alexametrics
19.8 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Seksisme dalam Lingkaran Aktivis Mahasiswa

Mobile_AP_Rectangle 1

Seksisme telah mengaburkan tujuan mulia dari gerakan mahasiswa yang susah payah dibangun. Agenda sakral demonstrasi mahasiswa telah dicederai dengan banyaknya poster seksis yang dibuat justru oleh mahasiswa itu sendiri. Tuntutan mahasiswa yang sejalan dengan kepentingan rakyatlah yang seharusnya muncul pada kolom-kolom berita. Bukan kritik terhadap mahasiswa yang tidak berpikir panjang terhadap segala tindakannya. Tentunya segala yang terjadi sekarang, mahasiswa banyak dikecam merupakan konsekuensi logis yang harus diterima oleh seluruh mahasiswa yang turut serta dalam gerakan tersebut.

Hal ini sangat disayangkan, sebab perjuangan rakyat Indonesia untuk menghapuskan segala bentuk bias gender, seksisme, hingga kekerasan seksual yang masih sangat marak terjadi. Yang seharusnya menjadi motor penggerak perjuangan ini salah satunya adalah mahasiswa. Tentu saja ini bukan hal yang mudah memang.

Seksisme yang terjadi secara terang-terangan di ruang publik dan dilakukan oleh kaum intelektual menandakan kualitas mahasiswa itu sendiri. Jika hal ini masih dianggap wajar, maka tak heran kampus menjadi penyokong kasus-kasus kekerasan seksual. Perjuangan kesetaraan gender dan penghapusan kekerasan seksual masih sangat jauh dari kata berhasil. Meskipun telah disahkannya Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual serta Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi, yang membuat rakyat bisa sedikit bernapas lega. Namun, melihat kejadian ini menandakan penyadaran masih harus gencar dilakukan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam menyikapi banyaknya lingkungan yang belum sadar betapa pentingnya kesetaraan, dan betapa perlunya lingkungan yang sehat, gerakan-gerakan menuju kesetaraan harus dibangun sesegera dan seaktif mungkin, baik secara kolektif maupun individu, agar mampu menumbuhkan kesadaran serta cara pandang yang terbuka. Payung hukum telah terbentuk, maka implementasi harus dikawal dengan ketat oleh seluruh rakyat. Bagaimanapun perilaku seksis tidak pantas dilakukan oleh siapa pun dan di mana pun. Hidup Mahasiswa!!!

*) Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember

 

- Advertisement -

Seksisme telah mengaburkan tujuan mulia dari gerakan mahasiswa yang susah payah dibangun. Agenda sakral demonstrasi mahasiswa telah dicederai dengan banyaknya poster seksis yang dibuat justru oleh mahasiswa itu sendiri. Tuntutan mahasiswa yang sejalan dengan kepentingan rakyatlah yang seharusnya muncul pada kolom-kolom berita. Bukan kritik terhadap mahasiswa yang tidak berpikir panjang terhadap segala tindakannya. Tentunya segala yang terjadi sekarang, mahasiswa banyak dikecam merupakan konsekuensi logis yang harus diterima oleh seluruh mahasiswa yang turut serta dalam gerakan tersebut.

Hal ini sangat disayangkan, sebab perjuangan rakyat Indonesia untuk menghapuskan segala bentuk bias gender, seksisme, hingga kekerasan seksual yang masih sangat marak terjadi. Yang seharusnya menjadi motor penggerak perjuangan ini salah satunya adalah mahasiswa. Tentu saja ini bukan hal yang mudah memang.

Seksisme yang terjadi secara terang-terangan di ruang publik dan dilakukan oleh kaum intelektual menandakan kualitas mahasiswa itu sendiri. Jika hal ini masih dianggap wajar, maka tak heran kampus menjadi penyokong kasus-kasus kekerasan seksual. Perjuangan kesetaraan gender dan penghapusan kekerasan seksual masih sangat jauh dari kata berhasil. Meskipun telah disahkannya Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual serta Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi, yang membuat rakyat bisa sedikit bernapas lega. Namun, melihat kejadian ini menandakan penyadaran masih harus gencar dilakukan.

Dalam menyikapi banyaknya lingkungan yang belum sadar betapa pentingnya kesetaraan, dan betapa perlunya lingkungan yang sehat, gerakan-gerakan menuju kesetaraan harus dibangun sesegera dan seaktif mungkin, baik secara kolektif maupun individu, agar mampu menumbuhkan kesadaran serta cara pandang yang terbuka. Payung hukum telah terbentuk, maka implementasi harus dikawal dengan ketat oleh seluruh rakyat. Bagaimanapun perilaku seksis tidak pantas dilakukan oleh siapa pun dan di mana pun. Hidup Mahasiswa!!!

*) Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember

 

Seksisme telah mengaburkan tujuan mulia dari gerakan mahasiswa yang susah payah dibangun. Agenda sakral demonstrasi mahasiswa telah dicederai dengan banyaknya poster seksis yang dibuat justru oleh mahasiswa itu sendiri. Tuntutan mahasiswa yang sejalan dengan kepentingan rakyatlah yang seharusnya muncul pada kolom-kolom berita. Bukan kritik terhadap mahasiswa yang tidak berpikir panjang terhadap segala tindakannya. Tentunya segala yang terjadi sekarang, mahasiswa banyak dikecam merupakan konsekuensi logis yang harus diterima oleh seluruh mahasiswa yang turut serta dalam gerakan tersebut.

Hal ini sangat disayangkan, sebab perjuangan rakyat Indonesia untuk menghapuskan segala bentuk bias gender, seksisme, hingga kekerasan seksual yang masih sangat marak terjadi. Yang seharusnya menjadi motor penggerak perjuangan ini salah satunya adalah mahasiswa. Tentu saja ini bukan hal yang mudah memang.

Seksisme yang terjadi secara terang-terangan di ruang publik dan dilakukan oleh kaum intelektual menandakan kualitas mahasiswa itu sendiri. Jika hal ini masih dianggap wajar, maka tak heran kampus menjadi penyokong kasus-kasus kekerasan seksual. Perjuangan kesetaraan gender dan penghapusan kekerasan seksual masih sangat jauh dari kata berhasil. Meskipun telah disahkannya Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual serta Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi, yang membuat rakyat bisa sedikit bernapas lega. Namun, melihat kejadian ini menandakan penyadaran masih harus gencar dilakukan.

Dalam menyikapi banyaknya lingkungan yang belum sadar betapa pentingnya kesetaraan, dan betapa perlunya lingkungan yang sehat, gerakan-gerakan menuju kesetaraan harus dibangun sesegera dan seaktif mungkin, baik secara kolektif maupun individu, agar mampu menumbuhkan kesadaran serta cara pandang yang terbuka. Payung hukum telah terbentuk, maka implementasi harus dikawal dengan ketat oleh seluruh rakyat. Bagaimanapun perilaku seksis tidak pantas dilakukan oleh siapa pun dan di mana pun. Hidup Mahasiswa!!!

*) Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/