Bukan sekadar menahan lapar dan haus. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Akan tetapi, mampu memahami secara menyuluh makna arti puasa di bulan suci. Begitu pula umat muslim dan nonmuslim mampu menghormati dalam artian luas.

Ramadan adalah (bulan) diturunkannya Alquran, sebagai panduan untuk umat manusia, juga tanda yang jelas untuk bimbingan dan penilaian (antara benar dan salah). Selanjutnya jika salah seorang dari kamu mencapai bulan itu, maka ia harus berpuasa’. Begitulah yang dijelaskan dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 185.

Ramadan identik dengan puasa, istilah puasa dalam bahasa arab ‘as-saum’ bermakna al-hifdi, menjaga, menahan dari segala yang membatalkan puasa, baik makan minum. Tetapi puasa jangan diartikan secara sempit. Sejatinya  puasa tidak hanya menahan makan-minum akan sejatinya adalah menahan dari amarah, emosi, menggunjing, menghina, memfitnah, memberikan berita bohong, dan perbuatan tercela lainnya.

Alasan mengapa bulan suci ini disebut ‘Ramadan’ adalah karena ia membakar dosa. Pada bulan Ramadan, seorang muslim yang berpuasa menahan panas karena kelaparan dan haus, menahan perbuatan tercela (gibah/menggunjing, memfitnah, menyebar berita bohong) dan panasnya puasa membakar dosa yang telah dilakukan seorang hamba, jika dalam menjalankannya benar-benar hanya mencari rida Ilahi.

Ramadan yang identik dengan puasa, sejatinya umat manusia mampu puasa (menahan/menjaga) lisan maupun perbuatan dari hal yang negatif, mampu menjaga tali persaudaraan antarsesama maupun berbeda agama, mampu memupuk rasa saling mengerti, memahami dan menghormati. Momen Ramadan adalah momen yang tepat untuk mereda, konflik yang berkepanjangan, aksi teror, kekerasan dan aksi-aksi yang tidak dibenarkan oleh agama. sejatinya Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan dan ampunan. Sejatinya Ramadan adalah momen saling memaafkan, saling menghargai, menghormati, menjaga persaudaraan, menjaga kerukunan dan keutuhan bangsa.

Dalam menjaga kerukunan, persaudaraan, dan keutuhan bangsa ini kita harus memahami lebih mendalam makna toleransi. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, toleransi berasal dari kata toleran yang berarti “bersifat” atau “bersikap menenggang” (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda. Dalam Islam, toleransi didefinisikan dengan tasamuh, yang berarti sebagai sifat atau sikap menghargai, membiarkan, membolehkan pendirian (pandangan) orang lain yang bertentangan dengan pandangan kita. Secara prinsip metodologis, toleransi adalah penerimaan terhadap yang tampak sampai kepalsuannya tersingkap. (Ngainun Naim dan Achmad Sauqi, Pendidikan multikultural).

Jika toleransi adalah hal yang selalu di gadang-gadang sebagai fondasi persatuan dan kesatuan yang telah menjadi karakteristik masyarakat kita. Akhir-akhir ini intoleransi muncul secara tiba-tiba baik di media sosial dan berita-berita harian baik cetak maupun daring, seolah-olah menyebarkan kebohongan salah satu contoh yang bisa memecah belah kerukunan antarsesama manusia.