alexametrics
27.5 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Menyembelih (Adu) Domba

Mobile_AP_Rectangle 1

Perayaan Idul Adha 1442 Hijriah masih dalam kondisi pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019). Banyak pesta, seremonial ritual agama harus ditiadakan atau tetap berjalan dengan protokol kesehatan. Kasus positif hampir menyentuh angka 3 juta. Mahkluk mikroskopis penghuni baru di bumi telah mengubah segalanya.

Di awal 2021, kasus di Indonesia sempat menurun. Banyak orang optimistis, negeri dengan penduduk 271 juta ini akan segera melewati masa ‘sakit’ yang berkepanjangan. Ternyata tidak. Korona hanya landai sejenak. Dia kemudian bermutasi menjadi varian-varian baru yang semakin menggila. Virus ‘beranak-pinak’ untuk mempertahankan diri. Ada jenis Alfa, Beta, Gamma, Delta, Lambda, dan Kappa. Semoga tak muncul mutan baru dari mahkluk ini.

Penting diketahui bahwa ada jenis baru yang orang jarang menyadari keberadaannya. Padahal lebih berbahaya dari ‘cucu-cucu’ korona tadi. Namanya infodemik, yakni wabah virus hoax atau kabar bohong yang menyertai kasus Covid-19.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kecepatan infeksi wabah ini melebihi korona. Anehnya, orang yang terjangkit tak merasakan gejala apa pun. Padahal kondisinya bisa saja sudah sangat akut. Media penularan infodemik paling efektif adalah media sosial. Baik Facebook, Instagram, pendapat yang ngawur, Twitter, hingga media chatting WhatsApp dan sejenisnya.

Wabah dusta ini adalah toxic yang memperparah kondisi dan memperlambat penekanan kasus Covid-19. Bayangkan, informasi bohong tentang susu yang diklaim bisa mengobati korona telah menyebabkan panic buying dan hampir menyebabkan keributan di sebuah supermarket. Hoax tentang cairan vaksin yang dikabarkan bercampur virus, membuat penduduk di sebuah kampung menolak vaksinasi. Tentu banyak lagi dusta yang akibatnya bisa memperlambat penanganan.

Pemerintah pun punya tugas tambahan. Selain meng-update data kasus Covid-19, juga disibukkan menangani sebaran dusta tentang pandemi. Data Kominfo mulai awal pandemi hingga 16 Juli kemarin, sudah ada 3.806 hoax. 3.345 di antaranya sudah di-take down, sisanya dalam proses. Itu yang terdata, tentu belum termasuk yang disebarkan lewat grup WhatsApp keluarga, komunitas dan lain-lain.

Apa efek dari dusta berjamaah ini? Kita mudah diadu domba. Rakyat seolah-olah berhadapan dengan pemerintah, warga dengan sesama warga dan atau sebaliknya. Akhirnya masyarakat sibuk mencari pembenaran dan dalil atas hoax yang mereka imani keberadaannya, serta mendukung apa pun yang sejalan dengan keyakinannya itu.

Misalnya dusta soal bahaya interaksi obat yang disebarkan oleh dr Lois Owien. Masyarakat yang dari awal ‘berhadapan’ dengan pemerintah, akhirnya membenarkan segala ucapan Lois. Video dokter yang sudah tidak terdaftar di IDI itu dibagikan ke setiap platform media sosial. Orang-orang yang tak percaya Covid-19 sudah menemukan ‘ayat’ baru untuk membela diri. Sekali lagi infodemik telah berhasil mengadu domba bangsa ini.

Infodemik muncul bukan karena kesalahan uji coba di sebuah laboratorium. Tetapi dipicu kerusakan nalar pikir. Tentu juga karena dikesampingkanya hati nurani. Sebab, kata Profesor K Bertens, nurani adalah ‘instansi’ dalam diri yang menilai tentang moralitas perbuatan-perbuatan kita secara langsung, kini dan di sini. Karena dengan hati nurani kita bisa menghayati baik dan buruk tentang perilaku kita sendiri. Para penyebar hoax tak menggunakan ‘instansi’ itu.

 

Belajar pada Keluarga Ibrahim

Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban, tidak lepas dari kisah keluarga Ibrahim. Seorang nabi yang dikenal begitu sabar dan bergelar ulul azmi. Perjalanan kisahnya menjadi latar belakang disyariatkannya Hari Raya Idul Kurban. Ia dan keluarganya, Siti Hajar dan Ismail, dikenang dan kisahnya dibacakan dalam khotbah usai salat Id.

Sebagaimana diceritakan Alquran, Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya, Ismail. Mimpi itu tak lain adalah wahyu dari Allah sekaligus untuk menguji iman Sang Nabi. Mimpi itu datang sebanyak tiga kali. Ibrahim meyakini bahwa Tuhan yang ia sembah tidak mungkin berdusta atau bermain-main soal wahyu itu.

- Advertisement -

Perayaan Idul Adha 1442 Hijriah masih dalam kondisi pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019). Banyak pesta, seremonial ritual agama harus ditiadakan atau tetap berjalan dengan protokol kesehatan. Kasus positif hampir menyentuh angka 3 juta. Mahkluk mikroskopis penghuni baru di bumi telah mengubah segalanya.

Di awal 2021, kasus di Indonesia sempat menurun. Banyak orang optimistis, negeri dengan penduduk 271 juta ini akan segera melewati masa ‘sakit’ yang berkepanjangan. Ternyata tidak. Korona hanya landai sejenak. Dia kemudian bermutasi menjadi varian-varian baru yang semakin menggila. Virus ‘beranak-pinak’ untuk mempertahankan diri. Ada jenis Alfa, Beta, Gamma, Delta, Lambda, dan Kappa. Semoga tak muncul mutan baru dari mahkluk ini.

Penting diketahui bahwa ada jenis baru yang orang jarang menyadari keberadaannya. Padahal lebih berbahaya dari ‘cucu-cucu’ korona tadi. Namanya infodemik, yakni wabah virus hoax atau kabar bohong yang menyertai kasus Covid-19.

Kecepatan infeksi wabah ini melebihi korona. Anehnya, orang yang terjangkit tak merasakan gejala apa pun. Padahal kondisinya bisa saja sudah sangat akut. Media penularan infodemik paling efektif adalah media sosial. Baik Facebook, Instagram, pendapat yang ngawur, Twitter, hingga media chatting WhatsApp dan sejenisnya.

Wabah dusta ini adalah toxic yang memperparah kondisi dan memperlambat penekanan kasus Covid-19. Bayangkan, informasi bohong tentang susu yang diklaim bisa mengobati korona telah menyebabkan panic buying dan hampir menyebabkan keributan di sebuah supermarket. Hoax tentang cairan vaksin yang dikabarkan bercampur virus, membuat penduduk di sebuah kampung menolak vaksinasi. Tentu banyak lagi dusta yang akibatnya bisa memperlambat penanganan.

Pemerintah pun punya tugas tambahan. Selain meng-update data kasus Covid-19, juga disibukkan menangani sebaran dusta tentang pandemi. Data Kominfo mulai awal pandemi hingga 16 Juli kemarin, sudah ada 3.806 hoax. 3.345 di antaranya sudah di-take down, sisanya dalam proses. Itu yang terdata, tentu belum termasuk yang disebarkan lewat grup WhatsApp keluarga, komunitas dan lain-lain.

Apa efek dari dusta berjamaah ini? Kita mudah diadu domba. Rakyat seolah-olah berhadapan dengan pemerintah, warga dengan sesama warga dan atau sebaliknya. Akhirnya masyarakat sibuk mencari pembenaran dan dalil atas hoax yang mereka imani keberadaannya, serta mendukung apa pun yang sejalan dengan keyakinannya itu.

Misalnya dusta soal bahaya interaksi obat yang disebarkan oleh dr Lois Owien. Masyarakat yang dari awal ‘berhadapan’ dengan pemerintah, akhirnya membenarkan segala ucapan Lois. Video dokter yang sudah tidak terdaftar di IDI itu dibagikan ke setiap platform media sosial. Orang-orang yang tak percaya Covid-19 sudah menemukan ‘ayat’ baru untuk membela diri. Sekali lagi infodemik telah berhasil mengadu domba bangsa ini.

Infodemik muncul bukan karena kesalahan uji coba di sebuah laboratorium. Tetapi dipicu kerusakan nalar pikir. Tentu juga karena dikesampingkanya hati nurani. Sebab, kata Profesor K Bertens, nurani adalah ‘instansi’ dalam diri yang menilai tentang moralitas perbuatan-perbuatan kita secara langsung, kini dan di sini. Karena dengan hati nurani kita bisa menghayati baik dan buruk tentang perilaku kita sendiri. Para penyebar hoax tak menggunakan ‘instansi’ itu.

 

Belajar pada Keluarga Ibrahim

Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban, tidak lepas dari kisah keluarga Ibrahim. Seorang nabi yang dikenal begitu sabar dan bergelar ulul azmi. Perjalanan kisahnya menjadi latar belakang disyariatkannya Hari Raya Idul Kurban. Ia dan keluarganya, Siti Hajar dan Ismail, dikenang dan kisahnya dibacakan dalam khotbah usai salat Id.

Sebagaimana diceritakan Alquran, Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya, Ismail. Mimpi itu tak lain adalah wahyu dari Allah sekaligus untuk menguji iman Sang Nabi. Mimpi itu datang sebanyak tiga kali. Ibrahim meyakini bahwa Tuhan yang ia sembah tidak mungkin berdusta atau bermain-main soal wahyu itu.

Perayaan Idul Adha 1442 Hijriah masih dalam kondisi pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019). Banyak pesta, seremonial ritual agama harus ditiadakan atau tetap berjalan dengan protokol kesehatan. Kasus positif hampir menyentuh angka 3 juta. Mahkluk mikroskopis penghuni baru di bumi telah mengubah segalanya.

Di awal 2021, kasus di Indonesia sempat menurun. Banyak orang optimistis, negeri dengan penduduk 271 juta ini akan segera melewati masa ‘sakit’ yang berkepanjangan. Ternyata tidak. Korona hanya landai sejenak. Dia kemudian bermutasi menjadi varian-varian baru yang semakin menggila. Virus ‘beranak-pinak’ untuk mempertahankan diri. Ada jenis Alfa, Beta, Gamma, Delta, Lambda, dan Kappa. Semoga tak muncul mutan baru dari mahkluk ini.

Penting diketahui bahwa ada jenis baru yang orang jarang menyadari keberadaannya. Padahal lebih berbahaya dari ‘cucu-cucu’ korona tadi. Namanya infodemik, yakni wabah virus hoax atau kabar bohong yang menyertai kasus Covid-19.

Kecepatan infeksi wabah ini melebihi korona. Anehnya, orang yang terjangkit tak merasakan gejala apa pun. Padahal kondisinya bisa saja sudah sangat akut. Media penularan infodemik paling efektif adalah media sosial. Baik Facebook, Instagram, pendapat yang ngawur, Twitter, hingga media chatting WhatsApp dan sejenisnya.

Wabah dusta ini adalah toxic yang memperparah kondisi dan memperlambat penekanan kasus Covid-19. Bayangkan, informasi bohong tentang susu yang diklaim bisa mengobati korona telah menyebabkan panic buying dan hampir menyebabkan keributan di sebuah supermarket. Hoax tentang cairan vaksin yang dikabarkan bercampur virus, membuat penduduk di sebuah kampung menolak vaksinasi. Tentu banyak lagi dusta yang akibatnya bisa memperlambat penanganan.

Pemerintah pun punya tugas tambahan. Selain meng-update data kasus Covid-19, juga disibukkan menangani sebaran dusta tentang pandemi. Data Kominfo mulai awal pandemi hingga 16 Juli kemarin, sudah ada 3.806 hoax. 3.345 di antaranya sudah di-take down, sisanya dalam proses. Itu yang terdata, tentu belum termasuk yang disebarkan lewat grup WhatsApp keluarga, komunitas dan lain-lain.

Apa efek dari dusta berjamaah ini? Kita mudah diadu domba. Rakyat seolah-olah berhadapan dengan pemerintah, warga dengan sesama warga dan atau sebaliknya. Akhirnya masyarakat sibuk mencari pembenaran dan dalil atas hoax yang mereka imani keberadaannya, serta mendukung apa pun yang sejalan dengan keyakinannya itu.

Misalnya dusta soal bahaya interaksi obat yang disebarkan oleh dr Lois Owien. Masyarakat yang dari awal ‘berhadapan’ dengan pemerintah, akhirnya membenarkan segala ucapan Lois. Video dokter yang sudah tidak terdaftar di IDI itu dibagikan ke setiap platform media sosial. Orang-orang yang tak percaya Covid-19 sudah menemukan ‘ayat’ baru untuk membela diri. Sekali lagi infodemik telah berhasil mengadu domba bangsa ini.

Infodemik muncul bukan karena kesalahan uji coba di sebuah laboratorium. Tetapi dipicu kerusakan nalar pikir. Tentu juga karena dikesampingkanya hati nurani. Sebab, kata Profesor K Bertens, nurani adalah ‘instansi’ dalam diri yang menilai tentang moralitas perbuatan-perbuatan kita secara langsung, kini dan di sini. Karena dengan hati nurani kita bisa menghayati baik dan buruk tentang perilaku kita sendiri. Para penyebar hoax tak menggunakan ‘instansi’ itu.

 

Belajar pada Keluarga Ibrahim

Hari Raya Idul Adha atau Idul Kurban, tidak lepas dari kisah keluarga Ibrahim. Seorang nabi yang dikenal begitu sabar dan bergelar ulul azmi. Perjalanan kisahnya menjadi latar belakang disyariatkannya Hari Raya Idul Kurban. Ia dan keluarganya, Siti Hajar dan Ismail, dikenang dan kisahnya dibacakan dalam khotbah usai salat Id.

Sebagaimana diceritakan Alquran, Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya, Ismail. Mimpi itu tak lain adalah wahyu dari Allah sekaligus untuk menguji iman Sang Nabi. Mimpi itu datang sebanyak tiga kali. Ibrahim meyakini bahwa Tuhan yang ia sembah tidak mungkin berdusta atau bermain-main soal wahyu itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/