alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Belajar Menghargai Setetes Air

Mobile_AP_Rectangle 1

Apa fungsi air di dalam kehidupan? Bagaimana kita mendeskripsikan value dari setetes air? Dua pertanyaan sederhana yang akan memberikan penegasan kepada kita bahwa air adalah sumber kehidupan. Sesuatu yang sangat berharga. Namun faktanya, air terbuang setiap hari. Setetes demi setetes tanpa kita hitung dan kita sadari. Bukankah air tidak akan pernah habis karena adanya proses daur air?

Ya, air memang tak akan pernah habis karena adanya proses daur air. Apalagi 2/3 permukaan Bumi juga tertutup air. Akan tetapi, bila kita berbicara tentang air bersih dan layak dikonsumsi beserta kelangkaannya, tentu kita akan berpikir dua kali. Dari sebuah scarcity alias kelangkaan inilah value dari setetes air itu bermula. Air banyak di lautan, di danau, dan berbagai perairan lainnya. Apakah serta-merta dapat kita minum, kita gunakan mandi, cuci, dan lain-lain? Apakah air tersebut bersih dan layak?

Tanggal 22 Maret seluruh masyarakat dari berbagai penjuru dunia memperingati Hari Air Sedunia. Sebuah peringatan yang diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap upaya pencegahan krisis air global. Komitmen secara global juga sudah tertuang dalam sustainable development goals tujuan keenam, yaitu tentang air bersih dan sanitasi layak. Sebuah komitmen untuk menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hidup berdampingan dengan air yang bersih memberikan kedamaian tersendiri, self healing. Air dapat menjadi penghubung antara kita dengan agama, misalnya ritual berwudu. Air juga dapat menjadi penghubung antarmasyarakat, misalnya pasar apung atau yang sama-sama punya hobi memancing. Air tak pernah lepas dari nilai-nilai moral kehidupan. Oleh karena itu, jangan hanya memandang air bersih dari segi ekonomi saja. Namun, coba kita libatkan nilai-nilai kearifan dalam mengelolanya.

Sekian persen limbah baik dari industri maupun rumah tangga dilepaskan begitu saja ke perairan. Beberapa bahkan tidak dilakukan pengelolaan terlebih dahulu. Tak terbayangkan seberapa banyak air yang sudah tercemar. Tak heran jika ada wilayah yang mengalami kelangkaan air bersih. Penelitian dari The 2030 Water Resources Group (2009) menyebutkan bahwa dunia akan mengalami krisis defisit air global sebanyak 40 persen di 2030. Sementara itu, penelitian lain dari OECD (2012) memprediksikan bahwa permintaan air global akan meningkat sebesar 55 persen antara tahun 2000 sampai 2050. Permintaan air bersih dan layak terus meningkat. Namun, sepertinya hati kita belum sepenuhnya tergerak untuk memperbaiki pengelolaan air secara kesatuan mulai dari pelestarian sumbernya, infrastrukturnya, aksesnya, pemanfaatannya, sampai kepada pengolahan limbahnya.

Bagaimana kondisi air bersih di Indonesia? Menurut Permenkes Nomor 416.PER/IX/1990, air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Sumber air minum bersih adalah sumber air minum yang terdiri atas air kemasan, air isi ulang, leding, dan sumur dengan jarak 10 meter atau lebih ke tempat penampungan limbah/kotoran/tinja terdekat. Badan Pusat Statistik melalui publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat (STATKESRA) memberikan sedikit gambaran tentang penggunaan air bersih dan akses air minum layak oleh rumah tangga di Indonesia.

- Advertisement -

Apa fungsi air di dalam kehidupan? Bagaimana kita mendeskripsikan value dari setetes air? Dua pertanyaan sederhana yang akan memberikan penegasan kepada kita bahwa air adalah sumber kehidupan. Sesuatu yang sangat berharga. Namun faktanya, air terbuang setiap hari. Setetes demi setetes tanpa kita hitung dan kita sadari. Bukankah air tidak akan pernah habis karena adanya proses daur air?

Ya, air memang tak akan pernah habis karena adanya proses daur air. Apalagi 2/3 permukaan Bumi juga tertutup air. Akan tetapi, bila kita berbicara tentang air bersih dan layak dikonsumsi beserta kelangkaannya, tentu kita akan berpikir dua kali. Dari sebuah scarcity alias kelangkaan inilah value dari setetes air itu bermula. Air banyak di lautan, di danau, dan berbagai perairan lainnya. Apakah serta-merta dapat kita minum, kita gunakan mandi, cuci, dan lain-lain? Apakah air tersebut bersih dan layak?

Tanggal 22 Maret seluruh masyarakat dari berbagai penjuru dunia memperingati Hari Air Sedunia. Sebuah peringatan yang diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap upaya pencegahan krisis air global. Komitmen secara global juga sudah tertuang dalam sustainable development goals tujuan keenam, yaitu tentang air bersih dan sanitasi layak. Sebuah komitmen untuk menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua.

Hidup berdampingan dengan air yang bersih memberikan kedamaian tersendiri, self healing. Air dapat menjadi penghubung antara kita dengan agama, misalnya ritual berwudu. Air juga dapat menjadi penghubung antarmasyarakat, misalnya pasar apung atau yang sama-sama punya hobi memancing. Air tak pernah lepas dari nilai-nilai moral kehidupan. Oleh karena itu, jangan hanya memandang air bersih dari segi ekonomi saja. Namun, coba kita libatkan nilai-nilai kearifan dalam mengelolanya.

Sekian persen limbah baik dari industri maupun rumah tangga dilepaskan begitu saja ke perairan. Beberapa bahkan tidak dilakukan pengelolaan terlebih dahulu. Tak terbayangkan seberapa banyak air yang sudah tercemar. Tak heran jika ada wilayah yang mengalami kelangkaan air bersih. Penelitian dari The 2030 Water Resources Group (2009) menyebutkan bahwa dunia akan mengalami krisis defisit air global sebanyak 40 persen di 2030. Sementara itu, penelitian lain dari OECD (2012) memprediksikan bahwa permintaan air global akan meningkat sebesar 55 persen antara tahun 2000 sampai 2050. Permintaan air bersih dan layak terus meningkat. Namun, sepertinya hati kita belum sepenuhnya tergerak untuk memperbaiki pengelolaan air secara kesatuan mulai dari pelestarian sumbernya, infrastrukturnya, aksesnya, pemanfaatannya, sampai kepada pengolahan limbahnya.

Bagaimana kondisi air bersih di Indonesia? Menurut Permenkes Nomor 416.PER/IX/1990, air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Sumber air minum bersih adalah sumber air minum yang terdiri atas air kemasan, air isi ulang, leding, dan sumur dengan jarak 10 meter atau lebih ke tempat penampungan limbah/kotoran/tinja terdekat. Badan Pusat Statistik melalui publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat (STATKESRA) memberikan sedikit gambaran tentang penggunaan air bersih dan akses air minum layak oleh rumah tangga di Indonesia.

Apa fungsi air di dalam kehidupan? Bagaimana kita mendeskripsikan value dari setetes air? Dua pertanyaan sederhana yang akan memberikan penegasan kepada kita bahwa air adalah sumber kehidupan. Sesuatu yang sangat berharga. Namun faktanya, air terbuang setiap hari. Setetes demi setetes tanpa kita hitung dan kita sadari. Bukankah air tidak akan pernah habis karena adanya proses daur air?

Ya, air memang tak akan pernah habis karena adanya proses daur air. Apalagi 2/3 permukaan Bumi juga tertutup air. Akan tetapi, bila kita berbicara tentang air bersih dan layak dikonsumsi beserta kelangkaannya, tentu kita akan berpikir dua kali. Dari sebuah scarcity alias kelangkaan inilah value dari setetes air itu bermula. Air banyak di lautan, di danau, dan berbagai perairan lainnya. Apakah serta-merta dapat kita minum, kita gunakan mandi, cuci, dan lain-lain? Apakah air tersebut bersih dan layak?

Tanggal 22 Maret seluruh masyarakat dari berbagai penjuru dunia memperingati Hari Air Sedunia. Sebuah peringatan yang diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap upaya pencegahan krisis air global. Komitmen secara global juga sudah tertuang dalam sustainable development goals tujuan keenam, yaitu tentang air bersih dan sanitasi layak. Sebuah komitmen untuk menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua.

Hidup berdampingan dengan air yang bersih memberikan kedamaian tersendiri, self healing. Air dapat menjadi penghubung antara kita dengan agama, misalnya ritual berwudu. Air juga dapat menjadi penghubung antarmasyarakat, misalnya pasar apung atau yang sama-sama punya hobi memancing. Air tak pernah lepas dari nilai-nilai moral kehidupan. Oleh karena itu, jangan hanya memandang air bersih dari segi ekonomi saja. Namun, coba kita libatkan nilai-nilai kearifan dalam mengelolanya.

Sekian persen limbah baik dari industri maupun rumah tangga dilepaskan begitu saja ke perairan. Beberapa bahkan tidak dilakukan pengelolaan terlebih dahulu. Tak terbayangkan seberapa banyak air yang sudah tercemar. Tak heran jika ada wilayah yang mengalami kelangkaan air bersih. Penelitian dari The 2030 Water Resources Group (2009) menyebutkan bahwa dunia akan mengalami krisis defisit air global sebanyak 40 persen di 2030. Sementara itu, penelitian lain dari OECD (2012) memprediksikan bahwa permintaan air global akan meningkat sebesar 55 persen antara tahun 2000 sampai 2050. Permintaan air bersih dan layak terus meningkat. Namun, sepertinya hati kita belum sepenuhnya tergerak untuk memperbaiki pengelolaan air secara kesatuan mulai dari pelestarian sumbernya, infrastrukturnya, aksesnya, pemanfaatannya, sampai kepada pengolahan limbahnya.

Bagaimana kondisi air bersih di Indonesia? Menurut Permenkes Nomor 416.PER/IX/1990, air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Sumber air minum bersih adalah sumber air minum yang terdiri atas air kemasan, air isi ulang, leding, dan sumur dengan jarak 10 meter atau lebih ke tempat penampungan limbah/kotoran/tinja terdekat. Badan Pusat Statistik melalui publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat (STATKESRA) memberikan sedikit gambaran tentang penggunaan air bersih dan akses air minum layak oleh rumah tangga di Indonesia.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/