Baca Buku: Menderas Kata Menebar Asa

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pembatasan aktivitas fisik di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, sejatinya tidak membatasi ‘dahaga’ untuk tetap membaca buku. Justru di tengah pembatasan aktivitas di luar ruangan menjadi momentum untuk menumbuh kembangkan semangat membaca sebagai suatu rutinitas baru yang dapat memupuk optimisme untuk lebih berkreasi di tengah pandemi. Karena pada hakikatnya, ada nya pandemi seperti saat ini tidak membatasi imajinasi serta asa seseorang untuk terus bertumbuh dan memberi inspirasi bagi lainnya. Karena Sang Khalik sudah membekali manusia dengan seperangkat nalar agar manusia dapat mengetahui apa yang belum diketahuinya serta membagikan apa yang diketahuinya dengan orang lain.

Membaca buku dapat menjadi terapi yang sangat mujarab untuk menghindari dari kejenuhan karena pembatasan aktivitas di luar ruangan. Pembatasan aktivitas fisik ini, tentu akan menguras emosi terkurung kebosanan mengerjakan rutinitas yang itu-itu saja. Melalui membaca seseorang dapat memahami yang terjadi di luar dirinya tentang bagaimana mengatasi permasalahan yang terjadi di luar dirinya, meskipun secara fisik terisolasi tidak membatasi daya jangkau nalar guna mengetahui permasalahan di luar dirinya untuk dapat diketahui dan dicarikan solusinya. Di samping itu, dengan membaca buku dipercaya dapat merangsang daya imajinasi pembacanya untuk dapat merancang sebuah masa depan yang lebih baik, melalui lompatan-lompatan ide yang terinspirasi dari baca buku.

Kebiasaan membaca buku dapat mengurangi informasi yang tidak benar untuk dikonsumsi. Karena membaca buku melatih daya nalar seseorang untuk memahami secara perlahan teks demi teks sehingga seseorang dapat terlepas dari pengambilan kesimpulan dan keputusan yang tergesa-gesa yang merugikan dirinya dan orang lain. Hal berbeda ketika mendapatkan informasi dari media sosial, fenomena konfrontatif bahkan saling tuding di pengadilan berawal dari ketidaksabaran mencerna informasi yang diterima seseorang. Hal ini dapat difahami karena media sosial adalah ruang bebas pengawasan sebelum sebuah informasi disebar. Berbeda dengan buku yang harus melalui proses audit yang ketat dari editor.

Buku menjadi inspirasi bagi setiap kita untuk dapat mengambil pelajaran tentang makna sebuah perjuangan dalam mencapai cita-cita. Banyak dari kita terhanyut ketika membaca bagaimana Chairul Tanjung seorang anak petani yang miskin setelah dewasa dapat menjadi pengusaha media, supermarket dan perbankan yang mempunyai omzet triliunan rupiah. Melalui buku pula kita dapat terhanyut terbawa emosi bagaimana romantisme dua anak manusia terhalang karena adat sebagaimana kita bisa baca dalam romantisme karya Buya Hamka. Buku menjadi teman sejati yang selalu memberi inspirasi bagaimana para founding father kita seperti Hatta pernah berkata kepada para penjajah yang mau mengasingkannya ke digul agar tidak dipisahkan dengan buku bacaannya.