamanya Indonesia, Rusia, Filipina, dan Brasil. Ini bisa jadi cermin permintaan kredit yang lebih rendah di tengah krisis. Akibatnya mengurangi prospek pertumbuhan dalam waktu dekat. Namun juga menunjukkan risiko likuiditas yang lebih rendah dibandingkan selama 2013-2014.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam diskursus ekonomi, bahaya laten dalam perekonomian adalah perilaku anomali besaran ekonomi yang menggayut menuju krisis ekonomi. Per dimensi ekonomi global kini, alarm meningkatnya risiko krisis neraca pembayaran membayangi upaya program pemulihan ekonomi akibat pandemi. Buktinya adalah gagal bayar utang (default) sejumlah negara berkembang. Anehnya, posisi ini berkebalikan dengan Amerika Serikat. Pemulihan ekonomi yang lebih baik dan inflasi yang lebih tinggi dari yang diharapkan. Bahkan Federal Reserve telah mengisyaratkan akan mengurangi pembelian obligasinya. Waspada ini juga ditengarai oleh IMF yang merilis Outlook Ekonomi Dunia April 2021, dengan suatu isyarat peluang arus keluar modal dari pasar negara berkembang, terlebih di tengah siklus keuangan berubah, dipastikan menimbulkan ketidakstabilan ekonomi.

Bagi negara berkembang, fenomena ini menjadi fokus utama terlebih pola lonjakan dan penghentian aliran modal secara tiba-tiba yang bisa merusak stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi seringkali terjadi. Gegara utamanya disinyalir  mampatnya sisi eksternal maupun internal. Biasanya sumber eksternal terkait limpahan dari siklus keuangan global. Tumpuannya adalah rilis anyar kebijakan moneter The Fed. Ia seakan penentu utama dari siklus ini, karena dolar AS secara efektif adalah mata uang cadangan global. Pelonggaran The Fed cenderung membangkitkan risiko yang mana para investor cenderung menaikkan gelembung modalnya ke negara berkembang untuk mencari hasil yang lebih tinggi. Sebaliknya, pengetatan menaikkan imbal hasil obligasi, menyedot modal kembali ke AS. Kebijakan internal negara berkembang juga bisa menjadi sebab lonjakan dan penghentian aliran modal mendadak di negara tertentu. Meski terlepas dari siklus keuangan global, kontrol modal yang lemah bisa menyebabkan arus masuk modal yang besar. Pada titik ini,  mengakibatkan utang luar negeri yang tidak berkelanjutan dan atau apresiasi nilai tukar yang memperburuk transaksi berjalan.

Biasanya memburuknya ketidakseimbangan makroekonomi akan dilanjutkan dengan deretan ikutannya. Ini dengan sendirinya akan menjadi pemicu gegara lainnya, seperti kenaikan harga minyak, default pada utang luar negeri, perputaran siklus keuangan, dan lainnya. Inilah yang menyebabkan hilangnya kepercayaan internasional secara tiba-tiba.

Menggapai masalah tersebut tidak aneh jika resep para pemikir kebijakan ortodoks untuk negara berkembang dicobakan dalam mencegah akumulasi ketidakseimbangan makroekonomi. Detail resepnya biasanya adalah pilihan antara kombinasi arus modal yang tidak terkendali dan nilai tukar yang fleksibel di satu sisi, atau nilai tukar tetap dengan kontrol modal di sisi lain. Tidak berhenti disini, ruang ini mengakitkan kegamangan baru yaitu dihadapkan pada Trilema. Artinya pengambil kebijakan di negara berkembang tidak dapat secara bersamaan mempertahankan “impossible trinity” dari independensi kebijakan moneter, aliran modal bebas, dan nilai tukar tetap.

Adakah Kejutan selanjutnya?

Pada posisi ini tidak sekadar helikopter uang yang diharap, namun pesawat jumbo yang menebar roket uang. Tak ayal stimulus sebesar 7.3 triliun dolar US digelontorkan. Maka asa perekonomian Amerika Serikat tampak akan meluncur ke pemulihan yang pesat di tahun 2021. Ini menggoda The Fed untuk melakukan ancang-ancang kebijakan moneter ultra-loose, dengan berakibat konsekuensi serius bagi pasar di negara berkembang. Tetapi The Fed perlu hati-hati dalam melakukan pengumuman kebijakan moneternya, agar imbas balik taper tantrum tidak terjadi lagi seperti tahun 2013. Saat itu rencana kebijakan mengurangi stimulus kebijakan Quantitative Easing langsung memukul kurs sejumlah negara berkembang. Lagi pula, The Fed ikut-ikutan mengumumkan akan mengurangi laju pembelian obligasi AS atau US Treasury, guna mengurangi jumlah aliran modal. Sehingga taper tantrum terjadi akibat meningkatnya imbal hasil obligasi sebagai reaksi atas pengumuman itu.

Nah, apakah kondisi saat ini lebih baik dari tahun 2013? Data dan fakta menunjukkan: Pertama, banyak negara berkembang seperti India, Brazil, Meksiko, dan Afrika Selatan secara keseluruhan kurang bergantung pada arus masuk modal asing dibandingkan tahun 2013, sehingga defisit transaksi berjalan lebih rendah dari sebelumnya. Kedua, terlepas dari pelonggaran kebijakan moneter besar-besaran pascapageblug, pertumbuhan kredit berada pada tingkat yang lebih aman, utamanya Indonesia, Rusia, Filipina, dan Brasil. Ini bisa jadi cermin permintaan kredit yang lebih rendah di tengah krisis. Akibatnya mengurangi prospek pertumbuhan dalam waktu dekat. Namun juga menunjukkan risiko likuiditas yang lebih rendah dibandingkan selama 2013-2014.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dalam diskursus ekonomi, bahaya laten dalam perekonomian adalah perilaku anomali besaran ekonomi yang menggayut menuju krisis ekonomi. Per dimensi ekonomi global kini, alarm meningkatnya risiko krisis neraca pembayaran membayangi upaya program pemulihan ekonomi akibat pandemi. Buktinya adalah gagal bayar utang (default) sejumlah negara berkembang. Anehnya, posisi ini berkebalikan dengan Amerika Serikat. Pemulihan ekonomi yang lebih baik dan inflasi yang lebih tinggi dari yang diharapkan. Bahkan Federal Reserve telah mengisyaratkan akan mengurangi pembelian obligasinya. Waspada ini juga ditengarai oleh IMF yang merilis Outlook Ekonomi Dunia April 2021, dengan suatu isyarat peluang arus keluar modal dari pasar negara berkembang, terlebih di tengah siklus keuangan berubah, dipastikan menimbulkan ketidakstabilan ekonomi.

Bagi negara berkembang, fenomena ini menjadi fokus utama terlebih pola lonjakan dan penghentian aliran modal secara tiba-tiba yang bisa merusak stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi seringkali terjadi. Gegara utamanya disinyalir  mampatnya sisi eksternal maupun internal. Biasanya sumber eksternal terkait limpahan dari siklus keuangan global. Tumpuannya adalah rilis anyar kebijakan moneter The Fed. Ia seakan penentu utama dari siklus ini, karena dolar AS secara efektif adalah mata uang cadangan global. Pelonggaran The Fed cenderung membangkitkan risiko yang mana para investor cenderung menaikkan gelembung modalnya ke negara berkembang untuk mencari hasil yang lebih tinggi. Sebaliknya, pengetatan menaikkan imbal hasil obligasi, menyedot modal kembali ke AS. Kebijakan internal negara berkembang juga bisa menjadi sebab lonjakan dan penghentian aliran modal mendadak di negara tertentu. Meski terlepas dari siklus keuangan global, kontrol modal yang lemah bisa menyebabkan arus masuk modal yang besar. Pada titik ini,  mengakibatkan utang luar negeri yang tidak berkelanjutan dan atau apresiasi nilai tukar yang memperburuk transaksi berjalan.

Biasanya memburuknya ketidakseimbangan makroekonomi akan dilanjutkan dengan deretan ikutannya. Ini dengan sendirinya akan menjadi pemicu gegara lainnya, seperti kenaikan harga minyak, default pada utang luar negeri, perputaran siklus keuangan, dan lainnya. Inilah yang menyebabkan hilangnya kepercayaan internasional secara tiba-tiba.

Menggapai masalah tersebut tidak aneh jika resep para pemikir kebijakan ortodoks untuk negara berkembang dicobakan dalam mencegah akumulasi ketidakseimbangan makroekonomi. Detail resepnya biasanya adalah pilihan antara kombinasi arus modal yang tidak terkendali dan nilai tukar yang fleksibel di satu sisi, atau nilai tukar tetap dengan kontrol modal di sisi lain. Tidak berhenti disini, ruang ini mengakitkan kegamangan baru yaitu dihadapkan pada Trilema. Artinya pengambil kebijakan di negara berkembang tidak dapat secara bersamaan mempertahankan “impossible trinity” dari independensi kebijakan moneter, aliran modal bebas, dan nilai tukar tetap.

Adakah Kejutan selanjutnya?

Pada posisi ini tidak sekadar helikopter uang yang diharap, namun pesawat jumbo yang menebar roket uang. Tak ayal stimulus sebesar 7.3 triliun dolar US digelontorkan. Maka asa perekonomian Amerika Serikat tampak akan meluncur ke pemulihan yang pesat di tahun 2021. Ini menggoda The Fed untuk melakukan ancang-ancang kebijakan moneter ultra-loose, dengan berakibat konsekuensi serius bagi pasar di negara berkembang. Tetapi The Fed perlu hati-hati dalam melakukan pengumuman kebijakan moneternya, agar imbas balik taper tantrum tidak terjadi lagi seperti tahun 2013. Saat itu rencana kebijakan mengurangi stimulus kebijakan Quantitative Easing langsung memukul kurs sejumlah negara berkembang. Lagi pula, The Fed ikut-ikutan mengumumkan akan mengurangi laju pembelian obligasi AS atau US Treasury, guna mengurangi jumlah aliran modal. Sehingga taper tantrum terjadi akibat meningkatnya imbal hasil obligasi sebagai reaksi atas pengumuman itu.

Nah, apakah kondisi saat ini lebih baik dari tahun 2013? Data dan fakta menunjukkan: Pertama, banyak negara berkembang seperti India, Brazil, Meksiko, dan Afrika Selatan secara keseluruhan kurang bergantung pada arus masuk modal asing dibandingkan tahun 2013, sehingga defisit transaksi berjalan lebih rendah dari sebelumnya. Kedua, terlepas dari pelonggaran kebijakan moneter besar-besaran pascapageblug, pertumbuhan kredit berada pada tingkat yang lebih aman, utamanya Indonesia, Rusia, Filipina, dan Brasil. Ini bisa jadi cermin permintaan kredit yang lebih rendah di tengah krisis. Akibatnya mengurangi prospek pertumbuhan dalam waktu dekat. Namun juga menunjukkan risiko likuiditas yang lebih rendah dibandingkan selama 2013-2014.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/