MOMENTUM Hari Santri 22 Oktober dan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober merupakan pesan komunikasi yang penting bagi posisi santri dan pemuda Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan di era “zaman now” atau dikenal era milenial. Pesan terhadap santri menegaskan bahwa para santri dan ulama memiliki peran yang sentral dalam kehidupan membangun kehidupan berbangsa dan bernegara di tanah air. Sedangkan pesan dalam sumpah bagi para pemuda adalah satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa sebagai ikrar kebersatuan yang diikat oleh makna keindonesiaan.

IKLAN

Santri sebagai bagian pemuda Indonesia yang menimba ilmu di pondok pesantren memiliki karakteristik menarik dalam kehidupan mereka. Kekhasan itu tercermin dalam pancajiwa pesantren yang dipraktikkan sehari-hari, yakni keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Pancajiwa ini merupakan pesan komunikasi santri yang maknanya masih relevan apabila diterapkan dalam membangun kekuatan jiwa pemuda Indonesia ketika menghadapi globalisasi era Revolusi Industri 4.0.

Pertama, jiwa keikhlasan ditanamkan kepada para santri sejak mereka mempelajari ilmu di pesantren bahwa hidup adalah untuk ibadah. Prinsip ini penting agar dalam membangun komunikasi dengan sesama manusia (hablum minnas) tidak didasari untuk mencari keuntungan tertentu. Setiap langkah harus diniati ibadah agar segala tindakan komunikasinya tidak sia-sia di hadapan Sang Khaliq. Keringnya jiwa ikhlas di era milenial mengakibatkan pemuda banyak yang berpikir pragmatis, materialistis, hedonis, dan kapitalistik. Ukuran untung-rugi selalu menjadi pertimbangan anak muda di era digital ketika menjalin komunikasi dengan seseorang. Banyaknya kasus politik transaksional yang terjadi di negeri ini merupakan sebuah pesan komunikasi bahwa jiwa ikhlas telah hilang atau tercerabut dari jiwa para politisi muda di Indonesia. Mereka berjuang demi uang (materi) dan kekuasaan politik, bukan karena melaksanakan sesuatu karena Allah. Fenomena inilah yang “dilawan” para santri.

Kedua, jiwa kesederhanaan para santri membentuk karakter pemuda yang memiliki ketabahan hati, tidak kenal menyerah dalam melakukan perubahan, dan berani menghadapi resiko-resiko terburuk dalam kehidupannya. Sederhana bukan berarti pasif, tetapi selalu aktif mengendalikan dirinya agar tidak terjerumus dalam kesenangan hidup yang melenakan. Bagi pemuda di era internet saat ini, jiwa sederhana menjadi penting ditanamkan karena semakin banyak kehidupan yang bermewah-mewah, tetapi tidak didukung mentalitas dan moralitas kesederhanaan. Akibatnya, banyaknya kasus korupsi, manipulasi, narkoba, pornografi, miras, aborsi, plagiasi, prostitusi, intimidasi, dan bentuk kriminalitas lainnya di Indonesia, ternyata bermula dari ketidaksiapan seseorang dalam menerima realitas kesederhanaan hidup. Pesannya adalah masih banyak yang mengambil jalan pintas dan tidak mengikuti proses yang benar dalam meraih tujuan kebahagiaan hidup.

Ketiga, jiwa kemandirian ditanamkan sejak dini kepada santri agar dalam menjalani kehidupannya mereka dapat mengurusi keperluan diri sendiri. Jiwa ini berbeda dengan sikap individualistis yang memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi agar santri mampu melepaskan ketergantungan kepada orang lain. Pesan komunikasinya, santri tidak boleh membebani orang lain, tetapi dengan kemandiriannya justru mampu membantu orang lain. Fenomena ini bisa dibuktikan dengan hadirnya 29.149 pondok pesantren di Indonesia dengan empat juta lebih santri yang tersebar di nusantara, bahkan luar negeri berhasil mandiri dengan membangun lembaga pendidikan Islam dimana mereka berpijak. Selain itu, mereka juga mandiri dalam mendirikan usaha-usaha kreatif yang bermanfaat bagi warga sekitar. Selebihnya, para santri mandiri dalam bidang lainnya, seperti politik, pemerintahan, dan lembaga-lembaga perubahan sosial lainnya.

Keempat, jiwa ukhuwah Islamiyah adalah cermin bahwa santri selalu membangun hubungan persaudaraan yang kuat, tidak tercerai berai, saling memperkokoh, bukan memperlemah. Dalam konteks keindonesiaan, konstribusi santri dalam mempertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan tidak diragukan lagi. Melalui peran santri, penjajahan bisa dilenyapkan dengan bersama-sama elemen bangsa lain. Sebagai penduduk muslim terbesar di dunia, santri memiliki andil yang besar dalam memberikan warna Islam rahmatan lil alamin di nusantara.

Dengan kekuatan santri yang tersebar di tanah air, paham-paham radikalisme maupun terorisme yang bertujuan merusak ajaran Islam dapat dilawan melalui penanaman jiwa ukhuwah Islamiyah yang dikomunikasikan melalui jaringan alumni pesantren di seluruh Indonesia dan di dunia. Islamisme yang diyakini oleh santri bukanlah radikalisme maupun terorisme karena ajaran Islam tidak memerintahkan dakwah dengan “kekerasan”, merusak fasilitas umum, bom, dan bumi hangus. Segala upaya yang dilakukan pihak tertentu untuk mendekatkan (mendiskreditkan) Islam dengan radikalisme atau terorisme akan ditolak dan dilawan oleh para santri.

Kelima, jiwa kebebasan tampak dari identitas simbolik “sarung” yang pada zaman penjajahan merupakan bentuk perlawanan terhadap pakaian “celana” yang dikenakan Belanda. Santri memiliki kebebasan dalam memilih jalan hidup di masyarakat, yang terpenting di jalan yang digariskan Al Quran dan As-Sunnah sebagaimana diajarkan selama “mondok”. Makna santri sesuai dengan definisi (takrif) yang disampaikan KH KH Hasani Nawawie Sidogiri, “Berdasarkan peninjauan tindak langkahnya adalah orang yang berpegang teguh dengan al Qur’an dan mengikuti sunnah Rasul serta teguh pendirian. Ini adalah arti dengan bersandar sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya” (http://sidogiri.net/santri).

Bagi santri, pekerjaan adalah pilihan hidup, tidak ada keharusan menjadi pendidik, politisi, enterpreneur, dosen, pedagang, dan pekerjaan lainnya. Pesan komunikasinya, santri memiliki jiwa bebas (merdeka) atas pilihan hidupnya, yang penting diatas jalan kebenaran. Pekerjaan harus yang barakah (berdimensi baik diniati karena Allah dengan cara yang halal), bukan yang berlimpah tetapi diperoleh dari pintu yang tidak lumrah.

Kelima, Pancajiwasantri tersebut terus dipupuk oleh para santri yang terus berkembang dari berbagai lembaga pesantren di Indonesia. Semangat Pancajiwasantri ini menjadi pesan komunikasi yang menarik bahwa santri akan terus memiliki andil yang besar dalam membangun kekuatan moralitas bangsa di masa-masa mendatang. Dengan demikian, pesan sumpah pemuda sebagai pilar pembangunan bangsa dapat “dibentuk” dari para santri yang menempa kehidupan mereka dengan jiwa ikhlas, jiwa sederhana, jiwa mandiri, jiwa ukhuwah, dan jiwa kebebasan.

*) Penulis adalah dosen Magister KPI Pascsarjana IAIN Jember, Anggota Ombudsman Jawa Pos Radar Jember.