
RADAR JEMBER - Banyak muncul di beranda, Netanyahu udah tewas. Mana pada viral semua. Ada yang percaya begitu saja. Ada juga selalu bilang “Hoax”. Untuk pengikut Partai Koptagul, jelas tidak mudah percaya begitu saja. Simak narasinya, seruput Koptagulnya nanti habis buka, wak!
Tokoh yang lagi jadi bahan gosip itu tentu saja Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel yang reputasinya di Timur Tengah sudah seperti villain utama di film superhero. Awal Maret 2026, tiba-tiba jagat media sosial di Indonesia sampai Timur Tengah gaduh. “Netanyahu tewas kena serangan rudal!” Ada yang bilang dia cedera parah, ada yang bilang sudah diganti AI. Bahkan, ada yang yakin dia diam-diam dikubur di bunker rahasia. Dramatis sekali. Seolah-olah dunia sedang menunggu adegan ending.
Sumber awal rumor ini datang dari media Iran, terutama Tasnim News Agency. Media tersebut menyebarkan kabar, Netanyahu tewas atau minimal terluka parah akibat eskalasi konflik Israel–Iran. Begitu rumor dilepas ke udara, internet langsung melakukan ritual klasiknya, membesarkan isu sampai sebesar gunung Merapi. Dari Telegram, X, TikTok, sampai grup WhatsApp keluarga, semuanya ikut menabuh genderang spekulasi.
Di titik ini kita harus jujur. Hoaks sudah menjadi bagian dari hidup modern. Dalam ekosistem digital yang serba cepat, berita palsu kadang justru punya penikmat lebih banyak dari kebenarannya sendiri. Kebenaran biasanya datang pelan, pakai sandal jepit, membawa data dan klarifikasi. Sementara hoaks datang seperti konser rock: keras, heboh, penuh sensasi, dan langsung viral. Akibatnya, tidak jarang orang lebih menikmati cerita dramatis dari fakta yang sebenarnya.
Orang-orang mulai bertanya, “Kenapa Netanyahu tidak muncul?” “Apakah dia sudah diganti hologram?” Bahkan ada yang menulis dengan penuh keyakinan akademis ala profesor YouTube, “Ini operasi AI global!”
Kantor Perdana Menteri Israel tentu tidak tinggal diam. Mereka langsung mengeluarkan pernyataan resmi, kabar itu bohong. Netanyahu disebut dalam kondisi sehat dan tetap menjalankan tugas negara. Namun dalam era post-truth seperti sekarang, bantahan resmi sering dianggap kurang seksi dibanding teori rahasia.
Baca Juga: Timnas Iran Batal Mundur di Piala Dunia, Bahkan Ingin Buktikan Diri di Depan Donald Trump
Drama makin memuncak ketika muncul video pidato Netanyahu tanggal 13 Maret. Di video itu, ada satu frame screenshot yang viral, tangan Netanyahu terlihat memiliki enam jari.
Boom! Internet langsung meledak.
Netizen dari Jakarta sampai Karachi serempak berteriak, “Classic AI glitch!” Banyak yang yakin video itu deepfake. Screenshot dengan lingkaran merah dan oranye beredar seperti brosur diskon di mall. Padahal setelah ditelusuri oleh berbagai lembaga pemeriksa fakta, termasuk PolitiFact, Snopes, serta laporan media Inggris seperti Metro, kesimpulannya jauh lebih sederhana, itu cuma ilusi bayangan cahaya di telapak tangan.
Video penuh menunjukkan tangan Netanyahu normal. Lima jari seperti manusia pada umumnya, bukan upgrade biologis dari laboratorium AI.




