alexametrics
23 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Quo Vadis Regulasi Pelecehan Seksual di Kampus?

Mobile_AP_Rectangle 1

terbuka pada kasus kekerasan seksual, bukan menutup-nutupinya dengan dalih perlindungan citra kampus. Akhir-akhir ini hampir setiap hari kasus kekerasan seksual diwartakan. Masyarakat ramai memperbincangkan dan mengutuk pelaku kekerasan seksual. Lantas, di manakah kehadiran pemerintah dalam menjamin perlindungan hukum bagi korban?

Kekerasan seksual tertinggi terjadi di dunia kampus. Berdasar data Komnas Perempuan yang dirilis pada Oktober 2020, telah terjadi sekitar 27 persen aduan kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi dalam rentang waktu 2015-2020. Sementara itu, survei yang dilakukan Direktorat Jenderal Kemendikbudristek pada 2020 menemukan sekitar 77 persen dosen yang disurvei mengakui telah terjadi tindak kekerasan seksual di kampus mereka. Namun, sebanyak 63 persen dari dosen yang mengakui terjadinya tindak kekerasan seksual di kampusnya itu memilih tidak melaporkan kasus yang terjadi alias mendiamkan saja.

Kekerasan seksual adalah aktivitas seksual yang dilakukan pelaku tanpa persetujuan atau kerelaan dari orang lain yang menjadi korban tindakan tersebut. Tindakan-tindakan sejenis ini termasuk komentar seksual yang diarahkan terhadap seksualitas seseorang. Pelecehan seksual termasuk dalam masalah global serta secara umum wanita lebih sering menjadi korban pelecehan seksual.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun, tidak menutup kemungkinan laki-laki juga bisa menjadi korban dalam kekerasan dan pelecehan seksual. Sederet kasus mengungkapkan bahwa terjadi kekerasan seksual pada laki-laki, walaupun jumlahnya jauh lebih kecil daripada yang dialami oleh perempuan, yakni 4 persen.

Satu demi satu, gema isu kekerasan seksual di sejumlah kampus di Indonesia mulai menyeruak ke tengah publik. Salah satu kasus terjadinya pelecehan seksual yang terjadi di daerah Jember adalah seorang rektor perguruan tinggi swasta (PTS) terhadap salah seorang staf pengajar. Selain di Jember, banyak sekali kasus pelecehan seksual terjadi di lingkungan PT, yakni di Universitas Riau (Unri), Universitas Sriwijaya, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Jakarta, dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan seksual di dunia kampus adalah pertama, posisi pengajar (dosen) sangat superior dan menempatkan posisi mahasiswa inferior. Momen ketika mahasiswa tengah konsultasi, sedang menempuh ujian, dan sebagainya sering dimanfaatkan para dosen nakal untuk melancarkan aksi jahat dan hasrat syahwatnya yang tidak terkendali.

Posisi dosen yang superior berkaitan dengan kemungkinan terjadinya power abuse karena otoritas yang mereka miliki. Seorang dosen yang berhak dan memiliki otoritas menentukan kelulusan mahasiswa, menentukan besar nilai ujian mahasiswa, dan sebagainya.

Kedua, adanya iming-iming dan posisi pelaku yang menjanjikan pemberian keuntungan tertentu kepada korban yang disebut dengan quid pro quo, yaitu seseorang yang karena kekuasaan yang dimilikinya memiliki peluang untuk menundukkan korban. Dengan bujuk rayu, seorang dosen bisa dengan mudah menipu mahasiswa.

- Advertisement -

terbuka pada kasus kekerasan seksual, bukan menutup-nutupinya dengan dalih perlindungan citra kampus. Akhir-akhir ini hampir setiap hari kasus kekerasan seksual diwartakan. Masyarakat ramai memperbincangkan dan mengutuk pelaku kekerasan seksual. Lantas, di manakah kehadiran pemerintah dalam menjamin perlindungan hukum bagi korban?

Kekerasan seksual tertinggi terjadi di dunia kampus. Berdasar data Komnas Perempuan yang dirilis pada Oktober 2020, telah terjadi sekitar 27 persen aduan kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi dalam rentang waktu 2015-2020. Sementara itu, survei yang dilakukan Direktorat Jenderal Kemendikbudristek pada 2020 menemukan sekitar 77 persen dosen yang disurvei mengakui telah terjadi tindak kekerasan seksual di kampus mereka. Namun, sebanyak 63 persen dari dosen yang mengakui terjadinya tindak kekerasan seksual di kampusnya itu memilih tidak melaporkan kasus yang terjadi alias mendiamkan saja.

Kekerasan seksual adalah aktivitas seksual yang dilakukan pelaku tanpa persetujuan atau kerelaan dari orang lain yang menjadi korban tindakan tersebut. Tindakan-tindakan sejenis ini termasuk komentar seksual yang diarahkan terhadap seksualitas seseorang. Pelecehan seksual termasuk dalam masalah global serta secara umum wanita lebih sering menjadi korban pelecehan seksual.

Namun, tidak menutup kemungkinan laki-laki juga bisa menjadi korban dalam kekerasan dan pelecehan seksual. Sederet kasus mengungkapkan bahwa terjadi kekerasan seksual pada laki-laki, walaupun jumlahnya jauh lebih kecil daripada yang dialami oleh perempuan, yakni 4 persen.

Satu demi satu, gema isu kekerasan seksual di sejumlah kampus di Indonesia mulai menyeruak ke tengah publik. Salah satu kasus terjadinya pelecehan seksual yang terjadi di daerah Jember adalah seorang rektor perguruan tinggi swasta (PTS) terhadap salah seorang staf pengajar. Selain di Jember, banyak sekali kasus pelecehan seksual terjadi di lingkungan PT, yakni di Universitas Riau (Unri), Universitas Sriwijaya, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Jakarta, dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan seksual di dunia kampus adalah pertama, posisi pengajar (dosen) sangat superior dan menempatkan posisi mahasiswa inferior. Momen ketika mahasiswa tengah konsultasi, sedang menempuh ujian, dan sebagainya sering dimanfaatkan para dosen nakal untuk melancarkan aksi jahat dan hasrat syahwatnya yang tidak terkendali.

Posisi dosen yang superior berkaitan dengan kemungkinan terjadinya power abuse karena otoritas yang mereka miliki. Seorang dosen yang berhak dan memiliki otoritas menentukan kelulusan mahasiswa, menentukan besar nilai ujian mahasiswa, dan sebagainya.

Kedua, adanya iming-iming dan posisi pelaku yang menjanjikan pemberian keuntungan tertentu kepada korban yang disebut dengan quid pro quo, yaitu seseorang yang karena kekuasaan yang dimilikinya memiliki peluang untuk menundukkan korban. Dengan bujuk rayu, seorang dosen bisa dengan mudah menipu mahasiswa.

terbuka pada kasus kekerasan seksual, bukan menutup-nutupinya dengan dalih perlindungan citra kampus. Akhir-akhir ini hampir setiap hari kasus kekerasan seksual diwartakan. Masyarakat ramai memperbincangkan dan mengutuk pelaku kekerasan seksual. Lantas, di manakah kehadiran pemerintah dalam menjamin perlindungan hukum bagi korban?

Kekerasan seksual tertinggi terjadi di dunia kampus. Berdasar data Komnas Perempuan yang dirilis pada Oktober 2020, telah terjadi sekitar 27 persen aduan kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi dalam rentang waktu 2015-2020. Sementara itu, survei yang dilakukan Direktorat Jenderal Kemendikbudristek pada 2020 menemukan sekitar 77 persen dosen yang disurvei mengakui telah terjadi tindak kekerasan seksual di kampus mereka. Namun, sebanyak 63 persen dari dosen yang mengakui terjadinya tindak kekerasan seksual di kampusnya itu memilih tidak melaporkan kasus yang terjadi alias mendiamkan saja.

Kekerasan seksual adalah aktivitas seksual yang dilakukan pelaku tanpa persetujuan atau kerelaan dari orang lain yang menjadi korban tindakan tersebut. Tindakan-tindakan sejenis ini termasuk komentar seksual yang diarahkan terhadap seksualitas seseorang. Pelecehan seksual termasuk dalam masalah global serta secara umum wanita lebih sering menjadi korban pelecehan seksual.

Namun, tidak menutup kemungkinan laki-laki juga bisa menjadi korban dalam kekerasan dan pelecehan seksual. Sederet kasus mengungkapkan bahwa terjadi kekerasan seksual pada laki-laki, walaupun jumlahnya jauh lebih kecil daripada yang dialami oleh perempuan, yakni 4 persen.

Satu demi satu, gema isu kekerasan seksual di sejumlah kampus di Indonesia mulai menyeruak ke tengah publik. Salah satu kasus terjadinya pelecehan seksual yang terjadi di daerah Jember adalah seorang rektor perguruan tinggi swasta (PTS) terhadap salah seorang staf pengajar. Selain di Jember, banyak sekali kasus pelecehan seksual terjadi di lingkungan PT, yakni di Universitas Riau (Unri), Universitas Sriwijaya, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Jakarta, dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan seksual di dunia kampus adalah pertama, posisi pengajar (dosen) sangat superior dan menempatkan posisi mahasiswa inferior. Momen ketika mahasiswa tengah konsultasi, sedang menempuh ujian, dan sebagainya sering dimanfaatkan para dosen nakal untuk melancarkan aksi jahat dan hasrat syahwatnya yang tidak terkendali.

Posisi dosen yang superior berkaitan dengan kemungkinan terjadinya power abuse karena otoritas yang mereka miliki. Seorang dosen yang berhak dan memiliki otoritas menentukan kelulusan mahasiswa, menentukan besar nilai ujian mahasiswa, dan sebagainya.

Kedua, adanya iming-iming dan posisi pelaku yang menjanjikan pemberian keuntungan tertentu kepada korban yang disebut dengan quid pro quo, yaitu seseorang yang karena kekuasaan yang dimilikinya memiliki peluang untuk menundukkan korban. Dengan bujuk rayu, seorang dosen bisa dengan mudah menipu mahasiswa.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/