29.3 C
Jember
Friday, 2 December 2022

G20 Harus Berdampak untuk Rakyat

Mobile_AP_Rectangle 1

Hiruk-pikuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 masih terasa meski telah selesai dan ditutup. Berbagai apresiasi muncul di jagad media. Ada yang mengekspose berbagai keberhasilan G20 namun juga terdapat pandangan kritis yang bersifat membangun. Semua apresiasi itu perlu kita ukur dengan Pancasila sebagai landasan idiil kita dalam berbangsa dan bernegara. Demikian pula amanat Pembukaan UUD Negara RI 1945 harus menjadi staats fundamental norm bagi negara Indonesia dalam implementasi politik luar negerinya.

Sebagai bangsa yang menjadi tuan rumah even bergengsi ini tinggal menunggu hasilnya untuk Indonesia yang menganut politik luar negeri bebas aktif. Forum G20 sejatinya adalah Focus Group Discussion (FGD) negara-negara anggota untuk saling berbagi pengalaman dalam mengatasi permasalahan terkini. KTT G20 yang digagas oleh G7 merupakan event kerja sama multilateral yang fokus pada isu keuangan dan non keuangan. Forum G20 ini terdiri atas 19 negara utama dan Uni Eropa (EU), di mana G20 merepresentasikan lebih dari 60 persen populasi bumi, 75 persen perdagangan internasional dan 80 persen perekonomian dunia.

Event yang digelar di Bali ini mempertaruhkan reputasi Indonesia sebagai Presidensi G20. Kesuksesan penyelenggaraan G20 haruslah ber-impact pada substansinya, bukan gelaran acaranya semata. Sehingga kesuksesan sebagai penyelenggara dapat dilengkapi dengan kesuksesan targetnya untuk Indonesia. Tentunya yang paling kita tunggu adalah solusi cerdas dari para peserta menyangkut pembahasan isu keuangan dan lingkungan hidup. Karena dua urusan ini sangat signifikan dampaknya bagi negara-negara berkembang pasca pandemic Covid-19, sebagaimana tema yang diusung “Recover Together, Recover Stronger”. Indonesia mengajak seluruh dunia untuk bersama-sama mencapai pemulihan yang lebih kuat dan berkelanjutan, ini sebuah kata-kata yang indah dan harus diwujudkan maknanya.

- Advertisement -

Hiruk-pikuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 masih terasa meski telah selesai dan ditutup. Berbagai apresiasi muncul di jagad media. Ada yang mengekspose berbagai keberhasilan G20 namun juga terdapat pandangan kritis yang bersifat membangun. Semua apresiasi itu perlu kita ukur dengan Pancasila sebagai landasan idiil kita dalam berbangsa dan bernegara. Demikian pula amanat Pembukaan UUD Negara RI 1945 harus menjadi staats fundamental norm bagi negara Indonesia dalam implementasi politik luar negerinya.

Sebagai bangsa yang menjadi tuan rumah even bergengsi ini tinggal menunggu hasilnya untuk Indonesia yang menganut politik luar negeri bebas aktif. Forum G20 sejatinya adalah Focus Group Discussion (FGD) negara-negara anggota untuk saling berbagi pengalaman dalam mengatasi permasalahan terkini. KTT G20 yang digagas oleh G7 merupakan event kerja sama multilateral yang fokus pada isu keuangan dan non keuangan. Forum G20 ini terdiri atas 19 negara utama dan Uni Eropa (EU), di mana G20 merepresentasikan lebih dari 60 persen populasi bumi, 75 persen perdagangan internasional dan 80 persen perekonomian dunia.

Event yang digelar di Bali ini mempertaruhkan reputasi Indonesia sebagai Presidensi G20. Kesuksesan penyelenggaraan G20 haruslah ber-impact pada substansinya, bukan gelaran acaranya semata. Sehingga kesuksesan sebagai penyelenggara dapat dilengkapi dengan kesuksesan targetnya untuk Indonesia. Tentunya yang paling kita tunggu adalah solusi cerdas dari para peserta menyangkut pembahasan isu keuangan dan lingkungan hidup. Karena dua urusan ini sangat signifikan dampaknya bagi negara-negara berkembang pasca pandemic Covid-19, sebagaimana tema yang diusung “Recover Together, Recover Stronger”. Indonesia mengajak seluruh dunia untuk bersama-sama mencapai pemulihan yang lebih kuat dan berkelanjutan, ini sebuah kata-kata yang indah dan harus diwujudkan maknanya.

Hiruk-pikuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 masih terasa meski telah selesai dan ditutup. Berbagai apresiasi muncul di jagad media. Ada yang mengekspose berbagai keberhasilan G20 namun juga terdapat pandangan kritis yang bersifat membangun. Semua apresiasi itu perlu kita ukur dengan Pancasila sebagai landasan idiil kita dalam berbangsa dan bernegara. Demikian pula amanat Pembukaan UUD Negara RI 1945 harus menjadi staats fundamental norm bagi negara Indonesia dalam implementasi politik luar negerinya.

Sebagai bangsa yang menjadi tuan rumah even bergengsi ini tinggal menunggu hasilnya untuk Indonesia yang menganut politik luar negeri bebas aktif. Forum G20 sejatinya adalah Focus Group Discussion (FGD) negara-negara anggota untuk saling berbagi pengalaman dalam mengatasi permasalahan terkini. KTT G20 yang digagas oleh G7 merupakan event kerja sama multilateral yang fokus pada isu keuangan dan non keuangan. Forum G20 ini terdiri atas 19 negara utama dan Uni Eropa (EU), di mana G20 merepresentasikan lebih dari 60 persen populasi bumi, 75 persen perdagangan internasional dan 80 persen perekonomian dunia.

Event yang digelar di Bali ini mempertaruhkan reputasi Indonesia sebagai Presidensi G20. Kesuksesan penyelenggaraan G20 haruslah ber-impact pada substansinya, bukan gelaran acaranya semata. Sehingga kesuksesan sebagai penyelenggara dapat dilengkapi dengan kesuksesan targetnya untuk Indonesia. Tentunya yang paling kita tunggu adalah solusi cerdas dari para peserta menyangkut pembahasan isu keuangan dan lingkungan hidup. Karena dua urusan ini sangat signifikan dampaknya bagi negara-negara berkembang pasca pandemic Covid-19, sebagaimana tema yang diusung “Recover Together, Recover Stronger”. Indonesia mengajak seluruh dunia untuk bersama-sama mencapai pemulihan yang lebih kuat dan berkelanjutan, ini sebuah kata-kata yang indah dan harus diwujudkan maknanya.

BERITA TERKINI

ODGJ Ditampung Bersama Gepeng

Usulkan Listrik Gratis dari Panas Bumi

Atlet Bridge Jember Gacor di Kejurnas

Wajib Dibaca

/