alexametrics
28.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Violence Culture: Sebuah Budaya Tempat Penahanan?

Mobile_AP_Rectangle 1

Mengapa orang melakukan kejahatan? Sedangkan sebagian dari mereka enggan untuk melakukannya? Pertanyaan tersebut sangat menggelitik dan mungkin sebagian dari kita bingung untuk menjawabnya. Pada dasarnya, dikatakan “kejahatan” jika seseorang dan/atau kelompok melanggar hukum baik langsung maupun tidak. Kejahatan memiliki bentuk yang berbeda-beda, bahkan kejahatan yang sama dapat didasari oleh alasan yang berbeda. Intinya, faktor dalam diri dan dari luar dapat memengaruhi setiap orang untuk “mau” berbuat kejahatan, tiap pelaku jenis kejahatan yang sama pun tak jarang memiliki alasan yang berbeda.

Angka kriminal di Indonesia semakin meningkat tiap waktunya, hal itu terjadi karena beberapa sebab. Contohnya ekonomi, sosial, budaya dari lingkungan sekitar, adanya dorongan hasrat, dan sebagainya. Pastinya, setiap akibat dari kejahatan yang dilakukan akan berdampak kepada sang korban, baik secara finansial, fisik, psikis, bahkan tak jarang hingga meregang nyawa. Kejahatan yang telah terjadi di Indonesia akan melalui proses peradilan pidana yang berlaku, mulai tahap praajudikasi, ajudikasi, hingga post-ajudikasi. Status pelaku kejahatan pun berbeda-beda yang disesuaikan dengan tahapan yang berlaku, mulai dari tahanan, tersangka, terdakwa, terpidana, narapidana, hingga klien pemasyarakatan (saat seseorang telah bebas dan diawasi oleh Balai Pemasyarakatan).

Miris, kekerasan terus terjadi baik di luar maupun di dalam lembaga. Peristiwa munculnya “Rutan Pribadi Bupati Langkat nonaktif” masih segar di ingatan, tak lama berselang, muncul lagi kasus kekerasan yang menyebabkan korban meregang nyawa. Kali ini terjadi di dalam Rutan milik Polri. Dilansir melalui www.detik.com terdapat tahanan yang tewas karena dianiaya oleh oknum Polisi dan beberapa tahanan lainnya. Korban yang merupakan tahanan kasus cabul di Polrestabes Medan diperas dan dianiaya (dipukul bagian lutut, ditendang, hingga ada yang memerintahkan masturbasi menggunakan balsam.

Mobile_AP_Rectangle 2

Realitas kehidupan di dalam Rutan memang tak terlihat nyata bagi orang awam (untrained eye). Sistem sosial para penghuni Lapas atau Rutan tidak sekadar pengaturan penjaga lembaga, namun juga pengaturan informal sebagai interaksi bertemunya sejumlah masalah dalam suatu lingkungan spesifik. Mengutip perkataan John J. Dilulio, penjara menciptakan sistem sosial masyarakat di dalam masyarakat (society within a society), artinya ada kehidupan di dalam penjara, yang bukan tidak mungkin akan berlaku sistem oligarki dan terdapat posisi superior dan inferior yang akan dirasakan. Kasus kekerasan di dalam lembaga bukan hal pertama yang terjadi, apakah ini akan berakhir dengan penanganan parsial tanpa adanya usaha untuk mengakhiri akar dari permasalahan ini?

- Advertisement -

Mengapa orang melakukan kejahatan? Sedangkan sebagian dari mereka enggan untuk melakukannya? Pertanyaan tersebut sangat menggelitik dan mungkin sebagian dari kita bingung untuk menjawabnya. Pada dasarnya, dikatakan “kejahatan” jika seseorang dan/atau kelompok melanggar hukum baik langsung maupun tidak. Kejahatan memiliki bentuk yang berbeda-beda, bahkan kejahatan yang sama dapat didasari oleh alasan yang berbeda. Intinya, faktor dalam diri dan dari luar dapat memengaruhi setiap orang untuk “mau” berbuat kejahatan, tiap pelaku jenis kejahatan yang sama pun tak jarang memiliki alasan yang berbeda.

Angka kriminal di Indonesia semakin meningkat tiap waktunya, hal itu terjadi karena beberapa sebab. Contohnya ekonomi, sosial, budaya dari lingkungan sekitar, adanya dorongan hasrat, dan sebagainya. Pastinya, setiap akibat dari kejahatan yang dilakukan akan berdampak kepada sang korban, baik secara finansial, fisik, psikis, bahkan tak jarang hingga meregang nyawa. Kejahatan yang telah terjadi di Indonesia akan melalui proses peradilan pidana yang berlaku, mulai tahap praajudikasi, ajudikasi, hingga post-ajudikasi. Status pelaku kejahatan pun berbeda-beda yang disesuaikan dengan tahapan yang berlaku, mulai dari tahanan, tersangka, terdakwa, terpidana, narapidana, hingga klien pemasyarakatan (saat seseorang telah bebas dan diawasi oleh Balai Pemasyarakatan).

Miris, kekerasan terus terjadi baik di luar maupun di dalam lembaga. Peristiwa munculnya “Rutan Pribadi Bupati Langkat nonaktif” masih segar di ingatan, tak lama berselang, muncul lagi kasus kekerasan yang menyebabkan korban meregang nyawa. Kali ini terjadi di dalam Rutan milik Polri. Dilansir melalui www.detik.com terdapat tahanan yang tewas karena dianiaya oleh oknum Polisi dan beberapa tahanan lainnya. Korban yang merupakan tahanan kasus cabul di Polrestabes Medan diperas dan dianiaya (dipukul bagian lutut, ditendang, hingga ada yang memerintahkan masturbasi menggunakan balsam.

Realitas kehidupan di dalam Rutan memang tak terlihat nyata bagi orang awam (untrained eye). Sistem sosial para penghuni Lapas atau Rutan tidak sekadar pengaturan penjaga lembaga, namun juga pengaturan informal sebagai interaksi bertemunya sejumlah masalah dalam suatu lingkungan spesifik. Mengutip perkataan John J. Dilulio, penjara menciptakan sistem sosial masyarakat di dalam masyarakat (society within a society), artinya ada kehidupan di dalam penjara, yang bukan tidak mungkin akan berlaku sistem oligarki dan terdapat posisi superior dan inferior yang akan dirasakan. Kasus kekerasan di dalam lembaga bukan hal pertama yang terjadi, apakah ini akan berakhir dengan penanganan parsial tanpa adanya usaha untuk mengakhiri akar dari permasalahan ini?

Mengapa orang melakukan kejahatan? Sedangkan sebagian dari mereka enggan untuk melakukannya? Pertanyaan tersebut sangat menggelitik dan mungkin sebagian dari kita bingung untuk menjawabnya. Pada dasarnya, dikatakan “kejahatan” jika seseorang dan/atau kelompok melanggar hukum baik langsung maupun tidak. Kejahatan memiliki bentuk yang berbeda-beda, bahkan kejahatan yang sama dapat didasari oleh alasan yang berbeda. Intinya, faktor dalam diri dan dari luar dapat memengaruhi setiap orang untuk “mau” berbuat kejahatan, tiap pelaku jenis kejahatan yang sama pun tak jarang memiliki alasan yang berbeda.

Angka kriminal di Indonesia semakin meningkat tiap waktunya, hal itu terjadi karena beberapa sebab. Contohnya ekonomi, sosial, budaya dari lingkungan sekitar, adanya dorongan hasrat, dan sebagainya. Pastinya, setiap akibat dari kejahatan yang dilakukan akan berdampak kepada sang korban, baik secara finansial, fisik, psikis, bahkan tak jarang hingga meregang nyawa. Kejahatan yang telah terjadi di Indonesia akan melalui proses peradilan pidana yang berlaku, mulai tahap praajudikasi, ajudikasi, hingga post-ajudikasi. Status pelaku kejahatan pun berbeda-beda yang disesuaikan dengan tahapan yang berlaku, mulai dari tahanan, tersangka, terdakwa, terpidana, narapidana, hingga klien pemasyarakatan (saat seseorang telah bebas dan diawasi oleh Balai Pemasyarakatan).

Miris, kekerasan terus terjadi baik di luar maupun di dalam lembaga. Peristiwa munculnya “Rutan Pribadi Bupati Langkat nonaktif” masih segar di ingatan, tak lama berselang, muncul lagi kasus kekerasan yang menyebabkan korban meregang nyawa. Kali ini terjadi di dalam Rutan milik Polri. Dilansir melalui www.detik.com terdapat tahanan yang tewas karena dianiaya oleh oknum Polisi dan beberapa tahanan lainnya. Korban yang merupakan tahanan kasus cabul di Polrestabes Medan diperas dan dianiaya (dipukul bagian lutut, ditendang, hingga ada yang memerintahkan masturbasi menggunakan balsam.

Realitas kehidupan di dalam Rutan memang tak terlihat nyata bagi orang awam (untrained eye). Sistem sosial para penghuni Lapas atau Rutan tidak sekadar pengaturan penjaga lembaga, namun juga pengaturan informal sebagai interaksi bertemunya sejumlah masalah dalam suatu lingkungan spesifik. Mengutip perkataan John J. Dilulio, penjara menciptakan sistem sosial masyarakat di dalam masyarakat (society within a society), artinya ada kehidupan di dalam penjara, yang bukan tidak mungkin akan berlaku sistem oligarki dan terdapat posisi superior dan inferior yang akan dirasakan. Kasus kekerasan di dalam lembaga bukan hal pertama yang terjadi, apakah ini akan berakhir dengan penanganan parsial tanpa adanya usaha untuk mengakhiri akar dari permasalahan ini?

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/