Nuzulul Quran: Membumikannya sebagai Pedoman

Spesial lainnya dari Ramadan adalah bulan di mana Alquran diturunkan oleh Allah SWT sebagai mukjizat terbesar bagi umat Islam hingga akhir zaman. Dalilnya adalah firman Allah: “Sesungguhnya kami turunkan ia (Alquran) di malam Lailatul Qadar.” (QS. Al Qadr: 1)

IKLAN

Juga firman lainnya: “Sesungguhnya kami turunkan ia (Alquran) di malam yang penuh keberkahan” (QS. Ad Dukhan: 3). Imam Ibnu Katsir memaparkan, “Allah Ta’ala memuji bulan Ramadan di antara bulan-bulan lainnya. Yaitu dengan memilihnya sebagai bulan diturunkannya Alquran Al Azhim” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/501).

Pendapat Ibnu Abbas dan sejumlah ulama, kemudian dipegang oleh jumhur ulama, bahwa yang dimaksud dengan turunnya Alquran dalam kedua ayat di atas turunnya Alquran sekaligus Baitul Izzah di langit dunia untuk menunjukkan kepada para malaikat-Nya betapa besar masalah ini. Selanjutnya Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap selama 23 tahun sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang mengiringinya sejak beliau diutus sampai wafatnya. Selama 13 tahun di Makkah dan 10 Tahun di Madinah.

Pendapat ini berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih dari Ibnu Abbas: “Alquran diturunkan pada Lailatul Qadar pada bulan Ramadan ke langit dunia sekaligus; lalu ia turunkan secara berangsur-angsur”. (HR. Thabrani).

Alquran Pedoman Hidup Terbaik

Nuzulul Quran juga sebagai pertanda bahwa Ramadan telah separuh berjalan. Mukjizat Alquran sangat luar biasa. Sebab, ini adalah kitab suci terakhir yang bisa menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari fananya dunia menuju kemuliaan surga.

Andai kita sedikit berpikir dan merenung, jika Alquran hanya terhenti risalahnya ketika Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wasallam wafat, niscaya umat Islam seluruh dunia akan mengalami kegelapan. Bahkan, tidak mengetahui dan memahami bahwa dirinya telah Allah SWT tetapkan menjadi umat terbaik (khairu ummah).

Label ini tentu bukan tanpa maksud, namun menjadi sebuah visi yang seharusnya kita sebagai umat Islam mampu mewujudkannya. Untuk meraih visi tersebut pun bukan hal yang sulit, sebab isi di dalam Alquran itulah yang menjadi pedoman petunjuk jalannya.

Faktanya, saat ini kemudahan tersebut menjadi hal yang amat sulit dilakukan, sehingga berujung pada menjauhnya umat Islam dari visinya yang mulia. Bahkan sama sekali tidak mengenalinya. Semua itu karena Alquran tidak lagi menjadi pedoman dan petunjuk dalam menjalani kehidupan, baik skala individu, masyarakat, maupun negara.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah meninggikan suatu kaum karena Alquran ini dan merendahkan juga karenanya.” (HR. Muslim)

Yakni bagi orang yang mempelajari Alquran dan mengamalkan isinya, maka Allah akan meninggikannya. Sebaliknya, bagi orang yang mengetahuinya, namun malah mengingkarinya, maka Allah akan merendahkannya.

Ramadan yang mulia akhirnya terkotori dengan berbagai tingkah laku manusia yang jauh dari Alquran. Mencuri demi memperoleh kekayaan, korupsi demi langgengnya jabatan, perzinahan yang justru difasilitasi dan dilegalkan, riba terus ditumbuhsuburkan, hingga generasi muda pun terliberalkan dengan berbagai macam kerusakan seperti narkoba, seks bebas, aborsi, dan tawuran.

Inilah gambaran Ramadan di dalam sistem ketika Alquran sebatas kitab suci yang dibaca tanpa dipahami maknanya, terlebih lagi tak diamalkan segala tuntunan di dalamnya. Bulan Ramadan pun berlalu tanpa makna, padahal Alquran diturunkan di dalamnya. Sekalipun masjid-masjid maupun musala menyemarakkan peringatan Nuzulul Quran, namun tak banyak umat yang paham hikmahnya.

Wallahu’alam bisshawab

*penulis adalah penggerak MT Khairunnisa Jember

Reporter :

Fotografer :

Editor :