Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Sanae Takaichi, Wanita Pertama Menaklukan Jepang

M. Ainul Budi
Penulis: M. Ainul Budi❯

Mengenal Sanae Takaichi, Wanita Pertama Menaklukan Jepang - Foto Ai hanya ilustrasi
Mengenal Sanae Takaichi, Wanita Pertama Menaklukan Jepang - Foto Ai hanya ilustrasi
 


Advertisement

RADAR JEMBER - Kita turunkan tensi. Saya mau ajak kalian ke Jepang. Di negeri yang pernah menjajah kita ini, baru saja ditaklukkan oleh seorang wanita hebat. Mari kita kenalan sambil seruput Koptagul, wak!

Nuan bayangkan Gunung Fuji yang selama ini berdiri tenang, anggun, seolah tak tergoyahkan. Lalu suatu hari, bukan ia yang meletus, melainkan seorang wanita yang berdiri di depannya, mengangkat bendera kemenangan dengan angka yang lebih dahsyat dari gempa 9 skala politik, 316 kursi dari total 465 di House of Representatives pada 8 Februari 2026. Dua pertiga. Supermajority. Pertama kalinya sejak Perang Dunia II satu partai tunggal menguasai parlemen sedominan itu.

Namanya Sanae Takaichi. Perdana Menteri wanita pertama Jepang.

Advertisement

Negeri sakura yang selama ini dipimpin para “samurai berjas” akhirnya menyaksikan seorang wanita memegang katana kekuasaan, dan bukan untuk pajangan.

Ia lahir 7 Maret 1961 di Yamatokōriyama, Prefektur Nara. Bukan putri klan politik. Ayahnya pegawai perusahaan otomotif. Ibunya polisi prefektur. Rumahnya bukan istana feodal, melainkan keluarga biasa yang membacakan dokumen kekaisaran 1890 tentang nilai keluarga dan kesetiaan pada negara. Tradisi kuat. Disiplin kuat. Tapi tak ada karpet merah.

Ia kuliah di Universitas Kobe, commuting jauh, bekerja paruh waktu karena orang tuanya tak mau membiayai pindah ke Tokyo “karena wanita”. Kalimat itu seperti dinding kayu kuil tua, kokoh, membatasi. Tapi Takaichi tidak memilih menjadi lukisan di balik shoji. Ia memilih menjadi angin yang membuka pintu.

Advertisement

Lulus Administrasi Bisnis tahun 1984. Pernah jadi penulis, asisten legislatif, broadcaster TV. Bahkan magang di Kongres AS di kantor Patricia Schroeder.

Ya, di antara semua itu, ia pernah memukul drum di band heavy metal dan mengendarai motor. Di negeri yang memuja ketenangan upacara minum teh, ia memilih ritme taiko yang menggelegar.

Karier politiknya dimulai 1993 sebagai anggota independen DPR. Lalu masuk LDP dan menjadi sekutu dekat Shinzo Abe. Ia memegang jabatan strategis, Menteri Urusan Ekonomi dan Keamanan, Menteri Negara untuk Cool Japan Strategy, Menteri Negara untuk Kekayaan Intelektual, dan posisi penting lain di kabinet Abe serta Kishida.

Pandangan politiknya setajam pedang samurai. Pro-amandemen konstitusi untuk memperkuat militer, imigrasi ketat, peningkatan belanja pertahanan menghadapi China, kunjungan ke Yasukuni Shrine, sikap tegas terhadap pasifisme pasca-perang. Ia bukan geisha politik yang menari mengikuti selera publik. Ia lebih mirip onna-bugeisha, wanita pejuang dalam sejarah Jepang yang berdiri di garis depan.

Oktober 2025, setelah dua kali gagal, ia terpilih menjadi Presiden LDP dan otomatis menjadi PM wanita pertama Jepang.

Tradisi ratusan tahun yang seperti taman zen, tertata rapi dan maskulin, akhirnya diinjak dengan langkah wanita yang percaya diri.

Banyak yang mengira ia akan berjalan hati-hati seperti kimono sutra. Salah. Hanya 110 hari kemudian, Januari 2026, ia memanggil snap election.

Risiko besar, apalagi LDP sebelumnya diterpa skandal korupsi dana partai. Itu seperti menantang badai di Laut Jepang.

Hasilnya? Tsunami politik. LDP melonjak dari sekitar 198 kursi menjadi 316 kursi. Supermajority tunggal pertama pasca-PD II. Mitra koalisi Japan Innovation Party menyumbang 36 kursi. Total blok pemerintah 352 kursi, sekitar 75% kekuasaan legislatif. Oposisi Centrist Reform Alliance hanya 49 kursi, terendah sepanjang sejarah pasca-perang.

Pasar Nikkei melonjak ke rekor tertinggi. Investor membaca stabilitas. Agenda pro-bisnis. Stimulus ekonomi. Penundaan pajak makanan 8% selama dua tahun. “Japan First” bukan sekadar slogan, tapi strategi.

Di sinilah kebanggaan itu tumbuh, terutama bagi wanita.

Selama ini banyak wanita Jepang, dan wanita di seluruh dunia, diajarkan menjadi seperti bunga sakura. Indah, lembut, cepat gugur. Takaichi membalik metafora itu. Ia bukan sakura yang jatuh tertiup angin. Ia adalah pohon sakura yang akarnya mencengkeram tanah sejarah.

Ia membuktikan, menjadi wanita tidak harus berarti menunggu izin. Tidak harus berarti meminta ruang. Ruang itu bisa direbut dengan kerja, ketekunan, dan keberanian mengambil risiko.

Ia tidak menolak tradisi Jepang. Ia memakainya seperti baju zirah. Nilai keluarga, disiplin, loyalitas, semua itu tidak ia buang. Ia padukan dengan ketegasan modern dan kalkulasi politik yang presisi seperti kereta Shinkansen.

Bagi kaum wanita, kemenangan ini bukan hanya soal 316 kursi. Ini adalah pesan bahwa langit-langit kaca bukanlah langit Fuji yang tak bisa didaki. Ia hanyalah kabut pagi, menghilang ketika matahari keberanian terbit.

Sanae Takaichi telah menorehkan namanya seperti kaligrafi tinta hitam di atas kertas washi sejarah Jepang. Tebal. Tegas. Tak bisa dihapus.

Ketika dunia melihat Jepang, negeri anime, samurai, sakura, dan Shinkansen, mereka kini juga melihat satu ikon baru, seorang wanita yang berdiri di pusat kekuasaan, memegang kendali, dan berkata tanpa ragu, “Watashi wa koko ni iru.”

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Advertisement

Artikel Terkait

Cerita Calon PMI Jemput Impian ke Negeri Sakura, Masih Muda Ingin Fokus Kejar Karir

Cerita Calon PMI Jemput Impian ke Negeri Sakura, Masih Muda Ingin Fokus Kejar Karir

Saat kawan sebaya fokus dengan dunianya, pemuda ini punya mimpinya sendiri. Ia menolak jadi kaum rebahan, apalagi kalau jajan masih harus minta ke orang tua. Mimpinya sederhana: muda, punya karir, membahagiakan orang

Ren & Reina Akan Menemani Tamu Menikmati Japanese Street Food di Aston Inn Lumajang

Ren & Reina Akan Menemani Tamu Menikmati Japanese Street Food di Aston Inn Lumajang

Archipelago Hotels menghadirkan 60 Seconds to Tokyo, seri terbaru dalam program Archipelago Global Flavours Series. Selama enam bulan ke depan, lebih dari 130 unit Archipelago Hotels di Indonesia, mulai dari brand Aston

Brasil Bungkam Ramalan Joachim Klement, Jepang Gagal Ciptakan Kejutan

Brasil Bungkam Ramalan Joachim Klement, Jepang Gagal Ciptakan Kejutan

Brasil membungkam Jepang 2-1 pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Hasil ini mematahkan prediksi Joachim Klement yang menjagokan Samurai Blue lolos sekaligus mengantar Selecao ke babak 16 besar.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer