alexametrics
23.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Dr Ulum dan Potret Netizen Indonesia

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ada yang menarik dalam diskusi publik yang diadakan oleh UPM Millenium UIN KH Ahmad Shiddiq pada Kamis, 22 april 2021, yang lalu. Diskusi ini bertema ‘Menguak Opini Cabul, Antara Amoral dan “Hitam-putih” Kehidupan’ dengan mendatangkan Dr Ulum sebagai penulis opini, Trisna dari KTKS, Eri Andriani dari Stapa Jember, dan M. Ridwan Arif dari RTIK Bondowoso. Diskusi publik tersebut bertajuk ruang klarifikasi dan pertanggungjawaban Dr Ulum atas tulisan opininya yang terbit tertanggal 17 April 2021.

Tulisan Opini tersebut memang sangat kontroversial di kalangan masyarakat. Pasalnya, dalam kasus pencabulan anak, Dr Ulum ‘seolah’ membela dan membenarkan perilaku pelaku pencabulan dengan alasan masalah keluarga dan hutang budi. Dr Ulum yang berkapasitas sebagai dosen pengajar di salah satu perguruan tinggi negeri dinilai tidak mampu melihat permasalahan secara holistik dan teramat subjektif dalam menanggapi kasus pencabulan anak tersebut.

Dalam diskusi itu, Dr Ulum memilih diam dan tidak memberi klarifikasi apa pun terkait tulisan opini nya , meminta maaf dan keluar dari forum. Hal menarik lainnya adalah alasan utama Dr Ulum untuk tidak memberi klarifikasi apa pun disandarkan pada izin orang tua. Dr Ulum mengatakan bahwa, “hari ini bulan Ramadan, tak patut kita membuka aib orang lain karena akan menodai kesucian bulan Ramadan dan saya tidak diizinkan oleh orang tua saya untuk melanjutkan diskusi ini.” Begitulah kira-kira apa yang disampaikan Dr Ulum dalam diskusi publik tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bagi penulis, hal itu tidak bijak untuk dilakukan. Penulis berpendapat bahwa alasan tersebut adalah alasan defensif Dr Ulum yang tidak mau bertanggungjawab atas tulisannya. Kalimat defensif lainnya yang dikeluarkan Dr Ulum dalam diskusi tersebut adalah ‘bahwa beliau siap menarik tulisan untuk bertanggung-jawab’. Penulis berpendapat bahwa menarik tulisan bukanlah tindakan tanggungjawab sama sekali. Seharusnya, apabila Dr Ulum memang merasa bersalah dan mengakui kesalahannya, ia harus melakukan aksi yang setara dengan perbuatan sebelumnya, yakni menulis opini rasa bersalah dan pengakuan kesalahan atas tulisan opini yang telah beredar.

 

Masyarakat Terbuka

Dalam forum itu, penulis tidak hanya melihat Dr Ulum sebagai subjek yang menarik untuk dikaji. Penulis juga ingin memaparkan perilaku netizen/peserta diskusi publik yang diselenggarakan secara daring tersebut.

Seperti yang penulis jelaskan di atas, Dr Ulum telah menjelaskan kondisinya bahwa ia tidak berkenan melanjutkan forum. Meskipun itu tidak bijak, penulis berpendapat bahwa hal itu sah untuk dilakukan karena kita juga mengenal hak diam. Yakni hak untuk tidak berbicara.

Penulis akan berusaha menjelaskan kronologi forum tersebut untuk menjelaskan opini penulis mengenai masyarakat terbuka. Peserta forum telah mencapai 200 orang lebih. Antusiasme masyarakat bisa dilihat dari jumlah itu.

Dalam forum tersebut, sebelum Dr Ulum selesai menyampaikan kondisinya dan pergi (leave) dari forum daring, peserta forum bersahut-sahutan dalam kolom komentar maupun in voice. Sebagian dari mereka berkata “menghadap kamera!!, Ayo menghadap kamera, apa susahnya sih!!, malu ya kalo menghadap kamera!!”.  Yang lain menyahut “Suaranya tidak jelas! Dikeraskan suaranya!”.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ada yang menarik dalam diskusi publik yang diadakan oleh UPM Millenium UIN KH Ahmad Shiddiq pada Kamis, 22 april 2021, yang lalu. Diskusi ini bertema ‘Menguak Opini Cabul, Antara Amoral dan “Hitam-putih” Kehidupan’ dengan mendatangkan Dr Ulum sebagai penulis opini, Trisna dari KTKS, Eri Andriani dari Stapa Jember, dan M. Ridwan Arif dari RTIK Bondowoso. Diskusi publik tersebut bertajuk ruang klarifikasi dan pertanggungjawaban Dr Ulum atas tulisan opininya yang terbit tertanggal 17 April 2021.

Tulisan Opini tersebut memang sangat kontroversial di kalangan masyarakat. Pasalnya, dalam kasus pencabulan anak, Dr Ulum ‘seolah’ membela dan membenarkan perilaku pelaku pencabulan dengan alasan masalah keluarga dan hutang budi. Dr Ulum yang berkapasitas sebagai dosen pengajar di salah satu perguruan tinggi negeri dinilai tidak mampu melihat permasalahan secara holistik dan teramat subjektif dalam menanggapi kasus pencabulan anak tersebut.

Dalam diskusi itu, Dr Ulum memilih diam dan tidak memberi klarifikasi apa pun terkait tulisan opini nya , meminta maaf dan keluar dari forum. Hal menarik lainnya adalah alasan utama Dr Ulum untuk tidak memberi klarifikasi apa pun disandarkan pada izin orang tua. Dr Ulum mengatakan bahwa, “hari ini bulan Ramadan, tak patut kita membuka aib orang lain karena akan menodai kesucian bulan Ramadan dan saya tidak diizinkan oleh orang tua saya untuk melanjutkan diskusi ini.” Begitulah kira-kira apa yang disampaikan Dr Ulum dalam diskusi publik tersebut.

Bagi penulis, hal itu tidak bijak untuk dilakukan. Penulis berpendapat bahwa alasan tersebut adalah alasan defensif Dr Ulum yang tidak mau bertanggungjawab atas tulisannya. Kalimat defensif lainnya yang dikeluarkan Dr Ulum dalam diskusi tersebut adalah ‘bahwa beliau siap menarik tulisan untuk bertanggung-jawab’. Penulis berpendapat bahwa menarik tulisan bukanlah tindakan tanggungjawab sama sekali. Seharusnya, apabila Dr Ulum memang merasa bersalah dan mengakui kesalahannya, ia harus melakukan aksi yang setara dengan perbuatan sebelumnya, yakni menulis opini rasa bersalah dan pengakuan kesalahan atas tulisan opini yang telah beredar.

 

Masyarakat Terbuka

Dalam forum itu, penulis tidak hanya melihat Dr Ulum sebagai subjek yang menarik untuk dikaji. Penulis juga ingin memaparkan perilaku netizen/peserta diskusi publik yang diselenggarakan secara daring tersebut.

Seperti yang penulis jelaskan di atas, Dr Ulum telah menjelaskan kondisinya bahwa ia tidak berkenan melanjutkan forum. Meskipun itu tidak bijak, penulis berpendapat bahwa hal itu sah untuk dilakukan karena kita juga mengenal hak diam. Yakni hak untuk tidak berbicara.

Penulis akan berusaha menjelaskan kronologi forum tersebut untuk menjelaskan opini penulis mengenai masyarakat terbuka. Peserta forum telah mencapai 200 orang lebih. Antusiasme masyarakat bisa dilihat dari jumlah itu.

Dalam forum tersebut, sebelum Dr Ulum selesai menyampaikan kondisinya dan pergi (leave) dari forum daring, peserta forum bersahut-sahutan dalam kolom komentar maupun in voice. Sebagian dari mereka berkata “menghadap kamera!!, Ayo menghadap kamera, apa susahnya sih!!, malu ya kalo menghadap kamera!!”.  Yang lain menyahut “Suaranya tidak jelas! Dikeraskan suaranya!”.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ada yang menarik dalam diskusi publik yang diadakan oleh UPM Millenium UIN KH Ahmad Shiddiq pada Kamis, 22 april 2021, yang lalu. Diskusi ini bertema ‘Menguak Opini Cabul, Antara Amoral dan “Hitam-putih” Kehidupan’ dengan mendatangkan Dr Ulum sebagai penulis opini, Trisna dari KTKS, Eri Andriani dari Stapa Jember, dan M. Ridwan Arif dari RTIK Bondowoso. Diskusi publik tersebut bertajuk ruang klarifikasi dan pertanggungjawaban Dr Ulum atas tulisan opininya yang terbit tertanggal 17 April 2021.

Tulisan Opini tersebut memang sangat kontroversial di kalangan masyarakat. Pasalnya, dalam kasus pencabulan anak, Dr Ulum ‘seolah’ membela dan membenarkan perilaku pelaku pencabulan dengan alasan masalah keluarga dan hutang budi. Dr Ulum yang berkapasitas sebagai dosen pengajar di salah satu perguruan tinggi negeri dinilai tidak mampu melihat permasalahan secara holistik dan teramat subjektif dalam menanggapi kasus pencabulan anak tersebut.

Dalam diskusi itu, Dr Ulum memilih diam dan tidak memberi klarifikasi apa pun terkait tulisan opini nya , meminta maaf dan keluar dari forum. Hal menarik lainnya adalah alasan utama Dr Ulum untuk tidak memberi klarifikasi apa pun disandarkan pada izin orang tua. Dr Ulum mengatakan bahwa, “hari ini bulan Ramadan, tak patut kita membuka aib orang lain karena akan menodai kesucian bulan Ramadan dan saya tidak diizinkan oleh orang tua saya untuk melanjutkan diskusi ini.” Begitulah kira-kira apa yang disampaikan Dr Ulum dalam diskusi publik tersebut.

Bagi penulis, hal itu tidak bijak untuk dilakukan. Penulis berpendapat bahwa alasan tersebut adalah alasan defensif Dr Ulum yang tidak mau bertanggungjawab atas tulisannya. Kalimat defensif lainnya yang dikeluarkan Dr Ulum dalam diskusi tersebut adalah ‘bahwa beliau siap menarik tulisan untuk bertanggung-jawab’. Penulis berpendapat bahwa menarik tulisan bukanlah tindakan tanggungjawab sama sekali. Seharusnya, apabila Dr Ulum memang merasa bersalah dan mengakui kesalahannya, ia harus melakukan aksi yang setara dengan perbuatan sebelumnya, yakni menulis opini rasa bersalah dan pengakuan kesalahan atas tulisan opini yang telah beredar.

 

Masyarakat Terbuka

Dalam forum itu, penulis tidak hanya melihat Dr Ulum sebagai subjek yang menarik untuk dikaji. Penulis juga ingin memaparkan perilaku netizen/peserta diskusi publik yang diselenggarakan secara daring tersebut.

Seperti yang penulis jelaskan di atas, Dr Ulum telah menjelaskan kondisinya bahwa ia tidak berkenan melanjutkan forum. Meskipun itu tidak bijak, penulis berpendapat bahwa hal itu sah untuk dilakukan karena kita juga mengenal hak diam. Yakni hak untuk tidak berbicara.

Penulis akan berusaha menjelaskan kronologi forum tersebut untuk menjelaskan opini penulis mengenai masyarakat terbuka. Peserta forum telah mencapai 200 orang lebih. Antusiasme masyarakat bisa dilihat dari jumlah itu.

Dalam forum tersebut, sebelum Dr Ulum selesai menyampaikan kondisinya dan pergi (leave) dari forum daring, peserta forum bersahut-sahutan dalam kolom komentar maupun in voice. Sebagian dari mereka berkata “menghadap kamera!!, Ayo menghadap kamera, apa susahnya sih!!, malu ya kalo menghadap kamera!!”.  Yang lain menyahut “Suaranya tidak jelas! Dikeraskan suaranya!”.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/