alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Etika Bisnis: Belajar dari Minyak Goreng

Mobile_AP_Rectangle 1

Dalam perspektif bisnis, dapat dikatakan masyarakat (baca: rumah tangga konsumen) telah terperangkap ke dalam strategi bisnis para “aktor bisnis” minyak goreng atas fenomena kelangkaan minyak goreng. Esensi bisnis sesungguhnya adalah menciptakan nilai tambah (value added). Nilai tambah tersebut bisa berupa keuntungan finansial maupun nonfinansial (misal citra atau reputasi positif). Apa pun aktivitas yang dapat menciptakan nilai tambah disebut bisnis.

Oleh sebab itu, cakupan bisnis sangat luas, misalnya kegiatan mengolah bahan baku menjadi barang jadi, beli barang dari satu tempat lalu di jual di tempat lainnya, aktivitas-aktivitas jasa (konsultan hukum, konsultan bisnis, konsultan kesehatan, konsultan pajak, dll), menimbun barang untuk kemudian dilepas di pasar dengan harapan harga naik. Meskipun demikian, yang namanya etika bisnis harus tetap diperhatikan di dalam menjalani aktivitas bisnis, termasuk bisnis minyak goreng. Menahan atau menimbun minyak goreng yang telah menyebabkan kelangkaan minyak goreng di pasar, jelas tujuannya meraih keuntungan finansial tinggi, namun itu bertentangan dengan etika bisnis. Prinsip etika bisnis sejatinya yang harus diterapkan oleh aktor atau pelaku bisnis adalah tidak merugikan, tidak membuat derita atau sengsara masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan alam.

Kelangkaan minyak goreng telah secara nyata mengoyak hati nurani, sengsara masyarakat, bahkan tidak berlebihan bila dikatakan membuat panik pemerintah. Maka sudah semestinya pemerintah bertindak cepat mengurai rantai nilai bisnis minyak goreng untuk mengetahui aktor atau spekulan yang bertanggung jawab atas kelangkaan minyak goreng. Penyelidikan bisa dilakukan pada semua aktor di rantai nilai bisnis minyak goreng yakni perusahaan perkebunan kelapa sawit, perusahaan minyak goreng, pedagang besar, pedagang kecil atau eceran. Salah satu tujuan penyelidikan tersebut adalah memastikan jangan sampai ada persekutuan jahat dalam bisnis. Kasus kelangkaan minyak goreng harus menjadi pelajaran yang bermakna bagi pelaku bisnis apa pun bahwa etika bisnis harus dijalankan. Siapa pun yang melanggar etika bisnis harus dimintai pertanggungjawaban tidak terkecuali pelaku bisnis minyak goreng yang telah membuat kepanikan semua pihak.

Mobile_AP_Rectangle 2

Penulis adalah Dosen Prodi Administrasi Bisnis dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember

- Advertisement -

Dalam perspektif bisnis, dapat dikatakan masyarakat (baca: rumah tangga konsumen) telah terperangkap ke dalam strategi bisnis para “aktor bisnis” minyak goreng atas fenomena kelangkaan minyak goreng. Esensi bisnis sesungguhnya adalah menciptakan nilai tambah (value added). Nilai tambah tersebut bisa berupa keuntungan finansial maupun nonfinansial (misal citra atau reputasi positif). Apa pun aktivitas yang dapat menciptakan nilai tambah disebut bisnis.

Oleh sebab itu, cakupan bisnis sangat luas, misalnya kegiatan mengolah bahan baku menjadi barang jadi, beli barang dari satu tempat lalu di jual di tempat lainnya, aktivitas-aktivitas jasa (konsultan hukum, konsultan bisnis, konsultan kesehatan, konsultan pajak, dll), menimbun barang untuk kemudian dilepas di pasar dengan harapan harga naik. Meskipun demikian, yang namanya etika bisnis harus tetap diperhatikan di dalam menjalani aktivitas bisnis, termasuk bisnis minyak goreng. Menahan atau menimbun minyak goreng yang telah menyebabkan kelangkaan minyak goreng di pasar, jelas tujuannya meraih keuntungan finansial tinggi, namun itu bertentangan dengan etika bisnis. Prinsip etika bisnis sejatinya yang harus diterapkan oleh aktor atau pelaku bisnis adalah tidak merugikan, tidak membuat derita atau sengsara masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan alam.

Kelangkaan minyak goreng telah secara nyata mengoyak hati nurani, sengsara masyarakat, bahkan tidak berlebihan bila dikatakan membuat panik pemerintah. Maka sudah semestinya pemerintah bertindak cepat mengurai rantai nilai bisnis minyak goreng untuk mengetahui aktor atau spekulan yang bertanggung jawab atas kelangkaan minyak goreng. Penyelidikan bisa dilakukan pada semua aktor di rantai nilai bisnis minyak goreng yakni perusahaan perkebunan kelapa sawit, perusahaan minyak goreng, pedagang besar, pedagang kecil atau eceran. Salah satu tujuan penyelidikan tersebut adalah memastikan jangan sampai ada persekutuan jahat dalam bisnis. Kasus kelangkaan minyak goreng harus menjadi pelajaran yang bermakna bagi pelaku bisnis apa pun bahwa etika bisnis harus dijalankan. Siapa pun yang melanggar etika bisnis harus dimintai pertanggungjawaban tidak terkecuali pelaku bisnis minyak goreng yang telah membuat kepanikan semua pihak.

Penulis adalah Dosen Prodi Administrasi Bisnis dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember

Dalam perspektif bisnis, dapat dikatakan masyarakat (baca: rumah tangga konsumen) telah terperangkap ke dalam strategi bisnis para “aktor bisnis” minyak goreng atas fenomena kelangkaan minyak goreng. Esensi bisnis sesungguhnya adalah menciptakan nilai tambah (value added). Nilai tambah tersebut bisa berupa keuntungan finansial maupun nonfinansial (misal citra atau reputasi positif). Apa pun aktivitas yang dapat menciptakan nilai tambah disebut bisnis.

Oleh sebab itu, cakupan bisnis sangat luas, misalnya kegiatan mengolah bahan baku menjadi barang jadi, beli barang dari satu tempat lalu di jual di tempat lainnya, aktivitas-aktivitas jasa (konsultan hukum, konsultan bisnis, konsultan kesehatan, konsultan pajak, dll), menimbun barang untuk kemudian dilepas di pasar dengan harapan harga naik. Meskipun demikian, yang namanya etika bisnis harus tetap diperhatikan di dalam menjalani aktivitas bisnis, termasuk bisnis minyak goreng. Menahan atau menimbun minyak goreng yang telah menyebabkan kelangkaan minyak goreng di pasar, jelas tujuannya meraih keuntungan finansial tinggi, namun itu bertentangan dengan etika bisnis. Prinsip etika bisnis sejatinya yang harus diterapkan oleh aktor atau pelaku bisnis adalah tidak merugikan, tidak membuat derita atau sengsara masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan alam.

Kelangkaan minyak goreng telah secara nyata mengoyak hati nurani, sengsara masyarakat, bahkan tidak berlebihan bila dikatakan membuat panik pemerintah. Maka sudah semestinya pemerintah bertindak cepat mengurai rantai nilai bisnis minyak goreng untuk mengetahui aktor atau spekulan yang bertanggung jawab atas kelangkaan minyak goreng. Penyelidikan bisa dilakukan pada semua aktor di rantai nilai bisnis minyak goreng yakni perusahaan perkebunan kelapa sawit, perusahaan minyak goreng, pedagang besar, pedagang kecil atau eceran. Salah satu tujuan penyelidikan tersebut adalah memastikan jangan sampai ada persekutuan jahat dalam bisnis. Kasus kelangkaan minyak goreng harus menjadi pelajaran yang bermakna bagi pelaku bisnis apa pun bahwa etika bisnis harus dijalankan. Siapa pun yang melanggar etika bisnis harus dimintai pertanggungjawaban tidak terkecuali pelaku bisnis minyak goreng yang telah membuat kepanikan semua pihak.

Penulis adalah Dosen Prodi Administrasi Bisnis dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/