alexametrics
23 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Seksisme dalam Lingkaran Aktivis Mahasiswa

Mobile_AP_Rectangle 1

Awal April 2022 menjadi catatan penting bagi mahasiswa Indonesia. Dalam skala nasional gerakan mahasiswa kembali terbangun. Hal ini terjadi bukan tanpa sebab. Gerakan ini dipicu persoalan carut-marutnya keadaan bangsa. Dimulai dari isu jabatan presiden menjadi 3 periode yang santer dihembuskan oleh elite politik hingga permasalahan yang lebih fundamental terhadap rakyat. Yaitu perihal ekonomi di mana menyangkut kepentingan seluruh warga negara, yang meliputi kenaikan PPN sebanyak 11 persen, yang merupakan dampak dari disahkkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, kenaikan BBM Pertamax dari Rp 9.400 menjadi Rp 12.500, kelangkaan minyak, serta kenaikan harga bahan-bahan pokok. Sehingga adanya masalah tersebut menjadi dasar konkret bagi mahasiswa Indonesia untuk membangun sebuah gerakan perlawanan.

Apresiasi setinggi-tingginya bagi mahasiswa yang masih sadar bahwa kondisi rakyat Indonesia sedang tidak baik-baik saja dan berani berdiri di garis terdepan guna menyuarakan kepentingan rakyat.

Demonstrasi sangat identik dengan poster, spanduk, ataupun bendera yang bertuliskan macam-macam tuntutan. Cukup banyak poster yang seharusnya berupa tuntutan dan penolakan yang sesuai dengan tujuan gerakan, justru bertolak belakang, sehingga menimbulkan banyak kontroversi karena isinya menyenggol masalah seksualitas. Seperti “Lebih Baik Bercinta Tiga Ronde daripada Harus Tiga Periode” juga “ Daripada BBM Naik Mending Ayang yang Naik”, dan tentunya masih banyak lagi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Seksualitas dijadikan bahan candaan serta panjat sosial semata. Hal-hal seperti itu justru dapat menunjukkan bahwa “rape culture” masih dianggap hal yang wajar di kalangan mahasiswa. Hal ini tentunya menjadi koreksi bersama, yakni masalah kelanggengan seksisme di kalangan aktivis mahasiswa.

Mengapa seksisme masih langgeng di kalangan mahasiswa Indonesia?

Seksisme sendiri berarti ketidakadilan berbasis gender. Baik dari segi ucapan ataupun perlakuan. Perbuatan secara seksis masih sering terjadi meskipun hal itu dilakukan tanpa sadar. Hal ini menyebabkan tindakan diskriminasi masih langgeng dalam kehidupan sehari-hari. Mengutip pesan dari Pramoedya Ananta Toer bahwa “seorang terpelajar harus berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam tindakan”. Kita ketahui bersama nama mahasiswa adalah nama yang sangat agung. Belajar lebih dari 12 tahun lamanya. Sudah selayaknya menyandang label sebagai kaum intelektual. Akan tetapi, jika memang dianggap kaum intelektual, mengapa masih berbuat tidak adil sejak dalam pikiran?

- Advertisement -

Awal April 2022 menjadi catatan penting bagi mahasiswa Indonesia. Dalam skala nasional gerakan mahasiswa kembali terbangun. Hal ini terjadi bukan tanpa sebab. Gerakan ini dipicu persoalan carut-marutnya keadaan bangsa. Dimulai dari isu jabatan presiden menjadi 3 periode yang santer dihembuskan oleh elite politik hingga permasalahan yang lebih fundamental terhadap rakyat. Yaitu perihal ekonomi di mana menyangkut kepentingan seluruh warga negara, yang meliputi kenaikan PPN sebanyak 11 persen, yang merupakan dampak dari disahkkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, kenaikan BBM Pertamax dari Rp 9.400 menjadi Rp 12.500, kelangkaan minyak, serta kenaikan harga bahan-bahan pokok. Sehingga adanya masalah tersebut menjadi dasar konkret bagi mahasiswa Indonesia untuk membangun sebuah gerakan perlawanan.

Apresiasi setinggi-tingginya bagi mahasiswa yang masih sadar bahwa kondisi rakyat Indonesia sedang tidak baik-baik saja dan berani berdiri di garis terdepan guna menyuarakan kepentingan rakyat.

Demonstrasi sangat identik dengan poster, spanduk, ataupun bendera yang bertuliskan macam-macam tuntutan. Cukup banyak poster yang seharusnya berupa tuntutan dan penolakan yang sesuai dengan tujuan gerakan, justru bertolak belakang, sehingga menimbulkan banyak kontroversi karena isinya menyenggol masalah seksualitas. Seperti “Lebih Baik Bercinta Tiga Ronde daripada Harus Tiga Periode” juga “ Daripada BBM Naik Mending Ayang yang Naik”, dan tentunya masih banyak lagi.

Seksualitas dijadikan bahan candaan serta panjat sosial semata. Hal-hal seperti itu justru dapat menunjukkan bahwa “rape culture” masih dianggap hal yang wajar di kalangan mahasiswa. Hal ini tentunya menjadi koreksi bersama, yakni masalah kelanggengan seksisme di kalangan aktivis mahasiswa.

Mengapa seksisme masih langgeng di kalangan mahasiswa Indonesia?

Seksisme sendiri berarti ketidakadilan berbasis gender. Baik dari segi ucapan ataupun perlakuan. Perbuatan secara seksis masih sering terjadi meskipun hal itu dilakukan tanpa sadar. Hal ini menyebabkan tindakan diskriminasi masih langgeng dalam kehidupan sehari-hari. Mengutip pesan dari Pramoedya Ananta Toer bahwa “seorang terpelajar harus berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam tindakan”. Kita ketahui bersama nama mahasiswa adalah nama yang sangat agung. Belajar lebih dari 12 tahun lamanya. Sudah selayaknya menyandang label sebagai kaum intelektual. Akan tetapi, jika memang dianggap kaum intelektual, mengapa masih berbuat tidak adil sejak dalam pikiran?

Awal April 2022 menjadi catatan penting bagi mahasiswa Indonesia. Dalam skala nasional gerakan mahasiswa kembali terbangun. Hal ini terjadi bukan tanpa sebab. Gerakan ini dipicu persoalan carut-marutnya keadaan bangsa. Dimulai dari isu jabatan presiden menjadi 3 periode yang santer dihembuskan oleh elite politik hingga permasalahan yang lebih fundamental terhadap rakyat. Yaitu perihal ekonomi di mana menyangkut kepentingan seluruh warga negara, yang meliputi kenaikan PPN sebanyak 11 persen, yang merupakan dampak dari disahkkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, kenaikan BBM Pertamax dari Rp 9.400 menjadi Rp 12.500, kelangkaan minyak, serta kenaikan harga bahan-bahan pokok. Sehingga adanya masalah tersebut menjadi dasar konkret bagi mahasiswa Indonesia untuk membangun sebuah gerakan perlawanan.

Apresiasi setinggi-tingginya bagi mahasiswa yang masih sadar bahwa kondisi rakyat Indonesia sedang tidak baik-baik saja dan berani berdiri di garis terdepan guna menyuarakan kepentingan rakyat.

Demonstrasi sangat identik dengan poster, spanduk, ataupun bendera yang bertuliskan macam-macam tuntutan. Cukup banyak poster yang seharusnya berupa tuntutan dan penolakan yang sesuai dengan tujuan gerakan, justru bertolak belakang, sehingga menimbulkan banyak kontroversi karena isinya menyenggol masalah seksualitas. Seperti “Lebih Baik Bercinta Tiga Ronde daripada Harus Tiga Periode” juga “ Daripada BBM Naik Mending Ayang yang Naik”, dan tentunya masih banyak lagi.

Seksualitas dijadikan bahan candaan serta panjat sosial semata. Hal-hal seperti itu justru dapat menunjukkan bahwa “rape culture” masih dianggap hal yang wajar di kalangan mahasiswa. Hal ini tentunya menjadi koreksi bersama, yakni masalah kelanggengan seksisme di kalangan aktivis mahasiswa.

Mengapa seksisme masih langgeng di kalangan mahasiswa Indonesia?

Seksisme sendiri berarti ketidakadilan berbasis gender. Baik dari segi ucapan ataupun perlakuan. Perbuatan secara seksis masih sering terjadi meskipun hal itu dilakukan tanpa sadar. Hal ini menyebabkan tindakan diskriminasi masih langgeng dalam kehidupan sehari-hari. Mengutip pesan dari Pramoedya Ananta Toer bahwa “seorang terpelajar harus berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam tindakan”. Kita ketahui bersama nama mahasiswa adalah nama yang sangat agung. Belajar lebih dari 12 tahun lamanya. Sudah selayaknya menyandang label sebagai kaum intelektual. Akan tetapi, jika memang dianggap kaum intelektual, mengapa masih berbuat tidak adil sejak dalam pikiran?

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/