alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Promosi atau Riya

Mobile_AP_Rectangle 1

Baru-baru ini kita disuguhkan dengan keramaian seorang artis yang sedang mengkritisi pasangan suami istri yang dijuluki crazy rich. Hasil kritisannya ternyata membawa hasil, bahwa apa yang ditampilkan sebenarnya bukan kenyataan. Mereka hanya melakukan pamer kekayaan atau disebut dengan flexing.

Flexing saat ini memang sangat gencar di media sosial, baik melalui Youtube, Instagram, TikTok maupun yang lainnya. Baik itu dilakukan oleh artis, tokoh masyarakat, maupun orang-orang umum yang baru saja merasakan kekayaannya. Pelaku tidak segan-segannya menunjukkan semua kekayaannya, bahkan konon kabarnya tidak semua yang dipamerkan adalah benar miliknya. Mereka akan merasakan kebanggaan manakala pengikutnya memberikan komentar-komentar positif.

Memang sih, tidak semua komentar positif, misalnya mengikuti riwayat hidupnya, bagaimana proses pelaku menjadi kaya. Banyak pengikut yang termotivasi dari cerita tersebut, kemudian bergabung ke objek/produk/bisnis yang menjadikan pelaku menjadi kaya mendadak. Namun, tidak sedikit yang menghujat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Saat ini negeri ini mengalami banyak permasalahan akibat pandemi Covid-19. Banyak orang yang mengalami keterpurukan, ekonomi hancur, PHK besar-besaran, bisnis apa pun terdampak, kemiskinan merajalela. Situasi yang seperti ini membuat orang sensitif terhadap rangsangan yang diterima, terutama berupa informasi flexing.

Tidakkah para pelaku flexing ini merasakan apa yang mereka rasakan? Cukuplah bagi para pelaku flexing untuk diam menikmati kekayaannya sendiri tanpa meng-exposed di dunia maya. Respons tidak suka, iri, sampai dengan pikiran jahat untuk memiliki paksa (mencuri, merampok, dll) pasti ada. Mungkin saat ini rasa empati itu telah tiada di masyarakat kita.

Banyak sebenarnya orang kaya raya di negeri ini, namun jarang kita lihat dia menunjukkan kekayaannya dengan memamerkan barang-barang mewah yang dimilikinya. Sebut saja Ibu Nurhayati, founder dan Komisaris Utama Paragon Technology and Innovation itu masuk dalam daftar 25 pebisnis wanita yang memiliki dampak besar di dunia bisnis Asia versi Majalah Forbes. Namun tidak tampak di dunia maya tentang informasi kekayaannya yang membuat jagat heboh karenanya. Justru yang dilihatkan adalah kepeduliannya terhadap dunia pendidikan, dengan berperan dalam program tanggung jawab sosial perusahaannya, seperti Good Leader Good Teacher, Wardah Inspiring Teacher, Wardah Scholarship Program, Semua Murid Semua Guru. Lalu Paragon Innovation Fellowship, Jabar Innovation Fellowship, Lecturer Coaching Movement, Pelatihan Inspiring Lecturer, dan INS Kayu Tanam Restoration.

Menanggapi perilaku flexing ini, Rudy Salim, seorang pengusaha, dalam wowkeren.com tanggal 23 Maret 2022 menyampaikan, “tak bisa menyalahkan seseorang flexing jika memang berkaitan dengan pekerjaan. Tapi, kalau kita di posisi orang yang melakukan flexing untuk usaha dia dan itu berhasil, kita gak bisa bilang itu salah. Contohnya, dia jualan berlian, dia harus memamerkan. Kalau gak, gimana dia jualannya.” Artinya, flexing dibenarkan manakala berhubungan dengan promosi perusahaannya.

- Advertisement -

Baru-baru ini kita disuguhkan dengan keramaian seorang artis yang sedang mengkritisi pasangan suami istri yang dijuluki crazy rich. Hasil kritisannya ternyata membawa hasil, bahwa apa yang ditampilkan sebenarnya bukan kenyataan. Mereka hanya melakukan pamer kekayaan atau disebut dengan flexing.

Flexing saat ini memang sangat gencar di media sosial, baik melalui Youtube, Instagram, TikTok maupun yang lainnya. Baik itu dilakukan oleh artis, tokoh masyarakat, maupun orang-orang umum yang baru saja merasakan kekayaannya. Pelaku tidak segan-segannya menunjukkan semua kekayaannya, bahkan konon kabarnya tidak semua yang dipamerkan adalah benar miliknya. Mereka akan merasakan kebanggaan manakala pengikutnya memberikan komentar-komentar positif.

Memang sih, tidak semua komentar positif, misalnya mengikuti riwayat hidupnya, bagaimana proses pelaku menjadi kaya. Banyak pengikut yang termotivasi dari cerita tersebut, kemudian bergabung ke objek/produk/bisnis yang menjadikan pelaku menjadi kaya mendadak. Namun, tidak sedikit yang menghujat.

Saat ini negeri ini mengalami banyak permasalahan akibat pandemi Covid-19. Banyak orang yang mengalami keterpurukan, ekonomi hancur, PHK besar-besaran, bisnis apa pun terdampak, kemiskinan merajalela. Situasi yang seperti ini membuat orang sensitif terhadap rangsangan yang diterima, terutama berupa informasi flexing.

Tidakkah para pelaku flexing ini merasakan apa yang mereka rasakan? Cukuplah bagi para pelaku flexing untuk diam menikmati kekayaannya sendiri tanpa meng-exposed di dunia maya. Respons tidak suka, iri, sampai dengan pikiran jahat untuk memiliki paksa (mencuri, merampok, dll) pasti ada. Mungkin saat ini rasa empati itu telah tiada di masyarakat kita.

Banyak sebenarnya orang kaya raya di negeri ini, namun jarang kita lihat dia menunjukkan kekayaannya dengan memamerkan barang-barang mewah yang dimilikinya. Sebut saja Ibu Nurhayati, founder dan Komisaris Utama Paragon Technology and Innovation itu masuk dalam daftar 25 pebisnis wanita yang memiliki dampak besar di dunia bisnis Asia versi Majalah Forbes. Namun tidak tampak di dunia maya tentang informasi kekayaannya yang membuat jagat heboh karenanya. Justru yang dilihatkan adalah kepeduliannya terhadap dunia pendidikan, dengan berperan dalam program tanggung jawab sosial perusahaannya, seperti Good Leader Good Teacher, Wardah Inspiring Teacher, Wardah Scholarship Program, Semua Murid Semua Guru. Lalu Paragon Innovation Fellowship, Jabar Innovation Fellowship, Lecturer Coaching Movement, Pelatihan Inspiring Lecturer, dan INS Kayu Tanam Restoration.

Menanggapi perilaku flexing ini, Rudy Salim, seorang pengusaha, dalam wowkeren.com tanggal 23 Maret 2022 menyampaikan, “tak bisa menyalahkan seseorang flexing jika memang berkaitan dengan pekerjaan. Tapi, kalau kita di posisi orang yang melakukan flexing untuk usaha dia dan itu berhasil, kita gak bisa bilang itu salah. Contohnya, dia jualan berlian, dia harus memamerkan. Kalau gak, gimana dia jualannya.” Artinya, flexing dibenarkan manakala berhubungan dengan promosi perusahaannya.

Baru-baru ini kita disuguhkan dengan keramaian seorang artis yang sedang mengkritisi pasangan suami istri yang dijuluki crazy rich. Hasil kritisannya ternyata membawa hasil, bahwa apa yang ditampilkan sebenarnya bukan kenyataan. Mereka hanya melakukan pamer kekayaan atau disebut dengan flexing.

Flexing saat ini memang sangat gencar di media sosial, baik melalui Youtube, Instagram, TikTok maupun yang lainnya. Baik itu dilakukan oleh artis, tokoh masyarakat, maupun orang-orang umum yang baru saja merasakan kekayaannya. Pelaku tidak segan-segannya menunjukkan semua kekayaannya, bahkan konon kabarnya tidak semua yang dipamerkan adalah benar miliknya. Mereka akan merasakan kebanggaan manakala pengikutnya memberikan komentar-komentar positif.

Memang sih, tidak semua komentar positif, misalnya mengikuti riwayat hidupnya, bagaimana proses pelaku menjadi kaya. Banyak pengikut yang termotivasi dari cerita tersebut, kemudian bergabung ke objek/produk/bisnis yang menjadikan pelaku menjadi kaya mendadak. Namun, tidak sedikit yang menghujat.

Saat ini negeri ini mengalami banyak permasalahan akibat pandemi Covid-19. Banyak orang yang mengalami keterpurukan, ekonomi hancur, PHK besar-besaran, bisnis apa pun terdampak, kemiskinan merajalela. Situasi yang seperti ini membuat orang sensitif terhadap rangsangan yang diterima, terutama berupa informasi flexing.

Tidakkah para pelaku flexing ini merasakan apa yang mereka rasakan? Cukuplah bagi para pelaku flexing untuk diam menikmati kekayaannya sendiri tanpa meng-exposed di dunia maya. Respons tidak suka, iri, sampai dengan pikiran jahat untuk memiliki paksa (mencuri, merampok, dll) pasti ada. Mungkin saat ini rasa empati itu telah tiada di masyarakat kita.

Banyak sebenarnya orang kaya raya di negeri ini, namun jarang kita lihat dia menunjukkan kekayaannya dengan memamerkan barang-barang mewah yang dimilikinya. Sebut saja Ibu Nurhayati, founder dan Komisaris Utama Paragon Technology and Innovation itu masuk dalam daftar 25 pebisnis wanita yang memiliki dampak besar di dunia bisnis Asia versi Majalah Forbes. Namun tidak tampak di dunia maya tentang informasi kekayaannya yang membuat jagat heboh karenanya. Justru yang dilihatkan adalah kepeduliannya terhadap dunia pendidikan, dengan berperan dalam program tanggung jawab sosial perusahaannya, seperti Good Leader Good Teacher, Wardah Inspiring Teacher, Wardah Scholarship Program, Semua Murid Semua Guru. Lalu Paragon Innovation Fellowship, Jabar Innovation Fellowship, Lecturer Coaching Movement, Pelatihan Inspiring Lecturer, dan INS Kayu Tanam Restoration.

Menanggapi perilaku flexing ini, Rudy Salim, seorang pengusaha, dalam wowkeren.com tanggal 23 Maret 2022 menyampaikan, “tak bisa menyalahkan seseorang flexing jika memang berkaitan dengan pekerjaan. Tapi, kalau kita di posisi orang yang melakukan flexing untuk usaha dia dan itu berhasil, kita gak bisa bilang itu salah. Contohnya, dia jualan berlian, dia harus memamerkan. Kalau gak, gimana dia jualannya.” Artinya, flexing dibenarkan manakala berhubungan dengan promosi perusahaannya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/