Komunitas Gerbang: In-Group Dan Out-Group

Permasalahan ini tentu harus dapat diatasi, agar masyarakat Kabupaten Jember tetap dapat mempertahankan jati dirinya sebagai masyarakat pluralis yang mengedepankan kolektivitas di tengah pertumbuhan komunitas gerbang yang semakin masif. Oleh karena itu, perlu dipikirkan dengan baik sebuah strategi pengembangan masyarakat perkotaan di Kabupaten Jember untuk mengatasi hambatan komunikasi, interaksi, dan relasi antara komunitas gerbang dengan komunitas non gerbang. Keterdesakan ini mengacu pada pertimbangan diperlukannya upaya preventif untuk meminimalisasi konflik yang dapat bersumber dari kecemburuan sosial akibat segregasi yang terus menerus dipromosikan baik secara sadar maupun tidak sadar.

Mempromosikan Intergroup Relation

Tugas utama Pemerintah Kabupaten Jember menyikapi fenomena komunitas gerbang serta dinamika perubahan sosial yang mengikutinya adalah membangun keselarasan hidup antar masyarakat sebagai satu tubuh sosial yang sama. Salah satu strategi yang dapat menjadi opsi bagi Pemerintah Kabupaten Jember adalah mengadopsi konsep intergroup relation sehingga memungkinkan terjadinya relasi sosial antarkomunitas yang berbeda. Intergroup relation secara sederhana dipahami sebagai upaya untuk memperkuat relasi antara “kami” dan “mereka” sebagai langkah terstruktur dalam mereduksi ketegangan sosial akibat prasangka dan stereotipe yang berkembang serta sekaligus juga secara bersamaan meningkatkan kohesivitas sosial.

Fokus pengembangan masyarakat sebaiknya diarahkan pada terciptanya beberapa kondisi sebagai berikut: pertama, mutual support yaitu terciptanya iklim saling dukung antarkomunitas masyarakat untuk membangun solidaritas sosial; kedua, kepekaan sosial antarkomunitas yang terbangun melalui proses komunikasi dan interaksi intensif agar tercipta kepedulian sosial antar komunitas; ketiga, cohesiveness yaitu mempromosikan nilai-nilai pengaruh positif yang memungkinkan masing-masing komunitas saling menerima satu sama lain sehingga tercipta ikatan sosial yang kuat; dan, keempat, inklusivitas yang ditandai dengan sikap dan perilaku anggota komunitas yang menghargai perbedaan dan mengembangkan semangat toleransi di dalam kemajemukan masyarakat.

Bentuk yang paling sesuai dengan konsep intergroup relation adalah tersedianya fasilitas publik seperti taman sebagai ruang terbuka yang mempertemukan antarkomunitas untuk mengembangkan dialog terbuka melalui kegiatan olahraga, bermain, edukasi, dan berkesenian, sehingga mampu mempererat relasi antarkomunitas untuk menembus batas-batas sosial dan psikologis yang tercipta. Tugas ini tentu menjadi tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah di setiap jenjangnya, pengembang, tokoh masyarakat dan pemuda, yang dengan kemampuannya masing-masing secara sadar berpartisipasi aktif mengawal perubahan sosial di Kabupaten Jember agar terwujud masyarakat Jember inklusif dan menghargai kearifan lokal serta mampu beradaptasi dengan perkembangan budaya masyarakat selama proses perubahan sosial berlangsung.

*) Penulis adalah dosen FISIP Universitas Jember.