alexametrics
23.4 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Bukan karena Jenis Kelamin, Kartini Era Revolusi 4.0

Mobile_AP_Rectangle 1

Tanggal 21 April adalah peringatan Hari Kartini, yaitu merefleksi sebuah gerakan karya perempuan yang telah digaungkan RA Kartini mulai tahun 1899 ketika beliau masih sangat muda. Keinginannya menikmati kehidupan di mana perempuan bisa berbuat untuk bermanfaat bagi masyarakat. Tidak egois memikirkan kesenangan pribadi bertindak sesuka hati. Perempuan yang berkarya menjadi “anak gadis jang tjakap dan sanggoep tegak sendiri, jang tjepat kaki ringan tangan serta berani menentang kehidoepan dengan hati jang riang dan pikiran jang soeka, lagi dengan gembira dan keras hatinja bekerdja, boekan oentoek keoentoengan dan keselamatan dirinja sendiri sadja, tetapi soeka mengoerbankan diri akan goena keperloean dan keselamatan orang banjak djoega” (RA. Kartini:1899).

Perempuan yang cakap dan sanggup tegak berdiri yang artinya seseorang yang memiliki kompetensi dan pribadi yang tidak kenal menyerah. Kompetensi dengan memiliki keahlian di bidangnya ditempa dengan berbagai pengalaman dan proses pembelajaran dengan berbagai media dan teknologi terbarukan. Perempuan di cita-citakan memiliki jiwa yang berani menentang kehidupan apabila alurnya keluar dari nilai-nilai etika baik sosial, agama, ataupun susila. Tidak gentar melawan hegemoni keberanian dengan disertai hati yang riang tanpa tekanan dan keluhan. Bukan hanya itu, namun perempuan Indonesia memiliki jiwa yang bersedia berkorban bukan hanya kepentingan dan keselamatan pribadi, tapi berani berkorban untuk orang banyak.

Kutipan itu sangat memberi makna, merupakan cita-cita mulia dari perempuan zaman doeloe dan tetap relevan di zaman Revolusi 4.0. Nilai-nilai tersebut yang digaungkan penuh harap melihat kaum perempuan memiliki kemampuan dan nilai untuk berjuang demi kemaslahatan banyak orang tidak hanya berkiblat untuk kepentingan diri sendiri. Pilihan-pilihan nilai mulia menjadi pribadi yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Mobile_AP_Rectangle 2

Zaman sekarang ini dengan begitu pesatnya perkembangan teknologi semakin canggih sehingga setiap individu dituntut untuk dapat menggali segala sumber daya manusia yang dimiliki. Untuk dapat menunjang kinerja sehingga akan sangat berpengaruh pada pelaksanaan tugas setiap hari. Bahkan sistem sarana dan prasarana dalam seluruh bagian kehidupan terus berkembang pesat dan terus disempurnakan seiring berjalannya waktu, sehingga semua sistem masyarakat juga organisasi berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi yang harus diikuti sumber daya manusia yang ada. Banyak ahli berpendapat bahwa sumber daya manusia yang berkualitas sangat menentukan berhasil atau tidak suatu organisasi dengan kompetensi setiap pegawai yang ada (Farida, 2018).

Di era sekarang manusia lebih banyak menghabiskan waktu di depan teknologi, baik komputer, handphone, ataupun bekerja dengan mesin-mesin otomatis yang dikerjakan tanpa menggunakan tenaga besar. Artinya, perbedaan sudah bukan karena jenis kelamin lagi, namun lebih pada karya. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam pertarungan di dunia maya, yang kita sudah tidak memiliki label jenis kelamin, tapi menggunakan label dari identitas berkode yang kita daftarkan baik email atau kode unik. Perbedaan jelas ada pada karya yang kita miliki. Layakkah apa yang dimiliki bertarung dengan dunia pada saat ini.

Sekarang marilah kita bercermin melihat pantulan diri dan jujur melihat apa yang kita miliki untuk mewujudkan nilai-nilai kesetaraan dalam karya. Secara fisik perempuan pasti tidak bisa bertanding, bahkan saya secara fisik adalah perempuan lemah yang sekali didorong akan jatuh, dan bila dorongan kuat akan terpental. Saya tentunya tidak mampu menebas pohon, memasang bata-bata rumah, atau mengangkat beban angkut yang besar. Tetapi sekarang zaman revolusi, semua kelemahan fisik sudah tergantikan mesin-mesin modern. Tak asing lagi teknologi robotika telah menggantikan hampir sebagian besar fungsi fisik berat untuk menggantikan manusia mengerjakan pekerjaan baik bidang pertanian, peternakan, dan berbagai pabrik. Kemudian, apalagi halangan perempuan untuk berkarya?

- Advertisement -

Tanggal 21 April adalah peringatan Hari Kartini, yaitu merefleksi sebuah gerakan karya perempuan yang telah digaungkan RA Kartini mulai tahun 1899 ketika beliau masih sangat muda. Keinginannya menikmati kehidupan di mana perempuan bisa berbuat untuk bermanfaat bagi masyarakat. Tidak egois memikirkan kesenangan pribadi bertindak sesuka hati. Perempuan yang berkarya menjadi “anak gadis jang tjakap dan sanggoep tegak sendiri, jang tjepat kaki ringan tangan serta berani menentang kehidoepan dengan hati jang riang dan pikiran jang soeka, lagi dengan gembira dan keras hatinja bekerdja, boekan oentoek keoentoengan dan keselamatan dirinja sendiri sadja, tetapi soeka mengoerbankan diri akan goena keperloean dan keselamatan orang banjak djoega” (RA. Kartini:1899).

Perempuan yang cakap dan sanggup tegak berdiri yang artinya seseorang yang memiliki kompetensi dan pribadi yang tidak kenal menyerah. Kompetensi dengan memiliki keahlian di bidangnya ditempa dengan berbagai pengalaman dan proses pembelajaran dengan berbagai media dan teknologi terbarukan. Perempuan di cita-citakan memiliki jiwa yang berani menentang kehidupan apabila alurnya keluar dari nilai-nilai etika baik sosial, agama, ataupun susila. Tidak gentar melawan hegemoni keberanian dengan disertai hati yang riang tanpa tekanan dan keluhan. Bukan hanya itu, namun perempuan Indonesia memiliki jiwa yang bersedia berkorban bukan hanya kepentingan dan keselamatan pribadi, tapi berani berkorban untuk orang banyak.

Kutipan itu sangat memberi makna, merupakan cita-cita mulia dari perempuan zaman doeloe dan tetap relevan di zaman Revolusi 4.0. Nilai-nilai tersebut yang digaungkan penuh harap melihat kaum perempuan memiliki kemampuan dan nilai untuk berjuang demi kemaslahatan banyak orang tidak hanya berkiblat untuk kepentingan diri sendiri. Pilihan-pilihan nilai mulia menjadi pribadi yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Zaman sekarang ini dengan begitu pesatnya perkembangan teknologi semakin canggih sehingga setiap individu dituntut untuk dapat menggali segala sumber daya manusia yang dimiliki. Untuk dapat menunjang kinerja sehingga akan sangat berpengaruh pada pelaksanaan tugas setiap hari. Bahkan sistem sarana dan prasarana dalam seluruh bagian kehidupan terus berkembang pesat dan terus disempurnakan seiring berjalannya waktu, sehingga semua sistem masyarakat juga organisasi berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi yang harus diikuti sumber daya manusia yang ada. Banyak ahli berpendapat bahwa sumber daya manusia yang berkualitas sangat menentukan berhasil atau tidak suatu organisasi dengan kompetensi setiap pegawai yang ada (Farida, 2018).

Di era sekarang manusia lebih banyak menghabiskan waktu di depan teknologi, baik komputer, handphone, ataupun bekerja dengan mesin-mesin otomatis yang dikerjakan tanpa menggunakan tenaga besar. Artinya, perbedaan sudah bukan karena jenis kelamin lagi, namun lebih pada karya. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam pertarungan di dunia maya, yang kita sudah tidak memiliki label jenis kelamin, tapi menggunakan label dari identitas berkode yang kita daftarkan baik email atau kode unik. Perbedaan jelas ada pada karya yang kita miliki. Layakkah apa yang dimiliki bertarung dengan dunia pada saat ini.

Sekarang marilah kita bercermin melihat pantulan diri dan jujur melihat apa yang kita miliki untuk mewujudkan nilai-nilai kesetaraan dalam karya. Secara fisik perempuan pasti tidak bisa bertanding, bahkan saya secara fisik adalah perempuan lemah yang sekali didorong akan jatuh, dan bila dorongan kuat akan terpental. Saya tentunya tidak mampu menebas pohon, memasang bata-bata rumah, atau mengangkat beban angkut yang besar. Tetapi sekarang zaman revolusi, semua kelemahan fisik sudah tergantikan mesin-mesin modern. Tak asing lagi teknologi robotika telah menggantikan hampir sebagian besar fungsi fisik berat untuk menggantikan manusia mengerjakan pekerjaan baik bidang pertanian, peternakan, dan berbagai pabrik. Kemudian, apalagi halangan perempuan untuk berkarya?

Tanggal 21 April adalah peringatan Hari Kartini, yaitu merefleksi sebuah gerakan karya perempuan yang telah digaungkan RA Kartini mulai tahun 1899 ketika beliau masih sangat muda. Keinginannya menikmati kehidupan di mana perempuan bisa berbuat untuk bermanfaat bagi masyarakat. Tidak egois memikirkan kesenangan pribadi bertindak sesuka hati. Perempuan yang berkarya menjadi “anak gadis jang tjakap dan sanggoep tegak sendiri, jang tjepat kaki ringan tangan serta berani menentang kehidoepan dengan hati jang riang dan pikiran jang soeka, lagi dengan gembira dan keras hatinja bekerdja, boekan oentoek keoentoengan dan keselamatan dirinja sendiri sadja, tetapi soeka mengoerbankan diri akan goena keperloean dan keselamatan orang banjak djoega” (RA. Kartini:1899).

Perempuan yang cakap dan sanggup tegak berdiri yang artinya seseorang yang memiliki kompetensi dan pribadi yang tidak kenal menyerah. Kompetensi dengan memiliki keahlian di bidangnya ditempa dengan berbagai pengalaman dan proses pembelajaran dengan berbagai media dan teknologi terbarukan. Perempuan di cita-citakan memiliki jiwa yang berani menentang kehidupan apabila alurnya keluar dari nilai-nilai etika baik sosial, agama, ataupun susila. Tidak gentar melawan hegemoni keberanian dengan disertai hati yang riang tanpa tekanan dan keluhan. Bukan hanya itu, namun perempuan Indonesia memiliki jiwa yang bersedia berkorban bukan hanya kepentingan dan keselamatan pribadi, tapi berani berkorban untuk orang banyak.

Kutipan itu sangat memberi makna, merupakan cita-cita mulia dari perempuan zaman doeloe dan tetap relevan di zaman Revolusi 4.0. Nilai-nilai tersebut yang digaungkan penuh harap melihat kaum perempuan memiliki kemampuan dan nilai untuk berjuang demi kemaslahatan banyak orang tidak hanya berkiblat untuk kepentingan diri sendiri. Pilihan-pilihan nilai mulia menjadi pribadi yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Zaman sekarang ini dengan begitu pesatnya perkembangan teknologi semakin canggih sehingga setiap individu dituntut untuk dapat menggali segala sumber daya manusia yang dimiliki. Untuk dapat menunjang kinerja sehingga akan sangat berpengaruh pada pelaksanaan tugas setiap hari. Bahkan sistem sarana dan prasarana dalam seluruh bagian kehidupan terus berkembang pesat dan terus disempurnakan seiring berjalannya waktu, sehingga semua sistem masyarakat juga organisasi berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi yang harus diikuti sumber daya manusia yang ada. Banyak ahli berpendapat bahwa sumber daya manusia yang berkualitas sangat menentukan berhasil atau tidak suatu organisasi dengan kompetensi setiap pegawai yang ada (Farida, 2018).

Di era sekarang manusia lebih banyak menghabiskan waktu di depan teknologi, baik komputer, handphone, ataupun bekerja dengan mesin-mesin otomatis yang dikerjakan tanpa menggunakan tenaga besar. Artinya, perbedaan sudah bukan karena jenis kelamin lagi, namun lebih pada karya. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam pertarungan di dunia maya, yang kita sudah tidak memiliki label jenis kelamin, tapi menggunakan label dari identitas berkode yang kita daftarkan baik email atau kode unik. Perbedaan jelas ada pada karya yang kita miliki. Layakkah apa yang dimiliki bertarung dengan dunia pada saat ini.

Sekarang marilah kita bercermin melihat pantulan diri dan jujur melihat apa yang kita miliki untuk mewujudkan nilai-nilai kesetaraan dalam karya. Secara fisik perempuan pasti tidak bisa bertanding, bahkan saya secara fisik adalah perempuan lemah yang sekali didorong akan jatuh, dan bila dorongan kuat akan terpental. Saya tentunya tidak mampu menebas pohon, memasang bata-bata rumah, atau mengangkat beban angkut yang besar. Tetapi sekarang zaman revolusi, semua kelemahan fisik sudah tergantikan mesin-mesin modern. Tak asing lagi teknologi robotika telah menggantikan hampir sebagian besar fungsi fisik berat untuk menggantikan manusia mengerjakan pekerjaan baik bidang pertanian, peternakan, dan berbagai pabrik. Kemudian, apalagi halangan perempuan untuk berkarya?

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/