alexametrics
24.4C
Jember
Tuesday, 19 January 2021
Mobile_AP_Top Banner

Motivasi Peduli Lingkungan di Era Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Desktop_AP_Leaderboard
Mobile_AP_Rectangle 1

Sejak berkembangnya pandemi Covid-19 ini, banyak sekali tatanan yang mengalami perubahan. Perubahan ini dirasakan oleh banyak sektor, dan salah satu yang terkena imbasnya adalah sektor pendidikan. Berbagai aktivitas tatap muka ditiadakan untuk sementara waktu dengan harapan untuk meminimalkan pelonjakan terhadap sebaran penyakit tersebut. Sehingga dunia pendidikan harus segera diadaptasi dengan kondisi yang ada. Berbagai metode dikembangkan untuk dapat terus mengajar serta diharapkan untuk tetap produktif di era seperti sekarang ini. Para pendidik disibukkan dengan mengembangkan berbagai metode pengajaran yang dapat dilaksanakan secara jarak jauh (PJJ). Pembelajaran secara daring menjadi salah satu metode yang dikembangkan saat ini.

Siswa sebagai salah satu yang merasakan dampak dari adanya pandemi ini, sangatlah dibutuhkan pendampingan orang tua dalam proses pembelajaran kesehariannya. Dibutuhkan kerja sama yang baik di antara pendidik, orang tua dan siswa. Sehingga terjadi sinkronisasi dan sinergisitas dalam memacu semangat belajar dari rumah. Tidak hanya itu, dalam kegiatan PJJ ini, sebagai guru SMK Pertanian saya juga menyelipkan inovasi untuk terus dapat produktif di rumah, misalnya memberikan wawasan kepada anak didik untuk dapat membantu menjaga ketahanan pangan keluarga dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di rumah. Misalnya saja sebagai contoh pemanfaatan limbah dapur.

Limbah dapur terdiri dari limbah plastik dan limbah organik. Untuk limbah plastik seperti plastik refill minyak goreng dapat dimanfaatkan sebagai wadah tempat tanaman atau pot tanaman. Jadi anak-anak tidak perlu membeli pot lagi sebagai tempat tanamnya, malah dapat memanfaatkan barang-barang limbah yang sudah tidak terpakai lagi. Di mana kalau limbah plastik tersebut jika dibuang ataupun dibakar dapat menyebabkan polusi terhadap lingkungan seperti polusi udara (asap).

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain limbah plastik, limbah organik yang berasal dari dapur juga memiliki potensi besar untuk terus dimanfaatkan dalam proses mendukung ketahanan pangan keluarga. Adapun proses yang dimaksud misalnya saja seperti tomat busuk, cabai merah busuk, dapat dijadikan sebagai sumber bibit atau sumber tanaman baru yang dapat kita tanam lagi. Tomat dan cabai merah besar yang sudah busuk tadi, kita semaikan kembali sehingga menjadi bibit tanaman baru untuk ditanam. Sedangkan sisa potongan sayur dapat kita jadikan sebagai pupuk organik atau dapat kita campurkan ke dalam media tanam dalam plastik refill minyak goreng tadi. Sehingga media tanam yang di dalamnya sudah diisi dengan limbah potongan sayur dapat menjadi media tanam yang kaya nutrisi dan tidak perlu diberi pupuk kimia lagi. Aneka sampah yang awalnya berpotensi menjadi polusi terhadap lingkungan, kini dapat disulap menjadi bahan yang sangat bermanfaat khususnya untuk menyokong ketahanan pangan keluarga di era pandemi seperti sekarang ini. Yang tak kalah pentingnya, tanaman yang kita produksi sendiri akan jauh lebih sehat dan alami.

*) Penulis adalah Kepala SMK AL-Hasann, Panti, Jember.

- Advertisement -

Sejak berkembangnya pandemi Covid-19 ini, banyak sekali tatanan yang mengalami perubahan. Perubahan ini dirasakan oleh banyak sektor, dan salah satu yang terkena imbasnya adalah sektor pendidikan. Berbagai aktivitas tatap muka ditiadakan untuk sementara waktu dengan harapan untuk meminimalkan pelonjakan terhadap sebaran penyakit tersebut. Sehingga dunia pendidikan harus segera diadaptasi dengan kondisi yang ada. Berbagai metode dikembangkan untuk dapat terus mengajar serta diharapkan untuk tetap produktif di era seperti sekarang ini. Para pendidik disibukkan dengan mengembangkan berbagai metode pengajaran yang dapat dilaksanakan secara jarak jauh (PJJ). Pembelajaran secara daring menjadi salah satu metode yang dikembangkan saat ini.

Siswa sebagai salah satu yang merasakan dampak dari adanya pandemi ini, sangatlah dibutuhkan pendampingan orang tua dalam proses pembelajaran kesehariannya. Dibutuhkan kerja sama yang baik di antara pendidik, orang tua dan siswa. Sehingga terjadi sinkronisasi dan sinergisitas dalam memacu semangat belajar dari rumah. Tidak hanya itu, dalam kegiatan PJJ ini, sebagai guru SMK Pertanian saya juga menyelipkan inovasi untuk terus dapat produktif di rumah, misalnya memberikan wawasan kepada anak didik untuk dapat membantu menjaga ketahanan pangan keluarga dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di rumah. Misalnya saja sebagai contoh pemanfaatan limbah dapur.

Limbah dapur terdiri dari limbah plastik dan limbah organik. Untuk limbah plastik seperti plastik refill minyak goreng dapat dimanfaatkan sebagai wadah tempat tanaman atau pot tanaman. Jadi anak-anak tidak perlu membeli pot lagi sebagai tempat tanamnya, malah dapat memanfaatkan barang-barang limbah yang sudah tidak terpakai lagi. Di mana kalau limbah plastik tersebut jika dibuang ataupun dibakar dapat menyebabkan polusi terhadap lingkungan seperti polusi udara (asap).

Selain limbah plastik, limbah organik yang berasal dari dapur juga memiliki potensi besar untuk terus dimanfaatkan dalam proses mendukung ketahanan pangan keluarga. Adapun proses yang dimaksud misalnya saja seperti tomat busuk, cabai merah busuk, dapat dijadikan sebagai sumber bibit atau sumber tanaman baru yang dapat kita tanam lagi. Tomat dan cabai merah besar yang sudah busuk tadi, kita semaikan kembali sehingga menjadi bibit tanaman baru untuk ditanam. Sedangkan sisa potongan sayur dapat kita jadikan sebagai pupuk organik atau dapat kita campurkan ke dalam media tanam dalam plastik refill minyak goreng tadi. Sehingga media tanam yang di dalamnya sudah diisi dengan limbah potongan sayur dapat menjadi media tanam yang kaya nutrisi dan tidak perlu diberi pupuk kimia lagi. Aneka sampah yang awalnya berpotensi menjadi polusi terhadap lingkungan, kini dapat disulap menjadi bahan yang sangat bermanfaat khususnya untuk menyokong ketahanan pangan keluarga di era pandemi seperti sekarang ini. Yang tak kalah pentingnya, tanaman yang kita produksi sendiri akan jauh lebih sehat dan alami.

*) Penulis adalah Kepala SMK AL-Hasann, Panti, Jember.

Mobile_AP_Half Page
Desktop_AP_Half Page

Berita Terbaru

Desktop_AP_Rectangle 1

Wajib Dibaca

UMK Sering Dinego Perusahaan

Didominasi Sisa Makanan

Penderita TBC Tembus Seribu Orang