23.1 C
Jember
Tuesday, 7 February 2023

Pentingkah Hari Guru?

Mobile_AP_Rectangle 1

Dalam bulan November tidak hanya diperingati sebagai Hari Pahlawan, tetapi ada Hari Guru juga. Tanggal ini berasal dari Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tanggal 25 November yang kemudian oleh pemerintah melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 78 Tahun 1994 ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional (HGN). Penetapan HGN sendiri berkaitan dengan riwayat berdirinya PGRI. Organisasi PGRI berawal dari Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang berdiri sejak tahun 1912. Selanjutnya pada 1932, PGHB berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Saat zaman pendudukan Jepang, PGI dilarang melakukan berbagai aktivitas karena segala jenis organisasi diwaspadai berpotensi melawan kebijakan Jepang. Namun setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Kongres Guru Indonesia pada 24-25 November 1945 bersepakat membentuk organisasi PGRI untuk mewadahi semua guru di Indonesia.

Berbeda dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), seharusnya HGN lebih memunculkan isu-isu tentang person Guru sebagai Pendidik dan Penjaga Moral anak bangsa. Tetapi selama ini temanya lebih kepada memposisikan Guru sebagai objek, bukan subyek yang diungkapkan kemuliaannya seperti Hari Pahlawan. Seperti tema tahun ini yang mengambil tajuk “Serentak Berinovasi, Wujudkan Merdeka Belajar”. Tidak jauh berbeda dengan tema-tema Hardiknas, masih berkutat dengan kurikulum, pembelajaran, sekolah, dan segala atmosfer yang berkisar pada hal di luar diri seorang guru. Apalagi saat pandemi Covid-19 selama dua tahun, tema-tema yang diusung masih juga berkutat pada kewajiban-kewajiban dan tugas fungsi guru di sekolah (Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan serta Bangkitkan Semangat Wujudkan Merdeka Belajar), yang sebenarnya sudah banyak diulas pada Hardiknas.

Awal bulan November, penulis berkesempatan mengantar mahasiswa yang melakukan praktik mengajar ke negara gajah putih, Thailand. Dari bincang-bincang dengan guru setempat, ada cerita menarik yang bagi penulis bisa menjadi inspirasi untuk hari guru di Indonesia. Di Thailand juga ada dua perayaan yang mirip Indonesia, yakni peringatan Hari Pendidikan (Wai Khru) dan peringatan Hari Guru (Wan Khru). Keduanya diperingati dengan cara berbeda. Wai Khru diperingati setiap awal tahun ajaran baru. Tidak ada ketetapan yang pasti setiap tanggal berapa atau hari apa diperingati setiap tahunnya, walaupun di beberapa sekolah ditetapkan hari Sabtu bulan Januari minggu kedua. Pada hari Wai Khru murid-murid merangkai bunga untuk dipersembahkan pada guru pada sebuah upacara di sekolah. Saat penulis diundang oleh asosiasi guru Thailand, sempat menghadiri acara tersebut di Matthayom Watnairong School dan menyaksikan sendiri bagaimana upacara itu digelar. Para guru duduk berjajar di panggung, kemudian murid-murid secara bergantian bersimpuh dan mengucapkan kata-kata indah untuk berterima kasih kepada guru sambil mempersembahkan rangkaian bunga. Upacara ini diikuti dengan pertunjukan-pertunjukan seni yang menarik oleh murid.

- Advertisement -

Dalam bulan November tidak hanya diperingati sebagai Hari Pahlawan, tetapi ada Hari Guru juga. Tanggal ini berasal dari Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tanggal 25 November yang kemudian oleh pemerintah melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 78 Tahun 1994 ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional (HGN). Penetapan HGN sendiri berkaitan dengan riwayat berdirinya PGRI. Organisasi PGRI berawal dari Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang berdiri sejak tahun 1912. Selanjutnya pada 1932, PGHB berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Saat zaman pendudukan Jepang, PGI dilarang melakukan berbagai aktivitas karena segala jenis organisasi diwaspadai berpotensi melawan kebijakan Jepang. Namun setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Kongres Guru Indonesia pada 24-25 November 1945 bersepakat membentuk organisasi PGRI untuk mewadahi semua guru di Indonesia.

Berbeda dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), seharusnya HGN lebih memunculkan isu-isu tentang person Guru sebagai Pendidik dan Penjaga Moral anak bangsa. Tetapi selama ini temanya lebih kepada memposisikan Guru sebagai objek, bukan subyek yang diungkapkan kemuliaannya seperti Hari Pahlawan. Seperti tema tahun ini yang mengambil tajuk “Serentak Berinovasi, Wujudkan Merdeka Belajar”. Tidak jauh berbeda dengan tema-tema Hardiknas, masih berkutat dengan kurikulum, pembelajaran, sekolah, dan segala atmosfer yang berkisar pada hal di luar diri seorang guru. Apalagi saat pandemi Covid-19 selama dua tahun, tema-tema yang diusung masih juga berkutat pada kewajiban-kewajiban dan tugas fungsi guru di sekolah (Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan serta Bangkitkan Semangat Wujudkan Merdeka Belajar), yang sebenarnya sudah banyak diulas pada Hardiknas.

Awal bulan November, penulis berkesempatan mengantar mahasiswa yang melakukan praktik mengajar ke negara gajah putih, Thailand. Dari bincang-bincang dengan guru setempat, ada cerita menarik yang bagi penulis bisa menjadi inspirasi untuk hari guru di Indonesia. Di Thailand juga ada dua perayaan yang mirip Indonesia, yakni peringatan Hari Pendidikan (Wai Khru) dan peringatan Hari Guru (Wan Khru). Keduanya diperingati dengan cara berbeda. Wai Khru diperingati setiap awal tahun ajaran baru. Tidak ada ketetapan yang pasti setiap tanggal berapa atau hari apa diperingati setiap tahunnya, walaupun di beberapa sekolah ditetapkan hari Sabtu bulan Januari minggu kedua. Pada hari Wai Khru murid-murid merangkai bunga untuk dipersembahkan pada guru pada sebuah upacara di sekolah. Saat penulis diundang oleh asosiasi guru Thailand, sempat menghadiri acara tersebut di Matthayom Watnairong School dan menyaksikan sendiri bagaimana upacara itu digelar. Para guru duduk berjajar di panggung, kemudian murid-murid secara bergantian bersimpuh dan mengucapkan kata-kata indah untuk berterima kasih kepada guru sambil mempersembahkan rangkaian bunga. Upacara ini diikuti dengan pertunjukan-pertunjukan seni yang menarik oleh murid.

Dalam bulan November tidak hanya diperingati sebagai Hari Pahlawan, tetapi ada Hari Guru juga. Tanggal ini berasal dari Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tanggal 25 November yang kemudian oleh pemerintah melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 78 Tahun 1994 ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional (HGN). Penetapan HGN sendiri berkaitan dengan riwayat berdirinya PGRI. Organisasi PGRI berawal dari Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang berdiri sejak tahun 1912. Selanjutnya pada 1932, PGHB berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Saat zaman pendudukan Jepang, PGI dilarang melakukan berbagai aktivitas karena segala jenis organisasi diwaspadai berpotensi melawan kebijakan Jepang. Namun setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Kongres Guru Indonesia pada 24-25 November 1945 bersepakat membentuk organisasi PGRI untuk mewadahi semua guru di Indonesia.

Berbeda dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), seharusnya HGN lebih memunculkan isu-isu tentang person Guru sebagai Pendidik dan Penjaga Moral anak bangsa. Tetapi selama ini temanya lebih kepada memposisikan Guru sebagai objek, bukan subyek yang diungkapkan kemuliaannya seperti Hari Pahlawan. Seperti tema tahun ini yang mengambil tajuk “Serentak Berinovasi, Wujudkan Merdeka Belajar”. Tidak jauh berbeda dengan tema-tema Hardiknas, masih berkutat dengan kurikulum, pembelajaran, sekolah, dan segala atmosfer yang berkisar pada hal di luar diri seorang guru. Apalagi saat pandemi Covid-19 selama dua tahun, tema-tema yang diusung masih juga berkutat pada kewajiban-kewajiban dan tugas fungsi guru di sekolah (Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan serta Bangkitkan Semangat Wujudkan Merdeka Belajar), yang sebenarnya sudah banyak diulas pada Hardiknas.

Awal bulan November, penulis berkesempatan mengantar mahasiswa yang melakukan praktik mengajar ke negara gajah putih, Thailand. Dari bincang-bincang dengan guru setempat, ada cerita menarik yang bagi penulis bisa menjadi inspirasi untuk hari guru di Indonesia. Di Thailand juga ada dua perayaan yang mirip Indonesia, yakni peringatan Hari Pendidikan (Wai Khru) dan peringatan Hari Guru (Wan Khru). Keduanya diperingati dengan cara berbeda. Wai Khru diperingati setiap awal tahun ajaran baru. Tidak ada ketetapan yang pasti setiap tanggal berapa atau hari apa diperingati setiap tahunnya, walaupun di beberapa sekolah ditetapkan hari Sabtu bulan Januari minggu kedua. Pada hari Wai Khru murid-murid merangkai bunga untuk dipersembahkan pada guru pada sebuah upacara di sekolah. Saat penulis diundang oleh asosiasi guru Thailand, sempat menghadiri acara tersebut di Matthayom Watnairong School dan menyaksikan sendiri bagaimana upacara itu digelar. Para guru duduk berjajar di panggung, kemudian murid-murid secara bergantian bersimpuh dan mengucapkan kata-kata indah untuk berterima kasih kepada guru sambil mempersembahkan rangkaian bunga. Upacara ini diikuti dengan pertunjukan-pertunjukan seni yang menarik oleh murid.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/