alexametrics
23.7 C
Jember
Saturday, 24 September 2022

Pesantren, Kemenag, & Masyarakat dalam Cegah Dekadensi Moral di Pesantren

Mobile_AP_Rectangle 1

Dewasa ini kita sering melihat kejadian-kejadian yang tidak sepatutnya terjadi di lingkungan pondok pesantren (PP). mulai dari kasus rudapaksa Herry Wirawan selaku ustad sekaligus pengasuh PP. Manarul Huda Antapani, Bandung, (SuaraMerdeka.com 10/12/2021), 12 santriwati menjadi korban keberingasan sang kiai. Kasus rudapaksa di PP. Yatim Piatu di Beji, Depok Jawa Barat (Kompas.com 05/07/2022).

Rudapaksa 5 santriwati dan 1 santri menjadi korban pelecehan seksual yang terjadi di pondok pesantren di kawasan Banyuwangi, tepatnya di Kecamatan Singojuruh (Liputan6.com 28/06/2022). Penjemputan DPO rudapaksa dengan inisial MSA yang mendapat penolakan dari kiai kenamaan asal Jombang yang disinyalir menjadi pelaku rudapaksa terhadap santriwatinya (TvoneNews.com 05/07/2022). Hingga kasus yang paling mutakhir meninggalnya seorang santri di PP Darussalam Gontor (PMDG), Jawa Timur, atas nama Albar Mahdi (AM) pada tanggal yang masih simpang siur, 22/23 Agustus 2022 (JatimNetwork.com 11/09/2022). Rentetan perilaku amoral di atas tentu sangat merugikan semua pihak terutama legitimasi pesantren sebagai subkultur di tengah-tengah masyarakat.

Jika kita melihat lebih dalam mengenai realitas pesantren hari ini ada dua poin penting yang turut melonggarkan lembaga pesantren sebagai subkultur di masyarakat. Sebagai sebuah lembaga yang sarat dengan nuansa agama dan proses pembentukan karakter agamis, seharusnya pesantren memiliki trial project dalam membentuk karakter masyarakat yang berpegangan teguh pada nilai-nilai keagamaan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Karenanya, jika dalam praktiknya ditemukan beberapa penyimpangan-penyimpangan yang masih terus dilakukan, maka sangat perlu adanya kontrol  dari pihak-pihak struktur formal dan lembaga-lembaga nonstruktural yang menjadi kontrol utama dalam semua aspek kepesantrenan. Baik dari pendidikan maupun sosial yang berkembang di dunia pesantren.

- Advertisement -

Dewasa ini kita sering melihat kejadian-kejadian yang tidak sepatutnya terjadi di lingkungan pondok pesantren (PP). mulai dari kasus rudapaksa Herry Wirawan selaku ustad sekaligus pengasuh PP. Manarul Huda Antapani, Bandung, (SuaraMerdeka.com 10/12/2021), 12 santriwati menjadi korban keberingasan sang kiai. Kasus rudapaksa di PP. Yatim Piatu di Beji, Depok Jawa Barat (Kompas.com 05/07/2022).

Rudapaksa 5 santriwati dan 1 santri menjadi korban pelecehan seksual yang terjadi di pondok pesantren di kawasan Banyuwangi, tepatnya di Kecamatan Singojuruh (Liputan6.com 28/06/2022). Penjemputan DPO rudapaksa dengan inisial MSA yang mendapat penolakan dari kiai kenamaan asal Jombang yang disinyalir menjadi pelaku rudapaksa terhadap santriwatinya (TvoneNews.com 05/07/2022). Hingga kasus yang paling mutakhir meninggalnya seorang santri di PP Darussalam Gontor (PMDG), Jawa Timur, atas nama Albar Mahdi (AM) pada tanggal yang masih simpang siur, 22/23 Agustus 2022 (JatimNetwork.com 11/09/2022). Rentetan perilaku amoral di atas tentu sangat merugikan semua pihak terutama legitimasi pesantren sebagai subkultur di tengah-tengah masyarakat.

Jika kita melihat lebih dalam mengenai realitas pesantren hari ini ada dua poin penting yang turut melonggarkan lembaga pesantren sebagai subkultur di masyarakat. Sebagai sebuah lembaga yang sarat dengan nuansa agama dan proses pembentukan karakter agamis, seharusnya pesantren memiliki trial project dalam membentuk karakter masyarakat yang berpegangan teguh pada nilai-nilai keagamaan.

Karenanya, jika dalam praktiknya ditemukan beberapa penyimpangan-penyimpangan yang masih terus dilakukan, maka sangat perlu adanya kontrol  dari pihak-pihak struktur formal dan lembaga-lembaga nonstruktural yang menjadi kontrol utama dalam semua aspek kepesantrenan. Baik dari pendidikan maupun sosial yang berkembang di dunia pesantren.

Dewasa ini kita sering melihat kejadian-kejadian yang tidak sepatutnya terjadi di lingkungan pondok pesantren (PP). mulai dari kasus rudapaksa Herry Wirawan selaku ustad sekaligus pengasuh PP. Manarul Huda Antapani, Bandung, (SuaraMerdeka.com 10/12/2021), 12 santriwati menjadi korban keberingasan sang kiai. Kasus rudapaksa di PP. Yatim Piatu di Beji, Depok Jawa Barat (Kompas.com 05/07/2022).

Rudapaksa 5 santriwati dan 1 santri menjadi korban pelecehan seksual yang terjadi di pondok pesantren di kawasan Banyuwangi, tepatnya di Kecamatan Singojuruh (Liputan6.com 28/06/2022). Penjemputan DPO rudapaksa dengan inisial MSA yang mendapat penolakan dari kiai kenamaan asal Jombang yang disinyalir menjadi pelaku rudapaksa terhadap santriwatinya (TvoneNews.com 05/07/2022). Hingga kasus yang paling mutakhir meninggalnya seorang santri di PP Darussalam Gontor (PMDG), Jawa Timur, atas nama Albar Mahdi (AM) pada tanggal yang masih simpang siur, 22/23 Agustus 2022 (JatimNetwork.com 11/09/2022). Rentetan perilaku amoral di atas tentu sangat merugikan semua pihak terutama legitimasi pesantren sebagai subkultur di tengah-tengah masyarakat.

Jika kita melihat lebih dalam mengenai realitas pesantren hari ini ada dua poin penting yang turut melonggarkan lembaga pesantren sebagai subkultur di masyarakat. Sebagai sebuah lembaga yang sarat dengan nuansa agama dan proses pembentukan karakter agamis, seharusnya pesantren memiliki trial project dalam membentuk karakter masyarakat yang berpegangan teguh pada nilai-nilai keagamaan.

Karenanya, jika dalam praktiknya ditemukan beberapa penyimpangan-penyimpangan yang masih terus dilakukan, maka sangat perlu adanya kontrol  dari pihak-pihak struktur formal dan lembaga-lembaga nonstruktural yang menjadi kontrol utama dalam semua aspek kepesantrenan. Baik dari pendidikan maupun sosial yang berkembang di dunia pesantren.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Amankan Bapokting

Ada Apa dengan Kenaikan BBM?

Pererat Antardaerah dengan Bendera Pataka

/