alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Strategi Branding Sekolah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Era revolusi industri 4.0 menuntut manusia lebih kreatif, inovatif dan terampil serta mampu menyeimbangi perkembangan teknologi untuk bisa bersaing secara global. Begitu pula dalam dunia pendidikan, harus memiliki langkah-langkah dan strategi untuk menyesuaikan dengan perubahan dunia yang telah dikuasai oleh perangkat digital. Oleh karenanya membangun citra lembaga sangat penting agar mudah dikenal dan diketahui secara luas oleh masyarakat. Dengan membangun citra lembaga yang positif, akan melahirkan kesan yang baik dari konsumen atau masyarakat bahwa lembaga pendidikan tersebut adalah lembaga yang unggul.

Saat ini dunia mengalami perubahan yang sangat cepat karena telah memasuki era revolusi industri 4.0, tak terkecuali dunia pendidikan segala tindakan dan pekerjaan menjadi semakin kompleks karena pada era industri 4.0 akan muncul komputer super, kecerdasan buatan. Jika manusia tidak mau berbenah maka ia akan tertinggal bahkan bisa tersingkirkan karenanya pada era ini sangat dibutuhkan SDM yang kreatif, inovatif, dan mampu berpikir kritis, untuk menyeimbangi perubahan yang akan terjadi. Dunia pendidikan dituntut untuk mencetak lulusan dengan kompetensi ilmu pengetahuan yang tidak hanya fokus pada pengembangan ilmu ilmiah, melainkan ilmu teknologi pula. Dengan munculnya teknologi yang semakin canggih di era revolusi industri 4.0, akan menjadi tantangan dan peluang tersendiri. Karenanya lembaga pendidikan harus mampu memfungsikannya untuk mempermudah segala tindakan mencapai tujuan, tentunya dengan terus berinovasi agar dapat menciptakan pembaharuan-pembaharuan yang bermanfaat bagi internal perguruan tinggi dan masyarakat secara umum.

Untuk mempertahankan keunggulan kompetitif sangat diperlukan suatu strategi sebagai konsep dalam jangka waktu panjang, agar organisasi dapat menyetarakan antara strengths (kekuatan) dan weaknesses (kekurangan) internalnya dengan opportunities (peluang) dan threats (ancaman) eksternal. Strategi yang tepat dan baik dapat mengarahkan organisasi atau lembaga pendidikan menuju keberhasilan untuk mencapai tujuannya dan tetap memiliki keunggulan kompetitif.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lembaga pendidikan sudah sewajarnya memiliki branding yang bagus guna untuk mempertahankan pelanggan dan menarik pelanggan yang baru untuk memilih lembaganya sebagai tempat proses pembelajaran. Oleh sebab itu, setiap lembaga pendidikan perlu terus meningkatkan kualitas pendidikan di lembaganya melalui strategi-strategi yang tepat demi mencapai kepuasan pelanggan dan memenuhi kebutuhannya. Satuan pendidikan dituntut untuk senantiasa merevitalisasi strateginya, untuk menyesuaikan tuntutan lingkungan dan persaingan dengan kekuatan internal yang dimilikinya.

Analisi SWOT Sebagai Kunci Dasar

Branding sekolah pada dasarnya tidak bisa dibangun secara instan dengan mengharapkan hasil yang cepat. Sebaliknya, branding sekolah terlahir dari proses Evaluasi Diri Sekolah (EDS) melalui metode analisis Strength, Weakness, Opportunities, Threats (SWOT). Berdasarkan SWOT yang dilakukan oleh lembaga sekolah secara benar dan menyangkut semua sumber daya sekolah maka akan menjadi kunci keberhasilan lahirnya strategi branding sekolah yang tepat.

Tujuan dari analisis SWOT adalah untuk menemukan aspek-aspek penting dari kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman di dalam suatu lembaga pendidikan. Kekuatan dan kelemahan internal sekolah harus benar-benar ditelanjangi secara menyeluruh untuk disandingkan dengan peluang dan ancaman yang merupakan faktor eksternal. Akhirnya, dengan mengetahui empat aspek tersebut, diharapkan dapat memaksimalkan kekuatan, meminimalkan kelemahan, mengurangi ancaman, dan membangun peluang-peluang untuk diterjemahkan menjadi strategi branding sekolah yang tepat dan berbeda dengan sekolah lainnya. Yang harus menjadi catatan, penilaian SWOT bukanlah alat analisis yang mampu memberikan jalan keluar yang tepat bagi semua masalah yang ada di perusahaan. Namun, analisis SWOT adalah alat analisis yang ditujukan untuk menggambarkan situasi yang sedang dihadapi atau mungkin akan dihidupi oleh organisasi. sehingga, dari gambaran-gambaran tersebut akan dirumuskan menjadi strategi yang tepat dan sesuai kondisi sekolah.

Branding sekolah dikatakan sukses apabila mampu meningkatkan jumlah murid (kuantitas), kualitas pendidikan, hasil (output) dan kepuasaan pelanggan (wali murid). Jika lembaga pendidikan memiliki citra yang positif di mata masyarakat, maka secara otomatis akan terbentuk pemikiran di benak masyarakat bahwa lembaga pendidikan tersebut memiliki kualitas yang bagus. Pada perkembangan selanjutnya, akan berdampak pada keputusan masyarakat untuk memutuskan pilihan lembaga sebagai kelanjutan studi anaknya atau anak-anak di lingkungannya. Memiliki citra yang positif adalah harapan semua lembaga pendidikan yang tentu saja akan memberikan banyak keuntungan bagi lembaga pendidikan tersebut. Sehingga, salah satu bentuk branding sekolah adalah pentingnya testimoni dari lulusan, wali murid, dan tokoh masyarakat untuk memberikan penilaian positif pada lembaga pendidikan. Sehingga, semakin banyak orang yang mencitrakan positif sebuah lembaga pendidikan, maka akan semakin banyak orang pula yang tertarik menggunakan jasa layanan pendidikan lembaga tersebut.

Upgrade Kualitas

            Berdasarkan hasil SWOT, setiap lembaga pendidikan akan mempunyai strategi-strategi yang berbeda dalam merumuskan strategi branding sekolah. Langkah awalnya adalah dengan melakukan upgrade kualitas lembaga pendidikannya untuk mempertahankan dan mengembangkan citra yang dimiliki oleh lembaga. Peningkatan kualitas yang dilakukan menyangkut kualitas fisik dan non fisik. Peningkatan kualitas secara fisik dilakukan dengan terus mengembangkanfasilitas ruang kelas teori dan praktik yang menyenangkan dan sarana prasarana penunjang pendidikan lainnya. Ruang kelas sekolah serasa ruang kuliah seperti pengadaan kursi kuliah sebagai pengganti kursi dan bangku yang terkesan konvensional dan sulit untuk mendukung model pembelajaran cooperative learning. Ruang-ruang kelas sekarang setidaknya harus didesain senafas dengan model pembelajaran berbasis digital akan meningkatkan motivasi belajar siswa dan sejatinya itu adalah strategi branding sekolah.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Era revolusi industri 4.0 menuntut manusia lebih kreatif, inovatif dan terampil serta mampu menyeimbangi perkembangan teknologi untuk bisa bersaing secara global. Begitu pula dalam dunia pendidikan, harus memiliki langkah-langkah dan strategi untuk menyesuaikan dengan perubahan dunia yang telah dikuasai oleh perangkat digital. Oleh karenanya membangun citra lembaga sangat penting agar mudah dikenal dan diketahui secara luas oleh masyarakat. Dengan membangun citra lembaga yang positif, akan melahirkan kesan yang baik dari konsumen atau masyarakat bahwa lembaga pendidikan tersebut adalah lembaga yang unggul.

Saat ini dunia mengalami perubahan yang sangat cepat karena telah memasuki era revolusi industri 4.0, tak terkecuali dunia pendidikan segala tindakan dan pekerjaan menjadi semakin kompleks karena pada era industri 4.0 akan muncul komputer super, kecerdasan buatan. Jika manusia tidak mau berbenah maka ia akan tertinggal bahkan bisa tersingkirkan karenanya pada era ini sangat dibutuhkan SDM yang kreatif, inovatif, dan mampu berpikir kritis, untuk menyeimbangi perubahan yang akan terjadi. Dunia pendidikan dituntut untuk mencetak lulusan dengan kompetensi ilmu pengetahuan yang tidak hanya fokus pada pengembangan ilmu ilmiah, melainkan ilmu teknologi pula. Dengan munculnya teknologi yang semakin canggih di era revolusi industri 4.0, akan menjadi tantangan dan peluang tersendiri. Karenanya lembaga pendidikan harus mampu memfungsikannya untuk mempermudah segala tindakan mencapai tujuan, tentunya dengan terus berinovasi agar dapat menciptakan pembaharuan-pembaharuan yang bermanfaat bagi internal perguruan tinggi dan masyarakat secara umum.

Untuk mempertahankan keunggulan kompetitif sangat diperlukan suatu strategi sebagai konsep dalam jangka waktu panjang, agar organisasi dapat menyetarakan antara strengths (kekuatan) dan weaknesses (kekurangan) internalnya dengan opportunities (peluang) dan threats (ancaman) eksternal. Strategi yang tepat dan baik dapat mengarahkan organisasi atau lembaga pendidikan menuju keberhasilan untuk mencapai tujuannya dan tetap memiliki keunggulan kompetitif.

Lembaga pendidikan sudah sewajarnya memiliki branding yang bagus guna untuk mempertahankan pelanggan dan menarik pelanggan yang baru untuk memilih lembaganya sebagai tempat proses pembelajaran. Oleh sebab itu, setiap lembaga pendidikan perlu terus meningkatkan kualitas pendidikan di lembaganya melalui strategi-strategi yang tepat demi mencapai kepuasan pelanggan dan memenuhi kebutuhannya. Satuan pendidikan dituntut untuk senantiasa merevitalisasi strateginya, untuk menyesuaikan tuntutan lingkungan dan persaingan dengan kekuatan internal yang dimilikinya.

Analisi SWOT Sebagai Kunci Dasar

Branding sekolah pada dasarnya tidak bisa dibangun secara instan dengan mengharapkan hasil yang cepat. Sebaliknya, branding sekolah terlahir dari proses Evaluasi Diri Sekolah (EDS) melalui metode analisis Strength, Weakness, Opportunities, Threats (SWOT). Berdasarkan SWOT yang dilakukan oleh lembaga sekolah secara benar dan menyangkut semua sumber daya sekolah maka akan menjadi kunci keberhasilan lahirnya strategi branding sekolah yang tepat.

Tujuan dari analisis SWOT adalah untuk menemukan aspek-aspek penting dari kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman di dalam suatu lembaga pendidikan. Kekuatan dan kelemahan internal sekolah harus benar-benar ditelanjangi secara menyeluruh untuk disandingkan dengan peluang dan ancaman yang merupakan faktor eksternal. Akhirnya, dengan mengetahui empat aspek tersebut, diharapkan dapat memaksimalkan kekuatan, meminimalkan kelemahan, mengurangi ancaman, dan membangun peluang-peluang untuk diterjemahkan menjadi strategi branding sekolah yang tepat dan berbeda dengan sekolah lainnya. Yang harus menjadi catatan, penilaian SWOT bukanlah alat analisis yang mampu memberikan jalan keluar yang tepat bagi semua masalah yang ada di perusahaan. Namun, analisis SWOT adalah alat analisis yang ditujukan untuk menggambarkan situasi yang sedang dihadapi atau mungkin akan dihidupi oleh organisasi. sehingga, dari gambaran-gambaran tersebut akan dirumuskan menjadi strategi yang tepat dan sesuai kondisi sekolah.

Branding sekolah dikatakan sukses apabila mampu meningkatkan jumlah murid (kuantitas), kualitas pendidikan, hasil (output) dan kepuasaan pelanggan (wali murid). Jika lembaga pendidikan memiliki citra yang positif di mata masyarakat, maka secara otomatis akan terbentuk pemikiran di benak masyarakat bahwa lembaga pendidikan tersebut memiliki kualitas yang bagus. Pada perkembangan selanjutnya, akan berdampak pada keputusan masyarakat untuk memutuskan pilihan lembaga sebagai kelanjutan studi anaknya atau anak-anak di lingkungannya. Memiliki citra yang positif adalah harapan semua lembaga pendidikan yang tentu saja akan memberikan banyak keuntungan bagi lembaga pendidikan tersebut. Sehingga, salah satu bentuk branding sekolah adalah pentingnya testimoni dari lulusan, wali murid, dan tokoh masyarakat untuk memberikan penilaian positif pada lembaga pendidikan. Sehingga, semakin banyak orang yang mencitrakan positif sebuah lembaga pendidikan, maka akan semakin banyak orang pula yang tertarik menggunakan jasa layanan pendidikan lembaga tersebut.

Upgrade Kualitas

            Berdasarkan hasil SWOT, setiap lembaga pendidikan akan mempunyai strategi-strategi yang berbeda dalam merumuskan strategi branding sekolah. Langkah awalnya adalah dengan melakukan upgrade kualitas lembaga pendidikannya untuk mempertahankan dan mengembangkan citra yang dimiliki oleh lembaga. Peningkatan kualitas yang dilakukan menyangkut kualitas fisik dan non fisik. Peningkatan kualitas secara fisik dilakukan dengan terus mengembangkanfasilitas ruang kelas teori dan praktik yang menyenangkan dan sarana prasarana penunjang pendidikan lainnya. Ruang kelas sekolah serasa ruang kuliah seperti pengadaan kursi kuliah sebagai pengganti kursi dan bangku yang terkesan konvensional dan sulit untuk mendukung model pembelajaran cooperative learning. Ruang-ruang kelas sekarang setidaknya harus didesain senafas dengan model pembelajaran berbasis digital akan meningkatkan motivasi belajar siswa dan sejatinya itu adalah strategi branding sekolah.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Era revolusi industri 4.0 menuntut manusia lebih kreatif, inovatif dan terampil serta mampu menyeimbangi perkembangan teknologi untuk bisa bersaing secara global. Begitu pula dalam dunia pendidikan, harus memiliki langkah-langkah dan strategi untuk menyesuaikan dengan perubahan dunia yang telah dikuasai oleh perangkat digital. Oleh karenanya membangun citra lembaga sangat penting agar mudah dikenal dan diketahui secara luas oleh masyarakat. Dengan membangun citra lembaga yang positif, akan melahirkan kesan yang baik dari konsumen atau masyarakat bahwa lembaga pendidikan tersebut adalah lembaga yang unggul.

Saat ini dunia mengalami perubahan yang sangat cepat karena telah memasuki era revolusi industri 4.0, tak terkecuali dunia pendidikan segala tindakan dan pekerjaan menjadi semakin kompleks karena pada era industri 4.0 akan muncul komputer super, kecerdasan buatan. Jika manusia tidak mau berbenah maka ia akan tertinggal bahkan bisa tersingkirkan karenanya pada era ini sangat dibutuhkan SDM yang kreatif, inovatif, dan mampu berpikir kritis, untuk menyeimbangi perubahan yang akan terjadi. Dunia pendidikan dituntut untuk mencetak lulusan dengan kompetensi ilmu pengetahuan yang tidak hanya fokus pada pengembangan ilmu ilmiah, melainkan ilmu teknologi pula. Dengan munculnya teknologi yang semakin canggih di era revolusi industri 4.0, akan menjadi tantangan dan peluang tersendiri. Karenanya lembaga pendidikan harus mampu memfungsikannya untuk mempermudah segala tindakan mencapai tujuan, tentunya dengan terus berinovasi agar dapat menciptakan pembaharuan-pembaharuan yang bermanfaat bagi internal perguruan tinggi dan masyarakat secara umum.

Untuk mempertahankan keunggulan kompetitif sangat diperlukan suatu strategi sebagai konsep dalam jangka waktu panjang, agar organisasi dapat menyetarakan antara strengths (kekuatan) dan weaknesses (kekurangan) internalnya dengan opportunities (peluang) dan threats (ancaman) eksternal. Strategi yang tepat dan baik dapat mengarahkan organisasi atau lembaga pendidikan menuju keberhasilan untuk mencapai tujuannya dan tetap memiliki keunggulan kompetitif.

Lembaga pendidikan sudah sewajarnya memiliki branding yang bagus guna untuk mempertahankan pelanggan dan menarik pelanggan yang baru untuk memilih lembaganya sebagai tempat proses pembelajaran. Oleh sebab itu, setiap lembaga pendidikan perlu terus meningkatkan kualitas pendidikan di lembaganya melalui strategi-strategi yang tepat demi mencapai kepuasan pelanggan dan memenuhi kebutuhannya. Satuan pendidikan dituntut untuk senantiasa merevitalisasi strateginya, untuk menyesuaikan tuntutan lingkungan dan persaingan dengan kekuatan internal yang dimilikinya.

Analisi SWOT Sebagai Kunci Dasar

Branding sekolah pada dasarnya tidak bisa dibangun secara instan dengan mengharapkan hasil yang cepat. Sebaliknya, branding sekolah terlahir dari proses Evaluasi Diri Sekolah (EDS) melalui metode analisis Strength, Weakness, Opportunities, Threats (SWOT). Berdasarkan SWOT yang dilakukan oleh lembaga sekolah secara benar dan menyangkut semua sumber daya sekolah maka akan menjadi kunci keberhasilan lahirnya strategi branding sekolah yang tepat.

Tujuan dari analisis SWOT adalah untuk menemukan aspek-aspek penting dari kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman di dalam suatu lembaga pendidikan. Kekuatan dan kelemahan internal sekolah harus benar-benar ditelanjangi secara menyeluruh untuk disandingkan dengan peluang dan ancaman yang merupakan faktor eksternal. Akhirnya, dengan mengetahui empat aspek tersebut, diharapkan dapat memaksimalkan kekuatan, meminimalkan kelemahan, mengurangi ancaman, dan membangun peluang-peluang untuk diterjemahkan menjadi strategi branding sekolah yang tepat dan berbeda dengan sekolah lainnya. Yang harus menjadi catatan, penilaian SWOT bukanlah alat analisis yang mampu memberikan jalan keluar yang tepat bagi semua masalah yang ada di perusahaan. Namun, analisis SWOT adalah alat analisis yang ditujukan untuk menggambarkan situasi yang sedang dihadapi atau mungkin akan dihidupi oleh organisasi. sehingga, dari gambaran-gambaran tersebut akan dirumuskan menjadi strategi yang tepat dan sesuai kondisi sekolah.

Branding sekolah dikatakan sukses apabila mampu meningkatkan jumlah murid (kuantitas), kualitas pendidikan, hasil (output) dan kepuasaan pelanggan (wali murid). Jika lembaga pendidikan memiliki citra yang positif di mata masyarakat, maka secara otomatis akan terbentuk pemikiran di benak masyarakat bahwa lembaga pendidikan tersebut memiliki kualitas yang bagus. Pada perkembangan selanjutnya, akan berdampak pada keputusan masyarakat untuk memutuskan pilihan lembaga sebagai kelanjutan studi anaknya atau anak-anak di lingkungannya. Memiliki citra yang positif adalah harapan semua lembaga pendidikan yang tentu saja akan memberikan banyak keuntungan bagi lembaga pendidikan tersebut. Sehingga, salah satu bentuk branding sekolah adalah pentingnya testimoni dari lulusan, wali murid, dan tokoh masyarakat untuk memberikan penilaian positif pada lembaga pendidikan. Sehingga, semakin banyak orang yang mencitrakan positif sebuah lembaga pendidikan, maka akan semakin banyak orang pula yang tertarik menggunakan jasa layanan pendidikan lembaga tersebut.

Upgrade Kualitas

            Berdasarkan hasil SWOT, setiap lembaga pendidikan akan mempunyai strategi-strategi yang berbeda dalam merumuskan strategi branding sekolah. Langkah awalnya adalah dengan melakukan upgrade kualitas lembaga pendidikannya untuk mempertahankan dan mengembangkan citra yang dimiliki oleh lembaga. Peningkatan kualitas yang dilakukan menyangkut kualitas fisik dan non fisik. Peningkatan kualitas secara fisik dilakukan dengan terus mengembangkanfasilitas ruang kelas teori dan praktik yang menyenangkan dan sarana prasarana penunjang pendidikan lainnya. Ruang kelas sekolah serasa ruang kuliah seperti pengadaan kursi kuliah sebagai pengganti kursi dan bangku yang terkesan konvensional dan sulit untuk mendukung model pembelajaran cooperative learning. Ruang-ruang kelas sekarang setidaknya harus didesain senafas dengan model pembelajaran berbasis digital akan meningkatkan motivasi belajar siswa dan sejatinya itu adalah strategi branding sekolah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/