alexametrics
23.1 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Jember Sentra Koi di Jatim?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bisakah? Akankah itu sekadar imajinasi. Bila pertanyaan itu diajukan sepuluh tahun yang lalu, mungkin banyak yang menjawab tidak mungkin. Itu karena tidak tampak geliat perkoian yang terbaca, di mata orang kelompok menengah atas sekalipun. Sebagaimana image koi adalah hobinya orang berduit.

Meski saya lahir di Trenggalek, tetapi saya tinggal di Jember sejak tahun 1992 karena alasan sekolah menengah dan dilanjutkan kuliah di Universitas Jember. Sepengetahuan saya pada tahun tahun tersebut, di Jember jarang orang memelihara ikan koi. Taman rumah rata-rata ditanami rumput dan bunga. Kalaupun ada kolam, itu sebagai taman air.

Saya juga jarang menemukan lahan kolam sawah yang membudidayakan ikan koi. Kala itu, saya suka blusukan ke desa-desa, yang ada adalah kolam budi daya dan pembesaran ikan konsumsi. Bila saya salah menangkap keadaan itu, silakan diprotes, tunjukan siapa saja yang budi daya ikan koi pada tahun 1990an.

Mobile_AP_Rectangle 2

Adalah di tahun 2000an saya mulai mengenal ikan koi, meski tidak menceburkan diri secara langsung. Pengenalnya adalah warga Banyuwangi, Agus Aini, yang secara asal usul keluarga dari Blitar. Mengenalkan tentang keindahan ikan koi, ragam jenis ikan koi, kolam standar ikan koi, keeping ikan koi, hingga soal budi daya ikan koi. Saya tertarik karena dua alasan, saya suka memelihara ikan hias sejak kecil, dan kedua, naluri wartawan saya yang ingin tahu.

Dialah yang menunjukan jalan bertemu dengan para pehobi Jember pada tahun 2019. Dia memberikan informasi tentang kegiatan sebuah komunitas koi di Jember, mulai dari bazar koi, latihan bersama (kontes koi). Saya tertarik lalu terjun di dalamnya sebagai tukang catat dan dokumentasi terlebih dahulu.

Dari 2019 itu, bila ditanyakan pertanyaan sama: Apakah Jember layak jadi sentra koi? Maka saya menjawab siap dan bisa. Tentu pandangan saya ini dilandasi oleh kondisi yang berbeda dari tahun sebelumnya. Di mana pada tahun tersebut di Jember telah tumbuh para breeder atau pembudi daya ikan koi.

Saya berjumpa dengan para breeder itu, berjumpa dengan para penjual koi, para pemain koi dan para petarung koi. Kategori terakhir; petarung dan pemain koi saya sebut adalah pehobi atau pebisnis koi yang fokus dalam dunia kontes. Pemburu gelar di even perkoian.

Eksistensi perkoian Jember di pentas nasional pernah saya lihat sendiri di mana saat itu saya ada di dalamnya sebagai sekretaris panitia dan ketua Panitianya adalah Topo Harmoko. Pada masa pengurusan Jember Koi Club, Ketua Fauzi. Jember bisa mengadakan kontes koi tarap nasional bertajuk: “Jember Young Koi Show 2019” pada 20-22 Desember 2019 di Gedung Soetardjo Universitas Jember.

Pada saat itu, selain mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari klub-klub koi di berbagai daerah, Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI), sponsor lembaga swasta, JeKC juga mendapat dukungan dari Universitas Jember dan Pemkab Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bisakah? Akankah itu sekadar imajinasi. Bila pertanyaan itu diajukan sepuluh tahun yang lalu, mungkin banyak yang menjawab tidak mungkin. Itu karena tidak tampak geliat perkoian yang terbaca, di mata orang kelompok menengah atas sekalipun. Sebagaimana image koi adalah hobinya orang berduit.

Meski saya lahir di Trenggalek, tetapi saya tinggal di Jember sejak tahun 1992 karena alasan sekolah menengah dan dilanjutkan kuliah di Universitas Jember. Sepengetahuan saya pada tahun tahun tersebut, di Jember jarang orang memelihara ikan koi. Taman rumah rata-rata ditanami rumput dan bunga. Kalaupun ada kolam, itu sebagai taman air.

Saya juga jarang menemukan lahan kolam sawah yang membudidayakan ikan koi. Kala itu, saya suka blusukan ke desa-desa, yang ada adalah kolam budi daya dan pembesaran ikan konsumsi. Bila saya salah menangkap keadaan itu, silakan diprotes, tunjukan siapa saja yang budi daya ikan koi pada tahun 1990an.

Adalah di tahun 2000an saya mulai mengenal ikan koi, meski tidak menceburkan diri secara langsung. Pengenalnya adalah warga Banyuwangi, Agus Aini, yang secara asal usul keluarga dari Blitar. Mengenalkan tentang keindahan ikan koi, ragam jenis ikan koi, kolam standar ikan koi, keeping ikan koi, hingga soal budi daya ikan koi. Saya tertarik karena dua alasan, saya suka memelihara ikan hias sejak kecil, dan kedua, naluri wartawan saya yang ingin tahu.

Dialah yang menunjukan jalan bertemu dengan para pehobi Jember pada tahun 2019. Dia memberikan informasi tentang kegiatan sebuah komunitas koi di Jember, mulai dari bazar koi, latihan bersama (kontes koi). Saya tertarik lalu terjun di dalamnya sebagai tukang catat dan dokumentasi terlebih dahulu.

Dari 2019 itu, bila ditanyakan pertanyaan sama: Apakah Jember layak jadi sentra koi? Maka saya menjawab siap dan bisa. Tentu pandangan saya ini dilandasi oleh kondisi yang berbeda dari tahun sebelumnya. Di mana pada tahun tersebut di Jember telah tumbuh para breeder atau pembudi daya ikan koi.

Saya berjumpa dengan para breeder itu, berjumpa dengan para penjual koi, para pemain koi dan para petarung koi. Kategori terakhir; petarung dan pemain koi saya sebut adalah pehobi atau pebisnis koi yang fokus dalam dunia kontes. Pemburu gelar di even perkoian.

Eksistensi perkoian Jember di pentas nasional pernah saya lihat sendiri di mana saat itu saya ada di dalamnya sebagai sekretaris panitia dan ketua Panitianya adalah Topo Harmoko. Pada masa pengurusan Jember Koi Club, Ketua Fauzi. Jember bisa mengadakan kontes koi tarap nasional bertajuk: “Jember Young Koi Show 2019” pada 20-22 Desember 2019 di Gedung Soetardjo Universitas Jember.

Pada saat itu, selain mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari klub-klub koi di berbagai daerah, Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI), sponsor lembaga swasta, JeKC juga mendapat dukungan dari Universitas Jember dan Pemkab Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bisakah? Akankah itu sekadar imajinasi. Bila pertanyaan itu diajukan sepuluh tahun yang lalu, mungkin banyak yang menjawab tidak mungkin. Itu karena tidak tampak geliat perkoian yang terbaca, di mata orang kelompok menengah atas sekalipun. Sebagaimana image koi adalah hobinya orang berduit.

Meski saya lahir di Trenggalek, tetapi saya tinggal di Jember sejak tahun 1992 karena alasan sekolah menengah dan dilanjutkan kuliah di Universitas Jember. Sepengetahuan saya pada tahun tahun tersebut, di Jember jarang orang memelihara ikan koi. Taman rumah rata-rata ditanami rumput dan bunga. Kalaupun ada kolam, itu sebagai taman air.

Saya juga jarang menemukan lahan kolam sawah yang membudidayakan ikan koi. Kala itu, saya suka blusukan ke desa-desa, yang ada adalah kolam budi daya dan pembesaran ikan konsumsi. Bila saya salah menangkap keadaan itu, silakan diprotes, tunjukan siapa saja yang budi daya ikan koi pada tahun 1990an.

Adalah di tahun 2000an saya mulai mengenal ikan koi, meski tidak menceburkan diri secara langsung. Pengenalnya adalah warga Banyuwangi, Agus Aini, yang secara asal usul keluarga dari Blitar. Mengenalkan tentang keindahan ikan koi, ragam jenis ikan koi, kolam standar ikan koi, keeping ikan koi, hingga soal budi daya ikan koi. Saya tertarik karena dua alasan, saya suka memelihara ikan hias sejak kecil, dan kedua, naluri wartawan saya yang ingin tahu.

Dialah yang menunjukan jalan bertemu dengan para pehobi Jember pada tahun 2019. Dia memberikan informasi tentang kegiatan sebuah komunitas koi di Jember, mulai dari bazar koi, latihan bersama (kontes koi). Saya tertarik lalu terjun di dalamnya sebagai tukang catat dan dokumentasi terlebih dahulu.

Dari 2019 itu, bila ditanyakan pertanyaan sama: Apakah Jember layak jadi sentra koi? Maka saya menjawab siap dan bisa. Tentu pandangan saya ini dilandasi oleh kondisi yang berbeda dari tahun sebelumnya. Di mana pada tahun tersebut di Jember telah tumbuh para breeder atau pembudi daya ikan koi.

Saya berjumpa dengan para breeder itu, berjumpa dengan para penjual koi, para pemain koi dan para petarung koi. Kategori terakhir; petarung dan pemain koi saya sebut adalah pehobi atau pebisnis koi yang fokus dalam dunia kontes. Pemburu gelar di even perkoian.

Eksistensi perkoian Jember di pentas nasional pernah saya lihat sendiri di mana saat itu saya ada di dalamnya sebagai sekretaris panitia dan ketua Panitianya adalah Topo Harmoko. Pada masa pengurusan Jember Koi Club, Ketua Fauzi. Jember bisa mengadakan kontes koi tarap nasional bertajuk: “Jember Young Koi Show 2019” pada 20-22 Desember 2019 di Gedung Soetardjo Universitas Jember.

Pada saat itu, selain mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari klub-klub koi di berbagai daerah, Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI), sponsor lembaga swasta, JeKC juga mendapat dukungan dari Universitas Jember dan Pemkab Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/