alexametrics
24.1 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Tuntutan Inovasi Produksi Seni dan Budaya di Era Kekinian

Mobile_AP_Rectangle 1

Indonesia akhirnya memiliki UU khusus kebudayaan yang disahkan pada tahun 2017. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan ini memberikan legalitas dalam berbagai kegiatan atau usaha memajukan kebudayaan secara nasional.

Dalam UU pemajuan kebudayaan tersebut, setidaknya ada dua hal yang bisa diklasifikasikan yakni usaha pelestarian dan usaha pengembangan atau inovasi kebudayaan. Dalam hal pelestarian, big data kebudayaan diperlukan sebagai upaya melindungi, mendokumentasi, serta merestorasi budaya benda maupun tak benda yang bersifat tradisional.

Di sisi lain, pengembangan kebudayaan dalam arti inovasi berusaha untuk memproduksi karya seni maupun budaya dengan beragam medium. Pemajuan kebudayaan yang akan saya bahas di sini adalah pengembangan kebudayaan dalam hal inovasi produk kebudayaan. Pada dasarnya inovasi menjadi cara utama bagi produk kebudayaan untuk memiliki kualitas dan daya saing dalam era kekinian.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di zaman yang bergerak dengan begitu cepat ini, mereka yang tak berinovasi akan berisiko tenggelam karena kurang mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Ada 3 strategi yang bisa dilakukan untuk memajukan kebudayaan dalam arti inovasi di zaman kekinian.

  1. Produktivitas

Produksi karya seni dan budaya harus dilakukan secara produktif, berkualitas, dan berkelanjutan. Untuk itu, sumber daya manusia menjadi penting. Manusia dalam hal ini menjadi kreator atau pencipta kebudayaan tersebut. Investasi kepada manusia merupakan kunci dari produktivitas kebudayaan. Investasi kepada manusia umumnya dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, dan program berkelanjutan dalam usaha memproduksi karya seni dan budaya.

Produktivitas kebudayaan akan mendorong berbagai kreativitas untuk menciptakan karya seni dan budaya sehingga bisa dinikmati secara terus-menerus oleh masyarakat. Kekurangan yang merugikan bagi sebuah kelompok, komunitas, atau lembaga budaya adalah ketika para senimannya tidak produktif. Tentu produktivitas harus diimbangi dengan kualitas. Oleh karena itu, investasi dalam hal pendidikan SDM sangat penting.

Ujung tombak dari sebuah kelompok budaya adalah seniman dan karya itu sendiri. Karya yang diproduksi bahkan mampu berbicara lebih banyak kepada publik daripada seniman maupun kelompoknya. Di zaman sekarang berbagai medium dan kemudahan menyediakan bahan dan fasilitas yang bisa diakses secara meluas dalam memproduksi karya.

Wujud karya bisa bermacam-macam mulai dari fotografi, lukisan, tarian, pentas teater, lagu, maupun tulisan kreatif di media daring. Sebagai contoh dulu media tampak dikuasai oleh media besar di Jakarta. Namun, saat ini media yang berbasis di daerah pun bisa menyaingi media nasional dengan konten yang berbeda dari media mainstream.

Produk konten kreator di media daring menjadi kunci kesuksesan media yang berbasis di daerah untuk bisa bersaing dan menemukan pasarnya sendiri. Produktivitas dalam memproduksi konten juga menjadi kunci utama untuk bisa beradaptasi dengan algoritma Google, media sosial dan jagat dunia maya. Begitu juga dengan karya lain seperti fotografi. Berapa banyak produk foto yang diproduksi oleh seniman foto maupun fotografer dalam sebulan atau setahun? Berapa banyak mereka mengadakan pameran atau mengikuti pameran foto? Jika masih belum produktif, maka sulit rasanya untuk seniman bisa berkembang. Produktivitas dalam hal memproduksi karya jadi hal mendasar untuk menggenjot kualitas dan daya saing dalam arena kebudayaan.

  1. Akses dan Kualitas Meluas kepada Publik

Rasanya di era kekinian akses meluas kepada publik bukan menjadi kendala. Seseorang bisa membuat video kreatif di YouTube dan bisa diakses oleh orang-orang dari seluruh dunia. Yang jadi titik tekan dalam hal ini adalah produk kreatifnya. Karya yang diproduksi oleh pencipta perlu untuk bisa dinikmati oleh banyak kalangan.

Bukan bermaksud untuk mendiskreditkan karya yang segmented, pada dasarnya setiap jenis karya memiliki pasarnya masing-masing. Membuka akses karya kepada publik yang lebih luas bisa menjadi strategi dalam pemajuan kebudayaan.

Pada akhirnya, karya seni indah, menarik, maupun estetis tergantung pada tangkapan penikmatnya. Membuat karya yang bisa dinikmati oleh beragam elemen masyarakat juga akan lebih menghidupkan karya itu sendiri. Karya itu sendiri akan bisa ditafsir dengan beragam makna dengan berbagai latar belakang budaya penikmatnya yang turut menumbuhkan produksi makna.

Di zaman sekarang, makna karya tak lagi didominasi oleh seniman, kritikus maupun kuratornya. Para penikmnatnyalah yang lebih berperan memproduksi makna dan bahkan bisa menghidupkan karya tersebut.

  1. Konektivitas

Pada dasarnya pengembangan kebudayaan terletak pada pembangunan ekosistem seni dan budaya. Karya yang berkualitas akan lahir dalam ekosistem yang mendukung. Ekosistem kebudayaan yang baik akan menuntut konektivitas berbagai kelompok untuk saling bekerja sama dalam produksi kebudayaan.

Seorang seniman maupun kelompok kreatif perlu membuka diri dengan kelompok di luar kesenian. Komunitas kreatif akan semakin maju jika dia mampu membangun konektivitas dengan berbagai macam pemangku kepentingan.

Dalam hal ini, kelompok bisa dibagi menjadi 3. Antara lain kelompok pasar, pemerintah, dan masyarakat sipil. Pengembangan kebudayaan pada intinya tidak hanya mengembangkan kebudayaan itu sendiri tapi juga mengembangkan perekonomian, pengembangan pendidikan, fasilitas dari pemerintah, serta kesadaran hak-hak sipil.

- Advertisement -

Indonesia akhirnya memiliki UU khusus kebudayaan yang disahkan pada tahun 2017. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan ini memberikan legalitas dalam berbagai kegiatan atau usaha memajukan kebudayaan secara nasional.

Dalam UU pemajuan kebudayaan tersebut, setidaknya ada dua hal yang bisa diklasifikasikan yakni usaha pelestarian dan usaha pengembangan atau inovasi kebudayaan. Dalam hal pelestarian, big data kebudayaan diperlukan sebagai upaya melindungi, mendokumentasi, serta merestorasi budaya benda maupun tak benda yang bersifat tradisional.

Di sisi lain, pengembangan kebudayaan dalam arti inovasi berusaha untuk memproduksi karya seni maupun budaya dengan beragam medium. Pemajuan kebudayaan yang akan saya bahas di sini adalah pengembangan kebudayaan dalam hal inovasi produk kebudayaan. Pada dasarnya inovasi menjadi cara utama bagi produk kebudayaan untuk memiliki kualitas dan daya saing dalam era kekinian.

Di zaman yang bergerak dengan begitu cepat ini, mereka yang tak berinovasi akan berisiko tenggelam karena kurang mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Ada 3 strategi yang bisa dilakukan untuk memajukan kebudayaan dalam arti inovasi di zaman kekinian.

  1. Produktivitas

Produksi karya seni dan budaya harus dilakukan secara produktif, berkualitas, dan berkelanjutan. Untuk itu, sumber daya manusia menjadi penting. Manusia dalam hal ini menjadi kreator atau pencipta kebudayaan tersebut. Investasi kepada manusia merupakan kunci dari produktivitas kebudayaan. Investasi kepada manusia umumnya dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, dan program berkelanjutan dalam usaha memproduksi karya seni dan budaya.

Produktivitas kebudayaan akan mendorong berbagai kreativitas untuk menciptakan karya seni dan budaya sehingga bisa dinikmati secara terus-menerus oleh masyarakat. Kekurangan yang merugikan bagi sebuah kelompok, komunitas, atau lembaga budaya adalah ketika para senimannya tidak produktif. Tentu produktivitas harus diimbangi dengan kualitas. Oleh karena itu, investasi dalam hal pendidikan SDM sangat penting.

Ujung tombak dari sebuah kelompok budaya adalah seniman dan karya itu sendiri. Karya yang diproduksi bahkan mampu berbicara lebih banyak kepada publik daripada seniman maupun kelompoknya. Di zaman sekarang berbagai medium dan kemudahan menyediakan bahan dan fasilitas yang bisa diakses secara meluas dalam memproduksi karya.

Wujud karya bisa bermacam-macam mulai dari fotografi, lukisan, tarian, pentas teater, lagu, maupun tulisan kreatif di media daring. Sebagai contoh dulu media tampak dikuasai oleh media besar di Jakarta. Namun, saat ini media yang berbasis di daerah pun bisa menyaingi media nasional dengan konten yang berbeda dari media mainstream.

Produk konten kreator di media daring menjadi kunci kesuksesan media yang berbasis di daerah untuk bisa bersaing dan menemukan pasarnya sendiri. Produktivitas dalam memproduksi konten juga menjadi kunci utama untuk bisa beradaptasi dengan algoritma Google, media sosial dan jagat dunia maya. Begitu juga dengan karya lain seperti fotografi. Berapa banyak produk foto yang diproduksi oleh seniman foto maupun fotografer dalam sebulan atau setahun? Berapa banyak mereka mengadakan pameran atau mengikuti pameran foto? Jika masih belum produktif, maka sulit rasanya untuk seniman bisa berkembang. Produktivitas dalam hal memproduksi karya jadi hal mendasar untuk menggenjot kualitas dan daya saing dalam arena kebudayaan.

  1. Akses dan Kualitas Meluas kepada Publik

Rasanya di era kekinian akses meluas kepada publik bukan menjadi kendala. Seseorang bisa membuat video kreatif di YouTube dan bisa diakses oleh orang-orang dari seluruh dunia. Yang jadi titik tekan dalam hal ini adalah produk kreatifnya. Karya yang diproduksi oleh pencipta perlu untuk bisa dinikmati oleh banyak kalangan.

Bukan bermaksud untuk mendiskreditkan karya yang segmented, pada dasarnya setiap jenis karya memiliki pasarnya masing-masing. Membuka akses karya kepada publik yang lebih luas bisa menjadi strategi dalam pemajuan kebudayaan.

Pada akhirnya, karya seni indah, menarik, maupun estetis tergantung pada tangkapan penikmatnya. Membuat karya yang bisa dinikmati oleh beragam elemen masyarakat juga akan lebih menghidupkan karya itu sendiri. Karya itu sendiri akan bisa ditafsir dengan beragam makna dengan berbagai latar belakang budaya penikmatnya yang turut menumbuhkan produksi makna.

Di zaman sekarang, makna karya tak lagi didominasi oleh seniman, kritikus maupun kuratornya. Para penikmnatnyalah yang lebih berperan memproduksi makna dan bahkan bisa menghidupkan karya tersebut.

  1. Konektivitas

Pada dasarnya pengembangan kebudayaan terletak pada pembangunan ekosistem seni dan budaya. Karya yang berkualitas akan lahir dalam ekosistem yang mendukung. Ekosistem kebudayaan yang baik akan menuntut konektivitas berbagai kelompok untuk saling bekerja sama dalam produksi kebudayaan.

Seorang seniman maupun kelompok kreatif perlu membuka diri dengan kelompok di luar kesenian. Komunitas kreatif akan semakin maju jika dia mampu membangun konektivitas dengan berbagai macam pemangku kepentingan.

Dalam hal ini, kelompok bisa dibagi menjadi 3. Antara lain kelompok pasar, pemerintah, dan masyarakat sipil. Pengembangan kebudayaan pada intinya tidak hanya mengembangkan kebudayaan itu sendiri tapi juga mengembangkan perekonomian, pengembangan pendidikan, fasilitas dari pemerintah, serta kesadaran hak-hak sipil.

Indonesia akhirnya memiliki UU khusus kebudayaan yang disahkan pada tahun 2017. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan ini memberikan legalitas dalam berbagai kegiatan atau usaha memajukan kebudayaan secara nasional.

Dalam UU pemajuan kebudayaan tersebut, setidaknya ada dua hal yang bisa diklasifikasikan yakni usaha pelestarian dan usaha pengembangan atau inovasi kebudayaan. Dalam hal pelestarian, big data kebudayaan diperlukan sebagai upaya melindungi, mendokumentasi, serta merestorasi budaya benda maupun tak benda yang bersifat tradisional.

Di sisi lain, pengembangan kebudayaan dalam arti inovasi berusaha untuk memproduksi karya seni maupun budaya dengan beragam medium. Pemajuan kebudayaan yang akan saya bahas di sini adalah pengembangan kebudayaan dalam hal inovasi produk kebudayaan. Pada dasarnya inovasi menjadi cara utama bagi produk kebudayaan untuk memiliki kualitas dan daya saing dalam era kekinian.

Di zaman yang bergerak dengan begitu cepat ini, mereka yang tak berinovasi akan berisiko tenggelam karena kurang mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Ada 3 strategi yang bisa dilakukan untuk memajukan kebudayaan dalam arti inovasi di zaman kekinian.

  1. Produktivitas

Produksi karya seni dan budaya harus dilakukan secara produktif, berkualitas, dan berkelanjutan. Untuk itu, sumber daya manusia menjadi penting. Manusia dalam hal ini menjadi kreator atau pencipta kebudayaan tersebut. Investasi kepada manusia merupakan kunci dari produktivitas kebudayaan. Investasi kepada manusia umumnya dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, dan program berkelanjutan dalam usaha memproduksi karya seni dan budaya.

Produktivitas kebudayaan akan mendorong berbagai kreativitas untuk menciptakan karya seni dan budaya sehingga bisa dinikmati secara terus-menerus oleh masyarakat. Kekurangan yang merugikan bagi sebuah kelompok, komunitas, atau lembaga budaya adalah ketika para senimannya tidak produktif. Tentu produktivitas harus diimbangi dengan kualitas. Oleh karena itu, investasi dalam hal pendidikan SDM sangat penting.

Ujung tombak dari sebuah kelompok budaya adalah seniman dan karya itu sendiri. Karya yang diproduksi bahkan mampu berbicara lebih banyak kepada publik daripada seniman maupun kelompoknya. Di zaman sekarang berbagai medium dan kemudahan menyediakan bahan dan fasilitas yang bisa diakses secara meluas dalam memproduksi karya.

Wujud karya bisa bermacam-macam mulai dari fotografi, lukisan, tarian, pentas teater, lagu, maupun tulisan kreatif di media daring. Sebagai contoh dulu media tampak dikuasai oleh media besar di Jakarta. Namun, saat ini media yang berbasis di daerah pun bisa menyaingi media nasional dengan konten yang berbeda dari media mainstream.

Produk konten kreator di media daring menjadi kunci kesuksesan media yang berbasis di daerah untuk bisa bersaing dan menemukan pasarnya sendiri. Produktivitas dalam memproduksi konten juga menjadi kunci utama untuk bisa beradaptasi dengan algoritma Google, media sosial dan jagat dunia maya. Begitu juga dengan karya lain seperti fotografi. Berapa banyak produk foto yang diproduksi oleh seniman foto maupun fotografer dalam sebulan atau setahun? Berapa banyak mereka mengadakan pameran atau mengikuti pameran foto? Jika masih belum produktif, maka sulit rasanya untuk seniman bisa berkembang. Produktivitas dalam hal memproduksi karya jadi hal mendasar untuk menggenjot kualitas dan daya saing dalam arena kebudayaan.

  1. Akses dan Kualitas Meluas kepada Publik

Rasanya di era kekinian akses meluas kepada publik bukan menjadi kendala. Seseorang bisa membuat video kreatif di YouTube dan bisa diakses oleh orang-orang dari seluruh dunia. Yang jadi titik tekan dalam hal ini adalah produk kreatifnya. Karya yang diproduksi oleh pencipta perlu untuk bisa dinikmati oleh banyak kalangan.

Bukan bermaksud untuk mendiskreditkan karya yang segmented, pada dasarnya setiap jenis karya memiliki pasarnya masing-masing. Membuka akses karya kepada publik yang lebih luas bisa menjadi strategi dalam pemajuan kebudayaan.

Pada akhirnya, karya seni indah, menarik, maupun estetis tergantung pada tangkapan penikmatnya. Membuat karya yang bisa dinikmati oleh beragam elemen masyarakat juga akan lebih menghidupkan karya itu sendiri. Karya itu sendiri akan bisa ditafsir dengan beragam makna dengan berbagai latar belakang budaya penikmatnya yang turut menumbuhkan produksi makna.

Di zaman sekarang, makna karya tak lagi didominasi oleh seniman, kritikus maupun kuratornya. Para penikmnatnyalah yang lebih berperan memproduksi makna dan bahkan bisa menghidupkan karya tersebut.

  1. Konektivitas

Pada dasarnya pengembangan kebudayaan terletak pada pembangunan ekosistem seni dan budaya. Karya yang berkualitas akan lahir dalam ekosistem yang mendukung. Ekosistem kebudayaan yang baik akan menuntut konektivitas berbagai kelompok untuk saling bekerja sama dalam produksi kebudayaan.

Seorang seniman maupun kelompok kreatif perlu membuka diri dengan kelompok di luar kesenian. Komunitas kreatif akan semakin maju jika dia mampu membangun konektivitas dengan berbagai macam pemangku kepentingan.

Dalam hal ini, kelompok bisa dibagi menjadi 3. Antara lain kelompok pasar, pemerintah, dan masyarakat sipil. Pengembangan kebudayaan pada intinya tidak hanya mengembangkan kebudayaan itu sendiri tapi juga mengembangkan perekonomian, pengembangan pendidikan, fasilitas dari pemerintah, serta kesadaran hak-hak sipil.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/