Nining Suryani, Potret Buram Guru Honorer

Oleh : Mulyono *)

Nining Suryani, seorang guru honorer di SDN Karyabuana 3 Cigeulis Kabupaten Pandeglang yang bertahan hidup dengan menempati toilet sekolah, sontak menjadi viral di media sosial dan media cetak. Seperti tak lumrah, seorang guru yang biasanya hidup di kamar hangat dan aroma yang semerbak, tiba-tiba kita dikagetkan dengan pemandangan lain yang mengiris hati. Hal ini semakin menambah panjang deretan penderitaan guru honorer Indonesia.

IKLAN

Ribut-ribut persoalan seputar guru honorer sepertinya tak pernah berkesudahan. Belum lagi tragedi kematian Budi Cahyono di Madura beberapa waktu silam menjadi penguat betapa menjadi guru honorer adalah profesi yang tidak aman dan nyaman. Selain sisi ekonomi yang tak bersahabat, ia kadang menjadi sasaran perlakuan yang kurang senonoh oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

Nining Suryani adalah sosok pengabdi yang hidup dalam serba keterbatasan. Sudah lima belas tahun lebih, hidupnya dihabiskan untuk menjadi guru honorer yang gajinya begitu minimalis tak cukup menghidupkan tungku dalam sebulan. Kendati demikian, ia tak pernah mengurangi esensi pengabdiannya, walaupun kesejahteraan masih jauh panggang dari api. Ia menjadi pejuang tanpa kenal lelah, dan menjadi bagian dari tulang punggung sekolah dalam ikut menegakkan martabat pendidikan. Tak dapat dibayangkan jika sesosok Nining Suryani tiba -tiba hilang dari peta pendidikan Indonesia.

Nining Suryani adalah potret nyata representasi ribuan nasib guru honorer Indonesia. Ia adalah fakta tak terbantahkan tentang realitas pengabdian yg kadang jauh dari sorotan kamera. Jauh dari hiruk pikuk pemberitaan tentang wajah muram guru Indonesia. Sepotong potret buram dibalik kemegahan gedung sekolah tapi sang guru harus bertahan hidup di toilet yang nelangsa. Dedikasi tak berjalan paralel dengan ketenangan yang didapat. Panjangnya waktu mengabdi tak seirama dengan bentuk apresiasi. Tunjangan yang diharapkan tak juga menggembirakan. Pilu masih tetap menjadi warna dalam hiruk pikuk perjuangan menuju hidup yang lebih layak. Bayangkan, dengan upah jauh dibawah standar hidup layak, para guru honorer terus menorehkan dedikasi bahkan prestasi. ‌

Potret Nining telah menjadi solusi sederhana yang murah meriah dalam menjaga survivalitas pendidikan dari kehancurannya. Dalam data mutakhir, bahwa di tiap kabupaten/kota saja, rata-rata setiap tahun tidak kurang dari 100an guru yang eksodus menuju purna bakti. Sementara pengangkatan CPNS dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tak sebanding dengan harapan dan keinginan. Jika setuasi seperti ini dibiarkan, dalam lima tahun mendatang, akan terjadi krisis guru. Pendidikan kian menuju liang kuburnya sendiri. Di sinilah urgensi keberadaan guru honorer tak bisa dipungkiri.

Anomali seringkali menjungkirbalikkan persepsi dan opini bahwa guru honorer hanya sekadar tenaga sukwan dan pelengkap penderita. Tidak. Mereka bahkan mampu mempertontonkan prestasi melalui kehebatan potensi peserta didik. Tak sedikit anak-anak kita berprestasi lewat kehebatan sang guru honorer. Di balik tangan dingin sang guru, talenta siswa berkembang luar biasa. Sebab guru yang hebat akan melahirkan anak-anak yang hebat. Guru yang berprestasi akan melahirkan anak-anak berprestasi pula. Guru sekaligus sebagai mentor, motivator dan isnpirator handal yang mampu melejitkan potensi dashyat anak-anak melebihi gurunya.

Di plosok-plosok desa guru honorer mampu mengambil alih tugas-tugas berat yang seharusnya dipikul oleh Pegawai Negeri Sipil. Bayangkan, sebuah sekolah di desa, hanya ada seorang guru PNS, sedang yang lainnya adalah guru honorer. Pada saat bersamaan, guru honorer akan menjadi tenaga serba bisa. Suatu saat ia akan berada di depan kelas, membimbing dan mendidik anak-anak bangsa agar kelak menjadi generasi yang berguna, pada saat lain ia berada di depan laptop menjadi tenaga piawai operator sekolah. Data dan administrasi pendidikan menjadi tugas yang harus dituntaskannya.

Fenomena guru sekaligus operator adalah sesuatu yang riil, sebab di plosok dan pendidikan dasar tak pernah teragendakan adanya tenaga administrasi. Ketika apresiasi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bersiap-siap menganugerahi sebutan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap Kabupaten/Kota, tentu peran Operator Sekolah tak mungkin dinafikan. Ia akan mernjadi bemper tentang keamanan dan validitas data. Itulah hebatnya operator sekolah, sekaligus guru honorer kita.

Hidup dalam dunia modern seperti sekarang ini bertahan dengan honor tiga ratus ribuan bukanlah hal yang masuk akal. Kenyataan ini akan bertabrakan dengan kenyataan lain bahwa seorang guru juga manusia yang memiliki sekeranjang kebutuhan hidup yang wajar. Sejak kebutuhan makan sehari-hari, kebutuhan biaya sekolah anak, dan keperluan berinteraksi secara sosial, serta keperluan yang kadang datang tak diundang. Belum lagi jika bicara lifestyle yang menunjukkan status sosial seseorang. Guru honorer pasti berada di nomor paling belakang.

Intensitas kehidupan yang cenderung keras dan merangkak naik, kebutuhan yang datang sering di luar kendali, menjadikan seorang guru honorer terperangkap pada status sosial yang mengalami degradasi. Dalam mengisi kocek belanja yang sering melompong, Guru honorer kadang terperosok dalam pekerjaaan seadanya. Ia rela menjadi kuli bangunan, tukang ojek, merangkap menjadi tukang kebun sekolah, dan sederet pekerjaan nyambi lainnya. Inilah realita.

Mencermati sepotong nestapa guru honorer, menjadi tugas kita bersama untuk terus menggerek marwahnya menuju derajat hidup yang standar. Tentu miris melihat seorang guru yang sejatinya dimuliakan, tiba-tiba terjerembab dalam keterbelakangan ekonomi. Guru honorer bak bernafas dalam lumpur. Ia bisa patuh terhadap regulasi tentang sistem zonasi, tapi ia bisa memberontak terhadap zonasi ekonomi yang cenderung diskriminatif. Bukankah menjadi guru honorer identik dengan Guru Tidak Tenang (GTT)?

Kalau anggapan menjadi guru honorer benar-benar tidak tenang seharusnya setuasi ini kita tangkap untuk membangkitkan kesadaran baru dalam melakukan aksi solidaritas. Ketika Budi Cahyono meninggal karena keberingasan siswanya sendiri, keprihatinan datang dari berbagai penjuru. Rasa senasib sesama guru melahirkan empati, walau mereka tidak pernah mengenal Budi selama ini. Rombongan pelayat berseragam batik kusuma bangsa datang dari berbagai kota. Mereka menunjukkan solidaritas tanpa sekat dan dan tanpa batas.

Sebagaimana Budi Cahyono, kita juga berempati terhadap Nining Suryani. Jika dengan Budi kita lebih menunjukkan sikap takziah, lain halnya dengan Nining, kepedulian itu lebih kita tunjukkan dengan semangat memperjuangkan masa depannya. Paling tidak ada kepastian hukum agar guru honorer bisa meraih masa depan yang lebih menjanjikan. Kita ketuk pintu hati para para stake holder dan penentu kebijakan. Diharapkan ada langkah berani untuk menelorkan regulasi yang berpihak kepadanya. Adanya wacana untuk memberikan honor yang sepadan dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) adalah sebuah kemajuan yang harus direspon secara positif.

Semoga di periode ke dua kepemimpinan Presiden Jokowi ada progress report tentang nasib ribuan guru honorer. Semoga para menteri sebagai pembantu Presiden khususnya Menteri PAN RB, Mendikbud, Badan Kepegawaian Negara, dan Komisi terkait di Gedung Senayan, akan setali tiga uang melahirkan produk regulasi yang lebih bergizi. Semoga potret buram guru honorer berubah menjadi wajah riang penuh kesejahteraan. Selamat datang era baru Presiden Jokowi. Selamat datang kesejahteraan bagi Nining Suryani, dan para pengabdi yang sudah teruji. Solidaritas yes!

*) Penulis adalah praktisi pendidikan dan Sekretaris PGRI Kabupaten Bondowoso.

Reporter :

Fotografer :

Editor :