alexametrics
23.4 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Jember Harus Pulih dan Berbenah

Mobile_AP_Rectangle 1

MELANDAINYA pandemi Covid-19 yang hampir dua tahun menginfeksi kesehatan sekaligus ekonomi masyarakat Jember menjadi oase harapan tersendiri, walaupun belum dipastikan kapan pagebluk ini berakhir. Virus yang telah menghancurleburkan berbagai sisi kehidupan ini tersaji jelas dalam data indikator strategis yang terpotret Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember selama tahun 2021.

Selain sisi kesehatan masyarakat yang jelas-jelas mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia dan puluhan ribu lainnya terinfeksi, data sektor ketenagakerjaan memperlihatkan bahwa korona juga bertanggung jawab terhadap bertambahnya jumlah pengangguran di Kabupaten Jember. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember mencatat tingkat pengangguran terbuka (tpt) pada tahun 2021 terekam sebanyak 5,44 persen dari 1,34 juta angkatan kerja di Kabupaten Jember atau dari 100 orang angkatan kerja, setidaknya terdapat lima orang pengangguran terbuka. Angka ini naik signifikan sebesar 0,31 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari kenaikan angka di atas, ada sebanyak 151,75 ribu di antaranya terdampak secara langsung pagebluk Covid-19 ini. Sebanyak 12,31 ribu orang harus menganggur. Sementara itu, 3,68 ribu orang harus terjun menjadi bukan angkatan kerja. Sementara 9,47 ribu orang terpaksa sementara tidak bekerja dan 126,30 ribu orang lainnya harus mengalami pengurangan jam kerja bagi mereka yang saat ini masih bekerja.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dari satu indikator ini saja, pengambil kebijakan di Kabupaten Jember harus kompak dalam menggeber pemulihan kondisi sosial ekonomi, di tengah masyarakat Jember yang sedang berjibaku berjuang melawan ganasnya dampak ikutan pandemi yang tak kunjung berakhir ini. Bahkan dari hasil penelitian, terjadi fenomena ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak 15 tahun ke atas yang masih duduk di bangku sekolah terpaksa nimbrung membantu mencari nafkah demi bertahan hidup, di saat tulang punggung pencari nafkah mereka terkena PHK atau pengurangan jam kerja karena korona.

Pagebluk juga membuat persentase penduduk miskin di Kabupaten Jember pada kondisi Maret tahun 2021 naik sebesar 0,32 persen poin, menjadi 10,41 persen dibandingkan tahun 2020. Lumpuhnya berbagai sektor di berbagai daerah, telah memaksa para pekerja asal Jember kembali ke kampungnya dan menambah beban pengeluaran rumah tangga. Selain itu, ekonomi Jember pada tahun 2020 yang lalu mengalami kontraksi minus 2,98 persen dan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang juga tumbuh minus 0,67 persen, mengakibatkan rumah tangga-rumah tangga rentan miskin dengan pengeluaran cenderung tetap bahkan menurun ini, akan terjun bebas menjadi penduduk miskin di bawah garis kemiskinan.

Pemulihan sosial ekonomi di tengah pandemi Covid-19 yang telah dan tengah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jember, membawa pengaruh positif terhadap pembangunan manusia di Kabupaten Jember. Hal ini terlihat dari peningkatan pertumbuhan indeks pembangunan manusia (IPM) tahun 2021 dibanding tahun-tahun sebelumnya. IPM yang merupakan indikator untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. IPM Kabupaten Jember pada tahun 2021 tercatat sebesar 67,32. Walaupun tumbuh sebesar 0,21 persen poin, jika dibandingkan dengan kabupaten sekitar, IPM Jember masih berada di bawah Banyuwangi sebesar 71,38 dan Situbondo dengan angka IPM 67,78.

Capaian dari tiga aspek esensial yang menjadi ukuran pencapaian pembangunan manusia, harus menjadi acuan pemerintah daerah meningkatkan pembangunan manusia di Jember. Aspek pertama berupa umur harapan hidup saat lahir memperlihatkan tren positif pertumbuhannya dalam kurun waktu tahun 2010 sampai dengan tahun 2021 dengan rata-rata 0,15 persen per tahun. Selama periode tersebut, Kabupaten Jember telah berhasil meningkatkan usia harapan hidup saat lahir dari 67,44 pada tahun 2010 menjadi 69,28 saat ini atau naik sebesar 1,84 tahun. Dengan kata lain, bayi yang lahir tahun 2021 di Kabupaten Jember diperkirakan mampu bertahan hidup hingga usia 69,28 tahun.

- Advertisement -

MELANDAINYA pandemi Covid-19 yang hampir dua tahun menginfeksi kesehatan sekaligus ekonomi masyarakat Jember menjadi oase harapan tersendiri, walaupun belum dipastikan kapan pagebluk ini berakhir. Virus yang telah menghancurleburkan berbagai sisi kehidupan ini tersaji jelas dalam data indikator strategis yang terpotret Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember selama tahun 2021.

Selain sisi kesehatan masyarakat yang jelas-jelas mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia dan puluhan ribu lainnya terinfeksi, data sektor ketenagakerjaan memperlihatkan bahwa korona juga bertanggung jawab terhadap bertambahnya jumlah pengangguran di Kabupaten Jember. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember mencatat tingkat pengangguran terbuka (tpt) pada tahun 2021 terekam sebanyak 5,44 persen dari 1,34 juta angkatan kerja di Kabupaten Jember atau dari 100 orang angkatan kerja, setidaknya terdapat lima orang pengangguran terbuka. Angka ini naik signifikan sebesar 0,31 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari kenaikan angka di atas, ada sebanyak 151,75 ribu di antaranya terdampak secara langsung pagebluk Covid-19 ini. Sebanyak 12,31 ribu orang harus menganggur. Sementara itu, 3,68 ribu orang harus terjun menjadi bukan angkatan kerja. Sementara 9,47 ribu orang terpaksa sementara tidak bekerja dan 126,30 ribu orang lainnya harus mengalami pengurangan jam kerja bagi mereka yang saat ini masih bekerja.

Dari satu indikator ini saja, pengambil kebijakan di Kabupaten Jember harus kompak dalam menggeber pemulihan kondisi sosial ekonomi, di tengah masyarakat Jember yang sedang berjibaku berjuang melawan ganasnya dampak ikutan pandemi yang tak kunjung berakhir ini. Bahkan dari hasil penelitian, terjadi fenomena ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak 15 tahun ke atas yang masih duduk di bangku sekolah terpaksa nimbrung membantu mencari nafkah demi bertahan hidup, di saat tulang punggung pencari nafkah mereka terkena PHK atau pengurangan jam kerja karena korona.

Pagebluk juga membuat persentase penduduk miskin di Kabupaten Jember pada kondisi Maret tahun 2021 naik sebesar 0,32 persen poin, menjadi 10,41 persen dibandingkan tahun 2020. Lumpuhnya berbagai sektor di berbagai daerah, telah memaksa para pekerja asal Jember kembali ke kampungnya dan menambah beban pengeluaran rumah tangga. Selain itu, ekonomi Jember pada tahun 2020 yang lalu mengalami kontraksi minus 2,98 persen dan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang juga tumbuh minus 0,67 persen, mengakibatkan rumah tangga-rumah tangga rentan miskin dengan pengeluaran cenderung tetap bahkan menurun ini, akan terjun bebas menjadi penduduk miskin di bawah garis kemiskinan.

Pemulihan sosial ekonomi di tengah pandemi Covid-19 yang telah dan tengah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jember, membawa pengaruh positif terhadap pembangunan manusia di Kabupaten Jember. Hal ini terlihat dari peningkatan pertumbuhan indeks pembangunan manusia (IPM) tahun 2021 dibanding tahun-tahun sebelumnya. IPM yang merupakan indikator untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. IPM Kabupaten Jember pada tahun 2021 tercatat sebesar 67,32. Walaupun tumbuh sebesar 0,21 persen poin, jika dibandingkan dengan kabupaten sekitar, IPM Jember masih berada di bawah Banyuwangi sebesar 71,38 dan Situbondo dengan angka IPM 67,78.

Capaian dari tiga aspek esensial yang menjadi ukuran pencapaian pembangunan manusia, harus menjadi acuan pemerintah daerah meningkatkan pembangunan manusia di Jember. Aspek pertama berupa umur harapan hidup saat lahir memperlihatkan tren positif pertumbuhannya dalam kurun waktu tahun 2010 sampai dengan tahun 2021 dengan rata-rata 0,15 persen per tahun. Selama periode tersebut, Kabupaten Jember telah berhasil meningkatkan usia harapan hidup saat lahir dari 67,44 pada tahun 2010 menjadi 69,28 saat ini atau naik sebesar 1,84 tahun. Dengan kata lain, bayi yang lahir tahun 2021 di Kabupaten Jember diperkirakan mampu bertahan hidup hingga usia 69,28 tahun.

MELANDAINYA pandemi Covid-19 yang hampir dua tahun menginfeksi kesehatan sekaligus ekonomi masyarakat Jember menjadi oase harapan tersendiri, walaupun belum dipastikan kapan pagebluk ini berakhir. Virus yang telah menghancurleburkan berbagai sisi kehidupan ini tersaji jelas dalam data indikator strategis yang terpotret Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember selama tahun 2021.

Selain sisi kesehatan masyarakat yang jelas-jelas mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia dan puluhan ribu lainnya terinfeksi, data sektor ketenagakerjaan memperlihatkan bahwa korona juga bertanggung jawab terhadap bertambahnya jumlah pengangguran di Kabupaten Jember. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember mencatat tingkat pengangguran terbuka (tpt) pada tahun 2021 terekam sebanyak 5,44 persen dari 1,34 juta angkatan kerja di Kabupaten Jember atau dari 100 orang angkatan kerja, setidaknya terdapat lima orang pengangguran terbuka. Angka ini naik signifikan sebesar 0,31 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari kenaikan angka di atas, ada sebanyak 151,75 ribu di antaranya terdampak secara langsung pagebluk Covid-19 ini. Sebanyak 12,31 ribu orang harus menganggur. Sementara itu, 3,68 ribu orang harus terjun menjadi bukan angkatan kerja. Sementara 9,47 ribu orang terpaksa sementara tidak bekerja dan 126,30 ribu orang lainnya harus mengalami pengurangan jam kerja bagi mereka yang saat ini masih bekerja.

Dari satu indikator ini saja, pengambil kebijakan di Kabupaten Jember harus kompak dalam menggeber pemulihan kondisi sosial ekonomi, di tengah masyarakat Jember yang sedang berjibaku berjuang melawan ganasnya dampak ikutan pandemi yang tak kunjung berakhir ini. Bahkan dari hasil penelitian, terjadi fenomena ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak 15 tahun ke atas yang masih duduk di bangku sekolah terpaksa nimbrung membantu mencari nafkah demi bertahan hidup, di saat tulang punggung pencari nafkah mereka terkena PHK atau pengurangan jam kerja karena korona.

Pagebluk juga membuat persentase penduduk miskin di Kabupaten Jember pada kondisi Maret tahun 2021 naik sebesar 0,32 persen poin, menjadi 10,41 persen dibandingkan tahun 2020. Lumpuhnya berbagai sektor di berbagai daerah, telah memaksa para pekerja asal Jember kembali ke kampungnya dan menambah beban pengeluaran rumah tangga. Selain itu, ekonomi Jember pada tahun 2020 yang lalu mengalami kontraksi minus 2,98 persen dan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang juga tumbuh minus 0,67 persen, mengakibatkan rumah tangga-rumah tangga rentan miskin dengan pengeluaran cenderung tetap bahkan menurun ini, akan terjun bebas menjadi penduduk miskin di bawah garis kemiskinan.

Pemulihan sosial ekonomi di tengah pandemi Covid-19 yang telah dan tengah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jember, membawa pengaruh positif terhadap pembangunan manusia di Kabupaten Jember. Hal ini terlihat dari peningkatan pertumbuhan indeks pembangunan manusia (IPM) tahun 2021 dibanding tahun-tahun sebelumnya. IPM yang merupakan indikator untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. IPM Kabupaten Jember pada tahun 2021 tercatat sebesar 67,32. Walaupun tumbuh sebesar 0,21 persen poin, jika dibandingkan dengan kabupaten sekitar, IPM Jember masih berada di bawah Banyuwangi sebesar 71,38 dan Situbondo dengan angka IPM 67,78.

Capaian dari tiga aspek esensial yang menjadi ukuran pencapaian pembangunan manusia, harus menjadi acuan pemerintah daerah meningkatkan pembangunan manusia di Jember. Aspek pertama berupa umur harapan hidup saat lahir memperlihatkan tren positif pertumbuhannya dalam kurun waktu tahun 2010 sampai dengan tahun 2021 dengan rata-rata 0,15 persen per tahun. Selama periode tersebut, Kabupaten Jember telah berhasil meningkatkan usia harapan hidup saat lahir dari 67,44 pada tahun 2010 menjadi 69,28 saat ini atau naik sebesar 1,84 tahun. Dengan kata lain, bayi yang lahir tahun 2021 di Kabupaten Jember diperkirakan mampu bertahan hidup hingga usia 69,28 tahun.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/