alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Active Bystander: Bersama-sama Meringkus Predator Seksual

Mobile_AP_Rectangle 1

Pada abad 21 ini, kekerasan seksual kerap menjadi pemberitaan diberbagai media baik media tulisan ataupun siaran. Diketahui bahwa kekerasan seksual bisa terjadi kepada siapa pun (anak-anak, dewasa, perempuan, ataupun laki-laki) dan di mana pun (ruang privat maupun publik). Serta bisa dilakukan oleh siapa pun (akademisi, keluarga, orang terdekat, aparatur negara, dll).

Berdasarkan data dari Kemen-PPPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) yang dapat diakses di laman kemenpppa.go.id tercatat sebanyak 25.210 kasus kekerasan pada tahun 2021. Sebesar 15,2 persennya merupakan kekerasan seksual dan 45,1 persen kekerasan terhadap anak dalam balutan kekerasan seksual. Pada kenyataannya, kasus kekerasan seksual bisa dikategorikan dalam fenomena gunung es. Jumlah kasus yang sebenarnya terjadi lebih parah dibandingkan yang sudah diketahui melalui data. Pasalnya, tidak semua korban kekerasan seksual berani untuk melaporkan kekerasan yang menimpa dirinya.

Menelisik temuan Catahu (Catatan Tahunan) Komnas Perempuan 2021 yang memuat tentang Fakta dan Poin Kunci Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2020, ranah kekerasan terhadap perempuan yang diadukan langsung ke Komnas Perempuan sebanyak 2.134 kasus dengan perincian 1.404 kasus dalam ranah KDRT/RP, 706 kasus lingkup publik/komunitas, dan negara 24 kasus, dari kesemuanya sarat kekerasan seksual. Fakta ini menambah kuat kenyataan bahwa kekerasan seksual tidak memandang tempat untuk terjadi. Sehingga, semua ruang yang ada menjadi ruang yang tidak aman dan acap mengancam, khususnya bagi perempuan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Adapun bentuk kekerasan seksual berdasarkan hasil pemantauan Komnas Perempuan selama 15 tahun (1998–2013) terdapat 15 jenis. Di antaranya pemerkosaan, intimidasi seksual melalui ancaman yang dapat menimbulkan rasa takut dan penderitaan psikis bagi korban baik dilakukan secara langsung maupun tidak langsung (surat, Sms, email, dll). Pelecehan bernuansa seksual (siulan, main mata, colekan, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual dan dapat mengakibatkan rasa tidak nyaman). Adapun penyebab terjadinya kekerasan seksual di antaranya, adanya potensi dan kesempatan bagi pelaku untuk menjalankan aksinya, adanya relasi kekuasaan yang tidak seimbang, dan adanya cara berpikir yang tidak setara, serta ketidakmampuan korban untuk menolak karena takut. Kemudian, penyebab kekerasan seksual terhadap anak diakibatkan minimnya edukasi terkait seks dan etika pergaulan serta kurangnya pengawasan dari orang tua.

Kekerasan seksual sukar ditangani dan diungkap karena selalu dikaitkan dengan konsep moralitas masyarakat. Perempuan dianggap sebagai simbol kesucian sehingga ketika mendapatkan kekerasan seksual alih-alih mendapatkan pembelaan. Justru disalahkan dan dianggap aib. Ini menjadi alasan besar korban kekerasan seksual lebih banyak bungkam daripada speak up tentang kekerasan yang ia alami. Korban kekerasan seksual bisa mengalami depresi, trauma, ketakutan, cemas, dan semacamnya. Kesemuanya sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial korban. Contohnya hilang kepercayaan diri hingga mendapatkan penilaian yang buruk dari masyarakat.

Jelas kekerasan seksual merupakan perilaku yang tidak manusiawi berbahaya serta meresahkan. Oleh karena itu, menjadi tugas kita semua untuk berusaha mengentaskan kekerasan seksual di muka bumi ini. Selain mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan peraturan yang kuat untuk menyikapi adanya kekerasan seksual melaui UU TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual), dan memberikan hukuman yang berat untuk pelaku. Kita bisa memulai berkontribusi melalui hal-hal kecil yang dapat kita lakukan, dalam hal ini menjadi active bystander.

Apa itu active bystander?

Setiap orang merupakan bystander (pengamat) pada suatu waktu. Sebab, setiap orang diberikan kemampuan untuk dapat mengamati sekitar dan mengategorisasi setiap kejadian termasuk konflik atau sebatas hal yang lumrah terjadi. Sehingga, apabila ada konflik ia bisa menilai situasi untuk menentukan jenis bantuan apa yang akan diberikan atau memilih strategi untuk merespons. Begitupun dalam hal kekerasan seksual yang mungkin sedang terjadi di sekitarnya, yang sedang ia lihat, dan membutuhkan bantuannya. Pasalnya, tidak semua orang berpikir untuk memberikan bantuan karena merasa itu bukan bagian dari urusannya atau beranggapan bahwa akan ada orang lain yang menolong korban. Hal yang demikian disebut passive bystander, di mana seseorang bersikap acuh dan tidak peduli pada kejadian yang ada di sekitar bahkan jika itu kekerasan ataupun kejahatan. Sedangkan kebalikannya disebut active bystander.

- Advertisement -

Pada abad 21 ini, kekerasan seksual kerap menjadi pemberitaan diberbagai media baik media tulisan ataupun siaran. Diketahui bahwa kekerasan seksual bisa terjadi kepada siapa pun (anak-anak, dewasa, perempuan, ataupun laki-laki) dan di mana pun (ruang privat maupun publik). Serta bisa dilakukan oleh siapa pun (akademisi, keluarga, orang terdekat, aparatur negara, dll).

Berdasarkan data dari Kemen-PPPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) yang dapat diakses di laman kemenpppa.go.id tercatat sebanyak 25.210 kasus kekerasan pada tahun 2021. Sebesar 15,2 persennya merupakan kekerasan seksual dan 45,1 persen kekerasan terhadap anak dalam balutan kekerasan seksual. Pada kenyataannya, kasus kekerasan seksual bisa dikategorikan dalam fenomena gunung es. Jumlah kasus yang sebenarnya terjadi lebih parah dibandingkan yang sudah diketahui melalui data. Pasalnya, tidak semua korban kekerasan seksual berani untuk melaporkan kekerasan yang menimpa dirinya.

Menelisik temuan Catahu (Catatan Tahunan) Komnas Perempuan 2021 yang memuat tentang Fakta dan Poin Kunci Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2020, ranah kekerasan terhadap perempuan yang diadukan langsung ke Komnas Perempuan sebanyak 2.134 kasus dengan perincian 1.404 kasus dalam ranah KDRT/RP, 706 kasus lingkup publik/komunitas, dan negara 24 kasus, dari kesemuanya sarat kekerasan seksual. Fakta ini menambah kuat kenyataan bahwa kekerasan seksual tidak memandang tempat untuk terjadi. Sehingga, semua ruang yang ada menjadi ruang yang tidak aman dan acap mengancam, khususnya bagi perempuan.

Adapun bentuk kekerasan seksual berdasarkan hasil pemantauan Komnas Perempuan selama 15 tahun (1998–2013) terdapat 15 jenis. Di antaranya pemerkosaan, intimidasi seksual melalui ancaman yang dapat menimbulkan rasa takut dan penderitaan psikis bagi korban baik dilakukan secara langsung maupun tidak langsung (surat, Sms, email, dll). Pelecehan bernuansa seksual (siulan, main mata, colekan, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual dan dapat mengakibatkan rasa tidak nyaman). Adapun penyebab terjadinya kekerasan seksual di antaranya, adanya potensi dan kesempatan bagi pelaku untuk menjalankan aksinya, adanya relasi kekuasaan yang tidak seimbang, dan adanya cara berpikir yang tidak setara, serta ketidakmampuan korban untuk menolak karena takut. Kemudian, penyebab kekerasan seksual terhadap anak diakibatkan minimnya edukasi terkait seks dan etika pergaulan serta kurangnya pengawasan dari orang tua.

Kekerasan seksual sukar ditangani dan diungkap karena selalu dikaitkan dengan konsep moralitas masyarakat. Perempuan dianggap sebagai simbol kesucian sehingga ketika mendapatkan kekerasan seksual alih-alih mendapatkan pembelaan. Justru disalahkan dan dianggap aib. Ini menjadi alasan besar korban kekerasan seksual lebih banyak bungkam daripada speak up tentang kekerasan yang ia alami. Korban kekerasan seksual bisa mengalami depresi, trauma, ketakutan, cemas, dan semacamnya. Kesemuanya sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial korban. Contohnya hilang kepercayaan diri hingga mendapatkan penilaian yang buruk dari masyarakat.

Jelas kekerasan seksual merupakan perilaku yang tidak manusiawi berbahaya serta meresahkan. Oleh karena itu, menjadi tugas kita semua untuk berusaha mengentaskan kekerasan seksual di muka bumi ini. Selain mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan peraturan yang kuat untuk menyikapi adanya kekerasan seksual melaui UU TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual), dan memberikan hukuman yang berat untuk pelaku. Kita bisa memulai berkontribusi melalui hal-hal kecil yang dapat kita lakukan, dalam hal ini menjadi active bystander.

Apa itu active bystander?

Setiap orang merupakan bystander (pengamat) pada suatu waktu. Sebab, setiap orang diberikan kemampuan untuk dapat mengamati sekitar dan mengategorisasi setiap kejadian termasuk konflik atau sebatas hal yang lumrah terjadi. Sehingga, apabila ada konflik ia bisa menilai situasi untuk menentukan jenis bantuan apa yang akan diberikan atau memilih strategi untuk merespons. Begitupun dalam hal kekerasan seksual yang mungkin sedang terjadi di sekitarnya, yang sedang ia lihat, dan membutuhkan bantuannya. Pasalnya, tidak semua orang berpikir untuk memberikan bantuan karena merasa itu bukan bagian dari urusannya atau beranggapan bahwa akan ada orang lain yang menolong korban. Hal yang demikian disebut passive bystander, di mana seseorang bersikap acuh dan tidak peduli pada kejadian yang ada di sekitar bahkan jika itu kekerasan ataupun kejahatan. Sedangkan kebalikannya disebut active bystander.

Pada abad 21 ini, kekerasan seksual kerap menjadi pemberitaan diberbagai media baik media tulisan ataupun siaran. Diketahui bahwa kekerasan seksual bisa terjadi kepada siapa pun (anak-anak, dewasa, perempuan, ataupun laki-laki) dan di mana pun (ruang privat maupun publik). Serta bisa dilakukan oleh siapa pun (akademisi, keluarga, orang terdekat, aparatur negara, dll).

Berdasarkan data dari Kemen-PPPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) yang dapat diakses di laman kemenpppa.go.id tercatat sebanyak 25.210 kasus kekerasan pada tahun 2021. Sebesar 15,2 persennya merupakan kekerasan seksual dan 45,1 persen kekerasan terhadap anak dalam balutan kekerasan seksual. Pada kenyataannya, kasus kekerasan seksual bisa dikategorikan dalam fenomena gunung es. Jumlah kasus yang sebenarnya terjadi lebih parah dibandingkan yang sudah diketahui melalui data. Pasalnya, tidak semua korban kekerasan seksual berani untuk melaporkan kekerasan yang menimpa dirinya.

Menelisik temuan Catahu (Catatan Tahunan) Komnas Perempuan 2021 yang memuat tentang Fakta dan Poin Kunci Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2020, ranah kekerasan terhadap perempuan yang diadukan langsung ke Komnas Perempuan sebanyak 2.134 kasus dengan perincian 1.404 kasus dalam ranah KDRT/RP, 706 kasus lingkup publik/komunitas, dan negara 24 kasus, dari kesemuanya sarat kekerasan seksual. Fakta ini menambah kuat kenyataan bahwa kekerasan seksual tidak memandang tempat untuk terjadi. Sehingga, semua ruang yang ada menjadi ruang yang tidak aman dan acap mengancam, khususnya bagi perempuan.

Adapun bentuk kekerasan seksual berdasarkan hasil pemantauan Komnas Perempuan selama 15 tahun (1998–2013) terdapat 15 jenis. Di antaranya pemerkosaan, intimidasi seksual melalui ancaman yang dapat menimbulkan rasa takut dan penderitaan psikis bagi korban baik dilakukan secara langsung maupun tidak langsung (surat, Sms, email, dll). Pelecehan bernuansa seksual (siulan, main mata, colekan, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual dan dapat mengakibatkan rasa tidak nyaman). Adapun penyebab terjadinya kekerasan seksual di antaranya, adanya potensi dan kesempatan bagi pelaku untuk menjalankan aksinya, adanya relasi kekuasaan yang tidak seimbang, dan adanya cara berpikir yang tidak setara, serta ketidakmampuan korban untuk menolak karena takut. Kemudian, penyebab kekerasan seksual terhadap anak diakibatkan minimnya edukasi terkait seks dan etika pergaulan serta kurangnya pengawasan dari orang tua.

Kekerasan seksual sukar ditangani dan diungkap karena selalu dikaitkan dengan konsep moralitas masyarakat. Perempuan dianggap sebagai simbol kesucian sehingga ketika mendapatkan kekerasan seksual alih-alih mendapatkan pembelaan. Justru disalahkan dan dianggap aib. Ini menjadi alasan besar korban kekerasan seksual lebih banyak bungkam daripada speak up tentang kekerasan yang ia alami. Korban kekerasan seksual bisa mengalami depresi, trauma, ketakutan, cemas, dan semacamnya. Kesemuanya sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial korban. Contohnya hilang kepercayaan diri hingga mendapatkan penilaian yang buruk dari masyarakat.

Jelas kekerasan seksual merupakan perilaku yang tidak manusiawi berbahaya serta meresahkan. Oleh karena itu, menjadi tugas kita semua untuk berusaha mengentaskan kekerasan seksual di muka bumi ini. Selain mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan peraturan yang kuat untuk menyikapi adanya kekerasan seksual melaui UU TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual), dan memberikan hukuman yang berat untuk pelaku. Kita bisa memulai berkontribusi melalui hal-hal kecil yang dapat kita lakukan, dalam hal ini menjadi active bystander.

Apa itu active bystander?

Setiap orang merupakan bystander (pengamat) pada suatu waktu. Sebab, setiap orang diberikan kemampuan untuk dapat mengamati sekitar dan mengategorisasi setiap kejadian termasuk konflik atau sebatas hal yang lumrah terjadi. Sehingga, apabila ada konflik ia bisa menilai situasi untuk menentukan jenis bantuan apa yang akan diberikan atau memilih strategi untuk merespons. Begitupun dalam hal kekerasan seksual yang mungkin sedang terjadi di sekitarnya, yang sedang ia lihat, dan membutuhkan bantuannya. Pasalnya, tidak semua orang berpikir untuk memberikan bantuan karena merasa itu bukan bagian dari urusannya atau beranggapan bahwa akan ada orang lain yang menolong korban. Hal yang demikian disebut passive bystander, di mana seseorang bersikap acuh dan tidak peduli pada kejadian yang ada di sekitar bahkan jika itu kekerasan ataupun kejahatan. Sedangkan kebalikannya disebut active bystander.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/