Literasi ialah Rasionalisasi, Bukan Isolasi

Oleh: Abd. Rasyid *)

ENTAH apa yang menjadi indikator atau penyebab para anggota milisi sektarian melakukan razia terhadap lapak buku yang disinyalir beraroma kekiri-kirian (komunisme). Dalam benak saya, pendapat yang dikemukakan oleh Fernando Baez bisa saja kita kaitkan atau dijadikan sebagai hipotesis sementara untuk menjawab problematika ini. Menurutnya buku-buku dihancurkan bukan oleh ketidaktahuan atau kurangnya pendidikan, melainkan hal ini dilakukan oleh kaum terdidik dengan motif ideologis masing-masing. Artinya bisa saja razia buku itu memang benar digelar karena faktor ketidaktahuan aparat atau memang benang kusut dan konspirasi politik aparatur lembaga pemerintahan yang mengeksploitasi petugas untuk kepentingannya.

IKLAN

Untuk mengungkap fenomena tersebut memang terasa susah untuk dicari benang merahnya. Dan pada intinya razia yang dilakukan secara terus menerus dan simultan (mulai dari kasus yang terjadi di Kediri, Probolinggo, Makassar dan kota-kota lainnya) tersebut menjadi potret buram literasi bangsa ini. Seolah ruang publik tak mempunyai waktu libur untuk terus melihat realitas yang begitu sengkarutnya.

Saya katakan sengkarut, karena memang dalam situasi dan kondisi yang cukup memprihatinkan ini, kita harus dihadapkan dengan pelarangan-pelarangan tak berdasar terhadap penunjang utama idealisme sebuah bangsa (buku). Sangat miris, ironis, dan tragis tentunya melihat kegagahan petugas merazia buku-buku yang belum tentu mereka tau akan esensi dan substansi isinya.

Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa bangsa sebesar Indonesia tidak kunjung menemukan jati dirinya? Ada apa sebenarnya dengan bangsa Indonesia ini, sudah enam kali berganti nahkoda tapi keadaannya masih begini-begini saja? Tayangan yang ditawarkan di layar televisi seolah hanya problematika seputar debat, debat dan debat. Ranah perpolitikan mendominasi dan menjadi isu terlaris diantara pembahasan yang lain.

Jika ruang publik hanya disesak-pengapi dengan sodoran persoalan politik secara simultan, ya tentu tidak akan ada titik temunya. Pembahasannya stagnan dan statis pada tema itu-itu saja, kalau tidak membahas degradasi sistem kepemerintahan ya paling tidak polemik soal kursi jabatan.

Antara pihak petahana dan oposan selalu saling tebar pesona untuk terus menunjukkan eksistensi jati diri mereka. Prospek atau tujuannya selalu kedudukan, jabatan, dan kekuasaan. Jika terus-menerus seperti ini, tentu sulit bagi kita untuk mengimajinasikan sebuah bangsa yang memiliki jati diri yang sangat perfect seperti negara-negara yang sudah melesat jauh di depan kita. Oleh karenanya kita harus putar haluan. Yang harus dijadikan prioritas oleh kita sekarang adalah sepak terjang dunia pendidikan anak bangsa kita. Khususnya pada ranah pendidikan dan literasi.

Literasi anak bangsa kita saat ini memang sangat mengkhawatirkan, hal ini terbukti dari hasil survei internasional oleh Most Literate Nations in the World, yang diterbitkan Central Connecticut State University (Maret, 2016), menyatakan bahwa Indonesia hanya mampu menduduki peringat ke-60 dari 61 negara yang dikontestasikan, atau peringkat dua dari bawah. Artinya, berdasarkan hasil survei pemeringkatan tersebut, Indonesia hanya mampu lebih baik dari sebuah negara kecil di Afrika, Botswana. Bahkan di antara negara-negara tetangga, seperti Thailand (59), Malaysia (53), dan Singapura (36), kita berada di bawah mereka.

Tidak tertegunkah kita melihat peringkat literasi bangsa ini yang tenggelam sampai ke permukaan? Tidak malukah kita kepada negara-negara tetangga, yang secara kekayaan alam kita berada jauh di atas mereka, tapi kenapa dalam persoalan literasi kita justru malah tertinggal jauh dari mereka? Atau mungkin kita sudah tidak punya rasa malu dalam persoalan semacam ini?

Kita seolah kesulitan mencetak kader anak bangsa yang memiliki intelektualitas mempuni seperti Soekarno, Habibie, Gus Dur, ataupun Tan Malaka. Mengimajinasikan akan lahirnya tokoh semacam mereka hanyalah sebatas idealisme berlebihan terhadap sesuatu yang berada diseberang realitas transenden. Saya katakan begitu karena memang kondisi yang ada di lapangan saat ini cenderung terperosok pada arah relativisme atau bahkan nihilisme.

Para kaum millenial bangsa saat ini lebih disibukkan dengan budaya menonton ketimbang membaca, mereka lebih berasyik-masyuk menghatamkan sodoran konten-konten youtube ataupun film “tak bermutu” dari kaum milenial lainnya (seperti youtuber) daripada mengkhatamkan buku bacaannya. Eksistensi literasi kita semakin diperparah dengan razia tak berdasar yang dilakukan oleh pihak anggota milisi sektarian. Maka pantas saja kiranya bila bangsa kita saat ini tengah berada pada deretan elemen terbawah dalam diskursus literasi internasional.

Dunia literasi (khususnya buku) memegang kendali luar biasa terhadap pembentukan idealisme dan progresivitas anak bangsa bangsa kedepannya. Mengutip persepsi yang dikemukakan oleh Najwa Shihab, membaca buku akan membuat kita menjadi orang yang punya kedalaman imajinasi, keluasan hati, dan tidak mudah diprovokasi.  Maka menjadi sebuah kemubaziran sempurna dan pembodohan luar biasa tentunya ketika razia buku-buku sejarah dilakukan.

Kita tentu perlu mempertanyakan ulang tentang kompatibilitas razia yang digalang oleh petugas dengan tujuan utama bangsa ini didirikan, apakah bangsa ini memang didirikan untuk selalu berdiam diri dan terus merasa ketakutan dengan kejadian-kejadian masa silam? Tentu saja tidak. Tak seorang pun dari pejuang kita melarang para anak bangsanya untuk membaca buku apapun. Kita malah dituntut untuk melawan dan membarangus kebodohan dan ketakutan dimasa silam dengan membaca buku. Tak ada isolasi ataupun seperasi untuk itu, kita bebas untuk membaca.

Dan satu lagi yang perlu untuk ditekankan, buku merupakan bentuk fisik atau simbol dari orang yang mau berfikir. Seperti ungkapan Syamsul Arif Galib, buku lahir melalui proses yang panjang dari penulisnya, ada proses dialektika di sana, ada proses berpikir di sana, ada ruang imajinasi dan juga ruang kreatif. Sehingga pelarangannya dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk pembatasan atas imajinasi, kreasi, dan proses berfikir.

Atas dasar itulah, sebagai sebuah bangsa yang mengimpikan bisa melahirkan generasi atau bibit unggul kedepannya, maka kita harus melawan bobroknya literasi kita saat ini dengan membaca. Ketika kaum millenial, anggota milisi sektarian, Presiden dan semua elemen negara sudah rajin membaca, maka sebagai konsekuensi logisnya, replikasi kenangan gemilang yang telah diukir oleh pendiri bangsa pada masa silam akan terealisasi kembali di masa sekarang. Membacalah dan melawanlah, mari kita menuju kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya!

*) Penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta asal Sumenep, Madura.

Reporter :

Fotografer :

Editor :