alexametrics
30.4 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Karena Hidup Bukan Hanya Sekadar Mengisi Perut

Mobile_AP_Rectangle 1

Saat ini bangsa kita, Indonesia masih terikat pada rantai gaya gravitasi kemiskinan dan kebodohan. Mengapa saya memakai istilah gravitasi? Seperti yang dipahami bersama bahwa semua yang ada di bumi ini dipengaruhi oleh kekuatan maha besar yang disebut gaya gravitasi. Seberapa pun kekuatan kita untuk meloncat ke atas, maka akan kembali terjatuh ke bumi. Seberapa besar energi potensial yang dimiliki oleh suatu benda, maka akan kembali terjun bebas ke arah bumi. Nah, seperti itulah analogi yang saya maksudkan. Kita sudah berusaha dengan keras dalam waktu yang lama, namun kemiskinan dan kebodohan itu masih betah membersamai sebagian besar masyarakat kita. Ekonomi yang dengan susah payah dibangun masih belum cukup kuat membuat kita menjadi bangsa makmur yang merata. Perkembangan sains dan teknologi masih tertinggal jauh, bahkan bila sekadar dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang sedang berkembang saja masih tertinggal. Cara berpikir kita, cara hidup kita, semangat dan etos kerja kita masih rendah. Lebih parah lagi, penyakit korup yang mengkronis menjadi salah satu penyumbang besar yang menyebabkan kita semakin terbelakang.

Pertanyaannya: Mungkinkah kita mampu melepaskan diri dari pengaruh gaya yang maha kuat tadi? Menganalogikan lagi dengan gaya gravitasi, ada sebuah teori yang menyatakan gaya gravitasi itu bisa dilawan. Kurang lebihnya seperti ini: bila kita mampu melempar sesuatu dengan kecepatan sebesar 40.270 km/jam dari permukaan bumi, maka benda tersebut akan bergerak ke atas, terus ke atas. Kecepatannya akan berkurang secara perlahan oleh tarikan gravitasi bumi. Tapi ia masih akan cukup cepat untuk mencapai suatu titik di mana gravitasi bumi tidak lagi cukup kuat untuk menariknya kembali ke muka bumi. Ia akan terbebas dari pengaruh gravitasi, melayang bebas di ruang angkasa. Serupa dengan teori tersebut, maka kita membutuhkan tenaga besar dalam skala tertentu yang bisa membawa kita lepas dari belitan persoalan-persoalan tadi. Pertanyaannya, bagaimana caranya? Caranya dengan membuat lompatan besar pada setiap generasi.

Ingatan saya melayang pada kakek saya (saya memanggilnya Mba Lakek). Mba Lakek yang tak pernah mengenyam pendidikan tinggi namun mampu memberi energi yang begitu besar pada saya hingga saya pun mempunyai semangat sekokoh baja untuk meraih pendidikan SMA. Lulusan SMA pada saat itu masih merupakan jenjang pendidikan tinggi yang mampu diraih oleh sebagian kecil orang di tempat saya. Lebih jauh lagi, keinginan kuat untuk terus mengasah kompetensi diri membuat saya mengesampingkan keterbatasan biaya, hingga berhasil meraih gelar magister. Dan lagi-lagi gelar magister ini di tempat saya merupakan jenjang pendidikan yang hanya bisa diraih oleh segelintir orang. Inilah lompatan itu. Lompatan yang dalam istilah fisika disebut lompatan quantum. Analogi yang saya buat untuk kesekian kali. Lompatan quantum yang diperkenalkan oleh Niels Bohr ini menyatakan bahwa lompatan quantum merupakan transisi yang mendadak dari atom, molekul dan inti atom dari satu tingkat energi ke tingkat energi lainnya. Ketika sistem menyerap energi, maka terjadi transisi ke tingkat energi yang lebih tinggi

Mobile_AP_Rectangle 2

Ada banyak orang seperti saya. Berasal dari keluarga miskin di kampung, kemudian tumbuh dan berkembang menjadi lebih berpendidikan daripada orang tuanya. Tentu saja ada pula yang menurun. Orang tuanya makmur dan berpendidikan, anak-anaknya jauh di bawah taraf itu. Yang perlu kita lakukan adalah memperbanyak orang-orang yang meningkat, dan mencegah orang-orang untuk menurun.

Hal yang akan menggagalkan kita dalam melakukan lompatan itu adalah ketika kita terlena saat sudah berada di puncak. Merasa sudah puas dengan apa yang sudah digapai. Bagaimana mencegah ini semua? Caranya teruslah berkarya. Teruslah belajar. Teruslah mengasah diri, meningkatkan kemampuan, dan meningkatkan kontribusi di bidang-bidang yang kita geluti. Jangan pernah puas dengan pencapaian kita sekarang. Masih banyak yang harus kita kerjakan sebelum kita mati 20 atau 30 tahun lagi.

- Advertisement -

Saat ini bangsa kita, Indonesia masih terikat pada rantai gaya gravitasi kemiskinan dan kebodohan. Mengapa saya memakai istilah gravitasi? Seperti yang dipahami bersama bahwa semua yang ada di bumi ini dipengaruhi oleh kekuatan maha besar yang disebut gaya gravitasi. Seberapa pun kekuatan kita untuk meloncat ke atas, maka akan kembali terjatuh ke bumi. Seberapa besar energi potensial yang dimiliki oleh suatu benda, maka akan kembali terjun bebas ke arah bumi. Nah, seperti itulah analogi yang saya maksudkan. Kita sudah berusaha dengan keras dalam waktu yang lama, namun kemiskinan dan kebodohan itu masih betah membersamai sebagian besar masyarakat kita. Ekonomi yang dengan susah payah dibangun masih belum cukup kuat membuat kita menjadi bangsa makmur yang merata. Perkembangan sains dan teknologi masih tertinggal jauh, bahkan bila sekadar dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang sedang berkembang saja masih tertinggal. Cara berpikir kita, cara hidup kita, semangat dan etos kerja kita masih rendah. Lebih parah lagi, penyakit korup yang mengkronis menjadi salah satu penyumbang besar yang menyebabkan kita semakin terbelakang.

Pertanyaannya: Mungkinkah kita mampu melepaskan diri dari pengaruh gaya yang maha kuat tadi? Menganalogikan lagi dengan gaya gravitasi, ada sebuah teori yang menyatakan gaya gravitasi itu bisa dilawan. Kurang lebihnya seperti ini: bila kita mampu melempar sesuatu dengan kecepatan sebesar 40.270 km/jam dari permukaan bumi, maka benda tersebut akan bergerak ke atas, terus ke atas. Kecepatannya akan berkurang secara perlahan oleh tarikan gravitasi bumi. Tapi ia masih akan cukup cepat untuk mencapai suatu titik di mana gravitasi bumi tidak lagi cukup kuat untuk menariknya kembali ke muka bumi. Ia akan terbebas dari pengaruh gravitasi, melayang bebas di ruang angkasa. Serupa dengan teori tersebut, maka kita membutuhkan tenaga besar dalam skala tertentu yang bisa membawa kita lepas dari belitan persoalan-persoalan tadi. Pertanyaannya, bagaimana caranya? Caranya dengan membuat lompatan besar pada setiap generasi.

Ingatan saya melayang pada kakek saya (saya memanggilnya Mba Lakek). Mba Lakek yang tak pernah mengenyam pendidikan tinggi namun mampu memberi energi yang begitu besar pada saya hingga saya pun mempunyai semangat sekokoh baja untuk meraih pendidikan SMA. Lulusan SMA pada saat itu masih merupakan jenjang pendidikan tinggi yang mampu diraih oleh sebagian kecil orang di tempat saya. Lebih jauh lagi, keinginan kuat untuk terus mengasah kompetensi diri membuat saya mengesampingkan keterbatasan biaya, hingga berhasil meraih gelar magister. Dan lagi-lagi gelar magister ini di tempat saya merupakan jenjang pendidikan yang hanya bisa diraih oleh segelintir orang. Inilah lompatan itu. Lompatan yang dalam istilah fisika disebut lompatan quantum. Analogi yang saya buat untuk kesekian kali. Lompatan quantum yang diperkenalkan oleh Niels Bohr ini menyatakan bahwa lompatan quantum merupakan transisi yang mendadak dari atom, molekul dan inti atom dari satu tingkat energi ke tingkat energi lainnya. Ketika sistem menyerap energi, maka terjadi transisi ke tingkat energi yang lebih tinggi

Ada banyak orang seperti saya. Berasal dari keluarga miskin di kampung, kemudian tumbuh dan berkembang menjadi lebih berpendidikan daripada orang tuanya. Tentu saja ada pula yang menurun. Orang tuanya makmur dan berpendidikan, anak-anaknya jauh di bawah taraf itu. Yang perlu kita lakukan adalah memperbanyak orang-orang yang meningkat, dan mencegah orang-orang untuk menurun.

Hal yang akan menggagalkan kita dalam melakukan lompatan itu adalah ketika kita terlena saat sudah berada di puncak. Merasa sudah puas dengan apa yang sudah digapai. Bagaimana mencegah ini semua? Caranya teruslah berkarya. Teruslah belajar. Teruslah mengasah diri, meningkatkan kemampuan, dan meningkatkan kontribusi di bidang-bidang yang kita geluti. Jangan pernah puas dengan pencapaian kita sekarang. Masih banyak yang harus kita kerjakan sebelum kita mati 20 atau 30 tahun lagi.

Saat ini bangsa kita, Indonesia masih terikat pada rantai gaya gravitasi kemiskinan dan kebodohan. Mengapa saya memakai istilah gravitasi? Seperti yang dipahami bersama bahwa semua yang ada di bumi ini dipengaruhi oleh kekuatan maha besar yang disebut gaya gravitasi. Seberapa pun kekuatan kita untuk meloncat ke atas, maka akan kembali terjatuh ke bumi. Seberapa besar energi potensial yang dimiliki oleh suatu benda, maka akan kembali terjun bebas ke arah bumi. Nah, seperti itulah analogi yang saya maksudkan. Kita sudah berusaha dengan keras dalam waktu yang lama, namun kemiskinan dan kebodohan itu masih betah membersamai sebagian besar masyarakat kita. Ekonomi yang dengan susah payah dibangun masih belum cukup kuat membuat kita menjadi bangsa makmur yang merata. Perkembangan sains dan teknologi masih tertinggal jauh, bahkan bila sekadar dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang sedang berkembang saja masih tertinggal. Cara berpikir kita, cara hidup kita, semangat dan etos kerja kita masih rendah. Lebih parah lagi, penyakit korup yang mengkronis menjadi salah satu penyumbang besar yang menyebabkan kita semakin terbelakang.

Pertanyaannya: Mungkinkah kita mampu melepaskan diri dari pengaruh gaya yang maha kuat tadi? Menganalogikan lagi dengan gaya gravitasi, ada sebuah teori yang menyatakan gaya gravitasi itu bisa dilawan. Kurang lebihnya seperti ini: bila kita mampu melempar sesuatu dengan kecepatan sebesar 40.270 km/jam dari permukaan bumi, maka benda tersebut akan bergerak ke atas, terus ke atas. Kecepatannya akan berkurang secara perlahan oleh tarikan gravitasi bumi. Tapi ia masih akan cukup cepat untuk mencapai suatu titik di mana gravitasi bumi tidak lagi cukup kuat untuk menariknya kembali ke muka bumi. Ia akan terbebas dari pengaruh gravitasi, melayang bebas di ruang angkasa. Serupa dengan teori tersebut, maka kita membutuhkan tenaga besar dalam skala tertentu yang bisa membawa kita lepas dari belitan persoalan-persoalan tadi. Pertanyaannya, bagaimana caranya? Caranya dengan membuat lompatan besar pada setiap generasi.

Ingatan saya melayang pada kakek saya (saya memanggilnya Mba Lakek). Mba Lakek yang tak pernah mengenyam pendidikan tinggi namun mampu memberi energi yang begitu besar pada saya hingga saya pun mempunyai semangat sekokoh baja untuk meraih pendidikan SMA. Lulusan SMA pada saat itu masih merupakan jenjang pendidikan tinggi yang mampu diraih oleh sebagian kecil orang di tempat saya. Lebih jauh lagi, keinginan kuat untuk terus mengasah kompetensi diri membuat saya mengesampingkan keterbatasan biaya, hingga berhasil meraih gelar magister. Dan lagi-lagi gelar magister ini di tempat saya merupakan jenjang pendidikan yang hanya bisa diraih oleh segelintir orang. Inilah lompatan itu. Lompatan yang dalam istilah fisika disebut lompatan quantum. Analogi yang saya buat untuk kesekian kali. Lompatan quantum yang diperkenalkan oleh Niels Bohr ini menyatakan bahwa lompatan quantum merupakan transisi yang mendadak dari atom, molekul dan inti atom dari satu tingkat energi ke tingkat energi lainnya. Ketika sistem menyerap energi, maka terjadi transisi ke tingkat energi yang lebih tinggi

Ada banyak orang seperti saya. Berasal dari keluarga miskin di kampung, kemudian tumbuh dan berkembang menjadi lebih berpendidikan daripada orang tuanya. Tentu saja ada pula yang menurun. Orang tuanya makmur dan berpendidikan, anak-anaknya jauh di bawah taraf itu. Yang perlu kita lakukan adalah memperbanyak orang-orang yang meningkat, dan mencegah orang-orang untuk menurun.

Hal yang akan menggagalkan kita dalam melakukan lompatan itu adalah ketika kita terlena saat sudah berada di puncak. Merasa sudah puas dengan apa yang sudah digapai. Bagaimana mencegah ini semua? Caranya teruslah berkarya. Teruslah belajar. Teruslah mengasah diri, meningkatkan kemampuan, dan meningkatkan kontribusi di bidang-bidang yang kita geluti. Jangan pernah puas dengan pencapaian kita sekarang. Masih banyak yang harus kita kerjakan sebelum kita mati 20 atau 30 tahun lagi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/