Mahasiswa, Organisasi, dan Prestasi Akademis

Oleh: Nur Kholis

SELAMAT datang mahasiswa baru Universitas Jember tahun 2019 yang berjumlah 7.948. Mereka memulai babak baru, disebut maha atas kesiswaannya. Konsekuensinya mereka memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada anak-anak muda lainnya. Mahasiswa adalah sekelompok anak-anak muda yang memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan maju meraih masa depan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi menunjang kemajuan bangsa.

IKLAN

Mahasiswa Universitas Jember berasal dari Sabang sampai Merauke, dari sudut kota hingga sudut desa. Mereka memiliki harapan dapat meraih cita-cita berbekal ilmu, pengalaman, dan ketrampilan yang diperoleh selama menikmati masa-masa perkulihan. Perlu disadari bahwa di era Revolusi Industri 4.0, mereka dituntut memiliki kemampuan tentang complex problem solving, critical thinking, creativity, people management, coordinating with other, emotion intelligence, judgment and decision making, service orientation, negotiaton, dan cognitive flexibility. Kemampuan tersebut akan terpenuhi, apabila mahasiswa baru dapat berpartisipasi dalam ruang organisasi dan prestasi akademis.

Secara umum sebagian besar mahasiswa baru dan orang tua tumbuh benih benih anggapan bahwa organisasi menjadi komponen yang dapat mengganggu aktivitas kuliah atau akademis. Hal ini disebabkan karena terdapat sebagian mahasiswa yang aktif di organisasi tidak bisa mengatur antara waktu kuliah dan organisasi. Sehingga Indeks Prestasi (IP) maupun Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) rendah. Tidak bisa dipungkiri memang ada mahasiswa tertentu yang mengalami, karena terlalu sibuk berorganisasi dan kuliahnya keteteran. Cerminan tersebut sebenarnya kembali ke personalianya.

Sekarang bukan eranya lagi aktivis IPK-nya tipis. Mahasiswa yang berorganisasi harus membiasakan diri untuk menjadi aktivis di dalam dan di luar kampus. Aktivis di dalam kampus artinya mahasiswa tersebut memiliki kemampuan akademis secara memadai dan dapat bersaing dengan mahasiswa yang lain. Aktivis di luar kampus artinya mampu mengadvokasi kepentingan kepentingan kelompok tertindas dan mengembangkan kemampuannya tidak hanya di dalam ruang perkuliahan.

Mahasiswa baru sebenarnya tidak perlu takut atau ragu masuk organisasi, karena terdapat berbagai manfaatnya. Organisasi yang dimaksud yakni organisasi di dalam kampus maupun organisasi di luar kampus. Organisasi di dalam kampus misalnya Badan Eksekutif Mahasiswa, Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), Himpunan Mahasiswa Jurusan/ Prodi (HMJ/HMP), dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Sedangkan organisasi Ekstra Kampus (ORMEK) misalnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), maupun organisasi lain yang diakui diakui pemerintah. Bahkan ada yang menyebut bahwa organisasi mahasiswa ekstra (ORMEK) sebagai second of university. Namun yang perlu dipahami bahwa organisasi intra maupun ekstra sama-sama baik untuk menunjang kemampuan mahasiswa.

Biasanya ada pertanyaan, apakah kuliah yang utama atau organisasi? Pilihannya tergantung pada mahasiswanya. Menjadikan organisasi sebagai pilihan utama, konsekuensinya berarti kuliah akan sedikit kurang maksimal. Padahal tujuan masuk kampus adalah untuk kuliah, Jalan tengahnya menjadikan organisasi sebagai pendukung prestasi di kampus dan untuk pengembangan diri.

Ada beberapa manfaat ikut organisasi. Pertama menambah pengetahuan. Pengetahuan mahasiswa tidak hanya dengan membaca buku dan mengikuti kuliah dari dosen, tetapi dapat lewat organisasi. Jika buku dan kuliah lebih banyak belajar teori, ikut organisasi mendapatkan pengetahuan lewat dunia nyata secara langsung. Kedua, memperluas jaringan. Biasanya mahasiswa yang tergabung dalam suatu wadah organisasi yang sama persaudaraanya begitu kuat. Tidak heran bila anak-anak yang aktif organisasi, memiliki banyak relasi dari kalangan sekelas mahasiswa, akademisi, pejabat, wirausaha atau bisnis, dan politisi.

Ketiga, mahasiswa yang berorganisasi mengasah kemampuannya berpikir kritis, kreatif, komunikasi, dan kolaboratif. Dengan bertemu dan berdiskusi banyak orang, secara tidak langsung kemampuan interpersonalnya semakin terasah. Keempat, belajar kepemimpinan. Organisasi intra maupun ekstra kampus adalah cara untuk mengembangkan dasar-dasar kepemimpinan dalam diri mahasiswa. Hal ini sangat diperlukan untuk menjadi pemimpin masa depan.

Jika didata dengan detail banyak mahasiswa yang mengikuti organisasi, tetap memiliki prestasi akademis. Mereka menjadi pemenang lomba, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, presentator international conference, dan prestasi-prestasi yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi dan prestasi akademik dapat saling beriringan.

Mari mendorong mahasiswa baru memiliki prestasi akademis dan organisasi. Jangan sampai di ujung masa kuliah nanti hanya membawa secarik kertas bertulis transkrip atau selembar ijazah. Karena masa depan tidak bisa dibangun hanya dengan selembar kertas. Sebuah pesan yang substansial bahwa IP yang tinggi akan mengantarkan mahasiswa ke panggilan wawancara. Tetapi kepemimpinan, kemampuan komunikasi, analytical thinking, kreativitas, dan kolaborasi akan mengantar pada masa depan yang cerah.

*) Penulis adalah mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UNEJ dan Aktivis Organisasi

Reporter :

Fotografer :

Editor :