alexametrics
28.7 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Potret Indikator Kesehatan dan Pendidikan Perempuan di Hari Ibu

Mobile_AP_Rectangle 1

“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.” Sebuah untaian lirik lagu yang menunjukkan betapa besarnya jasa seorang ibu dalam kehidupan kita. Hari Rabu 22 Desember 2021 merupakan peringatan Hari Ibu di Indonesia. Pada hari itu, berbagai ucapan sayang dan terima kasih tercurah kepada para ibu. Bahkan, berbagai macam hadiah dan perayaan kita berikan khusus untuk mengenang besarnya jasa ibu.

Ibu merupakan seorang individu yang memiliki peran sentral di dalam keluarga. Dari rahimnya lahir generasi-generasi penerus bangsa. Ibu bisa berperan sebagai manajer, pendidik, bahkan dokter di dalam keluarga. Bekerja sehari selama 24 jam dengan penuh ikhlas dan kesabaran menjadikan ibu sebagai sosok yang sangat luar biasa.

Ibu tidak pernah meminta gaji maupun cuti. Namun, kita perlu memberikan perhatian yang lebih. Indeks pembangunan manusia (IPM) memasukkan komponen pendidikan dan kesehatan dalam penghitungannya. Apakah kita sudah memberikan perhatian yang lebih terhadap pendidikan dan kesehatan para ibu? Bukankah ibu juga seorang pendidik dan dokter di dalam keluarga? Pembangunan sumber daya manusia bisa dimulai dengan peningkatan taraf kualitas pendidikan dan kesehatan para ibu. Ibu yang cerdas akan melahirkan generasi yang berkualitas. Ibu yang sehat akan melahirkan generasi yang kuat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Data-data tentang kesehatan dan pendidikan ibu dapat kita pantau melalui rilis Badan Pusat Statistik (BPS). BPS rutin menyelenggarakan kegiatan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) setiap tahunnya. Output dari kegiatan Susenas tertuang dalam publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat (Statkesra). Survei ini secara umum bertujuan untuk menyediakan data tentang kesejahteraan rumah tangga yang mencakup antara lain pendidikan, kesehatan, dan daya beli. Data-data yang dihasilkan Susenas dapat dirinci menurut jenis kelamin, kelompok umur, dan status perkawinan.

Istilah Ibu di dalam Susenas didekati dengan variabel perempuan pernah kawin (PPK). Berdasarkan data Susenas, pada tahun 2021 persentase perempuan yang mengalami keluhan Kesehatan selama sebulan terakhir adalah sebesar 28,32 persen dan lebih tinggi dari persentase laki-laki yang mengalami keluhan kesehatan selama sebulan terakhir. Perempuan yang tinggal di daerah perkotaan lebih banyak mengalami keluhan kesehatan selama sebulan terakhir (30,58 persen) dibandingkan yang tinggal di daerah perdesaan (25,43 persen). Dari sekian banyak perempuan yang mengalami keluhan kesehatan hanya sekitar 40,97 persen saja yang pergi berobat jalan.

Pemerintah telah berupaya memberikan jaminan kesehatan kepada warga negaranya melalui BPJS Kesehatan. Menurut data Susenas Maret 2021, ada sekitar 60,49 persen masyarakat yang memiliki BPJS Kesehatan. Namun, hanya sekitar 47,04 persen perempuan yang menggunakan jaminan Kesehatan (termasuk BPJS Kesehatan) untuk berobat jalan. Kesehatan seorang perempuan tentunya juga ditentukan oleh treatment kesehatan yang didapatnya sejak usai dini. Data menunjukkan bahwa 56,38 persen balita perempuan telah mendapat imunisasi lengkap dan sebagian besar pernah/masih diberi ASI. Hal itu berdampak pada angka kesakitan perempuan yang lebih rendah dibandingkan angka kesakitan laki-laki, yaitu 12,30 berbanding 13,77

Kesehatan seorang perempuan juga dapat ditinjau dari segi fertilitasnya. Pada tahun 2021, persentase perempuan usia 15-49 tahun yang pernah hamil dengan usia hamil pertama kali di atas 21 tahun adalah 55,27 persen. Sementara itu, ada 5,92 persen perempuan yang pernah hamil dengan usia hamil pertama kurang dari 16 tahun. Kehamilan pertama kali di usia muda (kurang dari 16 tahun) cenderung lebih banyak terjadi di daerah perdesaan dibandingkan daerah perkotaan dengan nilai 7,92 persen berbanding 4,30 persen. Sebagian besar perempuan umur 15-49 tahun pernah kawin yang pernah melahirkan anak lahir hidup dalam dua tahun terakhir memilih untuk melahirkan di RS/RSIA/RS Bersalin (35,10 persen) dengan persentase penolong proses kelahiran terakhir yang terbanyak adalah bidan (59,14 persen) dan dokter kandungan (34,53 persen).

- Advertisement -

“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.” Sebuah untaian lirik lagu yang menunjukkan betapa besarnya jasa seorang ibu dalam kehidupan kita. Hari Rabu 22 Desember 2021 merupakan peringatan Hari Ibu di Indonesia. Pada hari itu, berbagai ucapan sayang dan terima kasih tercurah kepada para ibu. Bahkan, berbagai macam hadiah dan perayaan kita berikan khusus untuk mengenang besarnya jasa ibu.

Ibu merupakan seorang individu yang memiliki peran sentral di dalam keluarga. Dari rahimnya lahir generasi-generasi penerus bangsa. Ibu bisa berperan sebagai manajer, pendidik, bahkan dokter di dalam keluarga. Bekerja sehari selama 24 jam dengan penuh ikhlas dan kesabaran menjadikan ibu sebagai sosok yang sangat luar biasa.

Ibu tidak pernah meminta gaji maupun cuti. Namun, kita perlu memberikan perhatian yang lebih. Indeks pembangunan manusia (IPM) memasukkan komponen pendidikan dan kesehatan dalam penghitungannya. Apakah kita sudah memberikan perhatian yang lebih terhadap pendidikan dan kesehatan para ibu? Bukankah ibu juga seorang pendidik dan dokter di dalam keluarga? Pembangunan sumber daya manusia bisa dimulai dengan peningkatan taraf kualitas pendidikan dan kesehatan para ibu. Ibu yang cerdas akan melahirkan generasi yang berkualitas. Ibu yang sehat akan melahirkan generasi yang kuat.

Data-data tentang kesehatan dan pendidikan ibu dapat kita pantau melalui rilis Badan Pusat Statistik (BPS). BPS rutin menyelenggarakan kegiatan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) setiap tahunnya. Output dari kegiatan Susenas tertuang dalam publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat (Statkesra). Survei ini secara umum bertujuan untuk menyediakan data tentang kesejahteraan rumah tangga yang mencakup antara lain pendidikan, kesehatan, dan daya beli. Data-data yang dihasilkan Susenas dapat dirinci menurut jenis kelamin, kelompok umur, dan status perkawinan.

Istilah Ibu di dalam Susenas didekati dengan variabel perempuan pernah kawin (PPK). Berdasarkan data Susenas, pada tahun 2021 persentase perempuan yang mengalami keluhan Kesehatan selama sebulan terakhir adalah sebesar 28,32 persen dan lebih tinggi dari persentase laki-laki yang mengalami keluhan kesehatan selama sebulan terakhir. Perempuan yang tinggal di daerah perkotaan lebih banyak mengalami keluhan kesehatan selama sebulan terakhir (30,58 persen) dibandingkan yang tinggal di daerah perdesaan (25,43 persen). Dari sekian banyak perempuan yang mengalami keluhan kesehatan hanya sekitar 40,97 persen saja yang pergi berobat jalan.

Pemerintah telah berupaya memberikan jaminan kesehatan kepada warga negaranya melalui BPJS Kesehatan. Menurut data Susenas Maret 2021, ada sekitar 60,49 persen masyarakat yang memiliki BPJS Kesehatan. Namun, hanya sekitar 47,04 persen perempuan yang menggunakan jaminan Kesehatan (termasuk BPJS Kesehatan) untuk berobat jalan. Kesehatan seorang perempuan tentunya juga ditentukan oleh treatment kesehatan yang didapatnya sejak usai dini. Data menunjukkan bahwa 56,38 persen balita perempuan telah mendapat imunisasi lengkap dan sebagian besar pernah/masih diberi ASI. Hal itu berdampak pada angka kesakitan perempuan yang lebih rendah dibandingkan angka kesakitan laki-laki, yaitu 12,30 berbanding 13,77

Kesehatan seorang perempuan juga dapat ditinjau dari segi fertilitasnya. Pada tahun 2021, persentase perempuan usia 15-49 tahun yang pernah hamil dengan usia hamil pertama kali di atas 21 tahun adalah 55,27 persen. Sementara itu, ada 5,92 persen perempuan yang pernah hamil dengan usia hamil pertama kurang dari 16 tahun. Kehamilan pertama kali di usia muda (kurang dari 16 tahun) cenderung lebih banyak terjadi di daerah perdesaan dibandingkan daerah perkotaan dengan nilai 7,92 persen berbanding 4,30 persen. Sebagian besar perempuan umur 15-49 tahun pernah kawin yang pernah melahirkan anak lahir hidup dalam dua tahun terakhir memilih untuk melahirkan di RS/RSIA/RS Bersalin (35,10 persen) dengan persentase penolong proses kelahiran terakhir yang terbanyak adalah bidan (59,14 persen) dan dokter kandungan (34,53 persen).

“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.” Sebuah untaian lirik lagu yang menunjukkan betapa besarnya jasa seorang ibu dalam kehidupan kita. Hari Rabu 22 Desember 2021 merupakan peringatan Hari Ibu di Indonesia. Pada hari itu, berbagai ucapan sayang dan terima kasih tercurah kepada para ibu. Bahkan, berbagai macam hadiah dan perayaan kita berikan khusus untuk mengenang besarnya jasa ibu.

Ibu merupakan seorang individu yang memiliki peran sentral di dalam keluarga. Dari rahimnya lahir generasi-generasi penerus bangsa. Ibu bisa berperan sebagai manajer, pendidik, bahkan dokter di dalam keluarga. Bekerja sehari selama 24 jam dengan penuh ikhlas dan kesabaran menjadikan ibu sebagai sosok yang sangat luar biasa.

Ibu tidak pernah meminta gaji maupun cuti. Namun, kita perlu memberikan perhatian yang lebih. Indeks pembangunan manusia (IPM) memasukkan komponen pendidikan dan kesehatan dalam penghitungannya. Apakah kita sudah memberikan perhatian yang lebih terhadap pendidikan dan kesehatan para ibu? Bukankah ibu juga seorang pendidik dan dokter di dalam keluarga? Pembangunan sumber daya manusia bisa dimulai dengan peningkatan taraf kualitas pendidikan dan kesehatan para ibu. Ibu yang cerdas akan melahirkan generasi yang berkualitas. Ibu yang sehat akan melahirkan generasi yang kuat.

Data-data tentang kesehatan dan pendidikan ibu dapat kita pantau melalui rilis Badan Pusat Statistik (BPS). BPS rutin menyelenggarakan kegiatan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) setiap tahunnya. Output dari kegiatan Susenas tertuang dalam publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat (Statkesra). Survei ini secara umum bertujuan untuk menyediakan data tentang kesejahteraan rumah tangga yang mencakup antara lain pendidikan, kesehatan, dan daya beli. Data-data yang dihasilkan Susenas dapat dirinci menurut jenis kelamin, kelompok umur, dan status perkawinan.

Istilah Ibu di dalam Susenas didekati dengan variabel perempuan pernah kawin (PPK). Berdasarkan data Susenas, pada tahun 2021 persentase perempuan yang mengalami keluhan Kesehatan selama sebulan terakhir adalah sebesar 28,32 persen dan lebih tinggi dari persentase laki-laki yang mengalami keluhan kesehatan selama sebulan terakhir. Perempuan yang tinggal di daerah perkotaan lebih banyak mengalami keluhan kesehatan selama sebulan terakhir (30,58 persen) dibandingkan yang tinggal di daerah perdesaan (25,43 persen). Dari sekian banyak perempuan yang mengalami keluhan kesehatan hanya sekitar 40,97 persen saja yang pergi berobat jalan.

Pemerintah telah berupaya memberikan jaminan kesehatan kepada warga negaranya melalui BPJS Kesehatan. Menurut data Susenas Maret 2021, ada sekitar 60,49 persen masyarakat yang memiliki BPJS Kesehatan. Namun, hanya sekitar 47,04 persen perempuan yang menggunakan jaminan Kesehatan (termasuk BPJS Kesehatan) untuk berobat jalan. Kesehatan seorang perempuan tentunya juga ditentukan oleh treatment kesehatan yang didapatnya sejak usai dini. Data menunjukkan bahwa 56,38 persen balita perempuan telah mendapat imunisasi lengkap dan sebagian besar pernah/masih diberi ASI. Hal itu berdampak pada angka kesakitan perempuan yang lebih rendah dibandingkan angka kesakitan laki-laki, yaitu 12,30 berbanding 13,77

Kesehatan seorang perempuan juga dapat ditinjau dari segi fertilitasnya. Pada tahun 2021, persentase perempuan usia 15-49 tahun yang pernah hamil dengan usia hamil pertama kali di atas 21 tahun adalah 55,27 persen. Sementara itu, ada 5,92 persen perempuan yang pernah hamil dengan usia hamil pertama kurang dari 16 tahun. Kehamilan pertama kali di usia muda (kurang dari 16 tahun) cenderung lebih banyak terjadi di daerah perdesaan dibandingkan daerah perkotaan dengan nilai 7,92 persen berbanding 4,30 persen. Sebagian besar perempuan umur 15-49 tahun pernah kawin yang pernah melahirkan anak lahir hidup dalam dua tahun terakhir memilih untuk melahirkan di RS/RSIA/RS Bersalin (35,10 persen) dengan persentase penolong proses kelahiran terakhir yang terbanyak adalah bidan (59,14 persen) dan dokter kandungan (34,53 persen).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/