Kartini: Sebuah Perjuangan untuk Secercah Harapan

Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam. Kutipan tersebut mengajak kaum perempuan untuk tidak takut bermimpi. Mengajak perempuan Indonesia untuk selalu bermimpi selama kita masih bisa melakukannya. Bermimpi apa yang ingin kita lakukan, bermimpi apa yang ingin kita raih, bermimpi menjadi apa yang kita inginkan.

Perjuangan “Kartini” masa kini telah berbeda dengan perjuangan R.A Kartini di masanya. Dalam sebuah buku berjudul Perempuan Pemimpin yang berisi mengenai kisah 10 CEO perempuan karya Betti Alisjahbana mengungkapkan bahwa penghalang bagi perempuan malah berasal dari dirinya sendiri. Mereka takut untuk memiliki mimpi yang tinggi, takut gagal sebelum mencoba, bahkan merasa tidak mampu. Padahal setiap orang pasti memiliki potensi, tidak ada salahnya mencoba. Sesuatu hal baru memang terlihat menakutkan dan misterius, namun sebaiknya kita mencoba terlebih dahulu, asalkan apa yang akan kita lakukan adalah hal yang benar dan tidak merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Gagal itu sudah biasa, tapi takut akan kegagalan akan membuat mimpimu tersendat di satu tempat saja. Saat masih sekolah dulu saya sering diberi nasihat seperti ini, “Bermimpilah setinggi langit, kalau jatuh pun kau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Kalau mimpimu digantung di atas pohon mangga, kalau jatuh langsung ke tanah, bakal sakit, kan?

Saya lahir di tengah keluarga sederhana, ayah saya yang berbekal gerobak bakso, berjalan menyusuri jalan setapak untuk bisa menghidupi keluarganya. Penghasilan yang didapat alhamdulillah bisa mengantarkan anaknya ini menjadi seorang sarjana pendidikan. “Anak seorang penjual bakso keliling, bisakah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi?” Jawabannya adalah “Aku mau!” Seperti semboyan R.A Kartini, Aku mau! Dua patah kata ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata ‘Aku tidak dapat!’ melenyapkan rasa berani. Kalimat ‘Aku mau!’ membuat kita mudah mendaki puncak gunung. Seperti kata pepatah, “di mana ada kemauan di sana ada jalan”. Selain semangat, doa yang dilantunkan kedua orangtua juga berhasil mengantarkan saya menuju mimpi yang sudah diimpikan.

Berkuliah di jurusan pendidikan menjadi pilihan. Berbekal bantuan pemerintah berupa Bidikmisi pada masa itu, saya harus mempertahankan semangat agar bisa menyelesaikan studi. Layaknya mahasiswa yang lain, setelah lulus S-1 ada sebuah masa tunggu untuk bekerja. Hingga hampir satu tahun, akhirnya datanglah angin segar untuk menjalani serangkaian tes di sebuah sekolah. Hingga akhirnya saya bisa menjadi seorang guru matematika di salah satu SMP, yaitu SMP Al-Ikhlash Lumajang.

Seandainya tidak ada perjuangan seorang Kartini di masa lalu, nasib perempuan Indonesia (termasuk saya) mungkin belum bisa bernasib baik seperti sekarang ini. Mungkin belum bisa mengenyam pendidikan yang layak seperti sekarang, belum bisa bekerja menjadi wanita mandiri, masih berkutat dengan pekerjaan rumah. ‘Kartini’ masa kini memang tidak berjuang seperti R.A Kartini dahulu. Namun, semangat dan kegigihan beliau untuk memperjuangkan mimpi-mimpinya patut kita teruskan kepada generasi-generasi selanjutnya yang akan mengemban masa depan Indonesia. Agar mereka berani bermimpi, berani mencoba, berani gagal, serta berani mengambil risiko agar terbentuk sebuah pribadi yang pantang menyerah dan pribadi yang tangguh. Hingga terbentuk para ‘Kartini” Indonesia selanjutnya yang akan meneruskan perjuangan R.A Kartini.

*) Penulis adalah guru SMP Al Ikhlash Lumajang.