Tak terasa sudah enam tahun Radar Ijen menemani warga Bondowoso. Tepatnya hari ini, media lokal di bawah naungan Jawa Pos ini berulang tahun. Hari kelahirannya bersamaan dengan Hari Ibu. Dengan harapan kehadirannya bisa memberikan pengayoman bagi warga Bondowoso. Sebagaimana seorang ibu bisa mengayomi anak-anaknya.

Sebelum Radar Ijen, media ini memang bernama Radar Bondowoso. “Deklarasi” kelahiran atau lebih tepat disebut reinkarnasi dari Radar Bondowoso menjadi Radar Ijen memang bukan kebetulan. Tetapi memang sengaja “di-setting” untuk bisa mendongkrak Bondowoso go international.

Salah satu ikon yang dijadikan branding untuk mengangkat Bondowoso adalah Kawah Ijen. Alasannya, destinasi wisata ini sudah dikenal di kancah internasional dengan keistimewaan blue fire-nya yang ada di Kawah Ijen. Meski secara geografis wilayah Gunung Ijen sebagian besar berada di Bondowoso, tapi publik lebih mengenalnya berada di wilayah Banyuwangi.

Diakui atau tidak, Banyuwangi memang lebih gencar mengawali branding Ijen sebagai bagian dari wilayahnya. Caranya dengan membuat beberapa event berkelas internasional. Seperti balap sepeda Banyuwangi Tour de Ijen bertaraf internasional. Ada juga Jazz Gunung Ijen yang menghadirkan musisi papan atas ibu kota, dan masih banyak event yang lain.

Tentu langkah strategis Banyuwangi ini membuat Bondowoso menjadi kelimpungan karena pendapatan dari sektor wisata mulai berkurang. Sebab, para wisatawan yang ke Kawah Ijen, biasanya lewat atau bermalam di Bondowoso mulai beralih ke Banyuwangi. Lebih-lebih setelah akses dari Banyuwangi kota menuju ke Ijen diaspal mulus. Semula hanya bisa dilewati mobil jip dobel gardan dan motor trail, kini bisa dilewati mobil MPV, minibus, sampai motor bebek.

Oleh karena itu, kehadiran Radar Ijen kala itu dimaksudkan sebagai upaya untuk mengembalikan Ijen ke pangkuan Bondowoso. Tentunya hanya sebatas dalam urusan branding yang bisa mengangkat pamor sekaligus berimbas ke pendapatan daerah. Selain itu, juga masih ada lagi upaya lain yang dilakukan Pemkab Bondowoso beserta stake holder agar nama Ijen bisa melekat kembali dengan Kota Tape. Termasuk mengubah nama Kecamatan Sempol menjadi Kecamatan Ijen.

Selain itu, lereng Ijen yang banyak menghasilkan kopi berkualitas juga tak lepas dijadikan komoditas untuk mem-branding Bondowoso. Bupati Bondowoso Amin Said Husni kala itu, cukup tanggap menjadikan Bondowoso menjadi Republik Kopi dan bupati yang menjabat dua periode itu didapuk sebagai presidennya. Branding Bondowoso Republik Kopi yang juga tak lepas dari dukungan pemberitaan Radar Ijen gaungnya melesat secara nasional, bahkan internasional.

Sayangnya, setelah presidennya tidak lagi menjabat bupati, ikon Bondowoso Republik Kopi sedikit demi sedikit meredup gaungnya. Padahal, untuk membangun ikon itu bukan sesuatu yang mudah. Ini yang sangat disayangkan. Bondowoso menjadi adem ayem. Kurang dinamis. Upaya untuk mengangkat daerah melalui inovasi maupun gebrakan program mercusuar belum juga terlihat. Salah satunya karena pemegang kekuasaan tak berani melakukan promosi untuk mem-branding daerahnya secara dinamis.

Sampai akhirnya di tahun 2020 ini, ada instruksi dari Pemprov Jatim agar Pemkab Bondowoso mengusulkan kawasan wisata Ijen Geopark sebagai warisan geologi kepada UNESCO. Sekadar diketahui, geopark adalah sebuah kawasan situs warisan geologi yang memiliki hubungan dengan keanekaragaman hayati dan budaya yang dilestarikan, dikelola, serta dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi dan sosial. Geopark telah diakui sebagai konsep terbaik dalam hal pemanfaatan sumber daya geologi berkelanjutan
Saat ini pengajuan Ijen Geopark sudah menapaki tahap penyusunan proposal. Setelah tahap proposal tuntas, pihak evaluator dari UNESCO bakal mendatangi wilayah Ijen Geopark yang tersebar di Bondowoso dan Banyuwangi. Mereka bakal mengevaluasi dan membuktikan langsung di lapangan data tiap unsur geopark di Ijen Geopark yang ditulis dalam proposal. Di Bondowoso ada 3 kecamatan yang masuk Ijen Geopark, yakni Kecamatan Ijen, Cermee, dan Sumberwringin.

Daftar unsur geological site di Bondowoso di antaranya Kawah Ijen/blue fire, Kawah Wurung, Kalipait, kompleks Mata Air Blawan, Lava Blawan, Air Terjun Gentongan, Lava Basaltis Plalangan, Dinding Kaldera Puncak Megasari, dan Batu So’on Solor. Sedang unsur biological-nya meliputi Hutan Pelangi dan Kopi Bondowoso. Lalu, unsur culture ada Situs Klasik Gua Butha Sumber Canting, Situs Klasik Gua Butha Jirek, dan Tari Petik Kopi.

Untuk menggolkan menjadi Ijen Geopark, tahun depan Pemkab Bondowoso telah menganggarkan Rp 69,7 miliar melalui APBD. Supaya proyek besar Ijen Geopark bisa terwujud menjadi ikon baru Bondowoso, perlu adanya sinergisitas dan kolaborasi antarelemen masyarakat. Selain memenuhi persyaratan yang diminta UNESCO agar memperoleh poin maksimal, juga membangun image yang bagus melalui branding agar masyarakat lebih mengenalnya. Selanjutnya, ikut mendukung dan menciptakan geologi sebagaimana yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Karena ini proyek besar, Radar Ijen selaku stake holder juga harus bisa mengawalnya. Apalagi nantinya Ijen Geopark ini bisa menjadi ikon Bondowoso yang bisa mendatangkan banyak wisatawan. Sekaligus membawa dampak yang besar bagi kesejahteraan masyarakat, manakala warga Bondowoso bisa memanfaatkannya dengan cerdas.

Bisa jadi, proyek Ijen Geopark ini menjadi “kado” bagi ultah ke-6 Radar Ijen untuk membantu mendongkrak nama Bondowoso. Atau sebaliknya, menjerumuskan pihak-pihak yang mau bermain api di proyek besar ini. Semoga Bondowoso tetap kondusif dan berkembang dinamis.