alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Jalan Baru Mengantar Siswa Menjadi Warga Dunia

Mobile_AP_Rectangle 1

Pendidikan merupakan salah satu alat membangun peradaban. Maju dan tidaknya peradaban bangsa diukur dari kualitas masyarakatnya. Pendidikan ke depan sudah tak akan lagi sama seperti sebelum pandemi.  Sebelum tahun 2019 siswa terbiasa dengan rutinitas jadwal pelajaran tetap selama satu semester. Jadwal berubah pada semester berikutnya. Begitu pun guru, sudah nyaman di kelas. Beberapa guru mulus menyelesaikan target kurikulum dengan kondisi siswa yang mendapat dukungan penuh dan pengawasan dari orang tua. Namun, tak sedikit guru yang tak mampu menyelesaikan target kurikulum karena kondisi siswa yang minim pengawasan orang tua.

Ketika pandemi Covid-19 melanda dunia, berbagai lini kehidupan porak poranda. Tak luput pula pendidikan di Indonesia luluh lantak.  Semua pemangku kepentingan tak siap untuk keberlangsungan pembelajaran. Daring menjadi pilihan. Berbagai upaya dilakukan pemerintah agar siswa terus belajar. Kemendikbud mengeluarkan berbagai kebijakan mulai penyederhanaan kurikulum, proses belajar mengajar, kuota untuk guru dan siswa sampai penyediaan sumber-sumber belajar.

Setelah Covid-19 melandai, tahun pelajaran 2021/2022 pertemuan tatap muka terbatas (PTM) mulai digelar oleh kementerian dengan sejumlah syarat. Menteri Pendidikan Nadiem Makarim tak mau menunda, karena sudah satu tahun lebih siswa banyak yang kehilangan gairah belajar. Bila ada penularan, maka sekolah itu saja yang sementara ditutup. Sementara yang lain tetap PTM.

Mobile_AP_Rectangle 2

Orang tua, siswa, dan guru menyambut baik PTM dengan prokes ketat. Kehidupan normal baru di sekolah dimulai. Perubahan yang dihadapi siswa di sekolah antara lain prokes, lamanya belajar di sekolah, cara mengajar guru, serta perubahan cara belajar. Sebelum pandemi, mereka menghabiskan waktu 7 jam di sekolah. Pandemi menyisakan sejumlah perubahan yang menyulitkan. Ketidakpastian, permasalahan hidup yang kompleks, dan ketidakjelasan. Anak- anak Indonesia mengalami loss learning. Oleh sebab itu, diperlukan kesiapan guru menghadapi masa depan siswa dalam proses belajar mengajarnya mulai mendeskripsikan sampai menjadi inspirasi bagi siswanya pada era digital yang kompetitif yang melanda seluruh dunia.

Kesiapan guru

Untuk mengantarkan siswanya sebagai warga dunia, maka diperlukan kesiapan guru antara lain, Pertama, guru membekali siswa untuk beradaptasi dengan perubahan. Ketika mengajar, guru bersama siswa menggali perubahan yang terjadi di dunia dari masa ke masa sesuai mata pelajaran yang diampu. Selanjutnya guru mengajak berpikir prediksi ke depan setiap bidang perubahan yang terjadi. Tujuannya agar siswa membuka pikiran bahwa perubahan itu suatu keniscayaan.   Kemampuan  beradaptasi dengan perubahan membawa siswa untuk bertahan dan tangguh dari situasi apa pun. Kedua, guru menguasai  teknologi, guru dituntut tidak hanya fokus belajar mata pelajaran yang diampu, namun saat ini guru harus belajar segalanya. Pascapandemi mengubah sistem pembelajaran yang sebelumnya terbiasa tatap muka menjadi pembelajaran blended, perpaduan daring dan luring. Oleh sebab itu, guru perlu belajar teknologi untuk keperluan mengajar mulai dari merancang, melaksanakan, menilai. Penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi suatu keharusan, untuk menarik perhatian siswa dalam belajar daring atau luring.   Ketiga, menerapkan berbagai model pembelajaran, tujuannya agar siswa mengalami pengalaman belajar yang beragam. Model pembelajaran yang dikembangkan dalam kurikulum 13 problem based learning, inquiri, discovery, project based learning masih layak digunakan, karena stimulusnya berbasis masalah yang dapat memancing berpikir kritis siswa. Kebiasaan memfasilitasi siswa berpikir untuk menyelesaikan permasalahan, akan membawa siswa berpikir out of the box. Menyelesaikan masalah dengan berpikir yang tidak biasa akan menuju kepada temuan-temuan baru. Dalam teori tahapan berpikir menurut taksonomi Bloom “temuan-temuan baru” termasuk tingkat berpikir tertinggi yaitu berpikir kreatif.  Keempat, guru piawai memilih materi esensial yang benar-benar diperlukan siswa saat ini, sehingga mencapai kebermaknaan belajar siswa. Meski Mendikbud Nadiem Makarim telah menyederhanakan kurikulum 13 karena pandemi, namun beberapa mata pelajaran masih syarat dengan muatan konsep dan kontennya membuat guru belum leluasa mengembangkan konteks. Guru masih terjebak dengan menuntaskan kurikulum.  Kelima, guru memosisikan pada mindset tumbuh, dari penelitian yang dilakukan oleh Annie Brock dan Heather Hundley hasilnya adalah  guru-guru yang menggunakan mindset tumbuh mampu memiliki keyakinan bahwa dengan latihan, ketekunan, dan usaha seseorang memiliki tanpa batas untuk berkembang.  Bila guru menggunakan pola mengajar mindset tumbuh, maka yang terjadi, akan mengejar tantangan terus belajar. Guru tidak akan mundur bila menghadapi kendala. Guru akan terus menerus berpikir mencari jalan kesuksesan siswanya. Guru akan menerima kritikan untuk memperbaiki pembelajaran. Guru akan melihat kesuksesan seseorang sebagai inspirasi, bukan ancaman.

Warga Dunia

Akankah guru masih berkutat dengan penguasaan materi pelajaran untuk menuntaskan kurikulum tanpa membekali keterampilan berpikir siswa ? Bila demikian maka siswa tak akan pernah tahu ke mana jalannya menjadi warga dunia. Ketika para guru menyadari bahwa perubahan dunia sudah semakin menggila tiap detik, tiap menit, maka guru setiap hari tak akan pernah berhenti berpikir bagaimana cara-cara yang mengantarkan jalan kepada para siswanya. Era Super Smart Society 5.0 yang diperkenalkan oleh pemerintah Jepang ke seluruh dunia adalah sebuah konsep masyarakat yang mengintegrasikan antara dunia maya dan dunia nyata, yang bertujuan menyeimbangkan kemajuan Revolusi Industri 4.0 dan penyelesaian kesenjangan masalah sosial. Keterampilan menjadi warga dunia saat ini, perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan, mampu menguasai teknologi dan informasi, berpikir kritis dan inovatif, dan memiliki kegigihan pantang menyerah.

- Advertisement -

Pendidikan merupakan salah satu alat membangun peradaban. Maju dan tidaknya peradaban bangsa diukur dari kualitas masyarakatnya. Pendidikan ke depan sudah tak akan lagi sama seperti sebelum pandemi.  Sebelum tahun 2019 siswa terbiasa dengan rutinitas jadwal pelajaran tetap selama satu semester. Jadwal berubah pada semester berikutnya. Begitu pun guru, sudah nyaman di kelas. Beberapa guru mulus menyelesaikan target kurikulum dengan kondisi siswa yang mendapat dukungan penuh dan pengawasan dari orang tua. Namun, tak sedikit guru yang tak mampu menyelesaikan target kurikulum karena kondisi siswa yang minim pengawasan orang tua.

Ketika pandemi Covid-19 melanda dunia, berbagai lini kehidupan porak poranda. Tak luput pula pendidikan di Indonesia luluh lantak.  Semua pemangku kepentingan tak siap untuk keberlangsungan pembelajaran. Daring menjadi pilihan. Berbagai upaya dilakukan pemerintah agar siswa terus belajar. Kemendikbud mengeluarkan berbagai kebijakan mulai penyederhanaan kurikulum, proses belajar mengajar, kuota untuk guru dan siswa sampai penyediaan sumber-sumber belajar.

Setelah Covid-19 melandai, tahun pelajaran 2021/2022 pertemuan tatap muka terbatas (PTM) mulai digelar oleh kementerian dengan sejumlah syarat. Menteri Pendidikan Nadiem Makarim tak mau menunda, karena sudah satu tahun lebih siswa banyak yang kehilangan gairah belajar. Bila ada penularan, maka sekolah itu saja yang sementara ditutup. Sementara yang lain tetap PTM.

Orang tua, siswa, dan guru menyambut baik PTM dengan prokes ketat. Kehidupan normal baru di sekolah dimulai. Perubahan yang dihadapi siswa di sekolah antara lain prokes, lamanya belajar di sekolah, cara mengajar guru, serta perubahan cara belajar. Sebelum pandemi, mereka menghabiskan waktu 7 jam di sekolah. Pandemi menyisakan sejumlah perubahan yang menyulitkan. Ketidakpastian, permasalahan hidup yang kompleks, dan ketidakjelasan. Anak- anak Indonesia mengalami loss learning. Oleh sebab itu, diperlukan kesiapan guru menghadapi masa depan siswa dalam proses belajar mengajarnya mulai mendeskripsikan sampai menjadi inspirasi bagi siswanya pada era digital yang kompetitif yang melanda seluruh dunia.

Kesiapan guru

Untuk mengantarkan siswanya sebagai warga dunia, maka diperlukan kesiapan guru antara lain, Pertama, guru membekali siswa untuk beradaptasi dengan perubahan. Ketika mengajar, guru bersama siswa menggali perubahan yang terjadi di dunia dari masa ke masa sesuai mata pelajaran yang diampu. Selanjutnya guru mengajak berpikir prediksi ke depan setiap bidang perubahan yang terjadi. Tujuannya agar siswa membuka pikiran bahwa perubahan itu suatu keniscayaan.   Kemampuan  beradaptasi dengan perubahan membawa siswa untuk bertahan dan tangguh dari situasi apa pun. Kedua, guru menguasai  teknologi, guru dituntut tidak hanya fokus belajar mata pelajaran yang diampu, namun saat ini guru harus belajar segalanya. Pascapandemi mengubah sistem pembelajaran yang sebelumnya terbiasa tatap muka menjadi pembelajaran blended, perpaduan daring dan luring. Oleh sebab itu, guru perlu belajar teknologi untuk keperluan mengajar mulai dari merancang, melaksanakan, menilai. Penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi suatu keharusan, untuk menarik perhatian siswa dalam belajar daring atau luring.   Ketiga, menerapkan berbagai model pembelajaran, tujuannya agar siswa mengalami pengalaman belajar yang beragam. Model pembelajaran yang dikembangkan dalam kurikulum 13 problem based learning, inquiri, discovery, project based learning masih layak digunakan, karena stimulusnya berbasis masalah yang dapat memancing berpikir kritis siswa. Kebiasaan memfasilitasi siswa berpikir untuk menyelesaikan permasalahan, akan membawa siswa berpikir out of the box. Menyelesaikan masalah dengan berpikir yang tidak biasa akan menuju kepada temuan-temuan baru. Dalam teori tahapan berpikir menurut taksonomi Bloom “temuan-temuan baru” termasuk tingkat berpikir tertinggi yaitu berpikir kreatif.  Keempat, guru piawai memilih materi esensial yang benar-benar diperlukan siswa saat ini, sehingga mencapai kebermaknaan belajar siswa. Meski Mendikbud Nadiem Makarim telah menyederhanakan kurikulum 13 karena pandemi, namun beberapa mata pelajaran masih syarat dengan muatan konsep dan kontennya membuat guru belum leluasa mengembangkan konteks. Guru masih terjebak dengan menuntaskan kurikulum.  Kelima, guru memosisikan pada mindset tumbuh, dari penelitian yang dilakukan oleh Annie Brock dan Heather Hundley hasilnya adalah  guru-guru yang menggunakan mindset tumbuh mampu memiliki keyakinan bahwa dengan latihan, ketekunan, dan usaha seseorang memiliki tanpa batas untuk berkembang.  Bila guru menggunakan pola mengajar mindset tumbuh, maka yang terjadi, akan mengejar tantangan terus belajar. Guru tidak akan mundur bila menghadapi kendala. Guru akan terus menerus berpikir mencari jalan kesuksesan siswanya. Guru akan menerima kritikan untuk memperbaiki pembelajaran. Guru akan melihat kesuksesan seseorang sebagai inspirasi, bukan ancaman.

Warga Dunia

Akankah guru masih berkutat dengan penguasaan materi pelajaran untuk menuntaskan kurikulum tanpa membekali keterampilan berpikir siswa ? Bila demikian maka siswa tak akan pernah tahu ke mana jalannya menjadi warga dunia. Ketika para guru menyadari bahwa perubahan dunia sudah semakin menggila tiap detik, tiap menit, maka guru setiap hari tak akan pernah berhenti berpikir bagaimana cara-cara yang mengantarkan jalan kepada para siswanya. Era Super Smart Society 5.0 yang diperkenalkan oleh pemerintah Jepang ke seluruh dunia adalah sebuah konsep masyarakat yang mengintegrasikan antara dunia maya dan dunia nyata, yang bertujuan menyeimbangkan kemajuan Revolusi Industri 4.0 dan penyelesaian kesenjangan masalah sosial. Keterampilan menjadi warga dunia saat ini, perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan, mampu menguasai teknologi dan informasi, berpikir kritis dan inovatif, dan memiliki kegigihan pantang menyerah.

Pendidikan merupakan salah satu alat membangun peradaban. Maju dan tidaknya peradaban bangsa diukur dari kualitas masyarakatnya. Pendidikan ke depan sudah tak akan lagi sama seperti sebelum pandemi.  Sebelum tahun 2019 siswa terbiasa dengan rutinitas jadwal pelajaran tetap selama satu semester. Jadwal berubah pada semester berikutnya. Begitu pun guru, sudah nyaman di kelas. Beberapa guru mulus menyelesaikan target kurikulum dengan kondisi siswa yang mendapat dukungan penuh dan pengawasan dari orang tua. Namun, tak sedikit guru yang tak mampu menyelesaikan target kurikulum karena kondisi siswa yang minim pengawasan orang tua.

Ketika pandemi Covid-19 melanda dunia, berbagai lini kehidupan porak poranda. Tak luput pula pendidikan di Indonesia luluh lantak.  Semua pemangku kepentingan tak siap untuk keberlangsungan pembelajaran. Daring menjadi pilihan. Berbagai upaya dilakukan pemerintah agar siswa terus belajar. Kemendikbud mengeluarkan berbagai kebijakan mulai penyederhanaan kurikulum, proses belajar mengajar, kuota untuk guru dan siswa sampai penyediaan sumber-sumber belajar.

Setelah Covid-19 melandai, tahun pelajaran 2021/2022 pertemuan tatap muka terbatas (PTM) mulai digelar oleh kementerian dengan sejumlah syarat. Menteri Pendidikan Nadiem Makarim tak mau menunda, karena sudah satu tahun lebih siswa banyak yang kehilangan gairah belajar. Bila ada penularan, maka sekolah itu saja yang sementara ditutup. Sementara yang lain tetap PTM.

Orang tua, siswa, dan guru menyambut baik PTM dengan prokes ketat. Kehidupan normal baru di sekolah dimulai. Perubahan yang dihadapi siswa di sekolah antara lain prokes, lamanya belajar di sekolah, cara mengajar guru, serta perubahan cara belajar. Sebelum pandemi, mereka menghabiskan waktu 7 jam di sekolah. Pandemi menyisakan sejumlah perubahan yang menyulitkan. Ketidakpastian, permasalahan hidup yang kompleks, dan ketidakjelasan. Anak- anak Indonesia mengalami loss learning. Oleh sebab itu, diperlukan kesiapan guru menghadapi masa depan siswa dalam proses belajar mengajarnya mulai mendeskripsikan sampai menjadi inspirasi bagi siswanya pada era digital yang kompetitif yang melanda seluruh dunia.

Kesiapan guru

Untuk mengantarkan siswanya sebagai warga dunia, maka diperlukan kesiapan guru antara lain, Pertama, guru membekali siswa untuk beradaptasi dengan perubahan. Ketika mengajar, guru bersama siswa menggali perubahan yang terjadi di dunia dari masa ke masa sesuai mata pelajaran yang diampu. Selanjutnya guru mengajak berpikir prediksi ke depan setiap bidang perubahan yang terjadi. Tujuannya agar siswa membuka pikiran bahwa perubahan itu suatu keniscayaan.   Kemampuan  beradaptasi dengan perubahan membawa siswa untuk bertahan dan tangguh dari situasi apa pun. Kedua, guru menguasai  teknologi, guru dituntut tidak hanya fokus belajar mata pelajaran yang diampu, namun saat ini guru harus belajar segalanya. Pascapandemi mengubah sistem pembelajaran yang sebelumnya terbiasa tatap muka menjadi pembelajaran blended, perpaduan daring dan luring. Oleh sebab itu, guru perlu belajar teknologi untuk keperluan mengajar mulai dari merancang, melaksanakan, menilai. Penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi suatu keharusan, untuk menarik perhatian siswa dalam belajar daring atau luring.   Ketiga, menerapkan berbagai model pembelajaran, tujuannya agar siswa mengalami pengalaman belajar yang beragam. Model pembelajaran yang dikembangkan dalam kurikulum 13 problem based learning, inquiri, discovery, project based learning masih layak digunakan, karena stimulusnya berbasis masalah yang dapat memancing berpikir kritis siswa. Kebiasaan memfasilitasi siswa berpikir untuk menyelesaikan permasalahan, akan membawa siswa berpikir out of the box. Menyelesaikan masalah dengan berpikir yang tidak biasa akan menuju kepada temuan-temuan baru. Dalam teori tahapan berpikir menurut taksonomi Bloom “temuan-temuan baru” termasuk tingkat berpikir tertinggi yaitu berpikir kreatif.  Keempat, guru piawai memilih materi esensial yang benar-benar diperlukan siswa saat ini, sehingga mencapai kebermaknaan belajar siswa. Meski Mendikbud Nadiem Makarim telah menyederhanakan kurikulum 13 karena pandemi, namun beberapa mata pelajaran masih syarat dengan muatan konsep dan kontennya membuat guru belum leluasa mengembangkan konteks. Guru masih terjebak dengan menuntaskan kurikulum.  Kelima, guru memosisikan pada mindset tumbuh, dari penelitian yang dilakukan oleh Annie Brock dan Heather Hundley hasilnya adalah  guru-guru yang menggunakan mindset tumbuh mampu memiliki keyakinan bahwa dengan latihan, ketekunan, dan usaha seseorang memiliki tanpa batas untuk berkembang.  Bila guru menggunakan pola mengajar mindset tumbuh, maka yang terjadi, akan mengejar tantangan terus belajar. Guru tidak akan mundur bila menghadapi kendala. Guru akan terus menerus berpikir mencari jalan kesuksesan siswanya. Guru akan menerima kritikan untuk memperbaiki pembelajaran. Guru akan melihat kesuksesan seseorang sebagai inspirasi, bukan ancaman.

Warga Dunia

Akankah guru masih berkutat dengan penguasaan materi pelajaran untuk menuntaskan kurikulum tanpa membekali keterampilan berpikir siswa ? Bila demikian maka siswa tak akan pernah tahu ke mana jalannya menjadi warga dunia. Ketika para guru menyadari bahwa perubahan dunia sudah semakin menggila tiap detik, tiap menit, maka guru setiap hari tak akan pernah berhenti berpikir bagaimana cara-cara yang mengantarkan jalan kepada para siswanya. Era Super Smart Society 5.0 yang diperkenalkan oleh pemerintah Jepang ke seluruh dunia adalah sebuah konsep masyarakat yang mengintegrasikan antara dunia maya dan dunia nyata, yang bertujuan menyeimbangkan kemajuan Revolusi Industri 4.0 dan penyelesaian kesenjangan masalah sosial. Keterampilan menjadi warga dunia saat ini, perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan, mampu menguasai teknologi dan informasi, berpikir kritis dan inovatif, dan memiliki kegigihan pantang menyerah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/