alexametrics
30.1 C
Jember
Friday, 27 May 2022

“Hanya dan Diri” Peta Jalan Pendidikan Jiwa Merdeka

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sesuatu yang alamiah jika individu menginginkan yang terbaik. Sesuatu yang mulia jika ada kehendak untuk maju mencapai kondisi yang lebih baik lagi. Dalam hal ini pembanding diperlukan. Apakah membandingkan satu hal dengan hal lain yang setara; atau membandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Penjelasan yang sejalan dengan makna hasil dari program inovatif Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memberikan hak belajar mahasiswa untuk melaksanakan aktivitas pembelajaran di perguruan tinggi. Aktivitas ini sebagai perwujudan jalinan hasil kerja sama dengan berbagai kampus di luar. Esensi kerja sama ini memberikan kesempatan mahasiswa mengikuti 1 (satu) semester atau setara dengan 20 SKS pembelajaran di luar program studi pada perguruan tinggi yang sama, dan paling lama 2 semester atau setara dengan 40 SKS pembelajaran pada prodi yang sama di perguruan tinggi yang berbeda. Yaitu pembelajaran pada prodi yang berbeda di PT yang berbeda atau pembelajaran di luar PT.
Program tersebut memberikan dampak inspirasi menarik bagi dunia pendidikan. Yaitu untuk lebih mengenal lingkungan di luar dengan baik. Sehingga dapat memotivasi semangat tanggung jawab pembelajarannya. Selanjutnya mendapatkan soft skill berinteraksi mengenal lingkungan pembelajaran di luar lingkungan kampus dengan kelebihan dan ‘keunikan’ proses pembelajarannya. Kedua aspek ini menjadikan kemampuan diri mengembangkan kreativitas pembelajaran yang baik. Kreativitas lebih lanjut menumbuhkan kompetensi kemampuan kognitif, sosial dan perilaku, serta teknikal. Pertama, kemampuan kognitif yang mencakup kemampuan literasi dan numerasi, serta kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order cognitive skills). Kedua, kemampuan sosial dan behavioral, mencakup keterampilan sosial emosional, keterbukaan, ketekunan, emosi yang stabil, kemampuan mengatur diri, keberanian memutuskan dan keterampilan interpersonal.
Pencapaian ini menumbuhkan Jiwa Merdeka, yaitu “HANYA dan DIRI”. “HANYA” mampu dicapai ketika semangat para akademis (dosen-mahasiswa) mengharapkan dalam “DIRI” tentang lebih dalam menerima perubahan lanskap akademik pembelajaran saat ini. “HANYA” dan “DIRI” memberikan pembentukan suasana pembelajaran menjadi lebih kreatif dan inovatif merespon perkembangan lingkungan.
Perkembangan adaptif diri seluruh elemen pembelajaran untuk pengarusutamaan pendidikan menjadi berubah positif terhadap iklim pengembangan keilmuan. Keilmuan yang memposisikan saling mendukung dan setara, yaitu kapabilitas, artinya tujuan capaian belajar yang lebih terbuka atau belajar transdisipliner. Implikasi belajar transdisipliner yang diharapkan membutuhkan perubahan arsitektur lanskap akademik yang memberi keleluasaan siswa-mahasiswa untuk belajar lintas disiplin. Respons ini membuat suasana pembelajaran menjadi aktif, menarik dan akomodatif menerima masukan-masukan dalam perkembangan keilmuan yang lain. Kesadaran ini membuat hapusnya keangkuhan dalam menotaliterkan keilmuan pada satu bidang saja. Sifat akademis ini membutuhkan keterbukaan untuk membentuk academic atmosphere dan kenyamanan iklim pembelajaran transdisipliner yang dinamis dan fleksibel.
Transdisipliner merupakan inovasi kurikulum secara berkelanjutan menyentuh dataran proses dan pengalaman belajar bersama (dosen-mahasiswa) serta kurikulum. Interaksi kedua subjek utama pendidikan ini bukan sekadar capaian instrumental input dalam praksis pendidikan, namun pada multi-skills proses belajar yang metakompetensi. Proses belajar yang lebih terbuka dengan kurikulum transdisipliner dari pertumbuhan disiplin-disiplin ilmu untuk menghadirkan inspirasi yang inspiratif dengan dukungan budaya. Dukungan nilai budaya Indonesia dan Pancasila memberikan puncak interaksi sosial yang dimiliki atas “rasa dan bakti” mangertos (paham) terhadap rasa ungkul (bathin utuh) di dalam diri pribadinya sendiri (Whedy, 2020).
Nilai budaya dan Pancasila tersebut membuat MBKM tersebut memberikan tolok ukur pada diri mahasiswa untuk memberikan masukan dalam proses evaluasi, sehingga dapat diketahui sudah sejauh apa melangkah dan sisi mana yang masih perlu untuk dikembangkan. Konstruk pengukuran ini memberikan kesesuaian dengan tujuan yang hendak dicapai. Jika tujuannya untuk evaluasi proses, selayaknya program pertukaran pembelajaran MBKM sebagai data masukan. Konsep ini memberikan pengaruh inspiratif untuk membuat proses perkuliahan menjadi menarik dengan tumbuhnya daya analitis dan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena peran kedua subjek memberikan masukan untuk: Pertama, perubahan pola pikir atau orientasi dalam bentuk karya ide, pemikiran, pengetahuan, dan teori. Perubahan ini akan tercermin dari neraca aktivitas tanggung jawab pembelajaran apakah akan lebih diwarnai mengunggah atau mengunduh. Orientasi mengunggah dengan memperbanyak inovatif pembelajaran dari hasil MBKM, sehingga memberikan warna bagi pengetahuan. Perubahan orientasi ini penting seiring harapan publik sejak dulu yang menganggap mahasiswa adalah sumber perubahan, penentu kecenderungan dan bukan menjadi penikmat perubahan lingkungan yang berlangsung.
Kedua, pengembangan keilmuan yang lebih terbuka responsif bagi lingkungan dengan tetap menumbuhkan tanggung jawab dan dimensi kemanusiaan dalam inovasinya. Pencapaian ini menumbuhkan keterbukaan kedua subjek untuk menerima, bahwa lingkungan menjadi faktor penentu pengembangan kurikulum. Ketiga, transformasi pembelajaran yang adaptif terhadap pencapaian lulusan yang terserap lingkungan kerja. Di sinilah peran aktif mahasiswa memberikan pengalaman pertukaran suasana pembelajaran yang terintegrasi dan harmonisasi kurikulum mampu memperkuat karakter, kompetensi, dan soft skill mahasiswa yang kompatibel dengan tuntutan perubahan. Pencapaian “HANYA dan DIRI “ini memberikan keterbukaan tanggung jawab pembelajaran yang selaras dan bersinergi dengan perubahan. Pencapaian yang memberikan peta pendidikan jiwa merdeka individu mampu berempati, bekerja sama dan saling melayani dengan individu lain sehingga ketidakadilan perkembangan dapat terkurangi, dengan tetap mempunyai roh dan jati diri Bangsa dengan berakar kuat pada budaya luhur Nusantara sendiri.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sesuatu yang alamiah jika individu menginginkan yang terbaik. Sesuatu yang mulia jika ada kehendak untuk maju mencapai kondisi yang lebih baik lagi. Dalam hal ini pembanding diperlukan. Apakah membandingkan satu hal dengan hal lain yang setara; atau membandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Penjelasan yang sejalan dengan makna hasil dari program inovatif Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memberikan hak belajar mahasiswa untuk melaksanakan aktivitas pembelajaran di perguruan tinggi. Aktivitas ini sebagai perwujudan jalinan hasil kerja sama dengan berbagai kampus di luar. Esensi kerja sama ini memberikan kesempatan mahasiswa mengikuti 1 (satu) semester atau setara dengan 20 SKS pembelajaran di luar program studi pada perguruan tinggi yang sama, dan paling lama 2 semester atau setara dengan 40 SKS pembelajaran pada prodi yang sama di perguruan tinggi yang berbeda. Yaitu pembelajaran pada prodi yang berbeda di PT yang berbeda atau pembelajaran di luar PT.
Program tersebut memberikan dampak inspirasi menarik bagi dunia pendidikan. Yaitu untuk lebih mengenal lingkungan di luar dengan baik. Sehingga dapat memotivasi semangat tanggung jawab pembelajarannya. Selanjutnya mendapatkan soft skill berinteraksi mengenal lingkungan pembelajaran di luar lingkungan kampus dengan kelebihan dan ‘keunikan’ proses pembelajarannya. Kedua aspek ini menjadikan kemampuan diri mengembangkan kreativitas pembelajaran yang baik. Kreativitas lebih lanjut menumbuhkan kompetensi kemampuan kognitif, sosial dan perilaku, serta teknikal. Pertama, kemampuan kognitif yang mencakup kemampuan literasi dan numerasi, serta kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order cognitive skills). Kedua, kemampuan sosial dan behavioral, mencakup keterampilan sosial emosional, keterbukaan, ketekunan, emosi yang stabil, kemampuan mengatur diri, keberanian memutuskan dan keterampilan interpersonal.
Pencapaian ini menumbuhkan Jiwa Merdeka, yaitu “HANYA dan DIRI”. “HANYA” mampu dicapai ketika semangat para akademis (dosen-mahasiswa) mengharapkan dalam “DIRI” tentang lebih dalam menerima perubahan lanskap akademik pembelajaran saat ini. “HANYA” dan “DIRI” memberikan pembentukan suasana pembelajaran menjadi lebih kreatif dan inovatif merespon perkembangan lingkungan.
Perkembangan adaptif diri seluruh elemen pembelajaran untuk pengarusutamaan pendidikan menjadi berubah positif terhadap iklim pengembangan keilmuan. Keilmuan yang memposisikan saling mendukung dan setara, yaitu kapabilitas, artinya tujuan capaian belajar yang lebih terbuka atau belajar transdisipliner. Implikasi belajar transdisipliner yang diharapkan membutuhkan perubahan arsitektur lanskap akademik yang memberi keleluasaan siswa-mahasiswa untuk belajar lintas disiplin. Respons ini membuat suasana pembelajaran menjadi aktif, menarik dan akomodatif menerima masukan-masukan dalam perkembangan keilmuan yang lain. Kesadaran ini membuat hapusnya keangkuhan dalam menotaliterkan keilmuan pada satu bidang saja. Sifat akademis ini membutuhkan keterbukaan untuk membentuk academic atmosphere dan kenyamanan iklim pembelajaran transdisipliner yang dinamis dan fleksibel.
Transdisipliner merupakan inovasi kurikulum secara berkelanjutan menyentuh dataran proses dan pengalaman belajar bersama (dosen-mahasiswa) serta kurikulum. Interaksi kedua subjek utama pendidikan ini bukan sekadar capaian instrumental input dalam praksis pendidikan, namun pada multi-skills proses belajar yang metakompetensi. Proses belajar yang lebih terbuka dengan kurikulum transdisipliner dari pertumbuhan disiplin-disiplin ilmu untuk menghadirkan inspirasi yang inspiratif dengan dukungan budaya. Dukungan nilai budaya Indonesia dan Pancasila memberikan puncak interaksi sosial yang dimiliki atas “rasa dan bakti” mangertos (paham) terhadap rasa ungkul (bathin utuh) di dalam diri pribadinya sendiri (Whedy, 2020).
Nilai budaya dan Pancasila tersebut membuat MBKM tersebut memberikan tolok ukur pada diri mahasiswa untuk memberikan masukan dalam proses evaluasi, sehingga dapat diketahui sudah sejauh apa melangkah dan sisi mana yang masih perlu untuk dikembangkan. Konstruk pengukuran ini memberikan kesesuaian dengan tujuan yang hendak dicapai. Jika tujuannya untuk evaluasi proses, selayaknya program pertukaran pembelajaran MBKM sebagai data masukan. Konsep ini memberikan pengaruh inspiratif untuk membuat proses perkuliahan menjadi menarik dengan tumbuhnya daya analitis dan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena peran kedua subjek memberikan masukan untuk: Pertama, perubahan pola pikir atau orientasi dalam bentuk karya ide, pemikiran, pengetahuan, dan teori. Perubahan ini akan tercermin dari neraca aktivitas tanggung jawab pembelajaran apakah akan lebih diwarnai mengunggah atau mengunduh. Orientasi mengunggah dengan memperbanyak inovatif pembelajaran dari hasil MBKM, sehingga memberikan warna bagi pengetahuan. Perubahan orientasi ini penting seiring harapan publik sejak dulu yang menganggap mahasiswa adalah sumber perubahan, penentu kecenderungan dan bukan menjadi penikmat perubahan lingkungan yang berlangsung.
Kedua, pengembangan keilmuan yang lebih terbuka responsif bagi lingkungan dengan tetap menumbuhkan tanggung jawab dan dimensi kemanusiaan dalam inovasinya. Pencapaian ini menumbuhkan keterbukaan kedua subjek untuk menerima, bahwa lingkungan menjadi faktor penentu pengembangan kurikulum. Ketiga, transformasi pembelajaran yang adaptif terhadap pencapaian lulusan yang terserap lingkungan kerja. Di sinilah peran aktif mahasiswa memberikan pengalaman pertukaran suasana pembelajaran yang terintegrasi dan harmonisasi kurikulum mampu memperkuat karakter, kompetensi, dan soft skill mahasiswa yang kompatibel dengan tuntutan perubahan. Pencapaian “HANYA dan DIRI “ini memberikan keterbukaan tanggung jawab pembelajaran yang selaras dan bersinergi dengan perubahan. Pencapaian yang memberikan peta pendidikan jiwa merdeka individu mampu berempati, bekerja sama dan saling melayani dengan individu lain sehingga ketidakadilan perkembangan dapat terkurangi, dengan tetap mempunyai roh dan jati diri Bangsa dengan berakar kuat pada budaya luhur Nusantara sendiri.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sesuatu yang alamiah jika individu menginginkan yang terbaik. Sesuatu yang mulia jika ada kehendak untuk maju mencapai kondisi yang lebih baik lagi. Dalam hal ini pembanding diperlukan. Apakah membandingkan satu hal dengan hal lain yang setara; atau membandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Penjelasan yang sejalan dengan makna hasil dari program inovatif Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memberikan hak belajar mahasiswa untuk melaksanakan aktivitas pembelajaran di perguruan tinggi. Aktivitas ini sebagai perwujudan jalinan hasil kerja sama dengan berbagai kampus di luar. Esensi kerja sama ini memberikan kesempatan mahasiswa mengikuti 1 (satu) semester atau setara dengan 20 SKS pembelajaran di luar program studi pada perguruan tinggi yang sama, dan paling lama 2 semester atau setara dengan 40 SKS pembelajaran pada prodi yang sama di perguruan tinggi yang berbeda. Yaitu pembelajaran pada prodi yang berbeda di PT yang berbeda atau pembelajaran di luar PT.
Program tersebut memberikan dampak inspirasi menarik bagi dunia pendidikan. Yaitu untuk lebih mengenal lingkungan di luar dengan baik. Sehingga dapat memotivasi semangat tanggung jawab pembelajarannya. Selanjutnya mendapatkan soft skill berinteraksi mengenal lingkungan pembelajaran di luar lingkungan kampus dengan kelebihan dan ‘keunikan’ proses pembelajarannya. Kedua aspek ini menjadikan kemampuan diri mengembangkan kreativitas pembelajaran yang baik. Kreativitas lebih lanjut menumbuhkan kompetensi kemampuan kognitif, sosial dan perilaku, serta teknikal. Pertama, kemampuan kognitif yang mencakup kemampuan literasi dan numerasi, serta kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order cognitive skills). Kedua, kemampuan sosial dan behavioral, mencakup keterampilan sosial emosional, keterbukaan, ketekunan, emosi yang stabil, kemampuan mengatur diri, keberanian memutuskan dan keterampilan interpersonal.
Pencapaian ini menumbuhkan Jiwa Merdeka, yaitu “HANYA dan DIRI”. “HANYA” mampu dicapai ketika semangat para akademis (dosen-mahasiswa) mengharapkan dalam “DIRI” tentang lebih dalam menerima perubahan lanskap akademik pembelajaran saat ini. “HANYA” dan “DIRI” memberikan pembentukan suasana pembelajaran menjadi lebih kreatif dan inovatif merespon perkembangan lingkungan.
Perkembangan adaptif diri seluruh elemen pembelajaran untuk pengarusutamaan pendidikan menjadi berubah positif terhadap iklim pengembangan keilmuan. Keilmuan yang memposisikan saling mendukung dan setara, yaitu kapabilitas, artinya tujuan capaian belajar yang lebih terbuka atau belajar transdisipliner. Implikasi belajar transdisipliner yang diharapkan membutuhkan perubahan arsitektur lanskap akademik yang memberi keleluasaan siswa-mahasiswa untuk belajar lintas disiplin. Respons ini membuat suasana pembelajaran menjadi aktif, menarik dan akomodatif menerima masukan-masukan dalam perkembangan keilmuan yang lain. Kesadaran ini membuat hapusnya keangkuhan dalam menotaliterkan keilmuan pada satu bidang saja. Sifat akademis ini membutuhkan keterbukaan untuk membentuk academic atmosphere dan kenyamanan iklim pembelajaran transdisipliner yang dinamis dan fleksibel.
Transdisipliner merupakan inovasi kurikulum secara berkelanjutan menyentuh dataran proses dan pengalaman belajar bersama (dosen-mahasiswa) serta kurikulum. Interaksi kedua subjek utama pendidikan ini bukan sekadar capaian instrumental input dalam praksis pendidikan, namun pada multi-skills proses belajar yang metakompetensi. Proses belajar yang lebih terbuka dengan kurikulum transdisipliner dari pertumbuhan disiplin-disiplin ilmu untuk menghadirkan inspirasi yang inspiratif dengan dukungan budaya. Dukungan nilai budaya Indonesia dan Pancasila memberikan puncak interaksi sosial yang dimiliki atas “rasa dan bakti” mangertos (paham) terhadap rasa ungkul (bathin utuh) di dalam diri pribadinya sendiri (Whedy, 2020).
Nilai budaya dan Pancasila tersebut membuat MBKM tersebut memberikan tolok ukur pada diri mahasiswa untuk memberikan masukan dalam proses evaluasi, sehingga dapat diketahui sudah sejauh apa melangkah dan sisi mana yang masih perlu untuk dikembangkan. Konstruk pengukuran ini memberikan kesesuaian dengan tujuan yang hendak dicapai. Jika tujuannya untuk evaluasi proses, selayaknya program pertukaran pembelajaran MBKM sebagai data masukan. Konsep ini memberikan pengaruh inspiratif untuk membuat proses perkuliahan menjadi menarik dengan tumbuhnya daya analitis dan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena peran kedua subjek memberikan masukan untuk: Pertama, perubahan pola pikir atau orientasi dalam bentuk karya ide, pemikiran, pengetahuan, dan teori. Perubahan ini akan tercermin dari neraca aktivitas tanggung jawab pembelajaran apakah akan lebih diwarnai mengunggah atau mengunduh. Orientasi mengunggah dengan memperbanyak inovatif pembelajaran dari hasil MBKM, sehingga memberikan warna bagi pengetahuan. Perubahan orientasi ini penting seiring harapan publik sejak dulu yang menganggap mahasiswa adalah sumber perubahan, penentu kecenderungan dan bukan menjadi penikmat perubahan lingkungan yang berlangsung.
Kedua, pengembangan keilmuan yang lebih terbuka responsif bagi lingkungan dengan tetap menumbuhkan tanggung jawab dan dimensi kemanusiaan dalam inovasinya. Pencapaian ini menumbuhkan keterbukaan kedua subjek untuk menerima, bahwa lingkungan menjadi faktor penentu pengembangan kurikulum. Ketiga, transformasi pembelajaran yang adaptif terhadap pencapaian lulusan yang terserap lingkungan kerja. Di sinilah peran aktif mahasiswa memberikan pengalaman pertukaran suasana pembelajaran yang terintegrasi dan harmonisasi kurikulum mampu memperkuat karakter, kompetensi, dan soft skill mahasiswa yang kompatibel dengan tuntutan perubahan. Pencapaian “HANYA dan DIRI “ini memberikan keterbukaan tanggung jawab pembelajaran yang selaras dan bersinergi dengan perubahan. Pencapaian yang memberikan peta pendidikan jiwa merdeka individu mampu berempati, bekerja sama dan saling melayani dengan individu lain sehingga ketidakadilan perkembangan dapat terkurangi, dengan tetap mempunyai roh dan jati diri Bangsa dengan berakar kuat pada budaya luhur Nusantara sendiri.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/