alexametrics
23 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Selamatkan Anak dari Bahaya Pernikahan Dini dan Stunting

Mobile_AP_Rectangle 1

Tanggal 23 Juli 2022 kemarin menjadi momentum penting bagi penyelamatan generasi bangsa kita dengan adanya Peringatan Hari Anak Nasional. Melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, tahun ini Pemerintah mengangkat tema Hari Anak Nasional 2022 yaitu “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Tema tersebut diangkat karena saat ini Indonesia sedang memasuki era pascapandemi Covid-19. Kita tidak bisa pungkiri bahwa pandemi yang terjadi mengakibatkan perubahan pola kehidupan anak serta berdampak pada tuntutan penyesuaian kembali bagi anak-anak kita, sebagai salah satu contoh fenomena di Lombok banyak anak sekolah yang memutuskan menikah dim usia dini karena merasa keberatan dengan proses pembelajaran secara daring.

Menurut WHO, definisi pernikahan dini (early married) adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan atau salah satu pasangan masih dikategorikan anak-anak atau remaja yang berusia di bawah usia 19 tahun. Anak menjadi generasi yang menunjang kesuksesan pembangunan bangsa. Namun anak yang terlahir dan tumbuh dalam situasi kekurangan gizi kronis, mereka akan menjadi anak kerdil (stunting). Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi. Di Indonesia, sekitar 30,8 persen anak balita mengalami stunting (Riskesdas 2018). Dari seluruh negara di dunia, Indonesia adalah negara dengan prevalensi stunting kelima terbesar. Kerdil (stunting) pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. balita/baduta (bayi di bawah usia dua tahun) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas. Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan.

Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun (periode 1000 hari pertama kehidupan/HPK) merupakan simpul kritis sebagai awal terjadinya pertumbuhan Stunting. Dengan demikian, pada periode 1000 hari pertama kehidupan (HPK) sebaiknya bayi mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Faktor penyebab langsung terjadinya stunting adalah ketidakseimbangan gizi/faktor gizi dalam makanan yang dikonsumsi dan terjangkitnya penyakit infeksi. Asupan makanan yang tidak adekuat, kualitas makanan yang rendah, peningkatan kesakitan, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut yang terjadi pada periode waktu yang lama. Budaya menikah di usia dini, tradisi, atau kebiasaan yang ada dalam masyarakat seperti pantangan makan, dan pola makan yang salah dapat mengakibatkan munculnya masalah gizi terutama bagi balita.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dari penjelasan di atas ada keterkaitan antara pernikahan dini dengan stunting. Di mana pernikahan dini ini menjadi penyebab awal terjadinya stunting dan permasalahan kesehatan masyarakat lainnya. Ketika anak sudah menikah di usia dini atau belasan tahun maka mereka tidak siap secara fisik, psikologis dan minim informasi tentang penyiapan gizi ibu hamil, ibu menyusui dan pola pengasuhan bayi dan balita. Tidak hanya itu, saat anak sudah menikah di usia di mana dia masih harus sekolah maka dampak secara, ekonomi, pendidikan  dan sosial akan mereka alami.

Secara fisik pernikahan dini mengakibatkan remaja sudah menjadi ibu hamil (bumil) yang berisiko anemia dan KEK atau Kurang Energi dan Kalori sehingga berdampak bada bayi yang berat lahirnya rendah (BBLR), kurang gizi bahkan bayinya berpotensi stunting dan ibu berisiko terjadi kurang darah, perdarahan saat melahirkan bahkan kematian Ibu saat hamil dan melahirkan. Secara psikologis akan terjadi trauma psikis berkepanjangan, konflik berujung kekerasan dalam rumah tangga. Dampak secara pendidikan akan muncul anak-anak drop out karena dikeluarkan dari sekolah karena KTD/kehamilan tidak diinginkan.

- Advertisement -

Tanggal 23 Juli 2022 kemarin menjadi momentum penting bagi penyelamatan generasi bangsa kita dengan adanya Peringatan Hari Anak Nasional. Melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, tahun ini Pemerintah mengangkat tema Hari Anak Nasional 2022 yaitu “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Tema tersebut diangkat karena saat ini Indonesia sedang memasuki era pascapandemi Covid-19. Kita tidak bisa pungkiri bahwa pandemi yang terjadi mengakibatkan perubahan pola kehidupan anak serta berdampak pada tuntutan penyesuaian kembali bagi anak-anak kita, sebagai salah satu contoh fenomena di Lombok banyak anak sekolah yang memutuskan menikah dim usia dini karena merasa keberatan dengan proses pembelajaran secara daring.

Menurut WHO, definisi pernikahan dini (early married) adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan atau salah satu pasangan masih dikategorikan anak-anak atau remaja yang berusia di bawah usia 19 tahun. Anak menjadi generasi yang menunjang kesuksesan pembangunan bangsa. Namun anak yang terlahir dan tumbuh dalam situasi kekurangan gizi kronis, mereka akan menjadi anak kerdil (stunting). Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi. Di Indonesia, sekitar 30,8 persen anak balita mengalami stunting (Riskesdas 2018). Dari seluruh negara di dunia, Indonesia adalah negara dengan prevalensi stunting kelima terbesar. Kerdil (stunting) pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. balita/baduta (bayi di bawah usia dua tahun) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas. Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan.

Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun (periode 1000 hari pertama kehidupan/HPK) merupakan simpul kritis sebagai awal terjadinya pertumbuhan Stunting. Dengan demikian, pada periode 1000 hari pertama kehidupan (HPK) sebaiknya bayi mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Faktor penyebab langsung terjadinya stunting adalah ketidakseimbangan gizi/faktor gizi dalam makanan yang dikonsumsi dan terjangkitnya penyakit infeksi. Asupan makanan yang tidak adekuat, kualitas makanan yang rendah, peningkatan kesakitan, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut yang terjadi pada periode waktu yang lama. Budaya menikah di usia dini, tradisi, atau kebiasaan yang ada dalam masyarakat seperti pantangan makan, dan pola makan yang salah dapat mengakibatkan munculnya masalah gizi terutama bagi balita.

Dari penjelasan di atas ada keterkaitan antara pernikahan dini dengan stunting. Di mana pernikahan dini ini menjadi penyebab awal terjadinya stunting dan permasalahan kesehatan masyarakat lainnya. Ketika anak sudah menikah di usia dini atau belasan tahun maka mereka tidak siap secara fisik, psikologis dan minim informasi tentang penyiapan gizi ibu hamil, ibu menyusui dan pola pengasuhan bayi dan balita. Tidak hanya itu, saat anak sudah menikah di usia di mana dia masih harus sekolah maka dampak secara, ekonomi, pendidikan  dan sosial akan mereka alami.

Secara fisik pernikahan dini mengakibatkan remaja sudah menjadi ibu hamil (bumil) yang berisiko anemia dan KEK atau Kurang Energi dan Kalori sehingga berdampak bada bayi yang berat lahirnya rendah (BBLR), kurang gizi bahkan bayinya berpotensi stunting dan ibu berisiko terjadi kurang darah, perdarahan saat melahirkan bahkan kematian Ibu saat hamil dan melahirkan. Secara psikologis akan terjadi trauma psikis berkepanjangan, konflik berujung kekerasan dalam rumah tangga. Dampak secara pendidikan akan muncul anak-anak drop out karena dikeluarkan dari sekolah karena KTD/kehamilan tidak diinginkan.

Tanggal 23 Juli 2022 kemarin menjadi momentum penting bagi penyelamatan generasi bangsa kita dengan adanya Peringatan Hari Anak Nasional. Melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, tahun ini Pemerintah mengangkat tema Hari Anak Nasional 2022 yaitu “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Tema tersebut diangkat karena saat ini Indonesia sedang memasuki era pascapandemi Covid-19. Kita tidak bisa pungkiri bahwa pandemi yang terjadi mengakibatkan perubahan pola kehidupan anak serta berdampak pada tuntutan penyesuaian kembali bagi anak-anak kita, sebagai salah satu contoh fenomena di Lombok banyak anak sekolah yang memutuskan menikah dim usia dini karena merasa keberatan dengan proses pembelajaran secara daring.

Menurut WHO, definisi pernikahan dini (early married) adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan atau salah satu pasangan masih dikategorikan anak-anak atau remaja yang berusia di bawah usia 19 tahun. Anak menjadi generasi yang menunjang kesuksesan pembangunan bangsa. Namun anak yang terlahir dan tumbuh dalam situasi kekurangan gizi kronis, mereka akan menjadi anak kerdil (stunting). Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi stunting yang cukup tinggi. Di Indonesia, sekitar 30,8 persen anak balita mengalami stunting (Riskesdas 2018). Dari seluruh negara di dunia, Indonesia adalah negara dengan prevalensi stunting kelima terbesar. Kerdil (stunting) pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. balita/baduta (bayi di bawah usia dua tahun) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas. Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan.

Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun (periode 1000 hari pertama kehidupan/HPK) merupakan simpul kritis sebagai awal terjadinya pertumbuhan Stunting. Dengan demikian, pada periode 1000 hari pertama kehidupan (HPK) sebaiknya bayi mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Faktor penyebab langsung terjadinya stunting adalah ketidakseimbangan gizi/faktor gizi dalam makanan yang dikonsumsi dan terjangkitnya penyakit infeksi. Asupan makanan yang tidak adekuat, kualitas makanan yang rendah, peningkatan kesakitan, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut yang terjadi pada periode waktu yang lama. Budaya menikah di usia dini, tradisi, atau kebiasaan yang ada dalam masyarakat seperti pantangan makan, dan pola makan yang salah dapat mengakibatkan munculnya masalah gizi terutama bagi balita.

Dari penjelasan di atas ada keterkaitan antara pernikahan dini dengan stunting. Di mana pernikahan dini ini menjadi penyebab awal terjadinya stunting dan permasalahan kesehatan masyarakat lainnya. Ketika anak sudah menikah di usia dini atau belasan tahun maka mereka tidak siap secara fisik, psikologis dan minim informasi tentang penyiapan gizi ibu hamil, ibu menyusui dan pola pengasuhan bayi dan balita. Tidak hanya itu, saat anak sudah menikah di usia di mana dia masih harus sekolah maka dampak secara, ekonomi, pendidikan  dan sosial akan mereka alami.

Secara fisik pernikahan dini mengakibatkan remaja sudah menjadi ibu hamil (bumil) yang berisiko anemia dan KEK atau Kurang Energi dan Kalori sehingga berdampak bada bayi yang berat lahirnya rendah (BBLR), kurang gizi bahkan bayinya berpotensi stunting dan ibu berisiko terjadi kurang darah, perdarahan saat melahirkan bahkan kematian Ibu saat hamil dan melahirkan. Secara psikologis akan terjadi trauma psikis berkepanjangan, konflik berujung kekerasan dalam rumah tangga. Dampak secara pendidikan akan muncul anak-anak drop out karena dikeluarkan dari sekolah karena KTD/kehamilan tidak diinginkan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/