alexametrics
22.8 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Biarkan Milenial Jember Mencari Tuhannya

Mobile_AP_Rectangle 1

‘Konser Langit Digagalkan”. Demikian Jawa Pos Radar Jember melansir judul beritanya (Jumat, 22 Juli 2022). Otoritas Jember menolak dengan alasan personal Ustadz Hanan Attaki (UHA). Disinyalir, UHA merupakan seorang ustadz yang berafiliasi pada HTI. Penolakan serupa juga terjadi di Gresik yang juga berencana menggelar Konser Langit UHA pada akhir Juli. Alasan relatif sama. Sementara, menghadapi tudingan dimaksud, Ustad Hutri sebagai perwakilan panita penyelenggara Konser Langit di Jember dalam berita, tudingan semacam itu adalah fitnah.

Siapakah UHA ? UHA adalah seorang pendakwah Indonesia. Representasi ustadz muda. Kelahiran Aceh. Berceramah dengan gaya muda. Materi ceramahnyapun seputar  keseharian orang muda. Aktif berdakwah di komunitas muda. Sasaran segmen ceramahnya eksklusive. Komunitas anak punkgeng motorskateboardsepeda BMXparkour, dan berbagai komunitas hobi lainnya. Termasuk mahasiswa. Ia menjadi populer di kalangan anak muda sebab kajian yang dibawakan menarik dan penyampaiannya gampang dipahami. UHA adalah figur yang cerdas. Jebolan Universitas Al-Azhar berkat beasiswa. Pada tahun 2005, Hanan sempat terpilih sebagai qori terbaik Fajar TV, Kairo serta mengisi acara tilawah di channel Fajar TV dan Iqro TV. Atas dasar kompetensi ilmu, reputasi, dan metode ceramah yang dimiliki, tidak heran jika UHA menjadi simbol komunitas religius milenial. UHA menjadi milik milenial.

Jika dalih penolakan sebagaimana ungkapan Gus Firjaun,…’karena masyarakat Jember belum mengenal UHA….’ Justru Konser Langit UHA ini merupakan wahana untuk mengenalkannya. UHA bukan pertama kali berceramah di Jember. Beberapa waktu lalu, juga berdakwah di salah satu hotel di Jember. Animo milenial cukup tinggi. Bahkan dibuat menjadi lebih dari satu sesi. Karena itu penolakan terhadap UHA kali ini membuka ruang pertanyaan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pernyataan ‘Menolak’ Konser Langit Ustadz Hanan Attaki’ sama halnya melarang. Diksi ‘Menolak’ memberikan makna meniadakan kegiatan. Meniadakan kegiatan sama halnya menghalangi terwujudnya aksi atas dasar pendapat sebagai manifestasi dari inisiatif, gagasan berpikir, menentukan, hingga memilih. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa menolak dalam konteks Konser Langit UHA di Jember ini merupakan wujud perampasan selera publik. Sungguh sangat disayangkan dan membuat orang mengelus dada karena larangan dimaksud menjadi aksi otoritatif yang seharusnya tidak perlu terjadi. Kalaupun larangan ini muncul karena problem perijinan, tidak menjadi soal karena administrasi adalah soal teknis instansional. Namun jika hanya asumsi yang cenderung menggores asas praduga tidak bersalah(presumption of Innocence) pada diri UHA dan menegasikan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang baik (AAUB) dalam memberikan pelayanan publik, maka keputusan demikian justru menjadi preseden buruk dalam upaya membangun atmosfir religiusitas.

Dalam perspektif konstitusi, tidak ada alasan rasional bagi otoritas setempat untuk mengeluarkan larangan itu. Masyarakat Jember memiliki hak untuk berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat…..(Pasal 28E);  Berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum….(Pasal 28D); Berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya…..(Pasal 28F).

Hanya hukum yang bisa menghalangi seseorang, siapapun itu guna menjalankan tugas profesionalnya. Apalagi pendakwah. Hingga kini, tidak ada satupun Putusan Pengadilan yang menyatakan bahwa seorang UHA dibatasi hak-hak keperdataannya karena menjalani sanksi pidana. UHA adalah manusia yang lekat dengan Hak Asasinya. Bebas memberikan pendapat berupa materi syi’arnya. Sementara penyelenggara negara yang direpresentasikan sebagai otoritas, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Jember secara moral, hukum dan fungsional dituntut tegas mewujudkan Kewajiban Asasinya. ’

Ahli demografi, William Strauss dan Neil Howe, pencetus istilah milenial, mendefinisikan milenial sebagai anak-anak yang lahir di tahun antara 1982 hingga 2004. Generasi milenial berwawasan sipil dengan empati yang kuat pada komunitas lokal maupun global. Spesial, terlindungi, percaya diri, memiliki wawasan kelompok, digitalisasi, tahan terhadap tekanan, serta selalu mengejar pencapaian.

- Advertisement -

‘Konser Langit Digagalkan”. Demikian Jawa Pos Radar Jember melansir judul beritanya (Jumat, 22 Juli 2022). Otoritas Jember menolak dengan alasan personal Ustadz Hanan Attaki (UHA). Disinyalir, UHA merupakan seorang ustadz yang berafiliasi pada HTI. Penolakan serupa juga terjadi di Gresik yang juga berencana menggelar Konser Langit UHA pada akhir Juli. Alasan relatif sama. Sementara, menghadapi tudingan dimaksud, Ustad Hutri sebagai perwakilan panita penyelenggara Konser Langit di Jember dalam berita, tudingan semacam itu adalah fitnah.

Siapakah UHA ? UHA adalah seorang pendakwah Indonesia. Representasi ustadz muda. Kelahiran Aceh. Berceramah dengan gaya muda. Materi ceramahnyapun seputar  keseharian orang muda. Aktif berdakwah di komunitas muda. Sasaran segmen ceramahnya eksklusive. Komunitas anak punkgeng motorskateboardsepeda BMXparkour, dan berbagai komunitas hobi lainnya. Termasuk mahasiswa. Ia menjadi populer di kalangan anak muda sebab kajian yang dibawakan menarik dan penyampaiannya gampang dipahami. UHA adalah figur yang cerdas. Jebolan Universitas Al-Azhar berkat beasiswa. Pada tahun 2005, Hanan sempat terpilih sebagai qori terbaik Fajar TV, Kairo serta mengisi acara tilawah di channel Fajar TV dan Iqro TV. Atas dasar kompetensi ilmu, reputasi, dan metode ceramah yang dimiliki, tidak heran jika UHA menjadi simbol komunitas religius milenial. UHA menjadi milik milenial.

Jika dalih penolakan sebagaimana ungkapan Gus Firjaun,…’karena masyarakat Jember belum mengenal UHA….’ Justru Konser Langit UHA ini merupakan wahana untuk mengenalkannya. UHA bukan pertama kali berceramah di Jember. Beberapa waktu lalu, juga berdakwah di salah satu hotel di Jember. Animo milenial cukup tinggi. Bahkan dibuat menjadi lebih dari satu sesi. Karena itu penolakan terhadap UHA kali ini membuka ruang pertanyaan.

Pernyataan ‘Menolak’ Konser Langit Ustadz Hanan Attaki’ sama halnya melarang. Diksi ‘Menolak’ memberikan makna meniadakan kegiatan. Meniadakan kegiatan sama halnya menghalangi terwujudnya aksi atas dasar pendapat sebagai manifestasi dari inisiatif, gagasan berpikir, menentukan, hingga memilih. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa menolak dalam konteks Konser Langit UHA di Jember ini merupakan wujud perampasan selera publik. Sungguh sangat disayangkan dan membuat orang mengelus dada karena larangan dimaksud menjadi aksi otoritatif yang seharusnya tidak perlu terjadi. Kalaupun larangan ini muncul karena problem perijinan, tidak menjadi soal karena administrasi adalah soal teknis instansional. Namun jika hanya asumsi yang cenderung menggores asas praduga tidak bersalah(presumption of Innocence) pada diri UHA dan menegasikan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang baik (AAUB) dalam memberikan pelayanan publik, maka keputusan demikian justru menjadi preseden buruk dalam upaya membangun atmosfir religiusitas.

Dalam perspektif konstitusi, tidak ada alasan rasional bagi otoritas setempat untuk mengeluarkan larangan itu. Masyarakat Jember memiliki hak untuk berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat…..(Pasal 28E);  Berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum….(Pasal 28D); Berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya…..(Pasal 28F).

Hanya hukum yang bisa menghalangi seseorang, siapapun itu guna menjalankan tugas profesionalnya. Apalagi pendakwah. Hingga kini, tidak ada satupun Putusan Pengadilan yang menyatakan bahwa seorang UHA dibatasi hak-hak keperdataannya karena menjalani sanksi pidana. UHA adalah manusia yang lekat dengan Hak Asasinya. Bebas memberikan pendapat berupa materi syi’arnya. Sementara penyelenggara negara yang direpresentasikan sebagai otoritas, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Jember secara moral, hukum dan fungsional dituntut tegas mewujudkan Kewajiban Asasinya. ’

Ahli demografi, William Strauss dan Neil Howe, pencetus istilah milenial, mendefinisikan milenial sebagai anak-anak yang lahir di tahun antara 1982 hingga 2004. Generasi milenial berwawasan sipil dengan empati yang kuat pada komunitas lokal maupun global. Spesial, terlindungi, percaya diri, memiliki wawasan kelompok, digitalisasi, tahan terhadap tekanan, serta selalu mengejar pencapaian.

‘Konser Langit Digagalkan”. Demikian Jawa Pos Radar Jember melansir judul beritanya (Jumat, 22 Juli 2022). Otoritas Jember menolak dengan alasan personal Ustadz Hanan Attaki (UHA). Disinyalir, UHA merupakan seorang ustadz yang berafiliasi pada HTI. Penolakan serupa juga terjadi di Gresik yang juga berencana menggelar Konser Langit UHA pada akhir Juli. Alasan relatif sama. Sementara, menghadapi tudingan dimaksud, Ustad Hutri sebagai perwakilan panita penyelenggara Konser Langit di Jember dalam berita, tudingan semacam itu adalah fitnah.

Siapakah UHA ? UHA adalah seorang pendakwah Indonesia. Representasi ustadz muda. Kelahiran Aceh. Berceramah dengan gaya muda. Materi ceramahnyapun seputar  keseharian orang muda. Aktif berdakwah di komunitas muda. Sasaran segmen ceramahnya eksklusive. Komunitas anak punkgeng motorskateboardsepeda BMXparkour, dan berbagai komunitas hobi lainnya. Termasuk mahasiswa. Ia menjadi populer di kalangan anak muda sebab kajian yang dibawakan menarik dan penyampaiannya gampang dipahami. UHA adalah figur yang cerdas. Jebolan Universitas Al-Azhar berkat beasiswa. Pada tahun 2005, Hanan sempat terpilih sebagai qori terbaik Fajar TV, Kairo serta mengisi acara tilawah di channel Fajar TV dan Iqro TV. Atas dasar kompetensi ilmu, reputasi, dan metode ceramah yang dimiliki, tidak heran jika UHA menjadi simbol komunitas religius milenial. UHA menjadi milik milenial.

Jika dalih penolakan sebagaimana ungkapan Gus Firjaun,…’karena masyarakat Jember belum mengenal UHA….’ Justru Konser Langit UHA ini merupakan wahana untuk mengenalkannya. UHA bukan pertama kali berceramah di Jember. Beberapa waktu lalu, juga berdakwah di salah satu hotel di Jember. Animo milenial cukup tinggi. Bahkan dibuat menjadi lebih dari satu sesi. Karena itu penolakan terhadap UHA kali ini membuka ruang pertanyaan.

Pernyataan ‘Menolak’ Konser Langit Ustadz Hanan Attaki’ sama halnya melarang. Diksi ‘Menolak’ memberikan makna meniadakan kegiatan. Meniadakan kegiatan sama halnya menghalangi terwujudnya aksi atas dasar pendapat sebagai manifestasi dari inisiatif, gagasan berpikir, menentukan, hingga memilih. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa menolak dalam konteks Konser Langit UHA di Jember ini merupakan wujud perampasan selera publik. Sungguh sangat disayangkan dan membuat orang mengelus dada karena larangan dimaksud menjadi aksi otoritatif yang seharusnya tidak perlu terjadi. Kalaupun larangan ini muncul karena problem perijinan, tidak menjadi soal karena administrasi adalah soal teknis instansional. Namun jika hanya asumsi yang cenderung menggores asas praduga tidak bersalah(presumption of Innocence) pada diri UHA dan menegasikan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang baik (AAUB) dalam memberikan pelayanan publik, maka keputusan demikian justru menjadi preseden buruk dalam upaya membangun atmosfir religiusitas.

Dalam perspektif konstitusi, tidak ada alasan rasional bagi otoritas setempat untuk mengeluarkan larangan itu. Masyarakat Jember memiliki hak untuk berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat…..(Pasal 28E);  Berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum….(Pasal 28D); Berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya…..(Pasal 28F).

Hanya hukum yang bisa menghalangi seseorang, siapapun itu guna menjalankan tugas profesionalnya. Apalagi pendakwah. Hingga kini, tidak ada satupun Putusan Pengadilan yang menyatakan bahwa seorang UHA dibatasi hak-hak keperdataannya karena menjalani sanksi pidana. UHA adalah manusia yang lekat dengan Hak Asasinya. Bebas memberikan pendapat berupa materi syi’arnya. Sementara penyelenggara negara yang direpresentasikan sebagai otoritas, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Jember secara moral, hukum dan fungsional dituntut tegas mewujudkan Kewajiban Asasinya. ’

Ahli demografi, William Strauss dan Neil Howe, pencetus istilah milenial, mendefinisikan milenial sebagai anak-anak yang lahir di tahun antara 1982 hingga 2004. Generasi milenial berwawasan sipil dengan empati yang kuat pada komunitas lokal maupun global. Spesial, terlindungi, percaya diri, memiliki wawasan kelompok, digitalisasi, tahan terhadap tekanan, serta selalu mengejar pencapaian.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/