alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Membangun Sekolah Menyenangkan

Mobile_AP_Rectangle 1

Dialog imajiner yang dilakukan oleh founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), diterjemahkan oleh Mas Menteri Nadiem Makarim dengan kebijakan merdeka belajar. Ini menarik sekali untuk melihat wajah baru pendidikan Indonesia yang dikembalikan pada founding fathers pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswa-nya. GSM merupakan gerakan perubahan dari akar rumput yang melibatkan guru dan masyarakat untuk melakukan transformasi terhadap sekolah agar menjadi tempat yang dirindu siswa, sehingga siswa leluasa dalam mengembangkan bakat, passion, penalaran dan talenta terbaik mereka. GSM diyakini menyimpan sebuah energi besar yang mencerahkan, meneduhkan, sekaligus mencerdaskan atas kegersangan dunia pendidikan yang telah sekian lama digempur pandemi Covid-19.

Gagasan cemerlang GSM yang terlahir dari pasangan penuh cinta Muhammad Nur Rizal dan Novi Poespita Candra tersebut membangun kesadaran para guru, kepala sekolah, dan pemangku kebijakan pendidikan untuk membangun sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi peserta didik untuk belajar ilmu pengetahuan dan mengasah keterampilan hidup sesuai dengan kodratnya. Seperti yang dipesankan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan merupakan kunci pembangunan sebuah bangsa. Pendidikan dilakukan melalui usaha menuntun segenap kekuatan kodrat yang dimiliki anak, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan (raganya) dan kebahagiaan (jiwanya) setinggi-tingginya.

Tujuan pendidikan dalam semangat GSM tentu saja bukan hanya soal upaya guru berhasil melakukan pencapaian kurikulum dan peserta didik mendapatkan nilai bagus, ijazah bernilai tinggi, dan menggunakan ijazahnya tersebut untuk mencari kerja. Akan tetapi, GSM pada dasarnya merupakan platform perubahan terciptanya ekosistem baru pada lembaga pendidikan. Upaya menciptakan ekosistem baru tersebut tentu saja dibutuhkan peran kepala sekolah. Pada lembaga pendidikan SMK, karakter kuat yang dimiliki kepala sekolah, baik sebagai motivator, inovator, organizing dan controlling dalam pelaksanaan pembelajarannya mampu mewujudkan agen perubahan menuju arah penciptaan ekosistem pembelajaran yang menarik dan nyaman melalui pengembangan karakter (soft skill).

Mobile_AP_Rectangle 2

Kunci keberhasilan membangun gerakan sekolah yang menyenangkan tentunya harus berawal dari kepemimpinan kepala sekolah yang visioner. Konsep kepemimpinan visioner merujuk pada teori yang dikembangkan oleh Nanus (1992), yang menegaskan bahwa kepemimpinan visioner bekerja dalam empat pilar yaitu: (1) penentu arah yang mengerahkan perilaku-perilaku bawahan ke arah yang diinginkan; (2) agen perubahan yang merangsang perubahan lingkungan dan agenda kerja yang jelas dan rasional; (3) juru bicara yang meyakinkan orang dalam kelompok internal untuk mendapat akses dari luar, memperkenalkan dan menyosialisasikan keunggulan dan visi organisasi yang berimplikasi terhadap kemajuan organisasi; (4) pelatih yang sabar dan mejadi suri teladan sehingga memberi semangat, membantu para bawahan belajar dan tumbuh, membangun kepercayaan diri, membantu meningkatkan kemampuan mereka mencapai visi secara konstan.

Kepemimpinan kepala sekolah yang visioner tersebut pada akhirnya akan mampu menciptakan dan menggerakkan guru-guru penggerak dalam upaya menciptakan perubahan-perubahan menuju ekosistem yang lebih baik di sekolahnya. Guru merupakan garda terdepan proses pembelajaran di sekolah, di mana para guru itulah yang akan bersentuhan langsung dengan peserta didik dan memulai perubahan. Sehingga, dalam GSM perubahan mindset para pendidik menjadi kunci utama kesuksesan menuju sekolah menyenangkan dengan terwujudnya ekosistem baru sekolah yang penuh kebahagiaan. Guru harus mempunyai kebahagiaan untuk mengubah metode, model, strategi, dan taktik pembelajaran kepada siswa menjadi lebih menyenangkan. Melakukan transformasi dari metode pembelajaran teacher centered menjadi student centered, sebuah langkah yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan.

Prinsip mendasar GSM yang harus dipegang kuat oleh guru adalah kewajiban mengembangkan peserta didik sesuai dengan karakter peserta didik dan karakter lingkungan budaya setempat dengan tujuan agar peserta didik dapat menguasai dirinya sendiri. Guru sangat disarankan untuk menggunakan metode among yang dilahirkan oleh Ki Hajar Dewantara. Metode among merupakan suatu metode yang berlandaskan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Metode ini bersendikan pada dua hal yaitu kodrat alam dan kemerdekaan. Kodrat alam bertujuan untuk mencapai sebuah cita-cita secara sebaik mungkin. Kemerdekaan sebagai tujuan untuk menggerakkan seluruh kemampuan untuk bertahan hidup secara mandiri.

- Advertisement -

Dialog imajiner yang dilakukan oleh founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), diterjemahkan oleh Mas Menteri Nadiem Makarim dengan kebijakan merdeka belajar. Ini menarik sekali untuk melihat wajah baru pendidikan Indonesia yang dikembalikan pada founding fathers pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswa-nya. GSM merupakan gerakan perubahan dari akar rumput yang melibatkan guru dan masyarakat untuk melakukan transformasi terhadap sekolah agar menjadi tempat yang dirindu siswa, sehingga siswa leluasa dalam mengembangkan bakat, passion, penalaran dan talenta terbaik mereka. GSM diyakini menyimpan sebuah energi besar yang mencerahkan, meneduhkan, sekaligus mencerdaskan atas kegersangan dunia pendidikan yang telah sekian lama digempur pandemi Covid-19.

Gagasan cemerlang GSM yang terlahir dari pasangan penuh cinta Muhammad Nur Rizal dan Novi Poespita Candra tersebut membangun kesadaran para guru, kepala sekolah, dan pemangku kebijakan pendidikan untuk membangun sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi peserta didik untuk belajar ilmu pengetahuan dan mengasah keterampilan hidup sesuai dengan kodratnya. Seperti yang dipesankan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan merupakan kunci pembangunan sebuah bangsa. Pendidikan dilakukan melalui usaha menuntun segenap kekuatan kodrat yang dimiliki anak, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan (raganya) dan kebahagiaan (jiwanya) setinggi-tingginya.

Tujuan pendidikan dalam semangat GSM tentu saja bukan hanya soal upaya guru berhasil melakukan pencapaian kurikulum dan peserta didik mendapatkan nilai bagus, ijazah bernilai tinggi, dan menggunakan ijazahnya tersebut untuk mencari kerja. Akan tetapi, GSM pada dasarnya merupakan platform perubahan terciptanya ekosistem baru pada lembaga pendidikan. Upaya menciptakan ekosistem baru tersebut tentu saja dibutuhkan peran kepala sekolah. Pada lembaga pendidikan SMK, karakter kuat yang dimiliki kepala sekolah, baik sebagai motivator, inovator, organizing dan controlling dalam pelaksanaan pembelajarannya mampu mewujudkan agen perubahan menuju arah penciptaan ekosistem pembelajaran yang menarik dan nyaman melalui pengembangan karakter (soft skill).

Kunci keberhasilan membangun gerakan sekolah yang menyenangkan tentunya harus berawal dari kepemimpinan kepala sekolah yang visioner. Konsep kepemimpinan visioner merujuk pada teori yang dikembangkan oleh Nanus (1992), yang menegaskan bahwa kepemimpinan visioner bekerja dalam empat pilar yaitu: (1) penentu arah yang mengerahkan perilaku-perilaku bawahan ke arah yang diinginkan; (2) agen perubahan yang merangsang perubahan lingkungan dan agenda kerja yang jelas dan rasional; (3) juru bicara yang meyakinkan orang dalam kelompok internal untuk mendapat akses dari luar, memperkenalkan dan menyosialisasikan keunggulan dan visi organisasi yang berimplikasi terhadap kemajuan organisasi; (4) pelatih yang sabar dan mejadi suri teladan sehingga memberi semangat, membantu para bawahan belajar dan tumbuh, membangun kepercayaan diri, membantu meningkatkan kemampuan mereka mencapai visi secara konstan.

Kepemimpinan kepala sekolah yang visioner tersebut pada akhirnya akan mampu menciptakan dan menggerakkan guru-guru penggerak dalam upaya menciptakan perubahan-perubahan menuju ekosistem yang lebih baik di sekolahnya. Guru merupakan garda terdepan proses pembelajaran di sekolah, di mana para guru itulah yang akan bersentuhan langsung dengan peserta didik dan memulai perubahan. Sehingga, dalam GSM perubahan mindset para pendidik menjadi kunci utama kesuksesan menuju sekolah menyenangkan dengan terwujudnya ekosistem baru sekolah yang penuh kebahagiaan. Guru harus mempunyai kebahagiaan untuk mengubah metode, model, strategi, dan taktik pembelajaran kepada siswa menjadi lebih menyenangkan. Melakukan transformasi dari metode pembelajaran teacher centered menjadi student centered, sebuah langkah yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan.

Prinsip mendasar GSM yang harus dipegang kuat oleh guru adalah kewajiban mengembangkan peserta didik sesuai dengan karakter peserta didik dan karakter lingkungan budaya setempat dengan tujuan agar peserta didik dapat menguasai dirinya sendiri. Guru sangat disarankan untuk menggunakan metode among yang dilahirkan oleh Ki Hajar Dewantara. Metode among merupakan suatu metode yang berlandaskan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Metode ini bersendikan pada dua hal yaitu kodrat alam dan kemerdekaan. Kodrat alam bertujuan untuk mencapai sebuah cita-cita secara sebaik mungkin. Kemerdekaan sebagai tujuan untuk menggerakkan seluruh kemampuan untuk bertahan hidup secara mandiri.

Dialog imajiner yang dilakukan oleh founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), diterjemahkan oleh Mas Menteri Nadiem Makarim dengan kebijakan merdeka belajar. Ini menarik sekali untuk melihat wajah baru pendidikan Indonesia yang dikembalikan pada founding fathers pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswa-nya. GSM merupakan gerakan perubahan dari akar rumput yang melibatkan guru dan masyarakat untuk melakukan transformasi terhadap sekolah agar menjadi tempat yang dirindu siswa, sehingga siswa leluasa dalam mengembangkan bakat, passion, penalaran dan talenta terbaik mereka. GSM diyakini menyimpan sebuah energi besar yang mencerahkan, meneduhkan, sekaligus mencerdaskan atas kegersangan dunia pendidikan yang telah sekian lama digempur pandemi Covid-19.

Gagasan cemerlang GSM yang terlahir dari pasangan penuh cinta Muhammad Nur Rizal dan Novi Poespita Candra tersebut membangun kesadaran para guru, kepala sekolah, dan pemangku kebijakan pendidikan untuk membangun sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi peserta didik untuk belajar ilmu pengetahuan dan mengasah keterampilan hidup sesuai dengan kodratnya. Seperti yang dipesankan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan merupakan kunci pembangunan sebuah bangsa. Pendidikan dilakukan melalui usaha menuntun segenap kekuatan kodrat yang dimiliki anak, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan (raganya) dan kebahagiaan (jiwanya) setinggi-tingginya.

Tujuan pendidikan dalam semangat GSM tentu saja bukan hanya soal upaya guru berhasil melakukan pencapaian kurikulum dan peserta didik mendapatkan nilai bagus, ijazah bernilai tinggi, dan menggunakan ijazahnya tersebut untuk mencari kerja. Akan tetapi, GSM pada dasarnya merupakan platform perubahan terciptanya ekosistem baru pada lembaga pendidikan. Upaya menciptakan ekosistem baru tersebut tentu saja dibutuhkan peran kepala sekolah. Pada lembaga pendidikan SMK, karakter kuat yang dimiliki kepala sekolah, baik sebagai motivator, inovator, organizing dan controlling dalam pelaksanaan pembelajarannya mampu mewujudkan agen perubahan menuju arah penciptaan ekosistem pembelajaran yang menarik dan nyaman melalui pengembangan karakter (soft skill).

Kunci keberhasilan membangun gerakan sekolah yang menyenangkan tentunya harus berawal dari kepemimpinan kepala sekolah yang visioner. Konsep kepemimpinan visioner merujuk pada teori yang dikembangkan oleh Nanus (1992), yang menegaskan bahwa kepemimpinan visioner bekerja dalam empat pilar yaitu: (1) penentu arah yang mengerahkan perilaku-perilaku bawahan ke arah yang diinginkan; (2) agen perubahan yang merangsang perubahan lingkungan dan agenda kerja yang jelas dan rasional; (3) juru bicara yang meyakinkan orang dalam kelompok internal untuk mendapat akses dari luar, memperkenalkan dan menyosialisasikan keunggulan dan visi organisasi yang berimplikasi terhadap kemajuan organisasi; (4) pelatih yang sabar dan mejadi suri teladan sehingga memberi semangat, membantu para bawahan belajar dan tumbuh, membangun kepercayaan diri, membantu meningkatkan kemampuan mereka mencapai visi secara konstan.

Kepemimpinan kepala sekolah yang visioner tersebut pada akhirnya akan mampu menciptakan dan menggerakkan guru-guru penggerak dalam upaya menciptakan perubahan-perubahan menuju ekosistem yang lebih baik di sekolahnya. Guru merupakan garda terdepan proses pembelajaran di sekolah, di mana para guru itulah yang akan bersentuhan langsung dengan peserta didik dan memulai perubahan. Sehingga, dalam GSM perubahan mindset para pendidik menjadi kunci utama kesuksesan menuju sekolah menyenangkan dengan terwujudnya ekosistem baru sekolah yang penuh kebahagiaan. Guru harus mempunyai kebahagiaan untuk mengubah metode, model, strategi, dan taktik pembelajaran kepada siswa menjadi lebih menyenangkan. Melakukan transformasi dari metode pembelajaran teacher centered menjadi student centered, sebuah langkah yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan.

Prinsip mendasar GSM yang harus dipegang kuat oleh guru adalah kewajiban mengembangkan peserta didik sesuai dengan karakter peserta didik dan karakter lingkungan budaya setempat dengan tujuan agar peserta didik dapat menguasai dirinya sendiri. Guru sangat disarankan untuk menggunakan metode among yang dilahirkan oleh Ki Hajar Dewantara. Metode among merupakan suatu metode yang berlandaskan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Metode ini bersendikan pada dua hal yaitu kodrat alam dan kemerdekaan. Kodrat alam bertujuan untuk mencapai sebuah cita-cita secara sebaik mungkin. Kemerdekaan sebagai tujuan untuk menggerakkan seluruh kemampuan untuk bertahan hidup secara mandiri.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/